Perancis pernah mengalami peristiwa buruk saat kalah dari Senegal pada Piala Dunia 2002. Pelatih Didier Deschamps tak ingin kejadian itu terulang kali ini.
16 Jun 2026 08:53 WIB · Olahraga
AFP
NEW JERSEY, KOMPAS — Perancis pernah mengalami peristiwa tragis pada Piala Dunia 2002. Waktu itu, datang sebagai juara bertahan, Perancis menghadapi bekas jajahan, Senegal, yang tampil sebagai debutan di ajang akbar ini.
Perancis pun diyakini bakal mudah mengatasi hambatan pertama itu dalam upaya mempertahankan gelar yang mereka raih dengan sempurna saat menjadi tuan rumah empat tahun sebelumnya. Apalagi, peringkat FIFA kedua tim waktu itu terpaut jauh. Perancis peringkat pertama, sementara Senegal jadi tim terendah di Korsel-Jepang, yaitu peringkat ke-42.
Akan tetapi, kenyataan di lapangan berkata lain. Senegal justru membalik semua prediksi, mempermalukan sang juara bertahan dengan skor 1-0. Diawali dari kekalahan tersebut, sang juara bertahan justru kandas di babak penyisihan grup. Deschamps pun tak mau peristiwa tersebut terulang lagi saat lagi-lagi bertemu Senegal pada laga Grup I di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Selasa (16/6/2026) waktu setempat.
Di atas kertas, Anda bisa lihat apa yang dilakukan Senegal saat Piala Afrika, mereka memiliki pemain dan tim dengan level sangat tinggi.
Berbicara pada jumpa pers sehari jelang laga di pusat media Stadion MetLife, Deschamps menekankan, pertemuan kali ini akan berakhir kemenangan bagi Perancis. ”Apa yang terjadi pada 2002, selamat untuk Senegal, itu bagus buat mereka. Tetapi, tentu saja kami akan memastikan bahwa hasilnya akan positif bagi kami kali ini,” kata Deschamps.
Menurut Deschamps, apa yang terjadi pada 24 tahun lalu tinggal sejarah. ”Itu sejarah, bahkan pemain tertua kami, N’Golo (Kante), saya tidak yakin ia menonton laga itu. Banyak pemain saya yang belum lahir pada 2002. Saya menonton tentu saja, tetapi saya tidak di sana,” kata Deschamps yang menjadi bagian dari skuad 1998, tetapi sudah pensiun sebelum Piala Dunia 2002 dimulai.
Deschamps juga tidak mau menggunakan kata balas dendam saat menghadapi Senegal. Menurut pelatih yang akan mengundurkan diri selepas turnamen ini, tidak ada kata balas dalam sepak bola. ”Saya tahu banyak orang menggunakan kata revans, tetapi tidak ada revans dalam sepak bola. Itu 24 tahun lalu dan kami punya halaman baru untuk ditulis,” ujar pelatih berusia 57 tahun ini.
Deschamps juga tidak mau meremehkan ”Singa Teranga”, julukan Senegal. Terlebih lagi, sepak bola di negara itu sudah jauh lebih berkembang. Senegal yang kini diasuh oleh Pape Thiaw sudah menjadi salah satu kekuatan dunia.
”Di atas kertas, Anda bisa lihat apa yang dilakukan Senegal saat Piala Afrika, mereka memiliki pemain dan tim dengan level sangat tinggi,” ujar Deschamps.
”Senegal adalah salah satu tim terbaik Afrika, salah satu tim terbaik dunia, jadi kami tahu apa yang terjadi dengan laga nanti. Mereka punya segalanya, mereka memiliki pemain hebat yang bermain di klub top,” tambahnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/eab14809976acedb7d36281aee92bde7-AFP_B77W2FF.jpg)
Senegal memang memiliki sejumlah pemain yang bisa mengancam pertahanan Perancis yang bakal dikomandoi William Saliba. Bersama Dayot Upamecano, keduanya harus mewaspadai striker Nicolas Jackson yang akan mendapat dukungan dari pemain legendaris, Sadio Mane.
”Mereka punya kualitas serangan yang hebat, gelandang yang luar biasa. Mereka sangat efektif pada turnamen terakhir, intensitas atletik yang sangat tinggi, dan memiliki banyak pemain dengan level teknik sangat tinggi,” kata Deschamps memuji calon lawan.
Agar kejadian 2002 tidak terulang, Deschamps harus memastikan mampu menciptakan keseimbangan dalam tim. Dengan membawa sembilan penyerang, Deschamps hanya memiliki lima gelandang untuk dipilih.
Empat penyerang kemungkinan akan tampil sebagai starter, dengan dua gelandang bertindak sebagai jangkar di lini tengah. Barisan penyerang Kylian Mbappe, Michael Olise, Ousmane Dembele, dan Desire Doue akan didukung oleh Adrien Rabiot dan Aurélien Tchouaméni, yang juga bertugas melindungi barisan pertahanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/aa57d1ba9cd72f61f5c1570310195b3f-AFP_B77X49M.jpg)
Selepas jumpa pers di stadion, jurnalis diberi kesempatan untuk menyaksikan sesi latihan Perancis di pusat latihan milik klub New York Red Bulls di kawasan East Hanover, New Jersey. Akan tetapi, tidak banyak yang bisa disimpulkan dari latihan tersebut karena jurnalis hanya diberi waktu melihat 15 menit pertama latihan, yang lebih banyak diisi pemanasan.
Tampak semua pemain Perancis berlatih. Mbappe, yang tidak jadi hadir dalam jumpa pers, berlatih bersama para penyerang seperti Dembele, Doue, Marcus Thuram, dan Bradley Barcola, serta para pemain lain. Sementara tiga kiper berlatih terpisah. Deschamps memimpin langsung latihan tersebut.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar