Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuat surat terbuka untuk publik AS. Ia membantah berbagai hal yang dijadikan alasan AS dan Israel untuk menyerang Iran.
02 Apr 2026 13:30 WIB · Internasional
AP/Iranian Presidency Office
Bara perang di Timur Tengah masih menyala. Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membombardir Iran semakin menggila. Lewat surat terbuka yang dipublikasikan pada Rabu (1/4/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggugah rakyat AS dengan pertanyaan sederhana.
”Kepentingan rakyat Amerika mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini?”
Pezeshkian meminta publik AS untuk melihat lebih jernih alasan yang dipakai untuk memulai perang itu. Ada kabut distorsi yang menyelimutinya. Ia membantah tudingan Pemerintah AS dan Israel yang menganggap Iran sebagai ancaman.
Sebelum AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu, perundingan tentang program nuklir Iran sebenarnya sedang berlangsung. AS dan sekutunya menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan ini sudah berulang kali dibantah oleh Iran.
Saat perundingan memberi harapan solusi dapat dicapai, AS dan Israel justru menyerang Iran dan pecah perang. Perang yang memasuki pekan kelima ini telah menelan ribuan korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/22/7681d0be-acad-4159-b499-394469d99731.jpg)
Sejumlah negara Teluk ikut terdampak. Sebab, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar aset AS dan Israel di kawasan itu. Korban sipil pun berjatuhan.
Dalam suratnya, Pezeshkian menyinggung serangan AS yang menghantam infrastruktur vital di Iran. Serangan itu tak cuma menargetkan kompleks pemerintahan dan militer, tetapi juga infrastruktur energi, industri, bahkan sekolah dan rumah sakit. Alhasil, banyak rakyat sipil jadi korban, termasuk anak-anak.
”Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau membual tentang mengebom sebuah negara hingga kembali ke ’zaman batu’ punya tujuan lain selain semakin merusak reputasi global AS?” tulisnya, dilansir dari Al Jazeera.
Pada 28 Februari lalu, rudal AS menghantam bangunan sekolah dasar di kota Minab, Iran. Serangan ini menewaskan lebih dari 160 siswa. Para guru dan anggota staf sekolah juga menjadi korban.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
Surat terbuka Pezeshkian dipublikasikan hanya beberapa jam setelah Trump kembali melemparkan ancamannya ke Iran. Trump menyebutkan, pihaknya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika Iran bersedia membuka Selat Hormuz bagi AS dan sekutunya. Selat ini merupakan jalur penting distribusi energi dunia yang dilalui 20 persen minyak global setiap hari.
”Sampai saat itu, kami akan membombardir Iran hingga hancur lebur atau, seperti yang mereka katakan, (Iran) kembali ke zaman batu,” tulis Trump di akun media sosial Truth Social miliknya.
Pezeshkian menganggap serangan AS yang secara sengaja menargetkan rakyat Iran merupakan kejahatan perang. Ia menegaskan, Iran tidak punya permusuhan dengan rakyat AS.
Ia juga mempertanyakan apakah pemerintah Trump telah dimanipulasi oleh Israel untuk menyerang Iran.
Pezeshkian menyinggung serangan AS yang menghantam infrastruktur vital di Iran. Serangan itu tak cuma menargetkan kompleks pemerintahan dan militer, tetapi juga infrastruktur energi, industri, bahkan sekolah. Alhasil, banyak rakyat sipil jadi korban, termasuk anak-anak.
”Bukankah benar bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai proksi untuk Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut. Bukankah juga benar bahwa Israel, dengan menciptakan ancaman Iran, berupaya mengalihkan perhatian global dari kejahatannya terhadap Palestina?” tanyanya.
The New York Times melaporkan, dalam surat terbuka dengan panjang sekitar 1.000 kata itu, Pezeshkian menyebutkan, dunia sedang berada di persimpangan jalan. Konfrontasi dan keterlibatan dalam perang akan membentuk masa depan bagi generasi mendatang.
”Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menangkis mereka yang menyerangnya,” katanya.
Dalam surat itu, Pezeshkian tidak membahas penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Penutupan jalur laut ini telah mengacaukan distribusi energi global sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas. Meski demikian, dalam beberapa hari terakhir Iran telah mengizinkan kapal dari sejumlah negara melewati selat tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/25/352f8b5b84bb2d69af378b896b03752f-20260325_H01_NNN_Tanker_Hormuz_mumed.png)
Selain itu, sejumlah negara Teluk juga protes karena terdampak serangan Iran. Rudal dan drone Iran mengincar pangkalan militer dan aset AS lainnya di Timur Tengah.
”Apa yang telah dilakukan Iran—dan akan terus dilakukan—adalah respons terukur yang didasarkan pada pembelaan diri yang sah serta sama sekali bukan inisiasi perang atau agresi,” kata Pezeshkian, dilansir dari TIME.
AS terus membangun narasi kemenangannya dalam perang Iran. Bahkan, Trump mengatakan, Pemerintah Iran meminta gencatan senjata untuk mengakhiri perang. Namun, hal ini dibantah Iran.
Dalam pidatonya di Gedung Putih, Trump percaya diri dapat menyelesaikan perang di Iran dalam 2-3 pekan. ”Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini dan akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/02/e6f5686a077b1fabc01bc119d893b18f-Trump_Iran_US.jpg)
Trump menyebutkan, tujuan AS adalah menghancurkan militer Iran dan mengakhiri dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata regional. Selain itu, mencegah Iran membuat senjata nuklir.
Sementara itu, Iran menegaskan, merekalah yang menentukan syarat untuk mengakhiri perang. Dilansir dari kantor berita Iran, Tasnim, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya siap berperang melawan AS-Israel dalam jangka waktu lama.
”Iran siap mempertahankan perang setidaknya selama enam bulan,” ujarnya. Araghchi menggarisbawahi tekad Iran untuk membela diri tanpa memedulikan tenggat yang ditetapkan musuh-musuhnya. (AP/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti