Tahun lalu AS mengebom Iran di tengah berlangsungnya perundingan. Ayatollah Ali Khamenei mengakui bahaya armada AS dan menyiapkan senjata untuk menangkal ancaman AS.
18 Feb 2026 17:02 WIB · Internasional
AFP
TEL AVIV, RABU — Amerika Serikat mengirim 48 F-22 dan F-16 tambahan ke Timur Tengah. Pengiriman dilakukan kala perundingan dengan Iran belum jelas.
Dilaporkan media Israel, The Jerusalem Post, pada Rabu (18/2/2026), 12 F-22 dan 36 F-16 digerakkan AS ke Timur Tengah. Seluruh F-22 disebut akan menuju Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Sementara F-16 belum disebut menuju ke mana.
AS juga disebut mengirim F-35 tambahan. Jumlah dan tujuan pengirimannya tidak diungkap.
Selain itu, AS juga menggerakkan tiga pesawat kendali dan intai, E-3 Sentry, ke Timur Tengah. Pesawat itu bergerak dari Eropa. Sebelumnya, sudah dua E-3 Sentry digerakkan ke Timur Tengah. Pesawat intai seperti E-3 berperan penting dengan radar udara-daratnya memantau ancaman rudal dan pesawat nirawak
Pesawat lain dengan fungsi komunikasi dan kendali adalah E-11A BACN dan U-2 Dragon Lady. Pesawat U-2, antara lain, berfungsi menghubungkan F-22 dan F-16. Dalam Operasi Godam Tengah Malam pada Juni 2025, AS mengerahkan pesawat-pesawat sejenis untuk menyerang Iran.
Diduga pesawat intai akan ditempatkan di lanud di Siprus atau di Lanud Prince Sultan di Arab Saudi. Sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah berperan penting dalam persiapan perang tersebut.
Selain jet tempur dan pesawat kendali komunikasi, AS juga terus menggerakkan pesawat tanker dan angkut. Sepanjang Selasa (17/2/2026) saja ada 16 pergerakan pesawat angkut dan pesawat tanker.
Sebagian dari pesawat tersebut melintasi Atlantik ke Eropa menuju Timur Tengah. Sebagian lagi berangkat dari pangkalan-pangkalan udara di Eropa dan Mediterania menuju Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/e19c87352ad2d1b188eecd620b6315cb-wires_photo_219.jpg)
Mobilisasi kekuatan udara AS itu berlangsung seiring berakhirnya perundingan AS-Iran di Geneva, Selasa. Seorang pejabat AS kepada The Jerusalem Post mengatakan sudah ada kemajuan dalam pembicaraan AS-Iran.
Proposal Iran akan disampaikan dalam dua pekan ke depan. Proposal itu disebut menjembatani perbedaan dengan pandangan AS terkait program nuklir Iran.
Meski demikian, kecemasan akan pecahnya konflik terus membayang. Sebab, AS terus menambah persenjataan di sekitar Iran. Selain itu, hasil perundingan di Geneva dinilai mengambang.
Dalam serangan AS ke Iran tahun lalu, pangkalan Muwaffiq Salti di Jordania berperan penting. Pangkalan itu menjadi basis operasi F-35 Lightning II, F-15E Eagle, hingga pesawat perang elektronik E/A-18G Growler.
Kini di Timur Tengah ada lima tanker KC-46 Pegasus dan E-11. Sementara di Pulau Kreta, Yunani, ada lima tanker KC-135. Di Bulgaria, AS juga menempatkan sejumlah tanker dan pesawat intai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/f9e612f12a79f83aa7ecbc0812dec135-9491150.jpg)
Sejak akhir Januari 2026, AS telah menempatkan gugus tempur laut yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln. Pada akhir pekan lalu, AS memerintahkan kapal induk terbesar di Bumi, USS Gerald Ford, bergerak dari Karibia ke Laut Arab.
Di geladak kedua kapal induk itu bisa ditampung setidaknya 150 pesawat. Selain itu, bisa juga diangkut aneka helikopter.
Terakhir kali ada dua kapal induk AS di Laut Arab tercatat pada Juni 2025. Waktu itu, AS menyerang Iran.
Kapal induk AS didampingi sejumlah kapal perusak. Setidaknya ada tujuh kapal perusak. Seluruh kapal AS di Timur Tengah dilengkapi setidaknya 600 tabung peluncur rudal laut ke darat.
Iran tidak tinggal diam. Belajar dari pengalaman diserang saat berunding tahun lalu, militer Iran mengadakan berbagai latihan perang.
Iran juga menutup sebagian Selat Hormuz yang sangat penting bagi pengiriman migas dunia. Iran mengatakan mengadakan latihan menggunakan munisi hidup dan penembakan roket di Selat Hormuz.
Iran juga mengancam menghancurkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk jika AS kembali menyerang Iran. Pemimpin besar Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, kapal induk AS memang berbahaya. ”Akan tetapi, lebih berbahaya adalah senjata yang bisa menenggelamkan sumber bahaya tersebut.” (AP/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar