Inilah Puluhan Perusahaan Pendukung Penjajahan Israel

Hyundai sampai Booking.com dan AirBnB tercantum dalam daftar pendukung penjajahan Israel di Palestina. Boikot dianjurkan sejak bertahun lalu.

04 Jul 2025 08:00 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Secara tidak langsung, banyak orang mendukung pendudukan Israel terhadap Palestina. Caranya, menjadi pelanggan atau pembeli sejumlah perusahaan yang membantu Israel mendapat manfaat ekonomi dari wilayah penjajahan di Palestina. Ada juga perusahaan yang memasok aneka kebutuhan Israel di wilayah penjajahan tersebut.

Daftar perusahaan itu dicantumkan dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Penjajahan Palestina Francesca Albanese membahas laporan itu.

”Situasi di wilayah Palestina yang diduduki itu seperti kiamat. Israel bertanggung jawab atas salah satu genosida paling kejam dalam sejarah modern,” ujarnya dalam sidang Dewan HAM PBB, Rabu (2/7/2025) di Geneva, Swiss.

Albanese meminta negara-negara untuk menghentikan jual beli senjata dan komoditas lain yang dipakai atau dihasilkan Israel dari wilayah penjajahan. Kerja sama keuangan yang terlacak mendukung penjajahan Israel juga perlu dihentikan. Aneka kerja sama itu memperburuk kondisi di Tepi Barat dan Gaza.

Perusahaan di daftar itu disebut Albanese bagian dari sistem pendudukan. Oleh karena itu, tindakan terhadap mereka harus sepadan dan berefek jera. ”Sementara kehidupan di Gaza sedang dihancurkan dan Tepi Barat mengalami peningkatan serangan, laporan ini menunjukkan mengapa genosida Israel terus berlanjut: karena menguntungkan bagi banyak orang,” ujarnya.

Daftar dan wujud keterlibatan berbagai perusahaan dipaparkan dalam laporan 38 halaman. Perusahaan dikelompokkan dalam sejumlah kategori, mulai dari keuangan, penginapan, sampai pabrikan alat berat tercantum dalam daftar itu. Sejumlah perusahaan itu menjadi kontributor penjajahan wilayah Palestina dan pengusiran penduduknya.

Israeli bulldozers demolish a Palestinian owned house, built without a permit from the Israeli authorities in the area C which lies under their control since 1967, in the occupied West Bank village of Duma on February 2, 2023. (Photo by Zain Jaafar / AFP) Buldoser-buldoser Israel merobohkan dan meratakan dengan tanah sebuah rumah milik warga Palestina, yang--menurut Israel--dibangun tanpa izin dari otoritas Israel di area C yang mereka kontrol di Desa Duma, wilayah pendudukan Tepi Barat, Kamis (2/2/2023).

Pasok penghancur

Ada sejumlah perusahaan Jepang dan Korea Selatan di daftar itu. Laporan itu menulis Fanuc dari Jepang sebagai pemasok robot ke Israel. Robot Fanuc dipakai di sejumlah pabrik yang memproduksi senjata Israel. Sebagian besar senjata itu dipakai menyerang Gaza dan Tepi Barat.

Dari Korsel ada Hyundai dan anak usahanya, Doosan, disebut memasok alat berat untuk menghancurkan aneka bangunan dan infrastruktur Palestina di Tepi Barat dan Gaza. ”Perusahaan-perusahaan ini terus memasok ke Israel meski ada limpahan bukti penggunaan untuk kejahatan atas mesin-mesin itu oleh Israel,” demikian tercantum dalam laporan.

Sudah beberapa tahun ada seruan boikot terhadap Hyundai dan sejumlah perusahaan lain yang memasok barang ke Israel. Sebab, pasokan itu dipakai Israel menguatkan penjajahan terhadap Palestina.

Selain dari Asia, ada banyak perusahaan Eropa dan Amerika Utara disebut sebagai pendukung penjajahan. Raksasa pertahanan AS, Lockheed Martin, bekerja sama erat dengan Israel mengembangkan berbagai persenjataan yang dipakai di wilayah penjajahan.

Bukan cuma perusahaan, universitas juga terlibat membantu Israel. Salah satunya Massachusetts Institute of Technology (MIT) AS. Universitas itu membantu Israel mengembangkan program pengintaian, penginderaan, dan pengawasan. Program-program itu dipakai memburu orang di Tepi Barat dan Gaza.

Palestina menjadi ladang percobaan berbagai persenjataan dan perangkat lunak buatan Israel dan sekutunya. Banyak hasil uji coba itu akhirnya dijual ke pasar seperti Pegasus, perangkat penyadap ponsel.

Pemerintah sejumlah negara memakai program itu menyadap ponsel penggiat HAM, jurnalis yang kritis pada pemerintah, sampai oposisi. Awalnya, NSO Israel mengembangkan program itu untuk menyadap warga Palestina.

<p>infografik daftar kemampuan penyadapan pegasus</p>

Perangkat lunak jadi salah satu ladang kerja sama Israel dengan sejumlah perusahaan. Palantir, IBM, Microsoft, Amazon, dan Google yang kini diinduki Alphabet membantu Israel mengembangkan perangkat lunak untuk menyadap dan mematai-matai warga Palestina. Setelah teruji, program itu dijual ke sejumlah pihak.

Sokongan ke Israel juga diberikan oleh bank BNP Paribas dan Barclays. Lembaga investasi, BlackRock dan Vanguard, juga disebut sebagai pendukung keuangan Israel. BlackRock memegang saham di sejumlah perusahaan, termasuk yang dicantumkan dalam laporan PBB sebagai penyokong Israel.

Adapun Vanguard diketahui juga menguasai saham beberapa perusahaan yang memiliki peran dalam operasi militer tersebut, yakni Caterpillar, Lockheed Martin, Palantir dan Chevron. Palantir Technologies disebut menyediakan perangkat AI untuk militer Israel meskipun tidak disebutkan secara spesifik tentang penggunaannya.

Laporan PBB juga mencantumkan AirBnB dan Booking.com sebagai penyokong penjajahan Israel di Palestina. Sejak 2020, Booking.com telah dicantumkan di daftar. Meski demikian, perusahaan itu terus menambah jumlah properti yang disewakan di Tepi Barat.

AirBnB mempromosikan salah satu unit sewanya berada di lokasi tenang. Sama sekali tidak disebut bahwa unit itu berada di lokasi hasil perampasan pendatang ilegal Israel. Para pendatang itu berulang kali menyerang warga Palestina.

Sanggahan dan tanggapan

Alphabet mengakui dikontrak 1,2 miliar dollar AS oleh Israel untuk menyediakan layanan komputasi awan. Walakin, layanan itu disebut tidak terkait keperluan militer atau intelijen.

Sementara itu, juru bicara Lockheed Martin menyebut penjualan peralatan militer merupakan transaksi antarpemerintah. ”Diskusi tentang penjualan tersebut sebaiknya ditangani oleh Pemerintah AS,” kata perusahaan itu.

Israel marah besar pada laporan itu. Laporan, walau disusun dengan data dan fakta lengkap, dinyatakan tidak berdasar dan ditujukan mencemarkan nama baik Israel.

Sementara itu, AS mendesak Albanese dipecat. Ia disebut terus mengampanyekan hal negatif kepada Israel dan sejumlah pihak pendukung Israel. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul