Bioskop, Destinasi Favorit Lebaran: Apa yang Dicari Penonton?

Selain opor, menonton film di bioskop jadi tradisi Lebaran. Jutaan orang menikmati bioskop tiap kali libur Lebaran datang. Apa yang mereka kejar di bioskop?

28 Mar 2025 08:45 WIB · Investigasi

Oleh Ratna Sri Widyastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki

Selain makan ketupat dan opor ayam, bermaafan, bertemu keluarga besar, hingga berbagi uang kecil kepada sanak saudara, ada satu kebiasaan lagi yang banyak dilakukan masyarakat Indonesia saat libur Lebaran, yakni menonton film di bioskop.   

Olahan data Tim Jurnalisme Data Kompas memperlihatkan fenomena yang konsisten ini. Sepanjang 2007–2024, sebanyak 62.926.581 orang menonton film Indonesia di periode ini, setara dengan 17,25 persen dari total penonton bioskop selama 18 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, jumlah tiket film nasional yang terjual saat libur akhir tahun hanya 43.396.049 atau sekitar 70 persen dari angka musim Lebaran. 

Data ini dikumpulkan dari situs filmindonesia.or.id, mencakup penonton dalam rentang 14 hari sebelum hingga 14 hari setelah Lebaran, dengan fokus pada 15 film Indonesia terlaris setiap tahun. 

Jika divisualkan dengan heatmap, lonjakan penonton saat Lebaran tampak sebagai garis diagonal dengan warna paling pekat. Ini terjadi karena hari Idul Fitri maju 10-11 hari setiap tahun dalam kalender Masehi. 

Film horor mendominasi tontonan pada libur Lebaran dengan porsi 51,61 persen, disusul film drama 32,21 persen dan film komedi 14,17 persen. Tren ini berubah seiring waktu. Pada 2007–2016, film drama Indonesia lebih menarik penonton, kecuali pada 2013 yang didominasi film komedi. Drama terlaris dalam periode ini adalah Laskar Pelangi (2008) karya Riri Riza, yang meraup 4.719.453 penonton.   

Namun, sejak 2017, film horor mulai merajai box office, kecuali pada 2020 dan 2021 saat drama dan thriller lebih dominan. Tren ini diawali oleh Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar, yang ditonton 4.206.103 orang. Puncaknya terjadi pada 2022, ketika KKN di Desa Penari mencetak rekor sebagai film horor terlaris dengan 10.061.033 penonton sejak dirilis pada 30 April. 

Selain menganalisis data penonton, Tim Jurnalisme Data Harian Kompas juga mengadakan survei mengenai kebiasaan menonton di bioskop. Kuesioner disebarkan melalui media sosial dan Kompas.id, dengan masa survei 10-16 Maret 2025.    

Hasilnya, 47,47 persen responden mengaku menonton bioskop saat Lebaran untuk mengisi waktu luang. Salah satunya adalah Wisnu Satrio (30) yang rutin menonton di bioskop bersama keluarga besar saat libur Lebaran. Mereka menghindari tempat wisata seperti kebun binatang dan pantai karena biasanya penuh dan tidak nyaman.  

”Libur Lebaran itu panjang. Setelah makan dan ngobrol, bingung mau ngapain lagi. Akhirnya, ya, ke bioskop,” kata warga Matraman, Jakarta Timur, ini saat diwawancarai pada Kamis (20/3/2025).   

Film yang mereka tonton bergantung pada pilihan yang tersedia di bioskop. Namun, ia selalu mengecek ulasan terlebih dahulu agar tidak kecewa. ”Enggak pernah asal masuk. Pernah sekali coba-coba, malah bosan di dalam. Jadi buang-buang waktu dan uang,” ujar Wisnu, yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di sebuah kementerian. 

Jika pilihan film terbatas, tidak semua anggota keluarga ikut menonton. Suasana bioskop saat Lebaran terasa berbeda dari hari biasa, lebih banyak anak-anak terutama jika yang diputar adalah film keluarga.  

”Bude dan tante biasanya malas kalau filmnya enggak cocok. Kalau horor, mereka takut, jadi cuma saudara-saudara seumuran yang akhirnya nonton,” ucap Wisnu. 

Lonjakan penonton di musim liburan 

Lebaran ini akan menjadi ”pertarungan” bagi lima film lokal, yakni Qodrat 2 (horor), Pabrik Gula (horor), Jumbo (animasi), Norma: Antara Mertua dan Menantu (drama), dan Komang (drama romansa).  

Produser film horor Qodrat 2, Linda Gozali, mengatakan, film yang menawarkan pengalaman kolektiflah yang cenderung menarik lebih banyak penonton. ”Di bioskop, mereka bisa tertawa, ketakutan, dan merasakan emosi yang sama. Itulah yang disebut communal experience,” katanya.  

Ia optimistis Qodrat 2 akan meraih banyak penonton. Film yang shooting-nya sudah selesai tahun lalu ini sejak awal diproyeksikan rilis pada masa Lebaran. Pihaknya mengamati, lonjakan penonton di bioskop kini lebih sering terjadi saat liburan keluarga, termasuk Lebaran.  

Sutradara Qodrat 2, Charles Gozali sedang mengarahkan pemain saat syuting film Qodrat 2.

”Festive season seperti Lebaran berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Saat musim liburan, keuangan keluarga umumnya lebih siap. Misalnya, saat Lebaran, ada THR (tunjangan hari raya) yang memberi kelonggaran finansial,” ujar Linda.   

Meskipun bergenre horor, Qodrat 2 dijanjikan menghadirkan rasa kemenangan setelah berpuasa. Film yang dibintangi Vino G Bastian dan Acha Septriasa ini menghadirkan latar waktu akhir 1970-an hingga awal 1980-an. 

”Suasana kebahagiaan dan kebersamaan adalah esensi yang ingin kami hadirkan,” ucapnya.   

Strategi rilis saat Lebaran 

Survei Kompas menunjukkan, satu dari empat penonton pergi ke bioskop saat masa libur Lebaran karena ingin menyaksikan film tertentu. 

Film animasi Jumbo telah lama dipromosikan untuk tayang pada libur Lebaran 2025. Film ini akan bersaing dengan dua film horor dan dua film drama Indonesia.  

Produser Jumbo, Anggia Kharisma, mengatakan, film ini diharapkan menjadi pembeda yang mengandalkan kekuatan cerita dan kedekatan emosional dengan penonton. 

”Jumbo membuka ruang imajinasi dan refleksi, baik dengan keluarga maupun diri sendiri. Di dalamnya ada nilai persahabatan, keberanian, cinta keluarga, serta pelajaran tentang kehilangan,” ujar Anggia. 

Menurut dia, pesan film Jumbo selaras dengan tradisi Lebaran, ketika keluarga berkumpul dan berbagi momen kebersamaan. Agar semakin dekat dengan penonton, cerita Jumbo dirancang dengan rasa dan akar lokal, tetapi dikemas dalam visual dan narasi yang diklaim setara dengan animasi global. 

Chief of Content Officer Visinema Studios, Anggia Kharisma.

”Family-oriented viewing experience semakin dicari, terutama di momen seperti Lebaran,” ujar Anggia. 

Menurut dia, penonton kini lebih selektif memilih hiburan. Mereka mencari tontonan bermakna yang menghadirkan nilai dan kehangatan untuk dibagikan dengan orang terdekat.  

Selain pemasaran konvensional, tim Jumbo juga menggandeng komunitas sekolah, orangtua, dan ruang kreatif.  

”Selain sebagai hiburan, Jumbo diharapkan menjadi jembatan kebersamaan antara orangtua dan anak, antara nostalgia dan harapan. Ini film untuk kita semua, anak-anak kita, dan ’anak-anak’ dalam diri kita,” tuturnya.

Favorit anak muda 

Kebiasaan menonton bersama keluarga saat libur Lebaran juga dinikmati oleh anak muda. Survei Kompas menunjukkan, generasi di bawah 25 tahun semakin akrab dengan bioskop, terutama di masa libur Lebaran. Mereka lebih antusias menonton di layar lebar dibandingkan hari biasa. 

Salah satunya Shabrina Nurhazimi Zhafarina Putri (16), siswi SMA di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Saat Lebaran, ia rutin menonton film bersama keluarga besar dan para sepupu, lengkap dengan orangtua mereka masing-masing. 

”Biasanya kami pilih film anak atau fantasi, soalnya banyak sepupu yang masih kecil,” ujar Shabrina.  

Shabrina Nurhazimi Zhafarina Putri (16) dan teman-teman sekelasnya menyempatkan foto bersama sebelum film dimulai. Mereka menonton bersama di sebuah bioskop di Kota Sukabumi, Jawa Barat pada 4 Oktober 2024.

Selain menikmati film, ia juga membantu menjaga sepupu-sepupunya yang masih balita. Baginya, pengalaman menonton saat Lebaran terasa berbeda dibandingkan saat pergi bersama teman-teman.  

”Vibes-nya beda. Lebih seru sama keluarga, lebih nyaman karena enggak perlu keluar uang. Tiket sudah dibayari, plus dapat popcorn,” katanya sambil tertawa. 

Selain mempererat hubungan dengan sepupu, momen ini juga menyelamatkan uang sakunya. Jika pergi bersama teman, ia harus merogoh kocek sendiri untuk membeli tiket dan camilan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ratna Sri Widyastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki
 | 

Editor:

Sri Rejeki