Portugal memiliki skuad lengkap dan matang untuk mewujudkan mimpi juara Piala Dunia. Namun, mereka perlu merunut jejak ”Os Magricos” yang hingga kini sulit diulang.
16 Jun 2026 15:30 WIB · Olahraga
AP Photo/Marta Lavandier
HOUSTON, SENIN – Portugal kembali merunut jalan yang ditempuh legenda Eusebio bersama skuad ”Os Magricos” 60 tahun lalu. Pencapaian skuad ”Selecao das Quinas” di Piala Dunia 1966 itu masih menjadi hantu bagi generasi baru Portugal. Namun, kini mereka memiliki skuad solid, lengkap di semua lini, dengan para pemain matang yang ditempa di klub-klub elite Eropa. Misi mereka tidak hanya mengulang pencapaian Os Magricos, tetapi menjuarai Piala Dunia.
Langkah pertama mereka memburu supremasi sepak bola itu dimulai pekan ini, melawan Republik Demokratik (RD) Kongo dalam laga pertama Grup K Piala Dunia 2026 di Stadion Houston, Amerika Serikat, Kamis (18/6/2026), mulai pukul 00.00 WIB. Di atas kertas, ini laga berat sebelah karena Portugal unggul dalam materi pemain yang bertabur bintang.
Namun, sepak bola ditentukan di lapangan. Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan jelas ingin menghindari jejak Spanyol yang ditahan 0-0 oleh tim debutan Tanjung Verde dalam laga pembuka Grup H. Oleh karena itu, skuad asuhan Roberto Martinez itu fokus membenamkan diri untuk mempelajari lawan mereka dan mengasah taktik dalam setiap sesi latihan. Merasa jemawa merupakan awal petaka.
”Kita tahu Piala Dunia adalah kompetisi yang cepat. Hanya ada delapan pertandingan, dan ketika kita bermain melawan semua tim nasional ini, saya pikir mereka semua memiliki kualitas yang tinggi saat ini,” ujar bek Portugal, Matheus Nunes.
”Kita harus memperlakukan setiap pertandingan seolah-olah itu adalah final karena secara teori mungkin ada tim yang terlihat lebih lemah, mungkin di atas kertas, tetapi kemudian di lapangan, itu adalah pertandingan, dan dalam pertandingan apa pun bisa terjadi,” lanjut pemain Manchester City itu.
”Sembilan puluh menit adalah waktu yang lama, dan kita harus lebih dari siap untuk memenangi setiap pertandingan,” ucap bek kanan berusia 27 tahun itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/700c56fd90a4226f53d99b62a53d1ede-20260616_ANU_Pildun_Portugal_Congo_mumed.jpg)
Penting untuk memulai dengan baik, tampil bagus di pertandingan pertama dan kedua, lalu finis pertama di grup.
Ya, di atas kertas, Portugal unggul jauh dari RD Kongo. Mereka memiliki pemain-pemain elite dunia di setiap lini. Di lini belakang, selain Nunes, mereka memiliki bek kiri Barcelona, Joao Cancelo, serta bek tengah Manchester City, Ruben Dias. Di depan mereka ada trio gelandang kreatif Vitinha, Bernardo Silva, dan Bruno Fernandes. Trio lini tengah ini sangat matang dan terbiasa menghadapi laga-laga sulit di PSG, Manchester City dan Manchester United. Fernandes juga bersinar di Liga Primer dengan mencetak rekor 21 asis musim ini, melampaui rekor sebelumnya 21 asis yang dipegang Kevin De Bruyne dan Thierry Henry.
Fernandes akan lebih fokus membantu serangan untuk menciptakan peluang gol bagi tiga mesin gol Portugal Cristiano Ronaldo yang diapit oleh Rafael Leao dan Pedro Neto. Lini serang Portugal sangat berbahaya karena mereka selalu membanjiri area pertahanan lawan berkat kelenturan posisi full-back untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain. Mesin gol Portugal itu sedang dalam performa terbaiknya, dengan selalu mencetak dua gol dalam tiga laga persahabatan terakhir melawan Amerika Serikat, Chile, dan Nigeria.
”Penting untuk memulai dengan baik, tampil bagus di pertandingan pertama dan kedua, lalu finis pertama di grup. Kemudian, kita akan menjalani pertandingan demi pertandingan, tetapi bukan dengan harapan memenangi semuanya. Harus selangkah demi selangkah. Awal yang baik adalah hal yang terpenting,” tutur Ronaldo sebelum tim berangkat ke Amerika.
Ronaldo yang sudah berusia 41 tahun menjadi sosok panutan tim yang diharapkan bisa menyuntikkan ketenangan saat laga memasuki fase krusial. Performa Ronaldo yang masih berada di level sangat tinggi, meskipun sudah tidak muda lagi, juga menjadi pemacu bagi para pemain muda untuk selalu memberikan yang terbaik.
”Saya berusia 26 tahun, tetapi saya tidak pernah melihat usianya. Karena kondisi fisiknya sendiri adalah bukti terbaik dari dedikasinya, betapa pentingnya hal itu bagi dia, Anda bisa melihatnya sekilas,” ucap Vitinha.
”Kami mengalami perubahan generasi secara bertahap di tim kami. Di satu sisi, pemain berusia 21 tahun menjalani Piala Dunia pertama mereka dan, di sisi lain, Ronaldo bermain di Piala Dunia keenamnya. Kami menjaga keseimbangan ini dengan baik, memiliki tim nasional dengan banyak pemain muda, sekaligus berada di level yang sangat tinggi, jelas mampu bersaing untuk kejuaraan dunia,” lanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/8d568757287b29d189c7d888f3cbcfca-Portugal_WCup_Soccer_2.jpeg)
”Ronaldo seperti ini setiap hari, Ronaldo yang abadi. Bagi semua superstar, dari persiapan hingga mentalitas, yang paling harus ditekankan adalah dedikasinya yang terus-menerus selama 24 jam, yang luar biasa dan menjadi panutan bagi semua orang. Dia masih ada di sana, panutan yang luar biasa bagi kebanyakan orang. Semua yang dia lakukan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental, masih menakjubkan. Dia bisa saja bersantai sepenuhnya. Namun, kenyataannya, dia tampaknya masih memahami semuanya. Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk berbagi semua ini dengan dia,” ungkap Vitinha.
Efek Ronaldo untuk menjaga atmosfer positif di dalam tim itulah yang membuat dia masih diperlukan oleh Martinez. Keberadaan peraih lima Ballon d’Or itu akan sangat krusial saat Portugal memasuki laga-laga hidup mati.
”Ketika keadaan semakin ketat dan kelelahan psikologis serta fisik (meningkat), di situlah kita akan tahu siapa juara sebenarnya,” ujar Ronaldo yang akan menjalani Piala Dunia keenamnya.
Di pengujung kariernya, Ronaldo berpeluang menyempurnakan pencapaiannya dengan menjuarai Piala Dunia, satu-satunya yang belum dia raih. Pada 2016, dia sudah ikut membawa Portugal menjuarai Piala Eropa. Sementara di level klub dia sudah meraih semuanya bersama Manchester United dan Real Madrid. Dia pun merasa, skuad Portugal saat ini memiliki keseimbangan di setiap lini, dengan para pemain yang kompak.
”Ini generasi pemain yang sangat bagus. Namun, ada faktor-faktor yang tidak dapat kita kendalikan. Menang atau kalah, yang merupakan hal terpenting, bergantung pada banyak faktor. Namun, ini adalah generasi yang akan membuat rakyat Portugal bahagia,” tutur pencetak gol terbanyak Portugal itu, dengan 143 gol dalam 228 laga.
Meskipun timnya dinilai sebagai salah satu favorit juara, Vitinha mengaku, di dalam tim tidak pernah ada percakapan membahas hal itu. Tim fokus selangkah demi selangkah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/891e59934c35f10e3e8e91cfbc8b2201-COMBO_FBL_WC_2026_MATCH23_POR_COD_139064709.jpg)
”Kami tidak naif, kami tahu kami memiliki tim nasional dengan kualitas dan bakat yang sangat tinggi, dengan pemain yang bermain untuk klub-klub besar di seluruh dunia. Saya bahkan akan mengatakan bahwa mungkin kami belum pernah memiliki tim nasional seperti ini, justru karena begitu banyak pemain berada di klub-klub besar,” ujar gelandang PSG itu.
”Namun, ini tidak berarti apa-apa di atas kertas, seperti biasa. Jadi, saya akan mengatakan kami adalah salah penantang, tidak diragukan lagi. Tetapi ’favorit’? Tidak, saya tidak akan menggunakan kata itu. Kami adalah tim nasional dengan kualitas dan kemampuan yang sangat tinggi, tetapi kami harus mempraktikkannya dan melakukan yang terbaik untuk tim nasional,” tutur Vitinha.
Fokus utama Vitinha sama dengan Ronaldo, tampil bagus dan menang di laga pertama. Oleh karena itu, mereka fokus mempelajari permainan RD Kongo yang bertumpu pada permainan bertahan dan menyerang balik. Pertarungan paling krusial ada di sisi lebar lapangan, di mana Leao dan Neto akan menekan dari sisi sayap berduel dengan full-back RD Kongo, Aaron Wan-Bissaka dan Arthur Masuaku. Peran Wan-Bissaka akan mendapat porsi antisipasi lebih karena dia merupakan salah satu bek sayap berbahaya di Liga Inggris.
Kekuatan sayap RD Kongo akan diisolasi dengan pola permainan 4-3-3 racikan Martinez sehingga target man mereka, Yoane Wissa atau Cedric Bakambu, kering peluang. Kemudian, Portugal akan membangun serangan dari sisi dalam memaksimalkan peran Bruno Fernandes dan Bernardo Silva. Pergerakan kedua gelandang itu sangat berbahaya karena sering muncul tiba-tiba memafaatkan ruang yang sedikit terbuka.
Namun, RD Kongo bisa membuat frustrasi lini serang Portugal dengan karakter bertahan yang sangat solid. Dalam lima laga terakhir mereka, RD Kongo hanya kemasukan tiga gol. Dalam kualifikasi Piala Dunia, mereka menunjukkan komitmen untuk menyerap tekanan. Para pemain RD Kongo bisa nyaman dengan minim penguasaan bola karena target mereka adalah menang meskipun dengan skor tipis, rata-rata 1-0.
Dalam 10 laga kualifikasi mereka hanya mencetak 15 gol dan kemasukan enam gol untuk melaju ke putaran dua. Mereka kemudian mengalahkan Kamerun dan Nigeria untuk melaju ke babak playoff di mana mereka menang tipis 1-0 untuk melaju ke putaran final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/d2fed7ad524ba64c74925b14e0742af3-FBL_WC_2026_TRAINING_COD_138977993.jpg)
”Kami beradaptasi dengan situasi. Kami harus fokus seperti yang sering kami lakukan,” ucap Pelatih RD Kongo Sebastien Desabre.
”Itulah yang kami lakukan. Kami bekerja dengan baik, kami memainkan dua pertandingan persahabatan yang sulit dan inilah kami. Sekarang, ini adalah langkah selanjutnya bagi kami," lanjut pelatih asal Perancis itu.
Ini merupakan laga sangat penting bagi RD Kongo yang kembali ke Piala Dunia setelah edisi 1974 saat masih Zaire. Mereka telah mengakhiri penantian 52 tahun untuk kembali tampil di level tertinggi. Penampilan mereka melawan Portugal akan didukung langsung oleh diaspora yang ada di Eropa dan Amerika yang diperkirakan sekitar 10.000 penonton.
”Saya sangat senang. Sudah lama sekali.… Saya berusia 40 tahun, tetapi saya belum pernah melihat Piala Dunia bersama negara saya. Saya bersemangat. Saya tahu ini akan sangat bagus,” ujar Dada Muzinga yang mendukung timnya di lokasi latihan di Houston.
Muzinga mengenakan topeng badut dengan rambut merah terang dan menyampaikan pesan kepada Ronaldo, yang kemungkinan akan bermain untuk Portugal melawan DR Kongo.
”Pesan ini untuk Cristiano Ronaldo. Kami tidak menginginkan penalti, tidak ada kartu merah (seperti di pertandingan pembukaan). Kami ingin bermain sampai akhir. Kita lihat siapa yang akan memenangi pertandingan,” tutur Muzinga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/e8beb9ada2a093359284bca99f45d289-FBL_WC_2026_TRAINING_COD_138979274.jpg)
Claude Byiringiro, seorang guru lokal, sangat bangga dengan para pemain RD Kongo yang sedang berlatih.
”Saya mengikuti tim ini dan saya sangat senang ini terjadi di sini, di Houston. Saya merasa kami memiliki skuad yang bagus, kekompakan tim semakin membaik. Semoga kali ini kami bisa melaju jauh,” ucap pemuda berusia 24 tahun itu.
”Ini adalah para pemain yang Anda tonton di TV sejak kecil dan sekarang Anda bisa melihat mereka mewakili negara Anda, dan tidak hanya itu, Anda bisa melihat mereka secara langsung. Cara mereka mengoper bola sungguh luar biasa. Rasanya tidak nyata. Saya belum menyadarinya. Saya mencoba merekam video untuk kenangan,” kata Byiringiro yang berharap timnya juara.
Penampilan RD Kongo ini diharapkan menjadi penyejuk kekalutan di negara yang sedang dilanda wabah ebola itu. (AFP/AP/REUTERS)
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul