Proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi di Karawang itu dilanjutkan investor dari China.
23 Apr 2025 16:18 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah mengonfirmasi mundurnya produsen baterai untuk kendaraan listrik asal Korea Selatan, LG Energy Solution, dari proyek pabrik baterai di Indonesia. Pemerintah tetap berkomitmen membangun hilirisasi baterai kendaraan listrik dalam rangka meningkatkan transisi energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dalam siaran pers, Rabu (23/4/2025), menyampaikan, proyek yang telah disepakati antara Indonesia dan LG Energy Solution pada 18 Desember 2020 tetap berjalan sesuai rencana. Kerja sama itu termasuk dalam pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik terintegrasi dalam skema ”Indonesia Grand Package”.
”Secara keseluruhan, proyek tidak mengalami perubahan mendasar. Yang terjadi adalah penyesuaian mitra investasi dalam struktur joint venture (JV),” kata Bahlil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/97dcb94b461f1666d3b38cbb099671c6-20250409_130147.jpg)
Ia pun memastikan, pembangunan ”Indonesia Grand Package” itu tidak berubah. Infrastruktur dan rencana produksi tetap sesuai dengan peta jalan awal. Perubahan hanya terjadi pada level investor, di mana LG tidak lagi melanjutkan keterlibatannya pada JV 1, 2, dan 3 yang baru.
”LG telah digantikan oleh mitra strategis dari China, yaitu Huayou, bersama BUMN kita,” kata Bahlil.
Kabar hengkangnya LG sebelumnya muncul di kantor berita Yonhap, kantor berita Korsel, Jumat (18/4/2025). Konsorsium LG dikabarkan memutuskan menarik proyek senilai sekitar 11 triliun won atau 7,7 miliar dollar AS itu atau setara Rp 129 triliun di Indonesia.
Konsorsium LG terdiri dari LG Energy Solution (LGES), LG Chem, LX International Corp, dan sejumlah mitra lain. Konsorsium itu awalnya hendak bekerja sama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC), perusahaan baterai yang berisi empat BUMN energi dan pertambangan di Indonesia, dengan nama proyek Titan.
Rencananya, proyek tersebut mengintegrasikan produksi baterai mulai dari hulu, yakni pertambangan nikel, hingga hilir alias menjadi produk akhir baterai.
Menanggapi pemberitaan asing mengenai alasan mundurnya LG dari proyek tersebut, Bahlil mengatakan, ketegangan geopolitik dan kondisi ekonomi global tidak berdampak langsung terhadap kelangsungan proyek.
”Investasi senilai hampir 8 miliar dollar AS itu untuk pengembangan tahap berikutnya tetap berjalan. Groundbreaking tahap lanjutan direncanakan dilakukan dalam tahun ini sehingga tidak ada penghentian atau pembatalan investasi sebagaimana yang mungkin dikhawatirkan masyarakat,” kata Bahlil.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/04/83f07858-b323-4b16-885f-d103238f924e_jpg.jpg)
Bahlil pun memastikan, pergantian investor adalah dinamika yang lazim dalam proyek berskala besar. Sementara itu, pemerintah menurut dia, akan menjamin proses transisi berlangsung lancar.
”Proyek ini sudah berjalan, sebagian telah diresmikan dan mulai produksi, dan sisanya akan terus kami kawal hingga tuntas sesuai target. Tidak ada yang berubah dari tujuan awal yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia,” ujarnya.
Tidak hanya Kementerian ESDM, lintas kementerian dan lembaga seperti Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Satuan Tugas Hilirisasi terus berkomitmen memastikan seluruh proyek dalam ”Indonesia Grand Package" terealisasi tepat waktu dan sesuai standar.
Proyek raksasa yang dikerjakan Indonesia Battery Corporation (IBC), gabungan antara empat badan usaha milik negara (BUMN) bersama konsorsium LG sebelumnya juga berkomitmen atas investasi senilai 9,8 miliar dollar AS. Proyek itu terdiri dari investasi di hulu tambang senilai 850 juta dollar AS, smelter HPAL 4 miliar dollar AS, pabrik prekursor/katoda senilai 1,8 miliar dollar AS, dan pabrik sel baterai senilai 3,2 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/25/f20f91f8-9bb1-4af4-acb4-fabcaaf1e162_jpg.jpg)
Salah satu BUMN yang tergabung dalam IBC, yakni PT Aneka Tambang Tbk, meyakini bahwa Indonesia akan tetap menjadi tujuan utama investasi baterai listrik. Proyek pengembangan baterai listrik di Indonesia melibatkan pemangku kepentingan yang luas, termasuk Antam sebagai penyedia bahan baku nikel.
”Indonesia tetap menjadi tujuan utama investasi baterai listrik karena kekayaan nikel dan dukungan kebijakan. Beberapa investor lain, seperti CBL (Ningbo Contemporary Brunp Lygend), masih aktif menggarap proyek serupa,” kata Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Faisal Alkadrie (Kompas.id, 22/4/2025).
Antam, kata Faisal, tetap berkomitmen pada rencana strategis pengembangan hilirisasi nikel, termasuk kolaborasi dengan mitra potensial lainnya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan