Sedang kelaparan malah ditembaki saat mengambil bantuan pangan. Itulah hari-hari yang dihadapi warga Gaza beberapa waktu belakangan. Setelah tentara Israel, kini ada data serdadu bayaran Amerika Serikat diduga ikut menembaki warga Gaza yang mengantre jatah bantuan.
Keterlibatan serdadu bayaran AS diungkapAssociated Press dalam laporan pada Kamis (3/7/2025). Kantor berita AS itu mewawancarai dua serdadu bayaran yang dikontrak mengawal proses pembagian bantuan di Gaza.
”Warga Palestina di Gaza menghadapi dua pilihan mustahil: kelaparan atau berisiko ditembak saat mencoba mengambil makanan,” demikian pernyataan bersama 171 organisasi internasional. Selain Amnesty International, ada—antara lain—Oxfam, Act Church of Sweden, Association for Civil Rights Israel, Network of the Presbyterian Church USA Bay Area, dan US-Lutheran Palestine Israel Justice Network ikut meneken pernyataan itu.
Sumber AP mengaku sangat terganggu dengan operasi pembagian yang mereka anggap sebagai praktik berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Mereka mengatakan, staf keamanan yang dipekerjakan sering kali tidak memenuhi syarat dan tidak diperiksa latar belakangnya. Padahal, serdadu bayaran itu bersenjata lengkap dan tampaknya memiliki izin penuh untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Laporan AP diungkap beberapa hari setelah rangkaian laporan media Israel, Haaretz, soal distribusi bantuan itu. Haaretz juga mewancarai Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bentukan AS yang ditunjuk AS-Israel menjadi penyalur tunggal bantuan kemanusian ke Gaza.
Blokade total Israel membuat satu-satunya caranya warga Gaza mendapat makanan, obat, sampai susu bayi adalah melalui bantuan kemanusiaan. Sampai Februari 2025, ada 400 lokasi distribusi bantuan di seluruh Gaza. Kini, cuma tersisa empat lokasi yang dikelola GHF dan seluruhnya di wilayah yang dikendalikan militer Israel, Tzahal.
”Ukurannya selebar lapangan bola dan diawasi dari berbagai penjuru, dipenuhi debu dan lumpur, dikelilingi kawat berduri. Akses hanya untuk satu orang masuk atau keluar. Pekerja GHF meletakkan palet dan kotak makanan lalu pagar dibuka sehingga ribuan orang berebutan,” kata Koordinator Dokter Lintas Batas (MSF) di Gaza, Aitor Zabalgogeazkoa.
Perkataan Zabalgogeazkoa tercantum dalam pernyataan 171 organisasi internasional. ”Kalau orang datang terlalu cepat dan mendekati tempat pemeriksaan, mereka ditembak. Kalau tiba tepat waktu, akan tetapi ada desak-desakan sehingga orang terpaksa naik pagar, mereka akan ditembak. Jika terlambat, dan seharusnya tidak lagi di lokasi distribusi, mereka ditembak,” katanya.
Bantahan dan fakta
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai lembaga kemanusiaan sering mengkritik cara pembagian bantuan GHF dan menolak bekerja sama dengan lembaga itu. PBB meminta pola distribusi bantuan diubah.
Dalam pernyataan bersama, 171 organisasi internasional mendesak operasi GHF dihentikan. ”Kami tidak akan ditutup. Kami punya satu tugas dan sangat sederhana: setiap hari kami menyediakan makanan gratis untuk warga Gaza,” kata CEO GHF, Johnnie Moore.
Ia menyangkal ada kekerasan di lokasi atau sekitar lokasi distribusi. Menurut dia, orang-orang tewas di luar lokasi distribusi.
Namun, fakta dan kesaksian dari lapangan menunjukkan hal berbeda. Sumber AP mengatakan, rekan-rekan mereka secara teratur melemparkan granat kejut dan semprotan merica ke arah warga Palestina.
Salah satu sumber AP mengatakan, peluru ditembakkan ke segala arah — ke udara, ke tanah, dan terkadang ke arah warga Palestina. Prajurit bayaran itu memakai peluru asli, bukan peluru karet yang biasanya dipakai untuk pengendalian massa.
Menurut sumber itu, ia ingat setidaknya satu kejadian di mana ia mengira seseorang telah terkena tembakan. ”Ada orang-orang tak bersalah yang terluka. Sangat parah. Tidak perlu,” kata prajurit sewaan itu.
Saat semua itu terjadi, ada pegawai Pemerintah AS di lokasi. Tugas pegawai itu mengawasi dan merekam semua yang sedang menunggu jatah makanan. Pegawai itu, menurut sumber AP, melapor ke Israel.
Sumber AP itu menyebutkan, rekaman video dari pegawai AS dan sumber lain dikirimkan ke AS lewat siaran langsung. Militer Israel, Tzahal, mengolah video itu dengan perangkat lunak pengenal wajah dari lokasi di perbatasan Israel-Gaza di Kerem Shalom. Selain itu, Israel menerbangkan pesawat nirawak di atas lokasi distribusi.
Bukti video
Untuk menguatkan pernyataan mereka, sumber AP memberikan rekaman video di lokasi kejadian. Ratusan orang berdesakan di antara gerbang besi dan suara tembakan hingga ledakan berkali-kali terdengar. Ada juga suara-suara dalam bahasa Inggris yang menyemangati agar penembakan terus dilakukan.
Suara dan video dalam rekaman itu menggambarkan kengerian di lokasi distribusi. Salah satu sumber AP mengaku tidak mengerti mengapa warga pengambil bantuan ditembaki.
Kalau alasannya mengendalikan kerumunan, ada penembakan ke orang-orang yang meninggalkan lokasi. Sumber AP mengaku melihat sebagian prajurit bayaran menembak laki-laki tua dan lalu laki-laki itu jatuh bersimbah darah.
Sejumlah laki-laki berbaju abu-abu, warna seragam prajurit bayaran GHF, terekam melepaskan granat kejut ke kerumunan warga. Ada foto perempuan tergeletak setelah granat kejut meledak dekat kepalanya.
Salah satu sumber menghitung, 37 granat kejut dilepaskan dalam satu kejadian saja. Selain itu ditembakkan 27 selongsong gas air mata dan 60 kaleng semprotan merica. Ada catatan jumlah penggunaan amunisi itu. ”Ini belum termasuk peluru asli yang banyak sekali dipakai,” kata sumber AP itu.
Karena Israel melarang jurnalis masuk ke Gaza, AP tidak memverifikasi ke lapangan. AP mencocokkan lokasi itu dengan data citra satelit dan rekaman foto atau video lama. Hasilnya, lokasi-lokasi dalam rekaman sumber GHF dan SRS cocok dengan sejumlah tempat di Gaza.
AP juga bekerja sama dengan Rob Maher dan Steven Beck. Maher adalah pakar forensik audia di Montana University. Sementara Beck mengelola Beck Audio Forensics. Menurut mereka, video-video sumber AP direkam setidaknya dari jarak 50 meter dari lokasi kejadian. Mereka memastikan semua video bukan hasil rekayasa.
Sumber AP mengaku tidak paham mengapa penembakan dilakukan hampir setiap hari pembagian bantuan. Mereka tidak merasa ada ancaman dari arah kerumunan orang yang kelaparan dan sedang menanti jatah makanan.
Setiap hari
Kesaksian sumber AP itu melengkapi pernyataan berbagai pihak lain sejak GHF beroperasi di Gaza. Sejumlah warga Palestina berulang menyatakan setiap hari ada penembakan di lokasi pembagian bantuan. Warga tidak tahu pasti, siapa yang menembaki mereka. Petunjuk warga hanyalah tembakan berasal dari arah pembagian bantuan dan bukan dari arah lain.
“Kami datang ke sini untuk mendapatkan makanan bagi keluarga kami. Kami tidak punya apa-apa,” kata sumber AP itu menceritakan apa yang dikatakan warga Palestina kepadanya. “Mengapa tentara (Israel) menembaki kami? Mengapa Anda menembaki kami?” lanjut sumber AP itu mengutip protes warga Gaza.
GHF menyewa perusahaan keamanan, Safe Reach Solutions, untuk mengawal proses distribusi bantuan di Gaza. Lembaga itu didirikan pensiunan intelijen dan tentara AS.
Kepada AP, SRS menyatakan tidak ada hal serius di lokasi distribusi. SRS membenarkan ada beberapa penembakan dan kontraktor SRS membidik ke tanah dengan tujuan mengendalikan massa.
Diakui para kontraktor atau prajurit bayaran memakai peluru asli. ”Tindakan pengendalian massa diperlukan demi keselamatan dan keamanan warga sipil,” kata SRS kepada AP.
Sementara dalam laporan harian SRS yang didapat AP tercatat, 31 persen proses distribusi diwarnai penembakan ke warga. Menurut SRS, ketika dikonfirmasi AP, tidak ada cedera serius dalam kejadian yang dimaksud dalam laporan.
Militer Israel, Tzahal, mengakui ada penembakan ke arah antrean pengambil bantuan. Seperti SRS, Tzahal menyangkal mengarahkan moncong senapan ke arah massa dan mengaku peluru ditembakkan ke tanah. Tzahal menyatakan sedang ada penyelidikan terhadap laporan-laporan penembakan di lokasi pembagian bantuan di Gaza.
Di sisi lain, Tzahal bersama GHF dan SRS menyebutkan tidak ada militer Israel di lokasi pembagian. Menurut Tzahal, GHF bertanggung jawab mengelola distribusi di lokasi.
SRS mengklaim, ada ancaman kepada para kontraktor mereka. Akan tetapi, tidak ada bukti ditunjukkan untuk ancaman tersebut.
Sumber AP menyebutkan, mereka diperintahkan merekam siapa pun yang dianggap ”tidak pada tempatnya”. Tidak ada panduan soal siapa yang harus direkam. Keputusan diserahkan kepada orang sewaan di lapangan.
AP juga menemukan, sebagian orang sewaan GHF dan SRS tak punya pengalaman soal distribusi bantuan kemanusiaan atau bertempur. Mereka juga awalnya tidak diberi petunjuk teknis bertugas.
Setiap petugas sewaan dilengkapi senapan, pistol, granat kejut, gas air mata, dan semprotan merica. Senapan dan pistol disediakan Israel. Salah satu prajurit sewaan pernah mengirim surat ke rekannya di UG Solutions. Menurut dia, operasi di Gaza amat amatir.
UG Solutions ditunjuk AS menjadi pengawal lokasi-lokasi pemeriksaan di Gaza selama gencatan senjata beberapa bulan lalu. Menurut The Guardian, perusahaan AS itu merekrut pensiunan tentara AS dengan gaji awal 10.000 dollar AS.
GHF dibentuk pada Februari 2025 dan awalnya AS menunjuk seorang veteran marinir, Jake Wood, jadi pemimpinnya. Wood mundur setelah tahu Israel melarang GHF membagikan bantuan sesuai prinsip kemanusiaan internasional. Wood menganggap larangan itu melanggar prinsip yang dianutnya selama ini sehingga ia memutuskan mundur. (AP/AFP)
Sedang kelaparan malah ditembaki saat mengambil bantuan pangan. Itulah hari-hari yang dihadapi warga Gaza beberapa waktu belakangan. Setelah tentara Israel, kini ada data serdadu bayaran Amerika Serikat diduga ikut menembaki warga Gaza yang mengantre jatah bantuan.
Keterlibatan serdadu bayaran AS diungkapAssociated Press dalam laporan pada Kamis (3/7/2025). Kantor berita AS itu mewawancarai dua serdadu bayaran yang dikontrak mengawal proses pembagian bantuan di Gaza.
”Warga Palestina di Gaza menghadapi dua pilihan mustahil: kelaparan atau berisiko ditembak saat mencoba mengambil makanan,” demikian pernyataan bersama 171 organisasi internasional. Selain Amnesty International, ada—antara lain—Oxfam, Act Church of Sweden, Association for Civil Rights Israel, Network of the Presbyterian Church USA Bay Area, dan US-Lutheran Palestine Israel Justice Network ikut meneken pernyataan itu.
Serial Artikel
Pembagian Bantuan Gaza Ricuh, 1 Orang Tewas dan 48 Terluka akibat Tembakan
GHF bentukan AS-Israel diragukan punya pengalaman atau kapasitas untuk menyalurkan bantuan ke warga Gaza. PBB menolak berpartisipasi.
Sumber AP mengaku sangat terganggu dengan operasi pembagian yang mereka anggap sebagai praktik berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Mereka mengatakan, staf keamanan yang dipekerjakan sering kali tidak memenuhi syarat dan tidak diperiksa latar belakangnya. Padahal, serdadu bayaran itu bersenjata lengkap dan tampaknya memiliki izin penuh untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan.
Laporan AP diungkap beberapa hari setelah rangkaian laporan media Israel, Haaretz, soal distribusi bantuan itu. Haaretz juga mewancarai Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga bentukan AS yang ditunjuk AS-Israel menjadi penyalur tunggal bantuan kemanusian ke Gaza.
Blokade total Israel membuat satu-satunya caranya warga Gaza mendapat makanan, obat, sampai susu bayi adalah melalui bantuan kemanusiaan. Sampai Februari 2025, ada 400 lokasi distribusi bantuan di seluruh Gaza. Kini, cuma tersisa empat lokasi yang dikelola GHF dan seluruhnya di wilayah yang dikendalikan militer Israel, Tzahal.
”Ukurannya selebar lapangan bola dan diawasi dari berbagai penjuru, dipenuhi debu dan lumpur, dikelilingi kawat berduri. Akses hanya untuk satu orang masuk atau keluar. Pekerja GHF meletakkan palet dan kotak makanan lalu pagar dibuka sehingga ribuan orang berebutan,” kata Koordinator Dokter Lintas Batas (MSF) di Gaza, Aitor Zabalgogeazkoa.
Perkataan Zabalgogeazkoa tercantum dalam pernyataan 171 organisasi internasional. ”Kalau orang datang terlalu cepat dan mendekati tempat pemeriksaan, mereka ditembak. Kalau tiba tepat waktu, akan tetapi ada desak-desakan sehingga orang terpaksa naik pagar, mereka akan ditembak. Jika terlambat, dan seharusnya tidak lagi di lokasi distribusi, mereka ditembak,” katanya.
Bantahan dan fakta
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai lembaga kemanusiaan sering mengkritik cara pembagian bantuan GHF dan menolak bekerja sama dengan lembaga itu. PBB meminta pola distribusi bantuan diubah.
Dalam pernyataan bersama, 171 organisasi internasional mendesak operasi GHF dihentikan. ”Kami tidak akan ditutup. Kami punya satu tugas dan sangat sederhana: setiap hari kami menyediakan makanan gratis untuk warga Gaza,” kata CEO GHF, Johnnie Moore.
Ia menyangkal ada kekerasan di lokasi atau sekitar lokasi distribusi. Menurut dia, orang-orang tewas di luar lokasi distribusi.
Namun, fakta dan kesaksian dari lapangan menunjukkan hal berbeda. Sumber AP mengatakan, rekan-rekan mereka secara teratur melemparkan granat kejut dan semprotan merica ke arah warga Palestina.
Salah satu sumber AP mengatakan, peluru ditembakkan ke segala arah — ke udara, ke tanah, dan terkadang ke arah warga Palestina. Prajurit bayaran itu memakai peluru asli, bukan peluru karet yang biasanya dipakai untuk pengendalian massa.
Serial Artikel
Warga Gaza yang Menanti Bantuan Diserang Lagi, 29 Orang Tewas
Dua serangan menyasar warga Gaza yang menanti pembagian bantuan. Israel ditekan untuk membuka bantuan akses lebih besar.
Menurut sumber itu, ia ingat setidaknya satu kejadian di mana ia mengira seseorang telah terkena tembakan. ”Ada orang-orang tak bersalah yang terluka. Sangat parah. Tidak perlu,” kata prajurit sewaan itu.
Saat semua itu terjadi, ada pegawai Pemerintah AS di lokasi. Tugas pegawai itu mengawasi dan merekam semua yang sedang menunggu jatah makanan. Pegawai itu, menurut sumber AP, melapor ke Israel.
Sumber AP itu menyebutkan, rekaman video dari pegawai AS dan sumber lain dikirimkan ke AS lewat siaran langsung. Militer Israel, Tzahal, mengolah video itu dengan perangkat lunak pengenal wajah dari lokasi di perbatasan Israel-Gaza di Kerem Shalom. Selain itu, Israel menerbangkan pesawat nirawak di atas lokasi distribusi.
Bukti video
Untuk menguatkan pernyataan mereka, sumber AP memberikan rekaman video di lokasi kejadian. Ratusan orang berdesakan di antara gerbang besi dan suara tembakan hingga ledakan berkali-kali terdengar. Ada juga suara-suara dalam bahasa Inggris yang menyemangati agar penembakan terus dilakukan.
Suara dan video dalam rekaman itu menggambarkan kengerian di lokasi distribusi. Salah satu sumber AP mengaku tidak mengerti mengapa warga pengambil bantuan ditembaki.
Kalau alasannya mengendalikan kerumunan, ada penembakan ke orang-orang yang meninggalkan lokasi. Sumber AP mengaku melihat sebagian prajurit bayaran menembak laki-laki tua dan lalu laki-laki itu jatuh bersimbah darah.
Sejumlah laki-laki berbaju abu-abu, warna seragam prajurit bayaran GHF, terekam melepaskan granat kejut ke kerumunan warga. Ada foto perempuan tergeletak setelah granat kejut meledak dekat kepalanya.
Salah satu sumber menghitung, 37 granat kejut dilepaskan dalam satu kejadian saja. Selain itu ditembakkan 27 selongsong gas air mata dan 60 kaleng semprotan merica. Ada catatan jumlah penggunaan amunisi itu. ”Ini belum termasuk peluru asli yang banyak sekali dipakai,” kata sumber AP itu.
Karena Israel melarang jurnalis masuk ke Gaza, AP tidak memverifikasi ke lapangan. AP mencocokkan lokasi itu dengan data citra satelit dan rekaman foto atau video lama. Hasilnya, lokasi-lokasi dalam rekaman sumber GHF dan SRS cocok dengan sejumlah tempat di Gaza.
AP juga bekerja sama dengan Rob Maher dan Steven Beck. Maher adalah pakar forensik audia di Montana University. Sementara Beck mengelola Beck Audio Forensics. Menurut mereka, video-video sumber AP direkam setidaknya dari jarak 50 meter dari lokasi kejadian. Mereka memastikan semua video bukan hasil rekayasa.
Sumber AP mengaku tidak paham mengapa penembakan dilakukan hampir setiap hari pembagian bantuan. Mereka tidak merasa ada ancaman dari arah kerumunan orang yang kelaparan dan sedang menanti jatah makanan.
Setiap hari
Kesaksian sumber AP itu melengkapi pernyataan berbagai pihak lain sejak GHF beroperasi di Gaza. Sejumlah warga Palestina berulang menyatakan setiap hari ada penembakan di lokasi pembagian bantuan. Warga tidak tahu pasti, siapa yang menembaki mereka. Petunjuk warga hanyalah tembakan berasal dari arah pembagian bantuan dan bukan dari arah lain.
“Kami datang ke sini untuk mendapatkan makanan bagi keluarga kami. Kami tidak punya apa-apa,” kata sumber AP itu menceritakan apa yang dikatakan warga Palestina kepadanya. “Mengapa tentara (Israel) menembaki kami? Mengapa Anda menembaki kami?” lanjut sumber AP itu mengutip protes warga Gaza.
GHF menyewa perusahaan keamanan, Safe Reach Solutions, untuk mengawal proses distribusi bantuan di Gaza. Lembaga itu didirikan pensiunan intelijen dan tentara AS.
Serial Artikel
Pembunuhan Direktur RS Indonesia di Gaza, Bukti Israel Sasar Tenaga Kesehatan
Sekitar 1.400 tenaga kesehatan tewas oleh serangan Israel sejak Oktober 2023. Serangan ke fasilitas dan tenaga kesehatan melanggar hukum internasional.
Kepada AP, SRS menyatakan tidak ada hal serius di lokasi distribusi. SRS membenarkan ada beberapa penembakan dan kontraktor SRS membidik ke tanah dengan tujuan mengendalikan massa.
Diakui para kontraktor atau prajurit bayaran memakai peluru asli. ”Tindakan pengendalian massa diperlukan demi keselamatan dan keamanan warga sipil,” kata SRS kepada AP.
Sementara dalam laporan harian SRS yang didapat AP tercatat, 31 persen proses distribusi diwarnai penembakan ke warga. Menurut SRS, ketika dikonfirmasi AP, tidak ada cedera serius dalam kejadian yang dimaksud dalam laporan.
Militer Israel, Tzahal, mengakui ada penembakan ke arah antrean pengambil bantuan. Seperti SRS, Tzahal menyangkal mengarahkan moncong senapan ke arah massa dan mengaku peluru ditembakkan ke tanah. Tzahal menyatakan sedang ada penyelidikan terhadap laporan-laporan penembakan di lokasi pembagian bantuan di Gaza.
Di sisi lain, Tzahal bersama GHF dan SRS menyebutkan tidak ada militer Israel di lokasi pembagian. Menurut Tzahal, GHF bertanggung jawab mengelola distribusi di lokasi.
SRS mengklaim, ada ancaman kepada para kontraktor mereka. Akan tetapi, tidak ada bukti ditunjukkan untuk ancaman tersebut.
Sumber AP menyebutkan, mereka diperintahkan merekam siapa pun yang dianggap ”tidak pada tempatnya”. Tidak ada panduan soal siapa yang harus direkam. Keputusan diserahkan kepada orang sewaan di lapangan.
AP juga menemukan, sebagian orang sewaan GHF dan SRS tak punya pengalaman soal distribusi bantuan kemanusiaan atau bertempur. Mereka juga awalnya tidak diberi petunjuk teknis bertugas.
Setiap petugas sewaan dilengkapi senapan, pistol, granat kejut, gas air mata, dan semprotan merica. Senapan dan pistol disediakan Israel. Salah satu prajurit sewaan pernah mengirim surat ke rekannya di UG Solutions. Menurut dia, operasi di Gaza amat amatir.
UG Solutions ditunjuk AS menjadi pengawal lokasi-lokasi pemeriksaan di Gaza selama gencatan senjata beberapa bulan lalu. Menurut The Guardian, perusahaan AS itu merekrut pensiunan tentara AS dengan gaji awal 10.000 dollar AS.
GHF dibentuk pada Februari 2025 dan awalnya AS menunjuk seorang veteran marinir, Jake Wood, jadi pemimpinnya. Wood mundur setelah tahu Israel melarang GHF membagikan bantuan sesuai prinsip kemanusiaan internasional. Wood menganggap larangan itu melanggar prinsip yang dianutnya selama ini sehingga ia memutuskan mundur. (AP/AFP)