PERUNDINGAN AS-IRAN

Selesai Perundingan Iran-AS, Situasi Malah Semakin Tak Jelas

Sudah berunding selama 3,5 jam, hasilnya hanya menyepakati prinsip panduan. Tidak jelas apa saja yang dibahas. Tak jelas juga sampai kapan AS akan menahan diri.

18 Feb 2026 09:00 WIB · Internasional

AFP

Oleh Luki Aulia

GENEVA, SELASA — Iran dan Amerika Serikat menyepakati serangkaian prinsip panduan utama untuk menyelesaikan perselisihan tentang program nuklir Iran. Namun, masih banyak yang harus dilakukan.

Iran akan membuat proposal terperinci dalam dua pekan ke depan. Setidaknya kedua pihak sudah sependapat bahwa ada kemajuan dari perundingan kedua di Geneva, Swiss.

Setelah bertukar catatan selama tiga setengah jam, Selasa (17/2/2026), para perunding Iran dan AS hanya sepakat untuk terus berbicara. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan masih belum jelas.

Tidak jelas apakah kedua belah pihak hanya fokus pada program nuklir Iran atau isu-isu lain seperti rudal balistik negara Iran. Oman hanya mengatakan mereka mencapai ”serangkaian prinsip panduan”.

”Berbagai ide telah diajukan. Ide-ide ini sudah dibahas serius dan akhirnya kami dapat mencapai kesepakatan umum tentang beberapa prinsip panduan,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi seusai perundingan di Geneva.

Laporan tersebut hampir tidak meredakan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang kemungkinan perang regional. Beberapa pejabat mulai bertanya-tanya: berapa lama Presiden AS Donald Trump akan mengizinkan upaya diplomatik untuk terus berlanjut?

Menambah rasa tidak nyaman, Iran melakukan latihan militer dengan rudal jelajah dan kapal saat pembicaraan berlangsung. Skenario latihan termasuk menutup Selat Hormuz.

Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi (3rd L) and Switzerland's Foreign Minister Ignazio Cassis (2nd R) attend a bilateral meeting between Switzerland and Iran during a second round of US-Iranian talks with Washington pushing Tehran to make a deal to limit its nuclear programme, in Geneva on February 17, 2026. (Photo by CYRIL ZINGARO / POOL / AFP)

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, kedua belah pihak sepakat untuk bertemu lagi setelah itu. Walakin, Iran dituding tak mau menerima batasan yang ditetapkan AS. ”Trump berhak untuk mengatakan kapan menurutnya diplomasi telah mencapai titik akhirnya,” kata Vance dalam wawancara di Fox News, beberapa jam setelah pembicaraan berakhir.

”Kami berharap kita tidak sampai pada titik itu. Namun, jika itu terjadi, itu akan menjadi keputusan presiden,” ujarnya.

Vance tampaknya mengindikasikan AS masih tertarik pada diplomasi. Hal itu setelah Trump mengancam akan menggunakan kekuatan jika tidak ada hasil kesepakatan.

Serba tak jelas

Diskusi tidak langsung antara Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, yakni Jared Kushner, bersama Araghchi dimediasi oleh Oman. Menlu Oman Badr al-Busaidi menyatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Menurutnya, Iran dan AS meninggalkan pertemuan dengan langkah lanjutan yang jelas.

Sebelum perundingan, Iran menyatakan hanya akan mau bicara soal program nuklir dan potensi pencabutan sanksi ekonomi yang dikenakan oleh AS. Sementara AS mengindikasikan mereka juga ingin membahas isu-isu lain, seperti pengembangan rudal Iran.

Iran telah bergabung dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Traktat itu yang menjamin hak negara-negara untuk mengejar tenaga nuklir sipil. Aksesi NPT adalah imbalan atas persyaratan untuk meninggalkan senjata atom dan bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Sebaliknya, Israel malah belum menandatangani NPT. Israel tidak mengonfirmasi ataupun menyangkal memiliki senjata nuklir. Berbagai pihak meyakini Israel memilikinya.

Menurut Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, kepada AlJazeera, AS harus mendefinisikan batasan yang dimaksud ke Iran. Sebab, batasan itu belum jelas sampai sekarang.

Jika batasannya adalah Iran tak boleh memiliki senjata nuklir, perundingan mungkin bisa mencapai kesepakatan. Walakin, jika batasannya adalah Iran sama sekali tak boleh memiliki teknologi dan kapasitas pengayaan uranium, kesepakatan pasti tak akan tercapai.

Kesepakatan juga akan sulit kalau AS meminta Iran meninggalkan program rudal. ”Singkatnya, jika pemerintahan Trump bersedia menyesuaikan batasan-batasannya untuk memastikan bahwa batasan tersebut sesuai dengan kepentingan AS, dan bukan kepentingan Israel, kesepakatan dapat tercapai dengan cepat,” kata Parsi.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, Iran terbuka untuk verifikasi bahwa mereka tidak berupaya mendapatkan senjata nuklir. ”Kami sama sekali tidak berupaya mendapatkan senjata nuklir. Jika ada yang ingin memverifikasi hal ini, kami terbuka untuk verifikasi tersebut,” ujarnya.

This handout photo released by Iran's Revolutionary Guards Corps (IRGC)'s official website Sepanews on February 16, 2026, shows a vehicle firing a missile during a military exercise by members of the IRGC and navy in the Gulf. Iran's Islamic Revolutionary Guard Corps on February 16 began a series of military exercises in the Strait of Hormuz, state media reported, on the eve of talks with the United States. (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / SEPAHNEWS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Saling ancam

Trump menduga Iran tidak ingin menanggung konsekuensi dari tidak mencapai kesepakatan. Iran sudah belajar konsekuensi dari sikap keras dalam perundingan tahun lalu.

Pada Juni 2025, di tengah proses perundingan, AS membantu Israel menyerang Iran. Waktu itu, Trump mengatakan ada dua minggu untuk memutuskan kelanjutan perundingan soal Iran. Lalu, empat hari setelah pernyataan itu, Iran diserang. ”Kita bisa saja mencapai kesepakatan daripada mengirimkan pesawat pengebom siluman B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklir mereka,” kata Trump, Selasa.

AS telah menempatkan satu kapal induk USS Abraham Lincoln sekitar 700 kilometer dari Iran. Sementara kapal induk terbesar di Bumi, yakni USS Gerald Ford, sedang bergerak menuju Iran.

Menanggapi peningkatan kekuatan AS di sekitar Iran, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengancam, Iran memiliki senjata yang mampu menenggelamkan kapal induk AS. ”Kita terus mendengar bahwa mereka telah mengirimkan kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya. Trump tidak akan berhasil menghancurkan Iran,” ujarnya.

Direktur Pusat Timur Tengah dan Tatanan Global di Berlin, Ali Fathollah-Nejad, menilai, Iran menghadapi dilema eksistensial. ”Menyerah pada tuntutan AS dapat membawa keringanan sanksi yang sangat dibutuhkan untuk menstabilkan rezim dan mendanai aparat represifnya. Namun, konsesi signifikan apa pun pada isu nuklir, rudal balistik, dan proksi regional akan secara sensitif merusak kedudukan ideologis dan militernya,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto