Lima Kali Lebaran, Belanja Makin Menurun (6)

Momen Lebaran biasanya diwarnai dengan belanja-belanja. Namun, transaksi belanja itu bisa jadi berkurang karena daya beli warga yang rendah.

11 Mar 2025 05:00 WIB · Investigasi

Oleh Albertus Krisna, M Pascalia Judith, M Puteri Rosalina, Pandu Wiyoga

JAKARTA, KOMPAS — Kemampuan berbelanja menjelang Lebaran berkurang karena daya beli warga yang rendah. Padahal, tingkat konsumsi warga di momen itu lebih tinggi daripada periode waktu biasa. Harapan adanya geliat ekonomi yang bergairah bisa meleset.

Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah Data Bulanan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) tahun 2020-2024. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata proporsi belanja warga menjelang Lebaran semakin kecil dibandingkan dengan proporsi belanja konsumsi selama satu tahun.

Tahun 2020 dan 2021, proporsi belanja menjelang Lebaran masing-masing 0,3 persen poin, tetapi pada 2022 turun menjadi 0,1 persen poin. Pada 2023 sama dengan rata-rata proporsi belanja di tahun itu atau 0 poin. Pada 2024 turun lagi lebih tajam, hingga minus 0,4 persen poin. Proporsi belanja menjelang Lebaran 2024 tersebut terendah dalam lima tahun terakhir.

Penurunan konsumsi pada momen Lebaran juga terlihat dari pengeluaran konsumsi rumah tangga dalam struktur produk domestik bruto (PDB). Selama 2021-2024, konsumsi rumah tangga periode Lebaran, yang ada di triwulan II, tumbuh melambat. Pada 2021, konsumsi rumah tangga pada periode yang sama tumbuh 5,96 persen. Kemudian, pada 2024, melambat menjadi 4,93 persen.

Konsumsi berkurang

Sep (29), warga Jawa Timur, juga berencana mengurangi konsumsi Lebaran tahun ini. Ayah satu anak ini belum lama kehilangan pekerjaan. Kontrak Sep sebagai konsultan individu di salah satu instansi pemerintahan di Jawa Timur tidak diperpanjang per 1 Februari 2025.

Sebelumnya, Sep mendapatkan gaji Rp 5 juta per bulan yang biasa ia sisihkan untuk tabungan Rp 500.000, kebutuhan susu formula anak balitanya Rp 1,6 juta, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Kini Sep harus menghemat pengeluarannya, termasuk konsumsi menjelang Lebaran, karena tabungan yang tersisa hanya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari hingga bulan ini. Untuk menyambung hidup, Sep berusaha mencari pekerjaan baru, termasuk mencoba mendaftar sebagai ojek aplikasi.

Quote

”Ini juga saya bingung. Biasanya kalau Lebaran saya beli parsel untuk dibagikan ke keluarga terdekat. Mungkin saat ini berhenti beli dulu. Konsumsinya untuk keluarga dulu, untuk orang lain nanti dulu,” ujar Sep, Selasa (18/2/2025).

Beberapa hari setelah mengalami PHK pekerja membuat kenangan mereka dengan berfoto di halaman pabrik PT Sritex, Desa Ngemplak Jetis, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (2/3/2025). PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) tutup permanen pada Sabtu 1 Maret 2025. Kepailitan yang terjadi pada pabrik garmen PT Sritex menyebabkan PHK terhadap 12.000 pekerja.  

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
02-03-2025
 *** Local Caption ***

Proporsi konsumsi yang semakin turun di momen-momen hari besar juga terjadi pada penyaluran dana pinjaman daring. Hal ini terlihat dari data bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penyaluran pinjaman fintech lending empat tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan penyaluran pinjaman dua bulan menjelang Lebaran dari 2021 hingga 2024 terus menurun.

Pada 2021, pinjaman daring rata-rata tumbuh 13,2 persen per bulan. Februari 2021 total penyaluran Rp 9,6 triliun, kemudian Maret 2021 naik menjadi Rp 11,8 triliun dan naik lagi menjadi Rp 12,2 triliun pada April 2021.

Sementara itu, menjelang Lebaran 2022 pertumbuhan penyaluran pinjaman daring turun menjadi 8,6 persen. Kemudian, dua bulan menjelang Lebaran 2023 turun lagi menjadi hanya 2,8 persen dan menjelang Lebaran 2024 merosot lagi hanya tumbuh 1,8 persen.

Infografik Proporsi Konsumsi Menjelang Lebaran

Melambatnya pertumbuhan penyaluran pinjaman daring berkelindan dengan melemahnya daya belanja warga, khususnya menjelang Lebaran. Hal ini tidak lepas dari penggunaan pinjaman daring yang identik untuk konsumsi atau pembiayaan kebutuhan sehari-hari. Semakin sedikit pinjaman yang disalurkan, semakin sedikit juga barang yang dibelanjakan warga.

Pendorong ekonomi

Turunnya pertumbuhan kredit menjelang Lebaran dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya bisa menjadi alarm bagi perekonomian nasional. Menyikapi hal itu, peneliti senior di The PRAKARSA, Setyo Budiantoro, menilai, momen menjelang Lebaran yang selama ini dianggap bisa menjadi pendorong ekonomi ternyata tidak seluruhnya bisa diharapkan.

”Daya beli yang terbatas, kemudian banyak orang mengantisipasi. Karena mereka tidak tahu masa depan mereka seperti apa, jadi daya belinya dibatasi dulu,” kata Budi, Jumat (14/2/2025).

Pengunjung memilih produk alas kaki di sebuah pusat perbelanjaan di Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Selasa (9/4/2024). Potongan harga masih menjadi senjata utama pelaku usaha untuk merangsang minat belanja masyarakat.

Menurut Budi, keputusan warga berbelanja bergantung pada ekspektasinya. Mereka akan melakukan belanja dalam jumlah besar karena ekspektasi di masa depan dinilai aman. Dalam artian kondisi ekonomi tetap akan baik. Jika ekspektasi itu yang dirasakan warga, daya beli pun berpotensi meningkat.

Sementara masyarakat yang menahan belanja menjelang Lebaran terlihat dari deflasi tahunan yang terjadi pada Februari 2025, sebesar 0,09 persen. Adapun pada 2024, dua bulan sebelum Lebaran, terjadi kenaikan inflasi, dari 2,57 persen di Januari 2024 menjadi 2,75 persen pada Februari, dan saat Lebaran (Maret) menjadi 3,05 persen.

Optimistis bertumbuh

Pemerintah optimistis melihat pertumbuhan konsumsi per siklus triwulanan dalam setahun yang didorong oleh momen Lebaran. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono melihat pertumbuhan tertinggi beberapa tahun terakhir masih terjadi di triwulan kedua, saat Lebaran.

Menurut Susi, pergeseran volume tinggi konsumsi masyarakat berpotensi terjadi di luar momen Lebaran.

”Ada beberapa titik momentum siklus tahunan seperti Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional). Anak-anak sekarang cenderung minta di-beliin baju baru saat itu (Harbolnas) daripada Lebaran,” katanya, Jumat (29/2/2025).

Pedagang menawarkan produk hijab melalui siaran langsung di lokapasar pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 11.11 di pusat perbelanjaan tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2024). Harbolnas menawarkan banyak promo seperti potongan harga hingga bebas biaya kirim.

Di sisi lain, pemerintah berkomitmen terus mendorong daya beli masyarakat. Susi menjelaskan, dorongan pemerintah menjelang Lebaran ini salah satunya melalui pemberian tunjangan hari raya bagi aparatur sipil negara (ASN) dan non-ASN. Ada juga diskon tarif jalan tol sebesar 20 persen dan diskon tiket pesawat di masa mudik Lebaran 2025.

Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.

Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini


Kerabat Kerja

Penulis:

Albertus Krisna, M Pascalia Judith, M Puteri Rosalina, Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto