PIALA DUNIA 2026

Spirit ”La Famille” Perancis Mengejar Juara

Perancis asuhan Deschamps punya resep jitu untuk berjaya di Amerika. Skuad mewah yang dipadu kematangan dan spirit ”keluarga” menjadi ancaman bagi para rivalnya.

09 Jun 2026 10:00 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Yulvianus Harjono

Dari 48 tim peserta Piala Dunia 2026, Perancis adalah tim dengan skuad termewah sekaligus menakutkan. Skuad ”Les Bleus” bisa disebut sebagai ”All Star” jika meminjam istilah dalam bola basket NBA. Tidak heran, mereka difavoritkan untuk menjadi juara di Amerika.

Kemewahan skuad Perancis membuat iri banyak tim. Ketika Italia—yang gagal lolos ke Piala Dunia untuk tiga kali beruntun—nyaris tak punya penyerang yang bisa diandalkan, Perancis dianugerahi barisan pemburu gol terbaik sejagat, seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Michael Olise.

Jadi, ketika Hugo Ekitike—salah satu pemain termahal Liverpool—harus absen akibat cedera tendon achilles, Perancis tak perlu meringis. Mereka masih memiliki Mbappe, juga Marcus Thuram dan Jean-Philipe Mateta yang tak kalah garang. ”Siapa yang bisa menandingi itu? Mereka sungguh tim menakutkan,” ungkap Greg O'Keeffe, jurnalis The Athletic.

Seperti era-era sebelumnya, kedalaman skuad Perancis di Piala Dunia 2026 tak hanya di lini serang. Mereka memiliki barisan gelandang berpengalaman yang bisa menjadi penyeimbang serangan, yakni Aurelien Tchouameni dan N’Golo Kante. Tanpa Eduardo Camavinga yang tampil inkonsisten di Real Madrid, Perancis bisa mengandalkan tenaga baru, Warren Zaïre-Emery dan Manu Kone, yang masing-masing bersinar bersama Paris Saint-Germain dan AS Roma.

Les Bleus juga diberkahi barisan palang pintu tangguh yang bergelimang prestasi, baik di timnas maupun klub. Pelatih Perancis Didier Deschamps masih memercayakan posisi bek tengah kepada duet William Saliba—yang membawa Arsenal menjuarai Liga Inggris—dan Dayot Upamecano, bek Bayern Muenchen pengoleksi empat gelar juara Bundesliga Jerman.

Pelatih timnas Perancis, Didier Deschamps, memimpin latihan tim menjelang laga persahabatan antara Perancis dan Pantai Gading di Nantes, Perancis, Rabu (3/6/2026).

Lalu, Ibrahima Konate dan Maxence Lacroix menjadi bek ”pelapis” nan mewah. Pada sisi sayap, ketangguhan Jules Kounde, Lucas Hernandez, Theo Hernandez, dan Malo Gusto tak perlu lagi diragukan. Mereka adalah pemain kunci di klubnya masing-masing.

Satu-satunya kekurangan Perancis adalah di posisi kiper. Mike Maignan, Robin Risser, dan Brice Samba belum selevel dengan para pendahulunya yang karismatik, seperti Fabien Barthez dan Hugo Lloris. Namun, hal itu tidak mengurangi kemewahan skuad Perancis yang bernilai total Rp 30,2 triliun atau yang tertinggi di antara tim-tim lainnya.

Resep Deschamps

Selain skuad yang mewah, kelebihan Perancis lainnya adalah pada sosok Deschamps. Pelatih yang memegang rekor sebagai pelatih timnas Perancis terlama di era profesional, yaitu 14 tahun, itu mengenal dengan baik skuad dan pemain-pemain pilihannya. Pria yang sukses meraih trofi Piala Dunia, baik sebagai pemain maupun pelatih, itu juga mempunyai resep khusus membangun skuadnya yang bermental pemenang.

Resep itu adalah memadukan talenta hebat dengan kolektivitas melalui kedisiplinan taktik. Motonya adalah ”La Famille”, yaitu mengutamakan keluarga alias kepentingan skuad di atas ego individual. Prinsip itu sangat krusial untuk Les Bleus yang dihuni barisan megabintang dunia. Para bintang mereka, seperti Dembele, Mbappe, Olise, Saliba, dan Doue, sebetulnya saling bersaing secara individu untuk meraih penghargaan Ballon d’Or.

Jadi, tanpa solidaritas dan spirit persatuan, skuad megabintang akan menjadi percuma, seperti diperlihatkan Les Bleus asuhan Raymond Domenech di Piala Dunia 2010, Belgia pada edisi 2018, dan Portugal pada 2006. Prinsip sakral itulah yang menjadi alasan Deschamps masih memanggil Kante, gelandang veteran Fenerbahce berusia 35 tahun.

Quote

Dia seolah-olah memiliki 15 paru-paru di dadanya.

Penyerang timnas Perancis, Ousmane Dembele (kiri atas), dan bek Jules Kounde (kanan atas) sedang berlatih menjelang laga persahabatan antara Perancis dan Pantai Gading di Nantes, Perancis, Rabu (3/6/2026).

Meskipun tak lagi segarang dahulu, Kante mewakili karakter pemain yang diinginkan Deschamps. Ia pemain yang disiplin, cerdas, pekerja keras, rendah hati, dan mengutamakan tim di atas gelar individu. Gelandang yang absen di edisi 2022 akibat cedera itu adalah salah satu aktor di balik kesuksesan Perancis meraih trofi Piala Dunia 2018 di Rusia.

Gelandang box to box itu tak pernah lelah mengisi berbagai ruang di lapangan, baik saat timnya menyerang maupun bertahan. ”Dia seolah-olah memiliki 15 paru-paru di dadanya,” ujar Paul Pogba, juara dunia 2018 asal Perancis, menggambarkan etos kerja tinggi Kante seperti dikutip ESPN.

Satu keunggulan lainnya dari Perancis adalah pendekatan pragmatis yang dikedepankan Deschamps. Meskipun memiliki barisan penyerang mewah, Deschamps tidak suka timnya mengumbar serangan dan gol-gol. Ia lebih mengutamakan keseimbangan dan hasil akhir. Maka, bagi sebagian kalangan, permainan Perancis dianggap membosankan.

Tak heran, pada fase grup dua edisi terakhir Piala Dunia, yaitu di Rusia dan Qatar, Perancis rerata hanya mengemas 1,5 gol per laga. Jumlah gol itu sangatlah minim untuk tim berlimpah penyerang. Namun, di fase gugur, ketika pertaruhannya lebih tinggi, mereka bisa beradaptasi dengan meningkatkan permainan. Rerata gol mereka meningkat menjadi 2,63 gol per laga. Tiga gol bahkan mereka cetak pada final 2022 saat dikalahkan Argentina lewat adu penalti.

Jalan terjal

Pragmatisme, fleksibilitas, dan kedalaman skuad itu sangat dibutuhkan untuk mengarungi Piala Dunia 2026 yang lebih panjang dari edisi-edisi sebelumnya. Apalagi, jalan Perancis menuju final untuk ketiga kalinya beruntun diprediksi tidak akan mudah. Jika mampu jadi juara Grup I, mereka berpeluang bertemu Jepang/Belanda/Swedia di babak 32 besar, Jerman di 16 besar, Brasil/Maroko di perempat final, dan Belgia/Spanyol di semifinal.

Jersei timnas Perancis untuk Piala Dunia 2026 dipamerkan di Paris, Perancis, Jumat (5/6/2026).

Superkomputer Opta menjagokan Perancis sebagai tim unggulan kedua, yaitu di bawah Spanyol, untuk menjadi juara di Amerika. Kans mereka menjadi juara adalah 12,70 persen, sementara Spanyol 15,99 persen. Namun, skuad Perancis lebih matang dan berpengalaman dibandingkan dengan ”La Furia Roja”. Apalagi, edisi 2026 bakal menjadi ajang terakhir Deschamps bersama Les Bleus.

Deschamps memburu sejarah sebagai orang pertama yang tiga kali menjadi juara dunia, yaitu dua kali sebagai pelatih dan sekali sebagai pemain. Ia akan dibantu Mbappe yang juga tengah mengejar trofi Ballon d”Or pertamanya. Edisi 2026 bakal menjadi momen prime penyerang Real Madrid itu.

Maka, Les Bleus patut diunggulkan sepanjang mereka mampu menekan ego dan mengedepankan spirit ”La Famille”….

Skuad Perancis:

Kiper: Mike Maignan (AC Milan), Robin Risser (Lens), Brice Samba (Rennes)

Bek: Lucas Digne (Aston Villa), Malo Gusto (Chelsea), Lucas Hernández (Paris Saint-Germain), Theo Hernández (Al-Hilal), Ibrahima Konaté (Liverpool), Jules Koundé (Barcelona), Maxence Lacroix (Crystal Palace), William Saliba (Arsenal), Dayot Upamecano (Bayern Muenchen)

Gelandang: N'Golo Kanté (Fenerbahçe), Manu Koné (AS Roma), Adrien Rabiot (AC Milan), Aurélien Tchouaméni (Real Madrid), Warren Zaïre-Emery (Paris Saint-Germain)

Penyerang: Maghnes Akliouche (AS Monako), Bradley Barcola (Paris Saint-Germain), Rayan Cherki (Manchester City), Ousmane Dembélé (Paris Saint-Germain), Désiré Doué (Paris Saint-Germain), Jean-Philippe Mateta (Crystal Palace), Kylian Mbappé (Real Madrid), Michael Olise (Bayern Muenchen), Marcus Thuram (Inter Milan)

Pelatih: Didier Deschamps


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto