Literasi Digital Jadi Bekal Kritis terhadap Informasi yang Beredar

Tingkat literasi digital yang baik dibutuhkan agar orang mampu berpikir kritis dalam mengelola informasi yang melimpah di era digital saat ini.

08 Sep 2025 18:04 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Ester Lince Napitupulu

JAKARTA, KOMPAS — Dalam lanskap digital yang berubah pesat saat ini, literasi bukan hanya dasar keterampilan dalam transisi digital yang inklusif. Literasi juga dibutuhkan untuk mengakses dan memilah informasi serta pengetahuan yang bertebaran di jagat maya.

Dalam peringatan Hari Literasi Internasional 2025 yang jatuh pada Senin (8/9/2025), UNESCO menyerukan tiap warga perlu dibekali dengan keterampilan literasi untuk mendapatkan manfaat digitalisasi. Sayangnya, masih banyak warga dunia yang belum memiliki keterampilan literasi dan numerasi dasar. Hari Literasi tahun ini mengambil tema ”Promoting Literacy in the Digital Era”.

Saat ini, hampir tujuh dari sepuluh orang di dunia (68 persen) menggunakan internet dan empat dari lima orang berusia 10 tahun ke atas memiliki telepon seluler. Aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) juga telah diadopsi dengan cepat di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Namun, empat dari sepuluh anak gagal mencapai kemahiran minimum dalam membaca, sementara 272 juta anak dan remaja putus sekolah pada 2023.

”Selain membaca dan menulis di atas kertas, literasi di era digital memungkinkan orang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, membuat, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan konten digital dengan aman dan tepat. Literasi juga berperan penting dalam menumbuhkan pemikiran kritis, memilah informasi yang kredibel, dan menavigasi lingkungan informasi yang kompleks,” tutur Borhene Chakroun, Direktur Division of Policies and Lifelong Learning Systems Education Sector UNESCO.

Quote

Selama Oktober 2024 hingga Maret 2025, lebih dari 1,3 juta konten negatif beredar di media sosial.

Secara terpisah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, penguatan literasi anak-anak Indonesia dilakukan dengan memperkaya sumber bacaan yang menarik dan bermutu bagi anak-anak. Cerita yang mampu memantik rasa ingin tahu anak dapat digali dari banyak daerah sesuai dengan kearifan lokal serta dapat dikemas dalam bentuk cerita berbasis sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika (STEAM).

Sementara itu, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin mengatakan, Badan Bahasa berupaya memperluas akses terhadap bacaan bermutu untuk anak yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ribuan buku terjemahan cerita anak dibagikan untuk membangun budaya baca sejak dini, meningkatkan keterampilan literasi, serta mempersiapkan generasi Indonesia yang cerdas, kritis, dan berdaya saing global.

Masyarakat juga dapat mengakses koleksi terjemahan melalui laman penerjemahan.kemendikdasmen.go.id. Selain itu, Badan Bahasa juga memfasilitasi lebih dari 780 buku digital, buku audio, dan buku video yang dapat diakses melalui laman budi.kemendikdasmen.go.id.

Penguatan literasi kian penting. Sebab, individu yang melek huruf cenderung lebih diuntungkan dari digitalisasi karena keterampilan literasi yang rendah dapat membatasi seseorang dalam memperoleh keterampilan digital. Tingkat literasi seseorang dapat memengaruhi cara dia mendapatkan manfaat dari transisi digital dan peluang kerja baru serta mengatasi maraknya misinformasi, disinformasi, dan ”ruang gema”.

Di negara-negara OECD, hanya sembilan persen remaja berusia 15 tahun yang dapat membedakan fakta dari opini dalam teks digital. Itu sebabnya, literasi sangat penting saat memanfaatkan teknologi digital seperti AI generatif.

Sedikitnya remaja yang tidak memiliki tingkat literasi digital memadai juga perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Indonesia. Sebab, data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan, pada 2025 tercatat lebih dari 365 juta perangkat gawai yang aktif di Indonesia. Pengguna media sosial juga tinggi, yakni mencapai 143 juta, dan pengguna internet menyentuh 212 juta orang atau 74,6 persen dari populasi.

Tabel menunjukkan risiko digital yang meningkat di tengah rendahnya tingkat literasi. Sumber: OJK

Kemajuan digital juga menghadirkan tantangan. Selama Oktober 2024 hingga Maret 2025, lebih dari 1,3 juta konten negatif beredar di media sosial, termasuk 233.000 konten pornografi dan 5,7 juta konten judi daring. Sekitar 48 persen perempuan Indonesia pernah mengalami penipuan digital dan 1.791 kasus kekerasan berbasis jender daring dilaporkan sepanjang 2024.

Kementerian Komunikasi dan Digital melalui Program Literasi Digital Nasional memperkuat empat pilar literasi digital, yakni etika digital, budaya digital, keterampilan digital, dan keamanan digital. Indeks literasi digital Indonesia pun menunjukkan peningkatan, dengan skor nasional 3,78 dari skala 5 pada 2024.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto