Bukan hanya oleh anak sekolah, momen liburan kali ini pun turut dinantikan oleh kelas menengah ke bawah, kelas pekerja, dan pemerintah, meski sedikit resah.
01 Jul 2025 11:51 WIB · Ekonomi & Bisnis
Libur t’lah tiba, libur t’lah tiba, hatiku gembira.
Penggalan tembang yang dibawakan penyanyi Tasya Kamila kiranya turut membawa memori masa kecil ketika libur sekolah tiba. Bukan sekadar lagu anak yang dihafalkan di bangku sekolah, tembang itu memberi makna tersendiri akan sebuah liburan.
Liriknya seakan berkata, rayakanlah hari liburmu tanpa memikirkan lagi segala hal yang melekat dalam aktivitas sehari-hari atau dalam bahasa anak sekolah simpan baik-baik tas dan bukumu itu. Lantas, singkirkan seluruh gundah gulana dan keluh kesah, seraya bersorak menyambut liburan.
Tak mengherankan, libur sekolah panjang yang jatuh pada pertengahan tahun pun menjadi penantian bagi anak-anak. Telah terbayang hari-hari yang dihabiskan, entah bersama keluarga mengunjungi kakek-nenek di kampung, pergi ke kota yang belum pernah disambangi, atau sekadar duduk di taman kota.
Namun, kini, liburan tak seindah yang dibayangkan. Gejala-gejala kanker alias kantong kering mulai meradang sehingga terbitlah apa yang kerap disebut sebagai pelemahan daya beli masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/d339f546-0607-42b8-9851-43db1150b0a1_jpg.jpg)
Indikasinya mulai tampak saat momentum Ramadhan hingga Lebaran 2025. Dua momen besar itu tak lagi mampu memacu gerak gigi-gigi roda perekonomian secara optimal. Pada triwulan I-2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 4,87 persen secara tahunan atau di bawah rerata 5 persen.
Konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan hanya tumbuh 4,89 persen, lebih rendah dari triwulan IV-2024 yang tumbuh 4,98 persen. Pun demikian, porsinya menyusut, dari sebesar 54,9 persen menjadi 54,5 persen pada triwulan I-2025.
Oleh sebab itu, pemerintah berinisiatif memberikan paket stimulus untuk memulihkan kembali daya beli masyarakat, terutama saat momen libur sekolah pada Juni-Juli 2025. Pemerintah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 24,44 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Rp 850 miliar di luar APBN untuk enam paket stimulus ekonomi triwulan II-2025.
Stimulus ini meliputi diskon transportasi, potongan tarif tol, penebalan bantuan sosial, bantuan subsidi upah (BSU), serta perpanjangan diskon iuran jaminan kecelakaan kerja. Seluruhnya ditujukan semata-mata untuk menggeliatkan kembali perekonomian dan daya beli masyarakat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/6b4a9a85-3a3a-4dbf-9ca7-757f33f373d2_png.png)
Para pekerja yang telah lolos tahapan verifikasi benar-benar menantikan dering notifikasi pencairan BSU. Meski nominalnya tak seberapa, bantuan tersebut cukup berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rangga (28), pekerja swasta di Jakarta, misalnya, masih resah menunggu kepastian akan pencairan BSU ketika rekan-rekan satu kantornya sudah mendapatkannya. Ia turut mendengar bahwa BSU yang cair akan masuk ke rekening bank pelat merah atau seperti sebelumnya, diambil melalui Kantor Pos.
”BSU ini harapannya bisa sedikit membantu karyawan termasuk saya buat punya rasa aman sedikit di pertengahan tahun. Meskipun tak signifikan, BSU ini paling tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya dasar,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (28/6/2025).
Saya rasa bantuan yang diberikan sebesar Rp 600.000 hanya bagian dari formalitas pemerintah, tanpa melihat realitas kehidupan yang semakin sulit.
Rangga juga sudah merencanakan, ketika BSU sebesar Rp 600.000 itu diterima, akan digunakan, antara lain, untuk kebutuhan mendasar, seperti token listrik, kebutuhan dapur, serta pulsa. Selebihnya, jika masih ada sisa, ia akan mengalokasikannya untuk kebutuhan rekreasi.
”Kalau ada sisa sedikit, ya, semoga masih bisa buat bayar langganan Netflix, biar tetap waras,” selorohnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/71e9589b-86d2-4b3a-a907-ca5d9647611b_jpg.jpg)
Bukan hanya Rangga, Ira (31), pekerja swasta di Jakarta, juga masih menunggu proses pencairan setelah terverifikasi sebagai penerima. Baginya, BSU memang akan sedikit membantu di tengah daya beli yang melemah dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) meski hanya bersifat sementara dan bukan solusi jangka panjang.
”Saya rasa bantuan yang diberikan sebesar Rp 600.000 hanya bagian dari formalitas pemerintah, tanpa melihat realitas kehidupan yang semakin sulit,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah perlu memikirkan solusi yang tepat bisa benar-benar membantu masyarakat membenahi perekonomiannya, bukan sekadar bantuan BSU yang akan habis dalam sekejap mata. Sebab, pada akhirnya ekonomi masyarakat pun akan kembali tergencet setelah pemberian stimulus berakhir.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat, BSU yang diberikan kepada pekerja dengan upah di bawah Rp 3,5 juta sebulan sesungguhnya adalah bentuk respons cepat negara terhadap krisis konsumsi rumah tangga kelas pekerja.
”Dana ini (seakan) menjadi embusan napas pendek di tengah udara panas yang makin mencekik. Dalam jangka pendek, BSU ini memang bisa menghindarkan keluarga dari kelumpuhan daya beli total. Namun, dalam lanskap ekonomi yang lebih luas, kita perlu jujur, bantuan ini tidak cukup untuk mengangkat keluarga pekerja dari jurang kerentanan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/30/30ca11224cb46a1975331a8c946a2682-Screenshot_2025_06_30_162919.png)
Dengan kata lain, stimulus tersebut memang penting sebagai bentuk respons darurat. Namun, kebijakan itu tidak menyentuh akar persoalan yang lebih luas, antara lain melonjaknya biaya hidup, tekanan inflasi barang pokok, dan stagnasi pendapatan riil pekerja.
Menurut Achmad, bukan hanya soal besaran bantuan yang digelontorkan, melainkan juga orientasi kebijakan terkait perlindungan sosial. Pemerintah juga harus memastikan setiap warganya bisa hidup layak dari hasil jerih payah kerjanya, baik dengan memastikan harga kebutuhan pokok yang terjangkau maupun memberi pelatihan kerja dan kepastian akan kenaikan upah.
Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro berpendapat, tren belanja masyarakat ke depan masih dipengaruhi oleh faktor liburan dan dorongan stimulus yang diberikan oleh pemerintah. Momen liburan dan cuti bersama itu juga berkontribusi terhadap belanja masyarakat yang tecermin dalam Mandiri Spending Index (MSI) yang meningkat sekitar 5-8 persen.
”Masa-masa long weekend sudah tidak ada lagi. Jadi, sangat membutuhkan dorongan dari belanja pemerintah untuk membantu dunia usaha, terutama perhotelan dan restoran,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/74d5995f-5ed1-49df-a4f5-93fd4fba7f17_jpg.jpg)
Di sisi lain, Office of Chief Economist Bank Mandiri menemukan, belanja masyarakat mengalami normalisasi seiring berakhirnya rangkaian libur panjang. Data transaksi belanja berbasis QRIS Bank Mandiri menunjukkan, nilai belanja pada minggu ketiga Juni 2025 turun 2,2 persen poin dibanding minggu sebelumnya.
Namun, belanja masyarakat diperkirakan akan kembali meningkat seiring libur panjang pada akhir Juni 2025 dan pembayaran gaji sebagaimana pola historis sebelumnya. Selain itu, periode libur sekolah juga berpotensi mendorong konsumsi dalam beberapa minggu ke depan.
Layaknya lagu anak yang disenandungkan oleh Tasya Kamila untuk menyambut masa libur sekolah, momen liburan kali ini pun penuh dengan penantian. Bukan hanya oleh anak sekolah, momen liburan kali ini pun turut dinantikan oleh kelas menengah ke bawah, kelas pekerja, dan pemerintah, meski dengan sedikit resah dan keluh.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto