Di era digital, warga menghadapi tsunami informasi. Apalagi, teknologi akal imitasi (AI) makin banyak digunakan. Bagaimana membangun literasi di tengah kondisi ini?
15 Jun 2025 12:24 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana menumbuhkan literasi di masyarakat?
2. Sejauh mana pemahaman literasi digital di masyarakat?
3. Mengapa literasi penting di era kecerdasan buatan?
4. Apa saja literasi yang dibutuhkan di era kecerdasan buatan?
Menurut Ratih D Adiputri, dalam artikelnya berjudul ”Tentang Literasi”, di Kompas.id, literasi adalah kemampuan untuk membaca, menulis, berbicara, dan mendengar, yang merupakan cara untuk berkomunikasi secara efektif dan memahami dunia di sekitarnya.
Hal ini merupakan cara berkomunikasi dan memproses berbagai macam materi cetak atau tulisan. Materi berbentuk bacaan panjang atau buku dan karya ilmiah yang membutuhkan waktu membaca dan memahaminya lalu digunakan dalam lingkungan pekerjaan atau memahami dunia.
Dengan demikian, literasi pada dasarnya mengalokasikan waktu untuk membaca dan memahami isi bacaan, idealnya teks panjang, buku fiksi atau karya ilmiah lainnya. Bahkan, nanti mampu menceritakan isinya dengan pemahaman tersendiri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/07/ca049565-20ee-4a1a-a9b4-2b746e80b521_png.png)
Apabila literasi ditambahkan dengan kata lain seperti literasi digital dan literasi budaya, intinya sama saja, yakni memahami sesuatu secara menyeluruh dan dapat menggunakan kembali informasi tersebut dengan mudah.
Namun, warga hanya tak buta aksara, tapi belum mampu menggunakannya dengan menyelesaikan tugas dengan baik dan memakai bacaan sebagai kebiasaan menambah pengetahuan. Banyak warga tak memahami isi teks di media massa dan buku bacaan.
Istilah literasi identik dengan kemampuan membaca dan menulis. Di era algoritma dan mesin pembelajar, literasi jadi lebih kompleks, meliputi kemampuan memahami, mengevaluasi, dan berinteraksi secara kritis dengan teknologi yang membentuk kehidupan kita.
Kementerian Komunikasi dan Informatika melaporkan pada 2017 bahwa data UNESCO menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia kecil, hanya 0,001 persen (dari 1.000 orang hanya satu yang membaca buku). Namun, banyak warga Indonesia berlama-lama menghabiskan waktu di media sosial.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021, sebanyak 62,1 persen populasi Indonesia telah mengakses internet. Tingginya pengguna internet ini tidak terlepas dari pesatnya pemakaian telepon seluler. Sebanyak 90,54 persen rumah tangga memiliki minimal satu nomor telepon seluler.
Indeks literasi digital nasional pada 2022 mencapai 3,54 poin atau naik 0,05 poin dibandingkan dengan tahun 2021. Survei melibatkan 10.000 responden pengguna internet berusia 13-70 tahun di 34 provinsi. Hasilnya, ada 72,6 persen responden terbiasa mendapat sumber informasi dari media sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/24/caf913cf-b93f-4a1e-b9f9-de31a62d47f8_jpg.jpg)
Namun, verifikasi terhadap informasi yang diakses masih rendah. Sebesar 52,2 persen responden mengaku tak mengecek informasi yang diterima, berupa berita, gambar, video, ataupun unggahan di media sosial. Padahal, verifikasi informasi ke sumber kredibel amat penting untuk memastikan kebenarannya.
Survei Indeks Literasi Digital Nasional 2022 juga menyebutkan 55,9 persen responden sering menemui hoaks atau informasi bohong di media sosial Facebook. Hal ini disusul dengan berita daring 16 persen, Whatsapp 13,9 persen, dan Youtube 13,1 persen.
Teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (artificial intelligence/AI) hadir untuk menetap dalam jangka panjang. Karena itu, kita perlu menyiapkan anak-anak, bahkan semua orang, untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam Laporan Masa Depan Pekerjaan 2025 dari Forum Ekonomi Dunia, kecerdasan buatan diperkirakan berdampak pada hampir semua industri, menggeser keahlian yang dibutuhkan di pasar tenaga kerja global. Sekitar 86 persen perusahaan global memperkirakan AI dan teknologi pengolahan informasi akan jadi faktor transformasi utama hingga tahun 2030.
Di sektor pendidikan, pengaruh AI paling signifikan pada cara kita mengakses, memproses, dan menerapkan informasi. Ini mendefinisikan ulang pendidikan dan cara kita mendapatkan pengetahuan. Makin banyak siswa dan mahasiswa memakai AI dalam mengerjakan tugas-tugas belajar serta guru dan dosen.
Di sisi lain, menurut laporan TeachAI dan EY, Desember 2024, banyak gen Z belum mampu mengevaluasi kekurangan teknologi AI. Studi ini melibatkan lebih dari 5.000 responden gen Z dari 16 negara.
Hasil studi itu menunjukkan gen Z memiliki skor tinggi dalam memahami produk atau tugas dengan AI, tapi skor terendah dalam mengidentifikasi batasan akal imitasi.
Laporan ini juga menunjukkan gen Z yang tumbuh dengan teknologi belum memiliki literasi AI kritis yang memadai. Temuan ini menjadi dasar penting merancang program pelatihan literasi kecerdasan buatan lebih kuat, antara lain memasukkan aspek teknis, etis, dan sosial secara seimbang.
Di era kecerdasan buatan, literasi lebih dari sekadar mengetahui cara menulis kode atau memakai chatbot seperti ChatGPT. Menurut Long D dan Magerko B di Proceedings of the 2020 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems (2020), literasi AI mencakup seperangkat kompetensi teknis, etika, dan sosial sehingga seseorang bisa mengevaluasi AI secara kritis.
Literasi tersebut juga mendidik orang untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan sistem AI serta menggunakan akal imitasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi ataupun profesional.
Menurut Daniel S Schiff dari Purdue University dan tim dalam artikelnya di The Conversation, 2 Juni 2025, menyebut, literasi AI mengacu pada seperangkat kompetensi individu mengevaluasi teknologi AI secara kritis, berkomunikasi efektif dengan AI, memakainya di rumah dan tempat kerja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/31/b73436da-db41-4bb5-ad85-f487755b228d_jpg.jpg)
Karena kini setiap sektor dan bidang masyarakat terlibat dengan kecerdasan buatan, semua orang yang menggunakannya membutuhkan literasi mengenai teknologi itu. Literasi akal imitasi dibutuhkan semua orang, dari siswa sekolah dasar hingga eksekutif perusahaan yang membuat keputusan strategis.
Namun, tidak semua orang memerlukan tingkat literasi sama. Seorang insinyur AI membutuhkan pemahaman mendalam mengenai model statistik dan jaringan saraf, sedangkan warga biasa cukup memahami cara algoritma rekomendasi bekerja agar tak terjebak dalam ruang gema media sosial.
Mengacu pada laporan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) tentang Panduan Literasi AI (2023), literasi mengenai akal imitasi mencakup tiga prinsip.
Pertama, inklusif atau menjangkau semua golongan. Kedua, berbasis bukti atau memakai pendekatan pedagogi. Ketiga, berorientasi etika menekankan tanggung jawab sosial dan prinsip keadilan.
Penulis:
Tim KompasEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto