Komisaris Jenderal Surachate Hakparn terbukti melindungi sindikat judi. Ia dipecat sebagai polisi maupun wakil kepala polisi nasional.
12 Mar 2025 17:30 WIB · Internasional
BANGKOK, RABU — Kepolisian Thailand menunjukkan keseriusan memberantas sindikat judi. Wakil Kepala Kepolisian Nasional yang berpangkat jenderal bintang tiga sekalipun dipecat karena melindungi sindikat judi.
Dilaporkan AFP pada Rabu (12/3/2025), Komisaris Jenderal Surachate Hakparn resmi dipecat. Surat pemecatannya diteken Kepala Kepolisian Nasional Thailand Jenderal Kitrat Phanpet, Selasa (11/3/2025).
Jenderal Kitrat meneken surat itu setelah ada keputusan Komite Disiplin Kepolisian terhadap Surachate alias Big Joke. Komite menemukan pelanggaran disiplin dan etik serius.
Surachate dinilai terbukti melindungi sindikat judi. Ia juga terlibat dan melindungi pencucian uang hasil judi.
Akibat pemecatan dengan tidak hormat tersebut, Surachate juga tidak berhak atas uang pensiun. Padahal, jabatan terakhirnya setara Wakil Kepala Polri di Indonesia.
Surachate punya waktu 30 hari untuk mengajukan banding. Jika banding diajukan, ada 120 hari lagi untuk menentukan nasib jenderal kaya raya itu. Kalau sampai 120 hari belum bisa diambil keputusan, Komisi Perlindungan Etika Kepolisian bisa menambah waktu pemeriksaan sampai 120 hari lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/10/22/b10f530a-89a7-4208-bcb3-a90a1055465a.jpg)
Jika pada akhirnya komite memutuskan menerima banding dan membatalkan keputusan Kepolisian Nasional Thailand itu, Surachate harus dipekerjakan kembali dan dipulihkan hak-haknya dalam waktu 30 hari. Sebaliknya, jika keputusan komite sejalan dengan keputusan Kepolisian Nasional Thailand, Surachate masih berhak untuk mengajukan banding ke Mahkamah Tata Usaha Negara dalam waktu 90 hari.
Keputusan Mahkamah TUN nantinya bersifat final dan mengikat. Jika pengadilan menegakkan pemecatan tersebut, Surachate akan kehilangan pangkat polisinya. Ia juga harus mengembalikan semua tanda kehormatan yang pernah diterimanya sebagai perwira senior.
Surachate, dilansir dari laporan media Thailand, mengatakan, dirinya belum mengetahui keputusan terbaru Kepala Kepolisian Nasional Thailand itu. Dia menyatakan akan membaca laporan komite tersebut sebelum memutuskan apakah akan mengajukan banding atau tidak.
Surachate salah satu perwira muda yang bersinar dan moncer kariernya di Kepolisian Nasional Thailand. Ia tersandung kasus pidana setelah Tim Investigasi Kejahatan Siber Thailand menduga ada keterlibatan pejabat tinggi kepolisian terhadap jaringan judi daring ilegal di negara ini.
Penelusuran tim investigasi membuat mereka harus menggeledah rumah Surachate pada akhir September 2023. Ia disebut terlibat sindikat yang dikenal sebagai Betflix.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/01/09/5e5350cb-6c1b-4eb0-ad8f-cfc29a9b37a5.jpg)
Pemeriksaan Surachate didahului pemeriksaan terhadap 22 polisi yang membantu Betflix. Mereka buka mulut dan menyebut Surachate sebagai pucuk komplotan itu.
Data aliran uang menguatkan tuduhan itu. Pada September 2023, rumah Surachate digeledah. Lalu, ia ditangkap pada April 2024. Ia juga serta-merta dicopot dari kursi Wakil Kepala Kepolisian Nasional.
Mengutip laporan Bangkok Post 16 Agustus 2024, pencopotan atas perintah Wakil Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai. Tak cuma memerintahkan pencopotan, Phumtham juga memerintahkan pemecatan Surachate.
Lewat sidang internal, dengan suara bulat, kepolisian mendukung keputusan itu. Upaya banding sebelum keluar pemecatan resmi sudah kandas. Kini, Surachate mengandalkan upaya banding di luar sistem kepolisian.
Surachate, kelahiran Songkhla tahun 1970, dianggap sebagai salah satu perwira yang tengah bersinar dan bahkan digadang-gadang bisa menduduki jabatan tertinggi di kepolisian Thailand. Dia sering muncul di berita utama, terutama terkait kasus-kasus besar yang berhasil diungkap aparat kepolisian, mulai dari pelanggaran imigrasi hingga pembalap motor ilegal karena unit yang dipimpinnya.
Tahun 2020 saat dia sudah menduduki jabatan cukup tinggi di markas besar, kendaraan miliknya yang tengah diparkir di Jalan Surawong, Bangkok, ditembaki orang tidak dikenal. Dia membantah insiden itu sebagai rekayasa. Dia menuding serangan itu dilakukan karena ada pihak yang tidak senang soal penyelidikan pengadaan sistem pemeriksaan biometrik oleh Biro Imigrasi yang ternyata tidak berfungsi.
Kasus serangan itu sendiri, menurut laporan Bangkok Post, tidak pernah terpecahkan. Diduga ada intervensi untuk menghentikan penyelidikan kasus tersebut. (AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada