Liverpool kembali kecolongan di menit-menit akhir pertandingan, seperti yang sering terjadi pada musim ini. Tottenham akhirnya mampu keluar dari tren hasil buruk.
16 Mar 2026 04:59 WIB · Olahraga
AP
LIVERPOOL, MINGGU — Liverpool kembali menderita akibat penyakit kambuhan tim di sepanjang musim ini, sementara Tottenham mampu memanggungkan penampilan dan hasil terbaik di era pelatih interim Igor Tudor. Saat Liverpool seperti tertidur, Tottenham perlahan tersadar dan mulai bangkit.
Gelandang tuan rumah, Dominik Szoboszlai, lagi-lagi menjadi sosok yang paling berhak kecewa di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Senin (16/3/2026) dini hari WIB. Setelah mencetak gol spektakuler lewat tendangan bebas, Liverpool kembali gagal menang seperti dalam laga versus Manchester City pada awal bulan lalu.
Tottenham menyamakan kedudukan lewat penyerang Richarlison saat laga sudah memasuki menit ke-90. Untuk kedelapan kali di liga pada musim ini, Liverpool kemasukan gol saat atau setelah menit ke-90. Menurut Opta, itu sudah melewati kemasukan terbanyak di waktu krusial dalam sejarah klub, melewati catatan musim 2010-2011 (7 gol).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/0b6998d3815ca765fbf983e021278d2f-Liverpool_v_Tottenham_Hotspur_Premier_League_Anfield_1_.jpg)
Laga pun berakhir imbang 1-1. Liverpool gagal menaklukkan tim dengan tren terburuk di liga sejak pergantian tahun itu. ”Kami harus segera bangun karena jika terus seperti ini, kami seharusnya puas dengan pencapaian (finis di zona) Liga Konferensi Eropa. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, jujur saya tidak tahu,” kata Szoboszlai.
Tidak seperti ucapan Szoboszlai, sebenarnya tidak sesulit itu mencari permasalahan ”Si Merah”. Tim juara bertahan gagal mengulang prestasi musim lalu karena eksekusi skema permainan yang kurang efisien. Problem klasik tersebut sudah terlihat di sepanjang musim dan kembali muncul di laga terakhir.
Keunggulan tim asuhan Pelatih Arne Slot itu adalah permainan dengan tempo cepat. Saat laga berubah seperti permainan bola basket yang penuh transisi, mereka biasanya akan mengambil keuntungan. Namun, teori itu tidak bekerja pada musim ini. Mereka justru lengah setelah situasi saling balas serangan, lalu kemasukan di pengujung laga.
”Frustasi rasanya. Berapa kali itu sudah terjadi? Dan itu kembali terulang hari ini. Lagi-lagi di menit akhir, lagi-lagi setelah banyak kesempatan untuk mencetak gol, dan kami menyudahi laga dengan kekecewaan. Saya mulai terbiasa dengan situasi seperti ini,” kata Slot, yang dicemooh pendukung sendiri setelah peluit panjang.
Di setengah jam terakhir. Tottenham mulai menyerang sporadis. Tim tamu lebih berani meninggalkan pertahanan untuk mencari gol penyeimbang. Liverpool pun berkali-kali mendapatkan peluang dari situasi transisi. Namun, Si Merah selalu bermasalah dengan sentuhan akhir.
Slot melakukan sedikit rotasi skuad di laga itu. Pemain sayap 17 tahun, Rio Ngumoha, diberikan kesempatan sebagai starter. Meskipun begitu, itu tidak bisa menjadi alasan. Penyerang utama, Mohamed Salah dan Hugo Ekitike, dimasukkan pada menit ke-64, tetapi juga tidak bisa memberikan solusi di lini depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/2fa128ba601bdb525a762a5f83d86051-APTOPIX_Britain_Premier_League_Soccer_14_.jpg)
Terlepas dari penyakit kambuhan Liverpool, perlawanan skuad Tottenham patut diapresiasi. Mereka datang ke Anfield dalam situasi krisis. ”Si Lili Putih” kalah empat kali beruntun di seluruh kompetisi sejak kedatangan Tudor pada pertengahan Februari. Sang pelatih terancam dipecat jika gagal membawa hasil positif dari Anfield.
Tottenham menunjukkan spirit besar untuk berlari dari jeratan zona degradasi. Hanya daya juang yang bisa diandalkan Richarlison dan rekan-rekan sebab mereka sedang mengalami krisis pemain. Sebelas pemain utama mereka tidak bisa tampil karena cedera ataupun sanksi kartu merah.
Di lini belakang, tim tamu sampai memakai kombinasi yang baru pertama kali dicoba, yaitu duet bek tengah Radu Dragusin dan Kevin Danso. ”Kami hanya bisa bekerja keras, terus berlari, dan tetap percaya hingga akhir laga. Kami memang sedang kesulitan, tetapi kami adalah grup yang pantang menyerah,” kata Dragusin.
Perubahan formasi Tottenham cukup berpengaruh. Tudor tidak lagi menggunakan formasi andalannya, 3-4-3, dan berani mencoba formasi 4-4-2. Duet striker Richarlison dan Dominik Solanke dipasangkan di lini depan. Dengan presensi duo itu, mereka berani memainkan strategi umpan-umpan panjang.
Hasilnya terlihat saat memasuki injury time. Umpan panjang dari lini pertahanan Tottenham gagal diantisipasi para pemain Liverpool. Pemain pengganti, Randal Kolo Muani, berhasil mencuri bola, lalu mengumpankannya kepada Richarlison yang terbebas di kotak penalti. Gol penyeimbang pun tercipta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/a27fe299e31862a638327283b06f95c9-APTOPIX_Britain_Premier_League_Soccer_13_.jpg)
Tudor berkata, ia sengaja menyederhanakan skema serangan dengan umpan-umpan panjang dan spekulatif. ”Di situasi sulit seperti ini, semua akan jadi sulit jika kami tidak membuatnya lebih sederhana. Ini adalah permulaan yang baik. Poin yang luar biasa. Kami pantas mendapatkan itu karena semangat juang para pemain,” ujarnya.
Berkat hasil itu, Tottenham bisa sedikit bernapas di peringkat ke-16. Mereka kembali berjarak satu poin dari zona degradasi setelah tim-tim pesaing, Nottingham Forest dan West Ham, juga bermain imbang. Sementara itu, Liverpool masih berada di peringkat kelima (49) karena gagal memanfaatkan kekalahan Aston Villa. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti