”Lifting” Minyak hingga Elpiji, Target Kepala SKK Migas Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu tantangan terbesar sektor hulu migas ialah merosotnya produksi siap jual atau ”lifting” minyak bumi.

08 Nov 2024 12:11 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana - [email protected]

Pelantikan Kepala SKK Migas

JAKARTA, KOMPAS — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia melantik Djoko Siswanto sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas di Jakarta, Kamis (7/11/2024) malam. Djoko, yang berlatar belakang bidang migas, memiliki sederet target, termasuk meningkatkan lifting minyak dan produksi elpiji.

Djoko, sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), menggantikan Dwi Soetjipto yang memimpin SKK Migas sejak 2018. Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu tantangan terbesar sektor hulu migas ialah merosotnya produksi siap jual (lifting) minyak bumi hingga di bawah 600.000 barel per hari. Ini tak lepas dari kondisi sumur-sumur minyak yang sudah tua (mature).

Bahlil meminta Djoko untuk meningkatkan lifting migas serta memangkas segala perizinan yang menghambat guna mendukung visi kemandirian energi yang juga bagian dari visi-misi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. ”Pangkas semua aturan dan koordinasi yang menghambat eksplorasi ataupun untuk meningkatkan lifting (migas),” katanya melalui siaran pers.

Bahlil menambahkan, salah satu upaya yang terus didorong untuk meningkatkan lifting minyak ialah dengan mengoptimalkan sumur-sumur idle (menganggur/tidak aktif). Untuk itu, ia meminta Djoko untuk segera berkoordinasi dengan para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang memiliki sumur idle sehingga pekerjaan terhadap sumur-sumur itu menjadi jelas.

Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor energi dari tahun 2017 hingga 2023. Sektor minyak dan gas bumi cukup dominan dalam perolehan PNBP di Indonesia.

Bahlil juga menekankan, pentingnya terobosan dalam meningkatkan lifting migas demi mencapai visi kemandirian energi. ”Kepada Pak Kepala yang baru, dari bangun pagi sampai tidur, urusannya lifting. Saya enggak mau tahu caranya bagaimana, kita harus mampu mewujudkan apa yang menjadi program pemerintah ini,” tegas Bahlil.

Djoko dalam serah terima jabatan Kepala SKK Migas, yang disiarkan daring di Jakarta, Jumat (8/11/2024), mengatakan, selama memimpin, Dwi Soetjipto telah membangun dasar-dasar kuat di SKK Migas. Ke depan, ada target jelas, yakni meningkatkan lifting migas.

Pernah menjadi bagian dari SKK Migas, Djoksis, sapaannya, sudah mengenal sehingga diharapkan dapat segera bekerja untuk mengejar berbagai target.

”Pak Menteri menegaskan kita harus meningkatkan produksi lifting karena itu terkait dengan kedaulatan serta kemandirian energi kita. Juga untuk segera menyelesaikan hal-hal yang menghambat, baik untuk kegiatan eksplorasi, produksi, maupun lifting (migas), serta memanfaatkan secepat mungkin potensi-potensi yang ada untuk kita kembangkan,” katanya.

Anjungan eksplorasi minyak bumi wilayah kerja migas yang dikelola Energi Mega Persada Tbk di Kabupaten Siak, Riau, Rabu (18/9/2024). Pada semester I-2024, realisasi produksi siap jual (lifting) minyak Indonesia hanya 576.000 barel minyak per hari (Barrel of Oil Per Day/BOPD). Adapun target lifting minyak bumi dalam RAPBN 2025 sebanyak 600.000 barel per hari. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Djoko menambahkan, tugas lain ke depan ialah menyelesaikan berbagai hal yang pending (tertunda). Selain itu, pihaknya perlu betul-betul menghitung pasokan-permintaan gas bumi, termasuk propana dan butana sebagai bahan baku elpiji, untuk dikembangkan.

”Karena memang elpiji impor kita semakin besar,” katanya.

Merujuk data SKK Migas, Djoko adalah lulusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1990. Ia menjadi pegawai negeri sipil Kementerian ESDM sejak 1992.

Ia pernah bertugas sebagai Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas sebelum kemudian menjadi Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM pada 2018. Pada 2019, ia menjabat Sekjen DEN hingga akhirnya menjadi Kepala SKK Migas.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 24-01-2023

Eksplorasi krusial

Pakar migas yang juga Guru Besar Bidang Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Topan Herianto, dihubungi Jumat, menaruh harapan kepada Djoko, yang memiliki latar di bidang migas. Ia meyakini, Djoko, yang memiliki banyak pengalaman di pemerintahan serta memahami regulasi, dapat membawa hulu migas Indonesia menjadi lebih baik.

Namun, jika melihat kondisi hulu migas saat ini, Topan melanjutkan, tantangan yang dihadapi ke depan tidaklah mudah. Terutama jika melihat lifting minyak bumi yang terus menurun dan jauh dari target yang ditetapkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, upaya-upaya pengeboran masif sudah dilakukan.

”Fokusnya ialah akselerasi komersialisasi dan perbaikan fasilitas yang ada di berbagai lapangan. Selain itu, perlu dilakukan inventarisasi lapisan-lapisan pada sumur untuk meningkatkan produksi, juga reaktivasi sumur-sumur idle, yang mati karena masalah harga minyak pada 2014. Riwayat sumur-sumur tersebut perlu dilihat kembali (guna menambah produksi/lifting minyak),” katanya.

Hal paling krusial dalam cita-cita kemandirian energi ialah eksplorasi migas. Selama ini, kegiatan eksplorasi masih belum optimal sehingga perlu diidentifikasi penyebabnya.

Perlu ada penyelidikan menyeluruh terkait eksplorasi, termasuk terkait dengan tata kelola pelaksanaannya. Apabila masih berjalan lambat, bisa membahayakan ketersediaan cadangan minyak untuk 5-7 tahun ke depan.

”Eksplorasi itu harus masif, terutama di wilayah timur Indonesia. Masih banyak cekungan yang belum terbukti dan perlu terus menjadi perhatian. Pertamina atau KKKS lain yang sudah komitmen untuk eksplorasi perlu diawasi betul, jangan sampai molor-molor. Perlu dicek hambatannya, apakah regulasi, perizinan, lingkungan, atau lainnya. Pemerintah pusat dan daerah perlu menguatkan koordinasi,” ujar Topan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan