Lebih dari 400 santri di Sidoarjo diduga keracunan setelah menyantap menu MBG. Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit dan klinik.
02 Sep 2026 00:03 WIB · Nasional
Runik Sri Astuti
SIDOARJO, KOMPAS — Lebih dari 400 santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026), keracunan makanan yang diduga berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Wali santri diimbau tidak khawatir karena dipastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, dirawat secara intensif di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo. Mereka mengalami gejala keracunan makanan, seperti mual, muntah, pusing, lemas, serta sakit perut.
Sedikitnya delapan rumah sakit dan klinik menjadi rujukan perawatan, yakni RSUD Notopuro, RS Delta Surya, RSU Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Klinik Azka, dan RS Anwar Medika. Korban terbanyak dirawat di RSUD Notopuro, yakni 271 santri hingga Selasa pukul 22.00 WIB. Sementara itu, 58 santri dirawat di RS Siti Hajar dan 30 santri di RS Fatimah.
Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan, semua santri korban keracunan saat ini sudah mendapatkan pertolongan medis, baik yang mengalami gejala berat maupun ringan. Penanganan tersebut penting untuk mencegah jatuhnya korban jiwa sekaligus memulihkan kondisi kesehatan mereka.
”Saya pastikan tidak ada korban meninggal dalam kejadian ini. Semua pasien sudah tertangani dengan baik, bahkan sudah ada yang diperbolehkan pulang. Saya mengimbau kepada wali santri jangan ada kekhawatiran,” ujar Subandi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/01/38c5fc60-4cd5-4d24-8b53-d2d3744fc1bb_jpg.jpg)
Di sisi lain, Subandi berjanji akan meminta penjelasan dan mengecek langsung satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang memasok makanan program MBG ke pesantren tersebut. Upaya itu dilakukan untuk mengetahui penyebab kejadian luar biasa yang menimpa ratusan santri di Pesantren Mambaul Hikam.
”Kami akan cek dapur atau SPPG di Tanggulangin yang memasak makanan tersebut untuk mengetahui mengapa bisa terjadi seperti ini. Termasuk perizinan dan legalitas lainnya,” ujar Subandi.
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam KH Abdul Wahid Harun mengatakan, para santri yang mengalami keracunan merupakan pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Mereka menyantap makanan dari program MBG setelah shalat Zuhur.
”Kemudian, setelah shalat Asar, anak-anak mulai mual dan muntah-muntah. Satu per satu anak-anak diantar ke rumah sakit. Namun, jumlahnya semakin lama semakin banyak,” ujar Abdul Wahid.
Selain dilarikan ke sejumlah rumah sakit, ratusan santri juga mendapatkan penanganan medis di lingkungan pesantren. Mereka adalah para santri yang mengalami gejala keracunan ringan, seperti mual dan pusing, tetapi tidak sampai lemas serta masih dapat diajak berkomunikasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/08/13/298b53a7-2d2d-495a-98c0-0d986588b66a.jpg)
Hasan (16), salah satu santri, mengaku merasa pusing dan sakit perut. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti penyebabnya. Menurut dia, gejala tersebut tidak langsung muncul setelah makan, tetapi baru dirasakan beberapa jam kemudian.
”Tiba-tiba sakit perut, pusing, dan lemas. Ternyata banyak teman-teman juga mengeluh sakit perut,” ucap Hasan.
Kasus keracunan makanan yang diduga berasal dari program MBG bukan hal baru. Sebaliknya, kejadian serupa terus berulang di berbagai lokasi. Di Jawa Timur, misalnya, kasus keracunan MBG pernah terjadi di Kabupaten Mojokerto pada Januari 2026 dengan jumlah korban mencapai 411 pelajar, santri, dan orang dewasa.
Penulis:
Runik Sri AstutiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto