Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Mengapa kehadiran Hugo Ekitike membuat Liverpool kini kian kental dengan wajah Bundesliga Jerman?
2. Mengapa gairah belanja Liverpool musim panas ini menjadi anomali bagi juara bertahan Inggris?
3. Bagaimana Liverpool menyeimbangkan geliat belanja dengan aturan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)?
4. Bagaimana teka-teki Alexander Isak dengan Liverpool dan Arab Saudi?
5. Mengapa kehadiran Bryan Mbeumo bisa melengkapi trisula Manchester United?
Tidak seperti Chelsea, Manchester City, dan Manchester United selama ini, Liverpool dikenal irit dan sangat hati-hati dalam berbelanja pemain baru. Musim panas 2024, misalnya, ”Si Merah” hanya membeli dua pemain baru dengan biaya 42 juta euro (Rp 799 miliar). Kedua pemain itu adalah penyerang sayap Federico Chiesa dan kiper Giorgi Mamardashvili.
Dengan dana sekecil itu saja, mereka sulit ditandingi dan menjadi juara Liga Primer Inggris dengan keunggulan sepuluh poin di puncak klasemen. Liverpool bahkan sempat dijagokan menjuarai Liga Champions Eropa musim lalu sebelum disingkirkan lewat adu penali di babak 16 besar oleh Paris Saint-Germain, klub yang akhirnya menjadi juara.
Gelar Piala Liga Inggris pun raib dari genggaman Liverpool setelah dikalahkan Newcastle United di final ajang itu. Padahal, Liverpool sempat digadang-gadang bakal meraih quadruple alias empat gelar semusim menyusul mulusnya suksesi kepemimpinan tim dari manajer lama, Juergen Klopp, ke penggantinya, Arne Slot.
Fakor kedalaman skuad memupus ambisi quadruple Liverpool pada musim lalu. Ketergantungan terhadap penyerang sayap gaek mereka, Mohamed Salah, sangat tinggi. Ia memborong 34 gol atau 27 persen dari total 123 gol yang dibuat Liverpool di berbagai kompetisi musim lalu. Produktivitas Salah kontras dengan penyerang termahal mereka, Darwin Nunez. Striker yang diboyong seharga 100 juta euro (Rp 1,9 triliun) pada 2022 itu hanya menyumbang total 7 gol.
Namun, Liverpool tak bisa selamanya mengandalkan Salah yang kini berusia 33 tahun. Maka, pada musim panas ini, Si Merah bergeliat di bursa transfer. Mereka ingin menambah kreativitas dan daya gedor serangan. Dua pemain bertipe penyerang, yaitu gelandang kreatif Florian Wirtz dan striker Hugo Ekitike, telah didatangkan dari Bundesliga Jerman.
Slot pun mendatangkan dua bek sayap, Jeremie Frimpong dan Milos Kerkez, untuk meremajakan sekaligus menambal kelemahan mereka pada sisi lebar lapangan menyusul hengkangnya Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid dan anjloknya fisik Andy Robertson. Tak tanggung-tanggung, total 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) telah Liverpool belanjakan pada musim panas ini. Jumlah itu naik 7.133 persen atau tujuh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, Liverpool mencatatkan diri sebagai tim terboros di Liga Inggris pada jendela transfer pemain pada musim panas ini. Pemain baru mereka, Wirtz, bahkan tercatat sebagai pemain paling mahal Liverpool sekaligus di Liga Inggris dengan nilai transer 125 juta euro (Rp 2,37 triliun). Total belanja Liverpool jauh melampaui rival-rivalnya, antara lain Chelsea (243 juta euro), Arsenal (157 juta euro), Manchester United (153 juta euro), dan Manchester City (148 juta euro).
Geliat belanja Liverpool yang masif itu menyiratkan ambisi besar mereka untuk menjadi tim yang dominan di Inggris dan Eropa untuk musim baru 2025-2026 ataupun ke depan. Belanja pemain mereka bahkan disebut-sebut belum berhenti meski banyak wajah baru telah berdatangan.
Mengapa kehadiran Hugo Ekitike membuat Liverpool kini kian kental dengan wajah Bundesliga Jerman?
Liverpool akhirnya meresmikan perekrutan penyerang anyar, Hugo Ekitike, dari Eintracht Frankfurt, Kamis (24/7/2025) pagi WIB. Kehadiran Ekitike semakin membuat pekat nuansa Bundesliga Jerman di tubuh Liverpool. Sebelum Ekitike, Si Merah sudah terlebih dulu merekrut Florian Wirtz dan Jeremie Frimpong.
Manajer Liverpool Arne Slot tampaknya mewarisi jaringan pemandu bakat pemain dari Juergen Klopp. Saat Klopp menjadi manajer pada 2015 hingga 2024, ia memiliki jaringan pemandu bakat yang sangat aktif di Bundesliga. Slot memanfaatkan sistem perekrutan yang sudah mapan itu untuk memperkuat tim sesuai kebutuhannya musim depan.
Laporan dari BBC Sport menyebutkan, Liverpool dan Frankfurt menyepakati nilai transfer Ekitike yang menyentuh 79 juta pounds sterling (sekitar Rp 1,7 triliun). Sebanyak 69 juta pound telah dibayarkan di awal dan 10 juta pound sisanya menyusul kemudian.
Ekitike diharapkan membantu meningkatkan ketajaman lini depan Liverpool. Mohamed Salah kian menua, sedangkan Darwin Nunez belum bisa terlalu diandalkan menjadi sumber gol Liverpool. Terlebih lagi, Luis Diaz diisukan akan hengkang dan Liverpool baru saja kehilangan Diogo Jota yang tutup usia.
Ekitike merupakan salah satu pemain paling ranum di Bundesliga. Pemain berpaspor Perancis itu mencetak 22 gol dan 12 asis dalam 48 pertandingan di seluruh kompetisi musim lalu. Ia juga menjadi pemain paling berbahaya dengan melepaskan 117 tembakan di Bundesliga. Tidak ada pemain lainnya yang mampu menyaingi jumlah tembakan Ekitike.
Sebelum Ekitike, Liverpool merekrut Wirtz dari Bayer Leverkusen dengan mahar mencapai 116 juta pounds (sekitar Rp 2,5 triliun) yang sejauh ini menjadi rekor transfer termahal di Liga Inggris. Adapun Frimpong ditebus dari Leverkusen dengan biaya 29,5 juta pounds (sekitar Rp 652 miliar).
Hanya Milos Kerkez, rekrutan Liverpool musim panas ini, yang bukan berasal dari Bundesliga. Bek kiri berkebangsaan Hongaria itu didatangkan Liverpool dari sesama klub Liga Inggris, Bournemouth.
Mengapa gairah belanja Liverpool musim panas ini menjadi anomali bagi juara bertahan Liga Inggris?
Biasanya, sehabis meraih trofi, tim-tim juara bertahan Liga Inggris cenderung lebih pasif dalam jendela transfer musim panas. Namun, itu tidak berlaku untuk Liverpool. Mereka kini justru jorjoran dalam pembelian pemain. Total 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) telah mereka habiskan pada musim panas ini untuk lima pemain baru.
Padahal, sebelum-sebelumnya, Liverpool tidak pernah mengeluarkan lebih dari 200 juta pounds dalam semusim selama kepemimpinan manajer legendaris, Juergen Klopp (2015-2024). Sebelum memboyong Hugo Ekitike, Liverpool sudah mendatangkan empat pemain.
Mereka adalah Florian Wirtz, Milos Kerkez, Jeremie Frimpong, dan Armin Pecsi. Semuanya sudah diboyong sebelum laga pertama pramusim dimulai. Adapun Liverpool baru menjual empat pemain dengan total nilai 66 juta pounds.
Ungkapan Klopp di masa lalu, yaitu tentang ketimpangan finansial antara Liverpool dan tim-tim kaya, seperti Manchester City, mendadak tidak relevan lagi. ”Tidak ada yang bisa bersaing dengan City dalam urusan itu. Apa yang bisa Liverpool lakukan? Kami tidak bisa seperti itu. Tidak mungkin,” ujarnya pada 2022.
Terlepas dari itu, Liverpool memperlihatkan hal yang tidak biasa dari tim juara bertahan. Selama satu dekade terakhir, tim juara cenderung lebih pasif pada jendela transfer musim panas. Mereka sudah percaya diri dengan skuad yang ada, hanya berupaya memperbaiki sedikit.
City, seusai menjuarai liga itu pada musim 2020-2021, misalnya, hanya membeli satu pemain pada jendela selanjutnya. Mereka mendatangkan pemain sayap Jack Grealish untuk melengkapi serangan di sisi kiri. Adapun mereka sempat membeli enam pemain setelah kehilangan gelar dari Liverpool di musim 2019-2020.
Kebutuhan regenerasi diperkuat dengan data dari Transfermarkt. Rerata usia starter Liverpool pada musim lalu adalah 27,2 tahun atau tercatat sebagai yang tertua kelima di liga. Tambahan pemain muda, seperti Wirtz (22) dan Ekitike (23), akan menyegarkan skuad Si Merah pada musim ini.
Bagaimana Liverpool menyeimbangkan geliat belanja dengan aturan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)?
Keinginan belanja Liverpool belum berhenti meskipun telah menghabiskan 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) untuk sejumlah pemain baru pada musim panas ini. Mereka dikabarkan masih tertarik untuk mendatangkan sriker Alexander Isak. Pemain Newcastle United itu kini dihargai 120 juta euro (Rp 2,2 triliun).
Lantas, bagaimana Liverpool menyeimbangkan neraca keuangannya untuk mencegah sanksi terkait aturan keuntungan dan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)? Aturan itu diterapkan untuk menjaga kesehatan finansial klub. Beberapa klub yang tidak terlalu jorjoran dalam belanja pemain, seperti Leicester City dan Everton, bahkan pernah dihukum karena melanggar aturan itu.
Menurut Sky Sports, setelah berkonsultasi dengan ahli finansial sepak bola, Liverpool ternyata berada dalam posisi aman. Pengeluaran mereka saat ini dinilai masih pada koridor kepatuhan pada PSR. Kuncinya adalah pengelolaan baik dalam beberapa tahun terakhir.
Musim lalu, misalnya, mereka justru mengalami surplus berkat penjualan pemain yang mencapai 60 juta pounds. Artinya, mereka masih memiliki jatah uang transfer dari musim lalu yang belum digunakan.
Liverpool, yang sudah mendapatkan lebih dari 60 juta pounds dari penjualan di jendela transfer saat ini, juga masih membuka penawaran dari klub lain. Mereka berpotensi mendapatkan 150 juta pounds tambahan dari penjualan Darwin Nunez, Luis Diaz, dan Harvey Elliott.
Masala utamanya, jika jadi merekrut Isak, Liverpool akan memiliki dua striker utama yang sama-sama butuh menit bermain. Hugo Ekitike, pemain baru yang masih membutuhkan adaptasi di Liga Inggris, hampir pasti akan kehilangan banyak jam terbang jika Isak hadir. Hal itu bukan skenario terbaik untuk pertumbuhan penyerang 23 tahun tersebut.
Dana sangat besar itu juga bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas di lini lain, seperti pertahanan. Mereka membutuhkan bek tengah baru untuk mengawal masa depan klub. Virgil van Dijk sudah berusia 34 tahun, sementara Ibrahima Konate akan habis kontraknya tahun depan.
Bagaimana teka-teki Alexander Isak dengan Liverpool dan Arab Saudi?
Alexander Isak sempat berkali-kali mengungkapkan kecintaan terhadap klubnya, Newcastle United. Akan tetapi, semua itu masih belum bisa membuat sang bintang berkomitmen 100 persen ke Newcastle.
Teka-teki masa depan Isak muncul ketika laga pramusim Newcastle di Stadion Celtic Park, Glasgow, Skotlandia, Sabtu (19/7/2025). Isak tidak dimasukkan ke dalam skuad untuk melawan tuan rumah Celtic. Dia bahkan dipulangkan dari Glasgow sebelum pertandingan.
Situasi itu terasa cukup ganjil. Isak justru dipulangkan setelah rumor kepindahannya ke Liverpool mulai mereda. Beberapa hari sebelumnya, menurut The Athletic, Liverpool sempat menanyakan kemungkinan transfer sang penyerang kepada Newcastle. Upaya negosiasi ditolak.
Hanya sehari berselang, Liverpool langsung berpindah target ke penyerang berbakat Eintracht Frankfurt, Hugo Ekitike. Transfer itu pun akhirnya terwujud, nasib Isak menjadi buram. ”Kami sedang mempelajari dan menganalisis seluruh opsi dan kemungkinan sudah dekat untuk menentukan langkah selanjutnya untuk sang pemain,” kata Gonzalo Gaitan, agen Isak, kepada media Arab Saudi, Arriyadiyah.
Kendala terbesar bagi para klub yang ingin mendatangkan Isak adalah uang. Dia dilabeli dengan harga mulai dari 120-150 juta pounds. Nilai tersebut sangat sepadan dengan kualitas Isak, tetapi kurang realistis karena bisa mengganggu stabilitas finansial klub pembeli.
Berbicara soal harga selangit, rumor pun mengarah ke klub-klub Arab Saudi. Hanya mereka yang mampu mendatangkan pemain dengan harga di luar nalar. Benar saja, menurut L’Equipe, Al-Hilal sudah memasuki tahap negosiasi untuk memboyong Isak dalam beberapa hari terakhir.
Mengapa kehadiran Bryan Mbeumo bisa melengkapi trisula Manchester United?
Kedatangan penyerang sayap tim nasional Kamerun, Bryan Mbeumo, membuat prospek lini depan Manchester United tampak lebih cerah. Manajer MU Ruben Amorim tinggal mencari sosok ujung tombak untuk melengkapi kepingan trisula impian ”Setan Merah”.
Setelah negosiasi alot sebulan terakhir, MU resmi memboyong Mbeumo dari Brentford dengan nilai transfer 75 juta euro (Rp 1,4 triliun) pada Selasa (22/7/2025) WIB. Pembelian termahal ketujuh dalam sejarah MU itu menandatangani kontrak selama lima tahun, yaitu sampai Juni 2030.
Mbeumo, yang sedari awal hanya ingin bergabung dengan MU, menolak banyak tawaran dari klub lain. ”Begitu ada peluang, saya tahu harus mengambil kesempatan bergabung dengan klub impian saya. Ini tim yang jerseinya saya kenakan saat tumbuh dewasa,” ujarnya.
Penyerang 25 tahun itu membawa keyakinan lebih untuk MU jelang musim baru. Dia datang dengan status sebagai pemain paling produktif keempat di Liga Inggris musim 2024-2025, yaitu 20 gol. Hanya tiga pemain yang melampaui catatannya, yaitu Erling Haaland, Alexander Isak, dan Mohamed Salah.
Mbeumo bukan sosok yang tiba-tiba muncul dan langsung bersinar. Ia tumbuh bertahap dari tahun ke tahun. Dia pertama kali datang ke Inggris saat membela Brentford pada 2019. Ia mengantar Brentford naik ke kasta tertinggi, lalu bertahan dari degradasi selama empat musim beruntun.
Pada musim pertama di Liga Inggris, 2021-2022, Mbeumo menghasilkan 4 gol dan 7 asis. Catatan itu naik di dua musim berikutnya, yaitu 9 gol dan 8 asis (2022-2023) serta 9 gol dan 7 asis (2023-2024). Dia bisa mempertahankan kontribusi pada 2023-2024 walaupun tampil 13 kali lebih sedikit dari musim sebelumnya.
Mbeumo menjadi pembelian besar kedua MU di jendela transfer kali ini. Sebelumnya, penyerang sayap timnas Brasil, Matheus Cunha, telah lebih dulu bergabung dari Wolverhampton Wanderers. Kedua pemain itu merupakan respons Setan Merah untuk menyelesaikan masalah produksi gol.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
1. Mengapa kehadiran Hugo Ekitike membuat Liverpool kini kian kental dengan wajah Bundesliga Jerman?
2. Mengapa gairah belanja Liverpool musim panas ini menjadi anomali bagi juara bertahan Inggris?
3. Bagaimana Liverpool menyeimbangkan geliat belanja dengan aturan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)?
4. Bagaimana teka-teki Alexander Isak dengan Liverpool dan Arab Saudi?
5. Mengapa kehadiran Bryan Mbeumo bisa melengkapi trisula Manchester United?
Tidak seperti Chelsea, Manchester City, dan Manchester United selama ini, Liverpool dikenal irit dan sangat hati-hati dalam berbelanja pemain baru. Musim panas 2024, misalnya, ”Si Merah” hanya membeli dua pemain baru dengan biaya 42 juta euro (Rp 799 miliar). Kedua pemain itu adalah penyerang sayap Federico Chiesa dan kiper Giorgi Mamardashvili.
Dengan dana sekecil itu saja, mereka sulit ditandingi dan menjadi juara Liga Primer Inggris dengan keunggulan sepuluh poin di puncak klasemen. Liverpool bahkan sempat dijagokan menjuarai Liga Champions Eropa musim lalu sebelum disingkirkan lewat adu penali di babak 16 besar oleh Paris Saint-Germain, klub yang akhirnya menjadi juara.
Gelar Piala Liga Inggris pun raib dari genggaman Liverpool setelah dikalahkan Newcastle United di final ajang itu. Padahal, Liverpool sempat digadang-gadang bakal meraih quadruple alias empat gelar semusim menyusul mulusnya suksesi kepemimpinan tim dari manajer lama, Juergen Klopp, ke penggantinya, Arne Slot.
Fakor kedalaman skuad memupus ambisi quadruple Liverpool pada musim lalu. Ketergantungan terhadap penyerang sayap gaek mereka, Mohamed Salah, sangat tinggi. Ia memborong 34 gol atau 27 persen dari total 123 gol yang dibuat Liverpool di berbagai kompetisi musim lalu. Produktivitas Salah kontras dengan penyerang termahal mereka, Darwin Nunez. Striker yang diboyong seharga 100 juta euro (Rp 1,9 triliun) pada 2022 itu hanya menyumbang total 7 gol.
Namun, Liverpool tak bisa selamanya mengandalkan Salah yang kini berusia 33 tahun. Maka, pada musim panas ini, Si Merah bergeliat di bursa transfer. Mereka ingin menambah kreativitas dan daya gedor serangan. Dua pemain bertipe penyerang, yaitu gelandang kreatif Florian Wirtz dan striker Hugo Ekitike, telah didatangkan dari Bundesliga Jerman.
Slot pun mendatangkan dua bek sayap, Jeremie Frimpong dan Milos Kerkez, untuk meremajakan sekaligus menambal kelemahan mereka pada sisi lebar lapangan menyusul hengkangnya Trent Alexander-Arnold ke Real Madrid dan anjloknya fisik Andy Robertson. Tak tanggung-tanggung, total 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) telah Liverpool belanjakan pada musim panas ini. Jumlah itu naik 7.133 persen atau tujuh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, Liverpool mencatatkan diri sebagai tim terboros di Liga Inggris pada jendela transfer pemain pada musim panas ini. Pemain baru mereka, Wirtz, bahkan tercatat sebagai pemain paling mahal Liverpool sekaligus di Liga Inggris dengan nilai transer 125 juta euro (Rp 2,37 triliun). Total belanja Liverpool jauh melampaui rival-rivalnya, antara lain Chelsea (243 juta euro), Arsenal (157 juta euro), Manchester United (153 juta euro), dan Manchester City (148 juta euro).
Geliat belanja Liverpool yang masif itu menyiratkan ambisi besar mereka untuk menjadi tim yang dominan di Inggris dan Eropa untuk musim baru 2025-2026 ataupun ke depan. Belanja pemain mereka bahkan disebut-sebut belum berhenti meski banyak wajah baru telah berdatangan.
Mengapa kehadiran Hugo Ekitike membuat Liverpool kini kian kental dengan wajah Bundesliga Jerman?
Liverpool akhirnya meresmikan perekrutan penyerang anyar, Hugo Ekitike, dari Eintracht Frankfurt, Kamis (24/7/2025) pagi WIB. Kehadiran Ekitike semakin membuat pekat nuansa Bundesliga Jerman di tubuh Liverpool. Sebelum Ekitike, Si Merah sudah terlebih dulu merekrut Florian Wirtz dan Jeremie Frimpong.
Manajer Liverpool Arne Slot tampaknya mewarisi jaringan pemandu bakat pemain dari Juergen Klopp. Saat Klopp menjadi manajer pada 2015 hingga 2024, ia memiliki jaringan pemandu bakat yang sangat aktif di Bundesliga. Slot memanfaatkan sistem perekrutan yang sudah mapan itu untuk memperkuat tim sesuai kebutuhannya musim depan.
Laporan dari BBC Sport menyebutkan, Liverpool dan Frankfurt menyepakati nilai transfer Ekitike yang menyentuh 79 juta pounds sterling (sekitar Rp 1,7 triliun). Sebanyak 69 juta pound telah dibayarkan di awal dan 10 juta pound sisanya menyusul kemudian.
Ekitike diharapkan membantu meningkatkan ketajaman lini depan Liverpool. Mohamed Salah kian menua, sedangkan Darwin Nunez belum bisa terlalu diandalkan menjadi sumber gol Liverpool. Terlebih lagi, Luis Diaz diisukan akan hengkang dan Liverpool baru saja kehilangan Diogo Jota yang tutup usia.
Ekitike merupakan salah satu pemain paling ranum di Bundesliga. Pemain berpaspor Perancis itu mencetak 22 gol dan 12 asis dalam 48 pertandingan di seluruh kompetisi musim lalu. Ia juga menjadi pemain paling berbahaya dengan melepaskan 117 tembakan di Bundesliga. Tidak ada pemain lainnya yang mampu menyaingi jumlah tembakan Ekitike.
Sebelum Ekitike, Liverpool merekrut Wirtz dari Bayer Leverkusen dengan mahar mencapai 116 juta pounds (sekitar Rp 2,5 triliun) yang sejauh ini menjadi rekor transfer termahal di Liga Inggris. Adapun Frimpong ditebus dari Leverkusen dengan biaya 29,5 juta pounds (sekitar Rp 652 miliar).
Hanya Milos Kerkez, rekrutan Liverpool musim panas ini, yang bukan berasal dari Bundesliga. Bek kiri berkebangsaan Hongaria itu didatangkan Liverpool dari sesama klub Liga Inggris, Bournemouth.
Mengapa gairah belanja Liverpool musim panas ini menjadi anomali bagi juara bertahan Liga Inggris?
Biasanya, sehabis meraih trofi, tim-tim juara bertahan Liga Inggris cenderung lebih pasif dalam jendela transfer musim panas. Namun, itu tidak berlaku untuk Liverpool. Mereka kini justru jorjoran dalam pembelian pemain. Total 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) telah mereka habiskan pada musim panas ini untuk lima pemain baru.
Padahal, sebelum-sebelumnya, Liverpool tidak pernah mengeluarkan lebih dari 200 juta pounds dalam semusim selama kepemimpinan manajer legendaris, Juergen Klopp (2015-2024). Sebelum memboyong Hugo Ekitike, Liverpool sudah mendatangkan empat pemain.
Mereka adalah Florian Wirtz, Milos Kerkez, Jeremie Frimpong, dan Armin Pecsi. Semuanya sudah diboyong sebelum laga pertama pramusim dimulai. Adapun Liverpool baru menjual empat pemain dengan total nilai 66 juta pounds.
Ungkapan Klopp di masa lalu, yaitu tentang ketimpangan finansial antara Liverpool dan tim-tim kaya, seperti Manchester City, mendadak tidak relevan lagi. ”Tidak ada yang bisa bersaing dengan City dalam urusan itu. Apa yang bisa Liverpool lakukan? Kami tidak bisa seperti itu. Tidak mungkin,” ujarnya pada 2022.
Terlepas dari itu, Liverpool memperlihatkan hal yang tidak biasa dari tim juara bertahan. Selama satu dekade terakhir, tim juara cenderung lebih pasif pada jendela transfer musim panas. Mereka sudah percaya diri dengan skuad yang ada, hanya berupaya memperbaiki sedikit.
City, seusai menjuarai liga itu pada musim 2020-2021, misalnya, hanya membeli satu pemain pada jendela selanjutnya. Mereka mendatangkan pemain sayap Jack Grealish untuk melengkapi serangan di sisi kiri. Adapun mereka sempat membeli enam pemain setelah kehilangan gelar dari Liverpool di musim 2019-2020.
Kebutuhan regenerasi diperkuat dengan data dari Transfermarkt. Rerata usia starter Liverpool pada musim lalu adalah 27,2 tahun atau tercatat sebagai yang tertua kelima di liga. Tambahan pemain muda, seperti Wirtz (22) dan Ekitike (23), akan menyegarkan skuad Si Merah pada musim ini.
Bagaimana Liverpool menyeimbangkan geliat belanja dengan aturan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)?
Keinginan belanja Liverpool belum berhenti meskipun telah menghabiskan 308 juta euro (Rp 5,7 triliun) untuk sejumlah pemain baru pada musim panas ini. Mereka dikabarkan masih tertarik untuk mendatangkan sriker Alexander Isak. Pemain Newcastle United itu kini dihargai 120 juta euro (Rp 2,2 triliun).
Lantas, bagaimana Liverpool menyeimbangkan neraca keuangannya untuk mencegah sanksi terkait aturan keuntungan dan keberlanjutan Liga Inggris (PSR)? Aturan itu diterapkan untuk menjaga kesehatan finansial klub. Beberapa klub yang tidak terlalu jorjoran dalam belanja pemain, seperti Leicester City dan Everton, bahkan pernah dihukum karena melanggar aturan itu.
Menurut Sky Sports, setelah berkonsultasi dengan ahli finansial sepak bola, Liverpool ternyata berada dalam posisi aman. Pengeluaran mereka saat ini dinilai masih pada koridor kepatuhan pada PSR. Kuncinya adalah pengelolaan baik dalam beberapa tahun terakhir.
Musim lalu, misalnya, mereka justru mengalami surplus berkat penjualan pemain yang mencapai 60 juta pounds. Artinya, mereka masih memiliki jatah uang transfer dari musim lalu yang belum digunakan.
Liverpool, yang sudah mendapatkan lebih dari 60 juta pounds dari penjualan di jendela transfer saat ini, juga masih membuka penawaran dari klub lain. Mereka berpotensi mendapatkan 150 juta pounds tambahan dari penjualan Darwin Nunez, Luis Diaz, dan Harvey Elliott.
Masala utamanya, jika jadi merekrut Isak, Liverpool akan memiliki dua striker utama yang sama-sama butuh menit bermain. Hugo Ekitike, pemain baru yang masih membutuhkan adaptasi di Liga Inggris, hampir pasti akan kehilangan banyak jam terbang jika Isak hadir. Hal itu bukan skenario terbaik untuk pertumbuhan penyerang 23 tahun tersebut.
Dana sangat besar itu juga bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas di lini lain, seperti pertahanan. Mereka membutuhkan bek tengah baru untuk mengawal masa depan klub. Virgil van Dijk sudah berusia 34 tahun, sementara Ibrahima Konate akan habis kontraknya tahun depan.
Bagaimana teka-teki Alexander Isak dengan Liverpool dan Arab Saudi?
Alexander Isak sempat berkali-kali mengungkapkan kecintaan terhadap klubnya, Newcastle United. Akan tetapi, semua itu masih belum bisa membuat sang bintang berkomitmen 100 persen ke Newcastle.
Teka-teki masa depan Isak muncul ketika laga pramusim Newcastle di Stadion Celtic Park, Glasgow, Skotlandia, Sabtu (19/7/2025). Isak tidak dimasukkan ke dalam skuad untuk melawan tuan rumah Celtic. Dia bahkan dipulangkan dari Glasgow sebelum pertandingan.
Situasi itu terasa cukup ganjil. Isak justru dipulangkan setelah rumor kepindahannya ke Liverpool mulai mereda. Beberapa hari sebelumnya, menurut The Athletic, Liverpool sempat menanyakan kemungkinan transfer sang penyerang kepada Newcastle. Upaya negosiasi ditolak.
Hanya sehari berselang, Liverpool langsung berpindah target ke penyerang berbakat Eintracht Frankfurt, Hugo Ekitike. Transfer itu pun akhirnya terwujud, nasib Isak menjadi buram. ”Kami sedang mempelajari dan menganalisis seluruh opsi dan kemungkinan sudah dekat untuk menentukan langkah selanjutnya untuk sang pemain,” kata Gonzalo Gaitan, agen Isak, kepada media Arab Saudi, Arriyadiyah.
Kendala terbesar bagi para klub yang ingin mendatangkan Isak adalah uang. Dia dilabeli dengan harga mulai dari 120-150 juta pounds. Nilai tersebut sangat sepadan dengan kualitas Isak, tetapi kurang realistis karena bisa mengganggu stabilitas finansial klub pembeli.
Berbicara soal harga selangit, rumor pun mengarah ke klub-klub Arab Saudi. Hanya mereka yang mampu mendatangkan pemain dengan harga di luar nalar. Benar saja, menurut L’Equipe, Al-Hilal sudah memasuki tahap negosiasi untuk memboyong Isak dalam beberapa hari terakhir.
Mengapa kehadiran Bryan Mbeumo bisa melengkapi trisula Manchester United?
Kedatangan penyerang sayap tim nasional Kamerun, Bryan Mbeumo, membuat prospek lini depan Manchester United tampak lebih cerah. Manajer MU Ruben Amorim tinggal mencari sosok ujung tombak untuk melengkapi kepingan trisula impian ”Setan Merah”.
Setelah negosiasi alot sebulan terakhir, MU resmi memboyong Mbeumo dari Brentford dengan nilai transfer 75 juta euro (Rp 1,4 triliun) pada Selasa (22/7/2025) WIB. Pembelian termahal ketujuh dalam sejarah MU itu menandatangani kontrak selama lima tahun, yaitu sampai Juni 2030.
Mbeumo, yang sedari awal hanya ingin bergabung dengan MU, menolak banyak tawaran dari klub lain. ”Begitu ada peluang, saya tahu harus mengambil kesempatan bergabung dengan klub impian saya. Ini tim yang jerseinya saya kenakan saat tumbuh dewasa,” ujarnya.
Penyerang 25 tahun itu membawa keyakinan lebih untuk MU jelang musim baru. Dia datang dengan status sebagai pemain paling produktif keempat di Liga Inggris musim 2024-2025, yaitu 20 gol. Hanya tiga pemain yang melampaui catatannya, yaitu Erling Haaland, Alexander Isak, dan Mohamed Salah.
Mbeumo bukan sosok yang tiba-tiba muncul dan langsung bersinar. Ia tumbuh bertahap dari tahun ke tahun. Dia pertama kali datang ke Inggris saat membela Brentford pada 2019. Ia mengantar Brentford naik ke kasta tertinggi, lalu bertahan dari degradasi selama empat musim beruntun.
Pada musim pertama di Liga Inggris, 2021-2022, Mbeumo menghasilkan 4 gol dan 7 asis. Catatan itu naik di dua musim berikutnya, yaitu 9 gol dan 8 asis (2022-2023) serta 9 gol dan 7 asis (2023-2024). Dia bisa mempertahankan kontribusi pada 2023-2024 walaupun tampil 13 kali lebih sedikit dari musim sebelumnya.
Mbeumo menjadi pembelian besar kedua MU di jendela transfer kali ini. Sebelumnya, penyerang sayap timnas Brasil, Matheus Cunha, telah lebih dulu bergabung dari Wolverhampton Wanderers. Kedua pemain itu merupakan respons Setan Merah untuk menyelesaikan masalah produksi gol.