Kesulitan di Liga Spanyol, Real Madrid memperlihatkan topeng berbeda di Liga Champions Eropa. Manchester City mereka singkirkan dengan mudahnya.
20 Feb 2025 08:52 WIB · Olahraga
MADRID, KAMIS — Tampil dengan susunan pemain yang hampir sama, tetapi mendapatkan hasil yang 180 derajat berbeda. Kondisi itulah yang dialami Real Madrid saat menghadapi Osasuna dan Manchester City. ”Los Blancos” kesulitan menaklukkan Osasuna yang berjuang di papan tengah Liga Spanyol. Namun, saat meladeni City pada pertemuan kedua babak playoff 16 besar Liga Champions Eropa, Real justru menang mudah 3-1 dan unggul telak 6-3 secara agregat gol.
Hasil ini menegaskan Liga Champions memanglah rumah atau habitat alami Real. Keberhasilan melaju ke babak 16 besar Liga Champions terjadi saat puncak klasemen Liga Spanyol baru saja direbut oleh Barcelona. Kecendurungan tampil perkasa di Liga Champions, tetapi inkonsisten di Liga Spanyol, setidaknya sudah terasa dalam empat pertandingan terakhir ”Los Blancos”.
Dalam rentang waktu tersebut, Real meraih dua hasil imbang kontra Atletico Madrid dan Osasuna, tetapi mampu menang dalam dua pertemuan kontra City. Padahal, Pelatih Real Carlo Ancelotti menurunkan susunan pemain yang identik pada empat laga itu.
”Kami menghadapi tim (City) yang sangat berkualitas di depan dan kami menemukan keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Kami sedang berjuang untuk Liga Champions dan kami memiliki peluang untuk melangkah jauh dalam kompetisi ini,” kata Ancelotti seusai menghadapi City di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, Kamis (20/2/2025) dini hari WIB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/212cd28622f20d601d04948cbbbac4c0-wires_photo_25_.jpg)
Sebagai tim dengan 15 gelar juara Liga Champions, Real sangat menguasai serta memahami atmosfer kompetisi tersebut. Bahkan, ada pemahaman yang berkembang bahwa Real memang dibentuk untuk memenangi Eropa. Ini merujuk pada langkah mantan pemimpin diktator Spanyol, Jenderal Francisco Franco, yang menggunakan Real sebagai alat diplomasinya.
Semasa Franco memimpin, Real memenangi lima trofi Liga Champions (dulu Piala Champions) secara beruntun pada 1955 hingga 1960. Dengan ”menguasai” Eropa melalui Real, Franco secara tidak langsung bisa merefleksikan kepada dunia luar tentang imaji bahwa Spanyol merupakan negara yang kuat serta sejahtera.
Kecenderungan itu terpupuk hingga kiwari. Masa lalu Real yang kuat di kancah Eropa tetap terpelihara dan Manchester City baru saja menjadi korbannya. Sukses menang 3-2 di markas City, Real melanjutkan dominasinya pada pertemuan kedua. Kemenangan mudah Real agak di luar prediksi karena City baru saja menunjukkan tanda-tanda kebangkitan seusai menang telak 4-0 atas Newcastle United pada laga sebelumnya.
”Tim terbaik menang. Mereka pantas mendapatkannya. Musim ini kami tidak begitu bagus. Saya merasa bahwa di musim-musim sebelumnya, kami lebih baik dari Madrid, tetapi kali ini tidak demikian. Dalam kompetisi ini, kualitas selalu diperhitungkan. Musim ini Madrid mampu menguasai bola dalam waktu yang lama. Mereka dinamis, cepat saat berlari, dan menekan dengan baik. Yang harus Anda lakukan adalah menerimanya (kekalahan) dan terus maju,” tutur Manajer City Pep Guardiola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/6cd561aac0e946f096bdaa52c2683c43-wires_photo_28_.jpg)
Kegagalan melaju ke fase gugur Liga Champions menjadi yang pertama kali bagi Pep sejak menangani City pada 2016. City terakhir kali gagal lolos ke fase gugur pada musim 2012-2013 atau lebih dari 10 tahun silam. Adapun bagi Real, keberhasilan lolos ke fase grup ini membuka jalan bagi mereka untuk mempertahankan gelar juara. Pada babak 16 besar, Real akan menghadapi Atletico Madrid atau Bayern Leverkusen. Calon lawan Real akan ditentukan pada undian yang berlangsung sehari berselang.
Penyerang baru Real, Kylian Mbappe, menunjukkan sinarnya di laga ini dengan mencetak trigol (hattrick) kemenangan Real. Ini menjadi hattrick kedua Mbappe untuk Real dan yang ke-21 sepanjang kariernya. Hattrick kali ini terasa lebih spesial bagi Mbappe karena tercipta di hadapan para pendukung Real di Stadion Santiago Bernabeu.
Seusai mengawali musim dengan lambat karena perbedaan posisi bermain semasih di Paris Saint-Germain dan Real, Mbappe perlahan mulai nyaman ditugaskan sebagai penyerang tengah. Garis pertahanan tinggi City menjadi santapan empuk Mbappe yang kuat dalam duel satu lawan satu.
Gol pertama Mbappe, pada menit ke-4, berawal dari umpan lambung Raul Asencio yang langsung bisa melewati blok press City. Mbappe dengan kecepatan serta kekuatan tubuhnya memenangi perebutan bola dengan John Stones. Kiper City, Ederson, telanjur bergerak maju sehingga menciptakan ruang yang dimanfaatkan Mbappe untuk mencetak gol lewat tendangan lambung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/20/94dd80baead80f32aa00492dbe9d8389-wires_photo_26_.jpg)
Mbappe memperlebar keunggulan Real pada menit ke-33. Tekniknya dalam mengecoh sergapan bek City sebelum mencetak gol mengingatkan publik pada sosok Mbappe yang begitu ditakuti saat membela PSG. Cara Mbappe mencetak gol kental dengan citra pencetak gol berdarah dingin.
Adapun gol ketiga Mbappe juga tercipta dengan teknik yang berkelas. Meski terhalang sejumlah bek City, Mbappe menemukan ruang tembak, lalu mengeksekusinya dengan sangat akurat. Sepakan keras mendatarnya gagal diantisipasi Ederson. City akhirnya mencetak gol hiburan pada pengujung laga melalui sontekan Nico Gonzalez.
”Saya telah mengatakan bahwa saya datang ke sini bukan untuk bermain buruk. Masa adaptasi telah selesai. Ini waktunya saya menunjukkan diri saya. Kami harus terus bekerja untuk memenangi segalanya,” ujar Mbappe. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .