Estonia dan Indonesia sama-sama ingin memperkuat kerja sama dan mencari pasar baru. Digitalisasi hingga makanan dan minuman jadi target kerja sama.
29 Apr 2025 16:00 WIB · Internasional
Dunia tengah menghadapi dinamika yang tidak menentu. Untuk menyikapi itu, Indonesia dan Estonia sepakat menjajaki kerja sama di beragam bidang. Sektor digital, industri makanan dan minuman, juga pariwisata jadi bidikan kerja sama.
”Bagi kami, sangat penting untuk memiliki kerja sama tingkat lanjut dalam perdagangan dan bisnis (dengan Indonesia),” kata Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna di sela Estonia-Indonesia CEO Business Forum, Selasa (22/4/2025), di Menara Kadin, Jakarta.
Estonia menilai Indonesia sangat pantas jadi mitra strategis. Status sebagai negara penting di Asia Tenggara menjadi salah satu alasannya.
Estonia antara lain menawarkan kerja sama digital. ”Kami telah mendigitalkan 100 persen layanan publik kami, kecuali pernikahan. Semua hal lainnya dapat ditemukan secara daring,” kata Tsahkna.
Setiap orang, lanjut Tsahkna, dapat menjalankan bisnis dengan menikmati lingkungan digital yang menyediakan berbagai layanan untuk bisnis dan perorangan, serta mendapatkan keamanan siber. ”Itu yang perlu kita lakukan saat ini di abad ke-21. Kita adalah salah satu negara terbaik di dunia di bidang ini,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/564d1d54-9c4a-4860-91ac-f50456066333_jpg.jpg)
Keunggulan di bidang digital itu, menurut Tsahkna, merupakan hasil pengembangan selama 20 tahun bersama swasta. Estonia mengundang Indonesia untuk menjajaki peluang dan investasi di bidang digital itu.
Adriana Sri Lestari, Konsul Kehormatan Estonia di Jakarta, menyebut bahwa Estonia saat ini tengah mengembangkan kerja sama dengan negara-negara di Asia Pasifik. Itu diperkuat dengan dibukanya Kedutaan Besar Estonia untuk Indonesia, Singapura, dan ASEAN. Kedutaan besar itu berkedudukan di Singapura.
Bidang teknologi informasi, keamanan siber, dan data kependudukan, imbuh Adriana, merupakan kekuatan utama Estonia. Dalam laman resmi Pemerintah Estonia disebutkan, sistem data catatan sipil digital atau e-residents merupakan identitas global yang diterbitkan pemerintah.
Manfaatnya bukan cuma untuk data kependudukan secara individu. Sistem itu juga bisa dipakai untuk badan usaha. Pendaftaran badan usaha bisa dilakukan secara daring dari mana pun.
Badan usaha yang terdaftar di sistem itu bisa melakukan otentifikasi secara daring. Beberapa proses juga dilakukan secara daring dari mana saja. Adriana, yang juga Ketua Komite Baltik pada Kadin Indonesia, berharap Indonesia bisa mempelajari dan menerapkan sistem sejenis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/4ed16473-620f-4b37-ac3a-808ab638134c_jpg.jpg)
Wakil Ketua Kadin Estonia Oliver Vaartnou menambahkan, saat ini sejumlah perusahaan Estonia beroperasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut yang akan berkolaborasi dengan perusahaan digital Indonesia.
Oliver menambahkan, kerja sama dengan Indonesia merupakan langkah besar. Selain bidang digital, beberapa pengusaha Estonia sudah berinvestasi di sektor real estate di Bali.
Beberapa dari mereka tengah mencari mitra dan kesempatan baru. ”Indonesia adalah pasar yang sangat menarik, cepat dikembangkan, sangat dinamis, yang pasti sangat menarik bagi para pengusaha Estonia,” tutur Oliver.
Carlo Lustrissimi, Co-founder & CEO 5.0 Robotics, mengatakan, 5.0 Robotics berharap bisa membawa manufaktur yang lebih maju untuk Indonesia. Saat ini, 5.0 Robotics, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi otomasi, bermitra dengan perusahaan Giken Sakata. ”Kerja sama kami ada di Batam,” kata Lustrissimi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/6b8e3181-4178-47c1-8ec7-9755ef4ae02e_jpg.jpg)
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri Bernardino M Vega menyampaikan, selain bidang digitalisasi dan teknologi, terdapat pula peluang kerja sama Indonesia dan Estonia lain. Bidang itu termasuk makanan dan minuman, teknologi hijau, dan pariwisata.
Selain pasar tradisional, sudah saatnya Indonesia melebarkan sayap dan mengembangkan perdagangan ke pasar-pasar nontradisional. ”Kita harus melihat pasar-pasar baru seperti Estonia. Meskipun di Eropa, Estonia jarang terdengar,” ujarnya.
Meski begitu, Dino meyakini Estonia dapat menjadi pintu gerbang bagi produk Indonesia ke pasar Eropa. ”Mereka punya produk-produk makanan-minuman, kita juga. Kita saling mengimpor dan mengekspor. Nilai dagang Estonia dan Indonesia mencapai 540 juta dollar AS,” kata Dino.
Tsahkna menambahkan, Estonia juga merupakan anggota Uni Eropa selama lebih dari 20 tahun. Estonia dapat menjadi pintu gerbang ke Eropa bagi para pebisnis Indonesia dan sebaliknya.
Adriana menambahkan, kerja sama di bidang digital, makanan minuman, dan pariwisata akan menambah panjang daftar kerja sama Estonia dengan Indonesia. Sebelum ini, kerja sama bidang pendidikan sudah berlangsung antara sejumlah universitas Estonia dan universitas Indonesia.
Dari Indonesia, Universitas Airlangga dan Universitas Tri Sakti sudah bekerja dengan kampus-kampus di Estonia. Kerja sama itu sudah berlangsung sejak 2004.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/3b452da4-0948-469a-a1db-94b11cff5689_jpg.jpg)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra