Liga Inggris menjadi panggung termewah bagi para juru taktik untuk menyemai filosofi permainan mereka. Hasilnya, liga itu kompetitif karena selalu muncul ”antidote”.
14 Agt 2025 18:15 WIB · Olahraga
Liga Inggris menjadi kompetisi sepak bola paling menarik di muka bumi karena persaingan yang sangat kompetitif dengan gaya bermain atraktif. Namun, citra Liga Inggris itu bukan hanya dibangun oleh para pemain bintang yang bertaburan, tetapi juga karena peran para manajer atau pelatih dengan filosofi masing-masing. Mereka ikut mengubah wajah Liga Inggris dari masa ke masa.
Dalam satu dekade terakhir, warna Liga Inggris sangat dipengaruhi oleh ekspansi para pelatih dari Spanyol dan Portugal. Mereka menyemai permainan yang sangat terorganisasi dengan dominasi penguasan bola serta kontrol maksimal di setiap area lapangan. Pola ini sukses berkembang seiring kedatangan Pep Guardiola ke Manchester City pada 2016.
Perubahan besar yang dibawa oleh Guardiola adalah filosofi permainan yang fokus pada penguasaan bola, umpan-umpan pendek, serta pola penyelesaian akhir dengan menerapkan false nine. Dia sukses menerapkan pola itu di Barcelona dan sedikit penyesuaian di Bayern Muenchen. Bahkan, pola itu menjadi warna tim nasional Spanyol di era Vicente del Bosque, khususnya dalam Piala Eropa 2012.
Tengoklah laga final Spanyol kontra Italia saat itu. ”La Furia Roja” mengawali laga dengan pola 4-6-0 karena tidak ada striker murni yang dipasang. Lini depan Del Bosque diisi tiga gelandang, yaitu Andres Iniesta, Cesc Fabregas, dan David Silva. Laga itu disaksikan langsung oleh Kompas di Stadion Olimpiade Kiev, Ukraina, dan kemenangan 4-0 Spanyol atas Italia menjadi klimaks spektakuler.
Filosofi bermain Barcelona yang disemai oleh Guardiola itu akhirnya tiba di Liga Inggris. Dia mengubah Manchester City dari status ”tetangga yang berisik” menjadi tetangga yang jauh lebih berisik karena meraih banyak gelar juara. Guardiola membuktikan bahwa tidak mustahil mengubah gaya permainan klub-klub Inggris yang sebelumnya berkiblat pada filosofi Sir Alex Ferguson di Manchester United.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/02/efba15d9-a574-4806-97f9-12b3007ba579_jpg.jpg)
Pada musim pertama di City, Guardiola mendapat kritik keras. Saat itu, ia dinilai tidak mungkin menerapkan filosofi bermainnya. Sebelum kedatangan Guardiola, Liga Inggris identik dengan permainan sayap yang cepat dan umpan-umpan silang ke pertahanan lawan, yaitu khas pola 4-4-2 Ferguson.
Pola ini mendunia dan masih mampu mengatasi kemunculan gaya bermain 4-3-3 yang mulai marak di Eropa. Ferguson merespons dengan memperbaiki kontrol permainan melalui penguasaan bola di lini tengah, tanpa kehilangan kecepatan para pemain sayapnya.
Saat ini, sepak bola modern bukan positional dan tetap di sana. Anda harus menaikan ritme dengan luar biasa. - Pep Guardiola -
Filosofi bermain Ferguson ditumbangkan oleh Guardiola dalam final Liga Champions Eropa 2008-2009 dan 2010-2011. Filosofi Guardiola pun menjangkiti dunia sepak bola modern, lalu dia bawa ke Liga Inggris. City di bawah asuhan Guardiola mendominasi Liga Inggris dan meraih enam gelar juara.
Di era Guardiola itu, satu-satunya klub yang mampu membuat repot adalah Liverpool dengan gaya bermain heavy metal ala Juergen Klopp. Pertemuan kedua juru taktik dengan filosofi berbeda itu saling memengaruhi pola permainan masing-masing.
Guardiola mulai melakukan modifikasi positional play untuk menghadapi gegenpressing Klopp. Di awal pertemuan mereka, City sering kewalahan dengan tekanan terus-menerus dari para pemain Liverpool untuk secepat mungkin menguasai bola dan kemudian melakukan serangan balik kilat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/04/11/ba37b167-944b-47d2-84a0-122a19c9b416_jpg.jpg)
Guardiola menguji beberapa skema untuk menangkal tekanan dan serangan cepat Liverpool dengan mendorong kedua bek sayap ke lini tengah ketika City menguasai bola. Pola ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan mendorong John Stones berperan ganda sebagai gelandang bertahan. Dia melawan tekanan dengan tekanan, meskipun dengan intensitas yang tidak se-heavy metal Liverpool.
”Timnya membantu saya menjadi manajer yang lebih baik. Inilah alasan mengapa saya masih di dalam bisnis ini. Ada beberapa manajer yang menantang Anda untuk melangkah maju,” ujar Guardiola pada 2024 lalu dikutip The Guardian.
Adapun Klopp mulai meningkatkan penguasaan bola saat bertemu tim-tim yang memiliki pertahanan sangat ketat. Liverpool menjadi lebih lama mengalirkan bola mencari celah untuk menyerang. ”The Reds” berusaha lebih mengontrol permainan dengan penguasaan bola.
Filosofi hibrida ini menaikan rata-rata penguasaan bola Liverpool dari 55 persen menjadi 63 persen dalam lima musim pertama Klopp. Gelar juara yang diraih Liverpool pada musim 2019-2020 menjadi puncaknya.
Filosofi permainan klub-klub Liga Inggris terus berubah dan berkembang. Dalam satu dekade terakhir, para pelatih dari Spanyol dan Portugal menjadi warna utama. Musim ini, ada empat pelatih asal Spanyol dan empat dari Portugal. Selain Guardiola di City, manajer asal Spanyol di Liga Inggris adalah Mikel Arteta (Arsenal), Unai Emery (Aston Villa), dan Andoni Iraola (Bournemouth).
Adapun juru taktik dari Portugal adalah Ruben Amorim di Manchester United, Nuno Espirito Santo (Nottingham Forest), Marco Silva (Fulham), dan Vitor Pereira (Wolverhampton Wanderers).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/cebefdad9b27dbadc3dfeddb3d37f409-20250813_GKT_Premier_League_2025_2026_1_mumed.png)
Mereka termotivasi melatih di Liga Inggris, meskipun di tim papan tengah, karena kemampuan finansial klub sangat kuat. Hal ini bukan perkara gaji, melainkan hasrat dan kemampuan klub-klub Inggris untuk belanja pemain sangat besar.
Fenomena itu penting bagi pelatih karena mereka memerlukan klub yang bersedia memenuhi daftar pemain yang dia inginkan. Atmosfer itulah yang membuat tim-tim papan tengah pun bisa mengusik persaingan papan atas dan meruntuhkan ”Big Six” yang bertahun-tahun menjadi citra Liga Inggris.
Dua pelatih yang musim lalu membawa timnya melebihi ekspektasi adalah Iraola dan Espirito Santo. Iraola, yang datang pada musim 2023-2024 dari Rayo Valecano, mengubah Bournemouth menjadi tim dengan permainan intensitas tinggi. Mereka menciptakan chaos yang mengejutkan bagi tim-tim yang mengagungkan keteraturan organisasi.
Filosofi permainan Iraola adalah ”mengelola kekacauan”. Mereka tidak menerapkan positional system, tetapi berusaha menciptakan kekacauan permainan bagi lawan. Bournemouth menekan dengan intensitas tinggi, memaksa lawan untuk bermain tergesa-gesa dan frontal, lalu melewati tahapan build-up. Tekanan agresif itu menciptakan kekacauan bagi tim-tim yang membangun permainan dari belakang dengan teratur.
Filosofi Iraola ini tidak lepas dari pengaruh mentornya saat masih bermain di Athletic Bilbao, Marcelo Bielsa. Maestro taktik asal Argentina itu dikenal dengan permaian agresif di mana para pemainnya terus bergerak dan menekan lawan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/14/dc424b5f-b186-4152-bbe9-2b8b83dd0d7a_jpg.jpg)
”Saya selalu memberi tahu para pemain saya bahwa gaya permainan kita adalah pergerakan. Pemain harus selalu bergerak. Dalam sepak bola, tidak ada alasan untuk tidak bergerak,” ujar Bielsa.
Iraola mengakui dirinya dipengaruhi oleh filosofi bermain Bielsa selama dua musim bersama di Bilbao. Klub Liga Spanyol itu juga sangat unik dengan skuad para pemain Basque sehingga diperlukan tekad sekeras baja dan kekompakan ekstra solid. Faktor Bielsa dan keunikan Bilbao itu menjadi modal kuat Iraola untuk membangun Bournemouth menjadi tim yang solid dengan pemain yang dimiliki.
”Memang benar kami suka dan kami tampil lebih baik dalam pertandingan bertempo tinggi. Kami perlu banyak berlari. Kami tidak perlu terlalu banyak kontrol, tidak di setiap permainan, tapi saya rasa kami punya kaki yang kuat. Kami punya kemauan untuk maju dan mundur,” ujar Iraola kepada Sky Sports.
Iraola memberi kebebasan kepada para pemainnya untuk mengambil risiko, paradoks dari tim-tim positional system yang menyerang dengan meminimalkan resiko. Permainan itu menjadi efek kejut. Saat Bournemouth menguasai bola dan menemui benteng pertahanan yang solid, mereka tidak mengulang dari awal membangun permainan. Di sinilah peran para pemain dengan kemampuan dribel menjadi tulang punggung serangan Iraola.
”Saya kadang jauh lebih menghargai pemain yang menggiring bola dan memaksakan sesuatu terjadi. Menurut saya, ketika bermain terlalu positional—satu dua sentuhan untuk menemukan pemain yang bebas–terkadang Anda kehilangan inisiatif dari para pemain untuk rekan mereka dalam posisi dan menyerang ruang,” ucap Iraola.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/2f542aa8-247b-4f3b-89ed-f38a138e275c_jpg.jpg)
Bournemouth pun menjadi tim yang sangat solid dan mampu mengalahkan klub-klub besar, seperti menang 2-0 atas Arsenal, 3-0 atas Manchester United, dan 2-1 atas Manchester City. Iraola mampu menyatukan para pemainnya untuk membuat kekacauan dengan kekuatan kolektif dan kebebasan mengambil risiko.
Mereka tidak kaku pada posisi. Pola permainan lebih menjadi acuan untuk mengembangkan permainan yang ”gila” seperti era Bielsa. Para pemain, seperti Justin Kluivert, Ryan Christie, Lewis Cook, dan Antoine Semenyo, sering menjadi momok bagi para pemain bertahan lawan, karena mereka mengendarai ritme dan sulit ditebak.
Gaya permainan Bournemouth itu dinilai oleh Guardiola sebagai wujud sepak bola modern. Dirinya pun bersiap menciptakan antidote seperti saat melawan Klopp.
”Saat ini, cara bermain sepak bola modern adalah cara bermain Bournemouth, Newcastle, Brighton, dan seperti Anda tahu, Liverpool. Selalu seperti itu, seperti kami. Itulah sepak bola modern,” ujar Guardiola kepada TNT Sports.
”Saat ini, sepak bola modern bukan positional dan tetap di sana. Anda harus menaikkan ritme dengan luar biasa. Saya tidak bisa (melakukan itu) karena kami tidak memiliki pemain-pemain (untuk itu),” ucap Guardiola.
Ia merespons gaya permaian Bournemouth itu dengan merekrut mantan asisten Klopp di Liverpool, Pepijn Lijnders. Pelatih asal Belanda itu, menurut BBC, merupakan sosok yang bertanggung jawab penuh dalam memimpin latihan sehari-hari skuad Liverpool saat bersama Klopp.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/27/00cfc59e-90ff-4a63-9dbd-05c2b739f1c8_jpg.jpg)
Kedatangan Lijnders ini menyiratkan perubahan pola permainan City pasca-Kevin De Bruyne, yaitu dengan pola agresif dan serangan kilat, serta menekan secepat mungkin saat kehilangan bola.
Untuk itu, Guardiola mendatangkan para pemain seperti Omar Marmoush, Rayan Cherki, dan Tijjani Reijnders, yang menikmati permainan dengan ritme tinggi. Cherki dan Reijnders juga memiliki skor tinggi dalam dribel yang krusial dalam pola permainan baru yang akan diterapkan Guardiola.
Kemampuan dribel pemain serang menjadi solusi saat bertemu lawan yang bertahan ketat, seperti Nottingham Forest. Tim asuhan Nuno Espirito Santo itu membuat kejutan musim lalu dengan berada di posisi ketiga sejak pekan ke-10 hingga pekan ke-30. Espirito Santo, yang menikmati masa puncaknya sebagai kiper bersama FC Porto di era Jose Mourinho, sangat terpengaruh oleh gaya permainan bertahan.
Filosofi permainan Espirito Santo di Forest adalah bertahan ketat dengan gelandang bertahan turun hingga rapat dengan empat bek. Keberadaan bek Nikola Milenkovic yang didatangkan dari Fiorentina musim panas 2023 menjadi tulang punggung filosofi bertahan Forest.
Mereka meredam serangan lawan untuk menciptakan ruang di depan yang bisa dieksploitasi dengan menyerang balik oleh para pemain sayap. Gaya permainan ini mampu membuat Forest sebagai tim pertama yang mengalahkan Liverpool di Anfield musim lalu.
Espirito Santo menerapkan skema permainan yang sangat rapat, juga menyemai pola yang cair dengan perubahan posisi yang dinamis untuk memecah pertahanan lawan. Saat membangun serangan, mereka juga beberapa kali menerapkan umpang langsung ke depan dengan striker Chris Wood yang sudah menunggu. Alur serangan dari sayap juga menjadi variasi serangan Forest.
Variasi permainan klub-klub Liga Inggris ini mencitakan dinamika yang cepat dalam adaptasi gaya bermain. Mereka saling berlomba menciptakan antidote untuk menjadi tim terkuat dan menerima mahkota juara. Musim ini, gaya permainan City bersama Guardiola sangat dinantikan untuk membawa sepak bola modern ke level baru yang lebih agresif, cepat, dan punya ritme rock n roll.
Penulis:
Agung SetyahadiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul