Sepuluh tahun peringatan kamp pengungsi Lesbos di Yunani, pintu masuk Eropa bagi jutaan pengungsi.
21 Jun 2025 14:31 WIB · Internasional
Amena Namjoyan sejenak terdiam, mencoba mengumpulkan ingatan 10 tahun silam, tahun 2015. Saat itu dia dan suaminya serta anak balitanya melarikan diri dari Iran dan mendarat di Lesbos, pantai berbatu di Yunani timur ini bersama ratusan ribu orang lainnya.
Ia ingat perjuangan waktu itu, perahu-perahu hancur, nelayan menyelam untuk menyelamatkan orang-orang yang tenggelam, dan nenek-nenek setempat memberi susu botol kepada bayi-bayi yang baru tiba.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/e3efbcf4-e763-4478-8e83-d61a78961494_jpg.jpg)
Pada tahun 2015, lebih dari 1 juta migran dan pengungsi tiba di Eropa melalui laut, mendarat di Lesbos, di mana pantai utara hanya berjarak 10 kilometer (6 mil) dari Turki. Masuknya laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan memicu krisis kemanusiaan yang mengguncang Uni Eropa. Satu dekade kemudian, dampaknya masih bergema di pulau itu dan sekitarnya.
Bagi banyak orang, Yunani adalah tempat transit. Mereka melanjutkan perjalanan ke Eropa utara dan barat. Banyak yang mengajukan suaka dan diberikan perlindungan internasional.
Ribuan orang menjadi warga negara Eropa, tetapi banyak pula yang ditolak, mendekam selama bertahun-tahun di kamp migran atau hidup di jalanan. Beberapa pengungsi kembali ke negara asal mereka. Yang lainnya diusir dari Uni Eropa.
Namjoyan menghabiskan waktu berbulan-bulan di kamp yang penuh sesak dan belajar bahasa Yunani. Ia juga berjuang melawan penyakit dan depresi saat pernikahannya hancur. Sempat mencoba memulai hidup baru di Jerman tetapi akhirnya ia kembali ke Lesbos, pulau yang pertama kali menerimanya.
Sekarang, ia bekerja di sebuah restoran, menyiapkan hidangan Iran yang digemari penduduk setempat, meskipun mereka kesulitan mengucapkan nama-namanya. Anak keduanya mengatakan kepadanya, ’Saya orang Yunani’.
”Yunani dekat dengan budaya saya, dan saya merasa nyaman di sini,” kata Namjoyan. ”Saya bangga dengan diri saya sendiri.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/a52e3ba6-d3ff-42b0-bb2e-04e930120a93_jpg.jpg)
Bagi Namjoyan, Lesbos adalah tempat yang ramah. Banyak penduduk di pulau ini memiliki nenek moyang pengungsi. Kondisi ini menguntungkannya sebab ia bisa membantu berbicara dalam bahasa mereka. Namun, kebijakan migrasi di Yunani, seperti sebagian besar Eropa, telah bergeser ke arah pencegahan dalam satu dekade sejak krisis.
Jauh lebih sedikit orang yang datang secara ilegal. Para pejabat dan politisi telah menyatakan bahwa perbatasan yang kuat diperlukan. Para kritikus mengatakan, penegakan hukum telah melangkah terlalu jauh dan melanggar hak dan nilai-nilai dasar Uni Eropa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/9ef9bf0f-c0d8-45ba-ad47-f895a272b1d3_jpg.jpg)
Pada 2015, perahu demi perahu yang penuh dengan pengungsi menabrak pintu rumah Elpiniki Laoumi, yang mengelola kedai ikan di seberang Pantai Lesbos. Ia memberi mereka makan, memberi mereka air, dan membuat makanan untuk membantu mereka.
”Anda akan melihat mereka dan menganggap mereka sebagai anak Anda sendiri,” kata Laoumi, yang dinding kedai minumannya kini dihiasi dengan ucapan terima kasih.
Tahun 2015 hingga 2016 adalah puncak krisis migrasi, lebih dari 1 juta orang memasuki Eropa melalui Yunani saja. Krisis kemanusiaan yang terjadi saat itu, untuk memberi makan, tempat berteduh, dan merawat begitu banyak orang sekaligus berkembang menjadi krisis politik jangka panjang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/c26a3c95-276d-42da-836e-1f4ee94c3087_jpg.jpg)
Yunani sedang terhuyung-huyung akibat krisis ekonomi. Masuknya para migran menambah kemarahan terhadap partai-partai politik yang mapan, yang memicu bangkitnya kekuatan populis yang dahulu pinggiran.
Negara-negara Uni Eropa juga berselisih tentang pembagian tanggung jawab atas pencari suaka. Persatuan blok itu retak karena beberapa negara anggota dengan tegas menolak menerima migran. Suara-suara antimigrasi yang menyerukan penutupan perbatasan semakin keras.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/b6b08735-059c-44ea-b1b0-c54ea42e2e93_jpg.jpg)
Meskipun migrasi ilegal ke Yunani berfluktuasi, jumlahnya jauh dari angka tahun 2015-2016, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi. Para penyelundup beradaptasi dengan pengawasan yang lebih ketat, beralih ke rute yang lebih berbahaya.
Beberapa ratus meter dari tempat tinggal Namjoyan sekarang, di hutan pohon pinus dan zaitun, terdapat pusat migran baru yang didanai Uni Eropa. Itu adalah salah satu yang terbesar di Yunani dan dapat menampung hingga 5.000 orang.
Beberapa penduduk setempat mengatakan, lokasi terpencil itu tampaknya disengaja untuk menjauhkan para migran dari pandangan dan pikiran.
Tahun lalu, negara-negara Uni Eropa menyetujui pakta migrasi dan suaka yang menetapkan aturan umum bagi 27 negara blok tersebut tentang penyaringan, suaka, penahanan, dan deportasi orang yang mencoba masuk tanpa izin, di antara hal lainnya.
”Krisis Lesbos tahun 2015, dengan cara tertentu, merupakan akta kelahiran kebijakan migrasi dan suaka Eropa,” kata Margaritis Schinas, mantan Wakil Presiden Komisi Eropa dan kepala arsitek pakta, kepada AP. Ia mengatakan, sebelumnya bertahun-tahun negosiasi tidak membuahkan hasil.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/21/41883253-c442-4a6e-8e47-2b152c66a1f5_jpg.jpg)
Saat ini 80.000 penduduk Lesbos mengenang krisis 2015 dengan perasaan campur aduk. Nelayan Stratos Valamios menyelamatkan beberapa anak kala itu. Yang lainnya tenggelam tepat di luar jangkauannya, tubuh mereka masih hangat saat ia membawa mereka ke pantai.
”Apa yang berubah dari dulu hingga sekarang, 10 tahun kemudian? Tidak ada,” katanya. ”Yang saya rasakan adalah kemarahan bahwa hal-hal seperti itu bisa terjadi, bahwa bayi bisa tenggelam.” Mereka yang meninggal saat menyeberang ke Lesbos dimakamkan di dua pemakaman, makam mereka ditandai sebagai ”tidak diketahui”.
Sepuluh taun berlalu, jejak-jejak perjuangan itu masih bisa ditemukan di sepanjang garis pantai di Lesbos. Sepatu kecil dan kotak jus kosong dengan label Turki yang pudar masih dapat ditemukan di pantai utara.
Begitu pula ban dalam berbentuk donat hitam, yang diberikan oleh penyelundup sebagai pelampung untuk anak-anak. Di Moria, sebuah kamp pengungsi yang hancur karena kebakaran pada tahun 2020 ada juga gambar anak-anak masih ada di dinding bangunan yang hancur.
Para migran masih berdatangan, dan banyak yang meninggal di pantai Lesbos ini.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari