Setidaknya 25 tewas dan 1.139 lain cedera akibat ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaee. Ledakan terjadi kala perundingan nuklir berlangsung
27 Apr 2025 11:00 WIB · Internasional
BANDAR ABBAS, MINGGU — Korban ledakan di pelabuhan niaga terbesar Iran terus bertambah. Hingga Minggu (27/4/2025), 25 orang dipastikan tewas dan 1.139 lain cedera. Sementara enam orang lain belum diketahui nasibnya.
Kantor berita Iran, IRNA, menulis bahwa lebih dari 1.000 orang korban ledakan di salah satu terminal di Pelabuhan Shahid Rajaee. Pada Sabtu (26/4) siang, terjadi kebakaran diikuti ledakan di salah satu terminal pelabuhan.
Setidaknya 300 korban tercatat cedera ringan dan bisa segera keluar rumah sakit. Sisanya ada yang cedera serius sehingga harus diangkut ke rumah sakit sejumlah provinsi di sekitar Hormozgan. Bahkan, ada yang harus dibawa ke Teheran, ibu kota Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengucapkan dukacita untuk para korban dan keluarga. Ia juga berjanji melakukan penyelidikan mendalam mencari penyebab kecelakaan itu.
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni telah berada di Bandar Abbas untuk memantau keadaan. Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menyebut api tinggal 20 persen. Kondisi dinyatakan sudah terkendali.
Pelabuhan Shahid Rajaee berjarak 15 kilometer dari Bandar Abbas, ibu kota Hormozgan. Pelabuhan itu berada di tepi Selat Hormuz.
Pelabuhan Shahid Rajaee adalah pelabuhan niaga terbesar di Iran. Sebanyak seperlima minyak dunia melewati pelabuhan ini. Menurut IRNA, hingga 80 persen peti kemas untuk ekspor dan impor Iran diangkut dari pelabuhan itu.
Pihak berwenang masih mencari penyebab ledakan. Akan tetapi, Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan, dugaan terkuat saat ini adalah sejumlah gentong berisi cairan kimia yang disimpan di pelabuhan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/27/1d1b1d30-a6b5-4084-8859-0d61ece65ef8_jpg.jpg)
Perusahaan Nasional Pengolahan dan Distribusi Minyak Iran langsung mengeluarkan pernyataan bahwa ledakan itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Kilang minyak, tangki, pipa, dan sarana lain milik perusahaan berfungsi dengan wajar.
Melansir Press TV, laporan awal mengatakan, ledakan berasal dari gedung administrasi di dalam lingkungan pelabuhan. Ledakan itu menghancurkan gedung tersebut dan kendaraan-kendaraan di sekitar. Semua kegiatan di pelabuhan langsung dihentikan.
Televisi nasional China, CCTV, melaporkan, tiga warga negara China terluka ringan. Data itu mereka peroleh dari Konsulat Jenderal China di Bandar Abbas.
Pemerintah menurunkan 20 tim tanggap bencana dan lima helikopter untuk menangani ledakan dan kebakaran yang menyusul. Para korban sudah dilarikan ke rumah sakit. Bukan hanya fasilitas kesehatan di Hormozgan yang bersiaga, melainkan juga di Fars dan Kerman.
Helikopter mengangkut air dan menumpahkannya di atas gumpalan asap tebal. Sementara para petugas tanggap darutat sibuk mengevakuasi para penyintas di antara puing-puing yang menutupi jalanan.
Foto-foto di media massa lokal memperlihatkan asap dan debu di mana-mana. Kendaraan-kendaraan menjadi bangkai karena meledak, terbakar, atau tertimpa reruntuhan gedung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/27/010b8ef8-be39-48e7-9ddd-c4860ab8a4cc_jpg.jpg)
Semua sekolah, perguruan tinggi, dan perkantoran yang terletak di dekat Pelabuhan Shahid Rajee sampai ke kota Bandar Abbas ditutup sementara. Di Iran, Minggu termasuk hari kerja karena hari libur mereka adalah Jumat dan Sabtu.
”Pihak berwenang sedang menangani asap yang menyebar,” kata Mehrdad Hassanzadeh, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Hormozgan.
Api juga menyala dahsyat. Sejumlah pihak mengatakan, api bisa menyebar ke area di luar pagar Pelabuhan Shahid Rajee. Salah satu alasannya adalah karena kencangnya tiupan angin.
Sejumlah pihak mengaku, suara ledakan terdengar sampai 50 kilometer dari pelabuhan. Sekolah-sekolah dalam radius 20 kilometer dari pelabuhan ditutup.
Kepada BBC, firma risiko kemaritiman Ambrey Intelligence mengatakan, penyebab ledakan adalah kelalaian manusia. ”Ada ketidakcakapan penanganan pengiriman bahan bakar padat untuk rudal balistik Iran,” demikian pernyataan firma tersebut.
Ambrey Intelligence mengatakan, mereka menerima laporan bahwa bahan bakar roket berupa sodium perklorat. Pengiriman terakhir pada Maret 2025.
Menurut pengakuan beberapa saksi mata, ada sejumlah gentong dengan stiker bertuliskan ”mudah terbakar”. Akan tetapi, gentong-gentong itu tidak disegel secara khusus.
Ambrey Intelligence mengungkapkan, Pelabuhan Shahid Rajee sudah beberapa kali ditegur oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional Iran. Pengelola pelabuhan dituduh tidak menerapkan cara penyimpanan yang baik untuk zat-zat kimia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/27/215bb6ab-1680-4108-a49d-c0f415b986e5_jpg.jpg)
Ledakan terjadi kala berlangsung putaran tiga perundingan nuklir Iran antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan digelar di Muscat, Oman.
Iran bersikeras mereka mengembangkan teknologi nuklir untuk membantu kehidupan masyarakat sipil. Di antaranya untuk terapi kanker dan penyinaran bibit unggul di bidang pertanian. Sementara AS bersama Israel menuntut Iran sama sekali mengabaikan pengembangan nuklir.
Dialog ini pertama kalinya sejak tahun 2018. Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengeluarkan AS dari perjanjian nuklir Iran. Di dalam perjanjian itu, dikatakan, negara-negara Barat secara bertahap meringankan sanksi ekonomi atas Iran dengan syarat Iran mengayakan nuklir hanya di ambang rendah untuk kesehatan ataupun pertanian.
Gara-gara keluarnya AS, Iran kembali diembargo secara ekonomi. Akibatnya, muncul berbagai laporan bahwa Iran mengebut pengayaan nuklir sampai ke level bisa membuat senjata.
Dalam perundingan ketiga, AS diwakili Steve Witkoff dan Michael Anton. Witkoff Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah. Anton kini Direktur Kebijakan pada Departemen Luar Negeri AS. Anton dikenal sebagai pendukung fanatik Trump setidaknya 10 tahun terakhir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menyebut, para pihak optimistis secara berhati-hati atas kelanjutan perundingan. AS-Iran, menurut dia, setuju melanjutkan perundingan ke tahap perincian teknis.
Hal itu menandakan para pihak sepakat untuk terus mencari solusi. Hanya saja, para pihak belum bisa memastikan apa solusi yang bisa disepakati.
Iran menolak melucuti total program nuklirnya. Sebab, Iran tidak mau bernasib seperti Libya hingga Ukraina. Beberapa tahun lalu, Libya dan Ukraina dijanjikan berbagai hal agar mau melucuti program nuklirnya. Ternyata, janji itu tidak dipenuhi. (AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .