”Garuda Pertiwi Muda” ingin petik banyak pengalaman di Kejuaraan ASEAN Putri U-16, termasuk menghadapi tim tangguh. Pertama-tama, mereka pantang kalah dari Malaysia.
23 Agt 2025 15:33 WIB · Olahraga
SURAKARTA, SABTU — Semakin banyak kesempatan bermain, semakin kaya juga pengalaman yang bisa dipetik, termasuk kemungkinan menghadapi tim-tim tangguh, seperti Thailand dan Australia. Pola pikir ini tertanam dalam tim sepak bola putri Indonesia U-16. Untuk bisa mendapatkan jatah bertanding lebih banyak, mereka kini pantang kalah dari Malaysia.
Indonesia dan Malaysia bersaing ketat untuk bisa mendapatkan tiket ke semifinal Kejuaraan ASEAN Putri U-16 2025. Kedua tim akan saling berhadapan dalam laga penentuan Grup A di Stadion Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (24/8/2025).
Bagi Indonesia, syarat lolos ke semifinal adalah tidak boleh kalah dari Malaysia. Menang atau hasil imbang sudah cukup membuat mereka lolos ke babak empat besar dengan status juara Grup A yang dihuni bersama Malaysia dan Timor Leste. Adapun Malaysia wajib meraih kemenangan.
Indonesia saat ini memimpin klasemen sementara Grup A dengan tiga poin dan selisih gol plus enam berkat kemenangan 6-0 atas Timor Leste. Adapun Malaysia menempel pada posisi kedua setelah menang 6-1 atas lawan yang sama. Malaysia mengoleksi tiga poin dengan selisih gol surplus lima.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/21/bffe2612-808c-4829-8e26-d8b81d46ee8b_png.jpg)
Ketika ditanya soal target di Kejuaraan ASEAN 2025, baik Pelatih Indonesia maupun Pelatih Malaysia sepakat soal tujuan yang lebih besar. Menurut mereka, turnamen tersebut bukan perkara menang dan juara, tetapi soal pembinaan dan memberi pemain muda kesempatan bermain di kancah internasional.
Walakin, Pelatih Indonesia U-16, Timo Scheunemann, menegaskan, keinginan mereka adalah bisa banyak bertanding, minimal empat kali. Artinya, mereka harus lolos semifinal untuk bisa melakukan itu.
Menurut Timo, jika bisa bermain hingga empat kali, dengan melaju ke final atau perebutan tempat ketiga, mereka akan punya kesempatan bermain dengan tim yang secara rekam jejak lebih tangguh, seperti Vietnam, Thailand, dan Australia.
”Kalau kita nggak masuk semifinal, kita berarti cuma main dua kali. Sayang dong enggak ketemu Thailand, Vietnam, atau Australia, atau tim lain. Itu justru tantangan yang luar biasa,” kata Timo.
Vietnam ada di Grup A dan saat ini menghuni puncak klasemen sementara, begitu juga dengan Australia di Grup C. Sementara itu, Thailand menempati peringkat ketiga Grup C setelah kalah 2-1 dari Australia.
Dari setiap grup, hanya pemuncak klasemen yang mendapatkan tiket ke semifinal. Selain itu, ada juga satu tiket bagi runner up terbaik.
Kami ingin masuk semifinal untuk bisa main lawan tim-tim yang seperti itu, untuk melihat sampai di mana sih saat ini kekuatan kami.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/21/7627d901-cac2-425e-8266-10b62d9cd584_png.jpg)
”Saya targetnya main empat kali. Bukan masalah masuk final atau nggak, tetapi main empat kali. Kami ingin masuk semifinal untuk bisa main lawan tim-tim yang seperti itu, untuk melihat sampai di mana sih saat ini kekuatan kami,” ujar Timo.
Thailand merupakan tim tersukses dalam turnamen kelompok umur 16 ini. Mereka adalah juara dalam tiga edisi turnamen, yakni pada 2017, 2018, dan 2019.
Adapun Australia merupakan juara edisi pertama turnamen pada 2019. Sementara itu, Vietnam tiga kali menjadi peringkat ketiga pada 2009, 2018, dan 2019.
Indonesia dalam ketiga kali keikutsertaannya selalu terhenti pada babak grup. Pada 2019 atau edisi terakhir, ”Garuda Pertiwi Muda” absen.
Pada 2018 saat turnamen digelar di Palembang, Indonesia kalah 1-4 dari Thailand dan takluk 0-2 dari Laos. Mereka total hanya menang satu kali melawan Kamboja dengan 2-0 sehingga menempati peringkat ketiga. Alhasil, mereka gagal melaju ke semifinal yang tersedia bagi dua tim terbaik dalam dua grup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/20/2eac48f7346876f1c8ccb8c2065f6142-WMNU16_299.png)
Situasi ini tidak berbeda jauh dengan Malaysia. Dalam empat kali partisipasi di turnamen yang dulu bernama Kejuaraan AFF ini, langkah Malaysia selalu terhenti pada fase grup.
Meski demikian, Pelatih Malaysia, Leila Chua Pak Ling, mengatakan, dengan bisa bermain di turnamen pada edisi 2025 saja, mereka sudah merasa beruntung dan bersyukur. Sebab, turnamen ini menjadi platform yang bagus bagi pemainnya untuk bermain di kancah internasional yang berlevel lebih tinggi ketimbang persaingan dalam negeri.
”Turnamen ini diikuti tim muda dengan usia pemain 14 tahun sampai 16 tahun. Tentu saja semua orang ingin menang, tetapi, sekali lagi, ini tim pengembangan,” ujar Leila.
”Jadi, kami fokus pada performa yang baik, bersaing dengan baik sebagai tim, semangat juang, dan mengerahkan segalanya di lapangan. Dan, saya pikir jika kami melakukan itu, hasilnya akan datang dengan sendirinya,” ucapnya menambahkan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto