Layar bioskop selama Lebaran 2025 dikuasai film horor. Kebetulan atau strategi industri?
28 Mar 2025 14:41 WIB · Investigasi
Sejak lebih dari 17 tahun lalu, hampir setiap akhir pekan Alfin (43) menikmati film horor, baik di bioskop maupun di rumah. Warga Tangerang Selatan, Banten, ini melabeli dirinya moviefreak alias penggila film, khususnya horor.
Ia ingat, di awal hobinya menonton pada tahun 2000-an, film horor Indonesia kental dengan bumbu seks dan obyektifikasi perempuan. Tetapi, pada akhir 2000-an, film horor Indonesia mulai lebih serius.
”(Film) Yang paling membekas buatku itu Pintu Terlarang tahun 2009 dari Joko Anwar. Enggak sekadar horor, tapi juga thriller dengan misteri berlapis-lapis. Dari situ aku merasa film horor Indonesia bisa meningkat kembali kualitasnya,” kata Alfin, Selasa (25/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/2895ce9a2823198a8a7081136c137f88-PXL_20250320_194150538.NIGHT.jpg)
Ia menyebut kata ”kembali” karena pada dekade 1970 hingga 1980-an film horor Indonesia dipandangnya berkualitas tinggi hingga dibuat ulang, seperti Pengabdi Setan dan Siksa Kubur. Namun, perkembangannya tak langsung merata. Sejak KKN di Desa Penari sukses besar, ia melihat banyak yang latah membuat film horor.
”Semua produser kayak berlomba bikin horor. Tapi tidak semua berkualitas bagus. Bahkan, di antara moviefreaks, ada kalimat ’semua akan horor pada waktunya’,” kata Alfin.
Jika menengok layar bioskop hari-hari ini, kalimat itu ada benarnya. Lima hari menjelang Idul Fitri 2025, sebanyak 9 dari 12 film Indonesia yang diputar di salah satu jaringan bioskop bergenre horor, mulai dari Petaka Gunung Gede, Desa Mati, Arwah Sinden, Pernikahan Arwah, Pabrik Gula, Qodrat 2, Singsot, hingga Setan Botak di Jembatan Ancol.
Tiga film lainnya adalah drama, yaitu Norma: Antara Mertua dan Menantu, serta Komang dan film animasi Jumbo. Cengkeraman film horor di Indonesia terasa makin kuat dalam beberapa tahun terakhir. Ini tecermin dari data di laman filmindonesia.or.id yang dianalisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas.
Data mencakup jumlah penonton untuk 15 film terpopuler tiap tahun selama 18 tahun, dari 2007 sampai 2024. Jika periode ini dibagi rata masing-masing sembilan tahun, yakni 2007-2016 dan 2017-2024, maka pertumbuhan popularitas film horor akan terlihat jelas.
Genre horor melonjak tajam dari 21,3 juta pada periode 2007–2016 menjadi lebih dari 110 juta penonton pada 2017–2024. Artinya, ada pertumbuhan 416,7 persen.
Ini jauh lebih besar ketimbang genre lain. Drama, misalnya, yang hanya tumbuh 40 persen, dari sekitar 59,9 juta penonton pada 2007–2016 menjadi 83,9 juta penonton pada 2017–2024. Genre komedi, di sisi lain, justru anjlok 33,6 persen, dari 44,6 juta penonton menjadi 29,6 juta penonton pada periode yang sama.
Sutradara film horor Qodrat 2, Charles Gozali, menilai masyarakat Indonesia punya kesenangan tersendiri dengan hal-hal yang menakutkan. Ini tidak lepas dari budaya masyarakat yang cenderung masih percaya pada hal-hal mistik. Salah satu contoh yang menarik adalah pocong yang begitu populer di Indonesia.
Menurut dia, kemungkinan hal ini ada kaitannya dengan profil masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Jenazah Muslim dikafani menjadi bentuk pocong sebelum dikebumikan. Meski demikian, di negara lain yang juga mayoritas Muslim, film hantu mereka tidak menampilkan pocong sebagai sosok ikonik.
Di dunia nyata merasa tertindas, di film horor lihat karakter yang membalas perbuatan buruk, rasanya seperti dapat pelampiasan emosi.
Hanya di Indonesia pocong menjadi simbol horor yang terkenal. Ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal memainkan peran penting dalam perkembangan horor di Indonesia. Bahkan, horor di sini sudah berkembang menjadi bagian dari budaya populer.
”Horor di Indonesia sudah menjadi pop culture. Di Amerika pop culture-nya mungkin superhero. Di Indonesia itu horor,” jelasnya.
Diminatinya film horor di Indonesia, menurut pengamat perfilman Ekky Imanjaya, berakar ke era ’70-an dan ’80-an. Saat itu film horor yang mengeksploitasi tema mistik dan supranatural sangat digemari. Film aksi seperti Jaka Sembung pun ikut memasukkan unsur mistik, seperti ilmu hitam.
”Minat orang Indonesia terhadap horor sangat kuat dan sudah sejak lama ada. Akarnya pada keseharian masyarakat yang akrab dengan cerita rakyat dan legenda urban. Sejak kecil orang Indonesia sering mendapat petuah atau tabu terkait hal-hal mistik. Film superhero kita pun lebih sering diselipkan unsur supranatural ketimbang fiksi sains,” tutur Ekky.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/ea3e1411-af5e-408f-be48-deda65278eae_jpeg.jpg)
Alasan lain orang senang nonton film horor adalah sebagai bentuk eskapisme. Setelah lelah bekerja atau belajar, orang ingin sejenak ”lari dari kenyataan”, merasakan pengalaman mendebarkan bak naik roller coaster, dengan menonton film horor. ”Bisa teriak-teriak melepaskan stres,” kata Ekky.
Nonton film horor, menurut dia, juga bisa sebagai proyeksi dari keinginan terpendam. Misalnya, seseorang yang merasa tertekan di dunia nyata serasa mendapat pelepasan emosi lewat film horor. ”Di dunia nyata merasa tertindas, di film horor lihat karakter yang membalas perbuatan buruk, rasanya seperti dapat pelampiasan emosi,” katanya.
Berbeda dengan era ’90-an ke belakang, menurut Ekky, film horor kini lebih dihargai, terbukti dengan masuknya beberapa film horor sebagai nominasi Festival Film Indonesia, seperti Qorin, Siksa Kubur, dan Pengabdi Setan. Bahkan, film horor Perempuan Tanah Jahanam dikokohkan sebagai film terbaik FFI 2020.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/c6f8c86e-8376-426a-b771-cf051b63b3a3_jpg.jpg)
”Untuk menghindari kebosanan penonton, hindari pengulangan berlebihan, misalnya hantunya pocong lagi, pocong lagi. Masih banyak subgenre horor lain yang belum dieksplorasi mendalam, seperti psychological horror atau apocalyptic horror, serta kekayaan folklor dan legenda urban yang beragam. Di kita masih berkutat di subgenre demonic horror,” kata Ekky.
Pengulangan atau pendekatan pembuatan film horor yang formulaik ini yang juga dikeluhkan oleh Alfin. Saat ini, menurut dia, film horor yang ada di pasaran punya formula yang mirip: sekelompok orang pergi ke suatu tempat yang ”berbahaya” dan mendapat gangguan di sana. Locus delicti atau lokasinya yang seakan menjadi tokoh utamanya.
”Tinggal ganti setting lokasi, ganti pemain, terus ceritanya hampir sama. Produser pun pasti mengutamakan yang sedang diinginkan oleh pasar, kan. Ya, semoga ke depan film horor semakin kreatif,” ucap Alfin.
Penulis:
Satrio Pangarso Wisanggeni, Ratna Sri Widyastuti, Sri RejekiEditor:
Sri Rejeki, Andy Riza Hidayat