Liverpool menduplikasi fenomena ”Fergie Time” milik Manchester United dari masa lalu. ”Si Merah” mengalahkan Atletico Madrid dengan dramatis.
18 Sep 2025 09:56 WIB · Olahraga
LIVERPOOL, KAMIS — Magis ”Arne Time” atau kemenangan di menit-menit akhir Liverpool terbukti bukanlah kebetulan semata. ”Si Merah” setidaknya sudah memperlihatkannya dalam lima laga, termasuk saat menghancurkan Atletico Madrid, 3-2, pada laga Liga Champions Eropa di Stadion Anfield, Liverpool, Kamis (18/9/2025) dini hari WIB.
Istilah ”Fergie Time” amat terkenal pada era 2000-an awal. ”Fergie Time” merujuk pada kecenderungan aneh MU, arahan Sir Alex Ferguson, yang selalu bisa keluar dari kebuntuan di menit-menit akhir laga. Disebut ”Fergie Time” karena Ferguson kerap tertangkap kamera berusaha mengintimidasi lawan dengan melirik arlojinya menjelang laga usai.
”Fergie Time” mendapatkan momentum seiring kejayaan MU. Setelah pensiun pada 2013, prestasi MU menurun drastis. ”Fergie Time” pun terpendam sekian lama sebagai mitos masa lalu. Akan tetapi, fenomena yang pernah dialami MU itu kini tereinkarnasi dalam bentuk hampir serupa pada diri rival abadi mereka, Liverpool.
Musim ini, Liverpool punya kecenderungan aneh dengan selalu bisa memecah kebuntuan di menit-menit akhir yang pada akhirnya membawa mereka meraih kemenangan.
Saking seringnya mengulangi kebiasaan menang di menit-menit akhir, publik mulai mengaitkannya dengan ”Fergie Time”. Namun, istilahnya diadaptasi dengan konteks kiwari, yakni ”Arne Time”, yang merujuk pada Manajer Liverpool Arne Slot.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/cf8cba63-2cd8-4ba6-baf2-8de1a1903074_jpg.jpg)
”Arne Time” kembali menampakkan magis untuk ketiga kalinya saat Liverpool meraih kemenangan dramatis atas Atletico Madrid. Gol bek jangkung Virgil van Dijk beberapa menit sebelum laga itu usai semakin memperkuat aura magis ”Arne Time”.
Bukan kali ini saja Liverpool memperlihatkan magis ”Arne Time”. Pada empat laga sebelumnya, Liverpool juga harus menunggu hingga menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan. Dalam kemenangan atas Burnley pekan lalu, Mohamed Salah mengonversi penalti pada menit 90+5 yang menjadi gol semata wayang di laga itu.
Gol Salah itu menjadikan Liverpool sebagai satu-satunya tim dalam sejarah Liga Inggris yang mencetak gol kemenangan dalam 10 menit terakhir dalam empat pertandingan berturut-turut. Sebelum melawan Burnley, gol Federico Chiesa pada menit ke-88 membawa Liverpool unggul 4-2 atas Bournemouth.
Kami menemukan cara untuk meraih kemenangan.
Selain itu, ada pula gol Rio Ngumoha pada menit ke-100 dalam kemenangan 3-2 atas Newcastle. Ada pula gol tendangan bebas mencengangkan Dominik Szoboszlai pada menit ke-83 ketika mengalahkan Arsenal, 1-0.
Meski punya keistimewaan dalam hal daya juang yang memunculkan magis ”Arne Time”, bek kiri Liverpool Andrew Robertson menilai timnya perlu memenangi laga dengan lebih klinis dan tidak berlarut-larut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/f9e234a8-4fa8-4fea-97f7-d7b6c679951c_jpg.jpg)
”Kami perlu kembali meraih kemenangan dengan cara yang lebih sederhana dan mudah. Asisten manajer menoleh ke saya ketika Virgil (Van Dijk) mencetak gol dan berkata dia sudah terlalu tua untuk (mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir). Jadi, saya tidak bisa membayangkan seperti apa (reaksi) para penggemar,” ujar Robertson.
Gol menit-menit akhir selalu bisa dipersepsikan sebagai sebuah bentuk keberuntungan. Tapi, tidak bagi Liverpool di laga ini. ”Si Merah” tahu bagaimana cara menembus pertahanan berlapis 4-4-2 favorit Diego Simeone.
Ryan Gravenberch konsisten menempatkan diri di area sepertiga akhir sebelah kiri pertahanan Atletico yang berujung pada gol kedua Liverpool oleh Mohamed Salah. Umpan kombinasi Gravenberch dengan Salah sukses menciptakan lubang yang turut diprakarsai kemampuan Salah dalam menggiring bola di ruang sempit.
Gol Salah kian melambungkan Liverpool yang telah unggul lebih dulu di awal laga melalui Robertson. Bek kiri itu tanpa sengaja membelokkan sepakan keras hasil tendangan bebas Salah.
Akan tetapi, Atletico mampu bangkit lewat penampilan Marcos Llorente yang mencetak dua gol penyeimbang. Llorente seakan tahu bagaimana cara menjebol gawang Liverpool mengingat ini untuk kedua kalinya dia melakukan hal yang sama.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/60afb476-f399-4def-98f1-15511b1c63c3_jpg.jpg)
Momen keperkasaan Llorente atas Liverpool tersaji pada babak 16 besar Liga Champions Maret 2020. Saat itu, Atletico menyingkirkan Liverpool di Anfield 3-2 dan lolos dengan keunggulan agregat 4-2.
Gol Llorente disambut meriah oleh staf dan pemain cadangan Atletico. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan hingga akhir setelah Van Dijk memastikan keunggulan Liverpool.
”Memang benar. Kami memulai dengan baik, tetapi Atletico berhasil membalikkan keadaan dan menyamakan kedudukan 2-2. Bisa dibilang kami seharusnya berbuat lebih banyak untuk mencegah situasi seperti itu (kehilangan keunggulan dua gol), tetapi kami menemukan cara untuk meraih kemenangan,” ujar Van Dijk.
Laga sengit ini turut diwarnai oleh insiden kartu merah yang diterima Simeone sesaat setelah gol Van Dijk. Pelatih Atletico itu terlibat perselisihan dengan suporter Liverpool di tepi lapangan. Menurut Simeone, para supporter Liverpool terus menghina timnya sepanjang 90 menit sehingga dia bereaksi seperti itu. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji