Lika-liku, Strategi, dan Penyesatan Israel Sebelum Serang Iran

Mossad dari dalam Iran menghancurkan rudal antipesawat agar AU Israel leluasa menyerang berbagai sasaran strategis. Media juga dimanfaatkan Mossad untuk penyesatan.

14 Jun 2025 17:34 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa, Bonifasius Josie Susilo H

Diawali dengan sejumlah kebocoran informasi intelijen pada paruh akhir tahun 2024 lalu, Israel sejatinya tengah mengecoh Iran. Pejabat keamanan Israel berbicara secara anonim, Jumat (13/6/2025), mengatakan, operasi dirancang sejak lama.

Israel memanfaatkan operasi rahasia Mossad yang membangun jejaring di Iran. Diduga, Mossad menggunakan jejaring warga Yahudi lokal atau warga lokal yang berpindah ke Israel.

Mossad menghimpun informasi dari kelompok tersebut. Selanjutnya melalui jaringan tersebut, Mossad merekrut agen lokal yang berasal dari kalangan setempat. Operasi itu kemudian ditindaklanjuti Mossad dengan menimbun senjata, bahan peledak, serta drone untuk menghantam sejumlah sasaran di sekitar Teheran dan situs-situs nuklir Iran.

Mantan Analis Kepala Mossad Sima Shine yang kini menjadi peneliti Institut Pusat Kajian Keamanan Nasional Israel (INSS) mengatakan, persiapan operasi seperti itu dilakukan bertahun-tahun sebelum diputuskan untuk menyerang.

Petugas pemadam kebakaran dan warga membersihkan tempat ledakan di sebuah kompleks tempat tinggal setelah serangan Israel di Teheran, Jumat, 13 Juni 2025.

Keputusan menyerang, diambil Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Senin (9/6/2025). Pada hari yang sama, Netanyahu menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Setelah itu, Menteri Pertahanan Israel Katz dan Kepala Staf Tzahal Eyal Zamir memutuskan hari H serangan adalah Jumat (13/6/2025). Sehari sebelum hari H serangan, pada Kamis malam, kabinet Netanyahu memberi lampu hijau.

Mengecoh

Untuk mengaburkan rencana itu, Israel menciptakan kondisi seolah tidak akan menyerang. Berbagai informasi palsu dimunculkan lewat media untuk menyesatkan para pengambil keputusan tentang perpecahan antara Israel dan AS.

Dalam sebuah jumpa pers yang dilakukan Katz dan Zamir di Pangkalan Udara Tomer Bar di selatan Israel, mereka hanya menyebutkan rencana serangan ke Jalur Gaza, Yaman, dan Lebanon. Iran sama sekali tidak disinggung dalam pernyataan mereka kala itu.

Sebelum serangan dilakukan, diberitakan juga di berbagai media Israel tentang rencana kunjungan Menteri Urusan Strategis Ron Dermer dan Direktur Mossad David Barnea ke Washington DC sebelum perundingan lanjutan program nuklir Iran antara AS-Iran pada Minggu besok.

Puing-puing dari sebuah gedung apartemen terlihat di atas mobil yang diparkir setelah serangan di Teheran, Iran, Jumat pagi, 13 Juni 2025. Israel menyerang ibu kota Iran pada Jumat pagi, dengan ledakan yang meledak di seluruh Teheran.

Ternyata—dalam sebuah rekaman video—saat serangan atas Iran diumumkan, Dermer terlihat duduk berdekatan dengan Netanyahu di sebuah bunker di Tel Aviv. Seorang sumber dalam tubuh militer Israel mengatakan, mereka berhasil mengelabui Iran.

Dan sebagaimana terjadi, gelombang pertama serangan Israel berhasil menembus Iran. Sebanyak 330 bom diluncurkan dan menghantam berbagai sasaran di Iran dengan presisi.

Keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari peran agen yang telah ditanam Mossad. Mereka diduga turut mengarahkan atau menempatkan ”penanda” yang memandu bom-bom presisi itu mengenai target mereka.

Serangan udara itu sebagian dilakukan dengan drone serang yang diluncurkan dari dalam Iran seperti serbuan Operasi Jaring Laba–laba yang dilakukan unit khusus Ukraina dari dalam wilayah Rusia, pada Minggu (1/6/2025) lalu.

Selain drone, dalam serangan pada Jumat dini hari itu, Israel juga mengerahkan 200 pesawat tempur. Hasilnya, sejumlah situs nuklir termasuk Natanz yang digunakan sebagai lokasi pengayaan uranium rusak berat dihantam bom Israel. Selain itu, sejumlah petinggi militer dan ahli nuklir Iran tewas dalam serangan tersebut.

Penduduk berkumpul di atas gedung yang dilanda serangan Israel di Teheran pada 13 Juni 2025. Israel menghantam sekitar 100 target di Iran pada 13 Juni, termasuk fasilitas nuklir dan pusat komando militer dan membunuh tokoh-tokoh senior termasuk kepala angkatan bersenjata dan ilmuwan nuklir papan atas.

Bukti bahwa Iran sempat terkecoh oleh langkah Israel adalah pernyataan sejumlah pejabat Iran kepada kantor berita Reuters. Mereka mengabaikan adanya kemungkinan serangan Israel. Beragam informasi, termasuk kebocoran informasi intelijen Israel, mereka anggap sebagai perang urat saraf yang diarahkan untuk memengaruhi perundingan nuklir AS-Iran.

Karena kelalain itu, Iran harus menanggung kerugian besar. Selain kerusakan fisik atas sejumlah fasilitas nuklir mereka, Teheran juga kehilangan beberapa jenderal dan ahli nuklir.

Para tokoh kunci tersebut adalah Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami, Kepala Staf Angkatan Darat IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Komandan Pasukan Antariksa IRGC, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh serta dua ahli nuklir utama Iran.

Meskipun Iran memberi balasan dan sejumlah rudal mengenai sejumlah target di Tel Aviv, Israel akan meneruskan serangan. Namun, pihak militer Israel tidak memerinci apa saja yang menjadi target serangan berikutnya.

Sementara itu, Presiden Trump kembali mendesak Iran untuk segera menyepakati proposal perjanjian nuklir yang kini dibahas bersama AS. Menurut Trump, jika hal itu tidak dilakukan, serangan Israel akan semakin parah dan Iran akan menanggung banyak kerugian.

Putaran terbaru perundingan AS-Iran akan digelar pada Minggu (15/6/2025) di Oman. Dengan kondisi yang ada saat ini, banyak pihak meragukan efektivitas perundingan tersebut. Di sisi lain, banyak pihak juga berharap, peluang tersebut dapat menjadi bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan, bahkan bisa menghentikan saling serang antara Israel-Iran. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa, Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul