Herry IP Alami ”Lost in Translation” Saat Melatih Pemain Malaysia

Dengan tugas baru pada tahun ini, Herry IP mendampingi atlet Malaysia di Indonesia Terbuka. Dia bercerita adaptasinya menjadi pelatih di sana.

03 Jun 2025 20:53 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Herry Iman Pierngadi untuk pertama kali kembali ke Indonesia sambil mendampingi atlet ganda putra Malaysia. Di balik keberhasilan mengantarkan anak-anak asuh barunya ke podium juara berkali-kali, ada penyesuaian ”kecil” yang harus dilakukan.

Pelatih yang mempunyai nama julukan ”Naga Api” dari penggemar bulu tangkis Indonesia itu memimpin skuad ganda putra Malaysia sejak tahun ini. Herry dipinang Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) setelah tak dipilih PP PBSI 2024-2028 untuk melatih di pelatnas Cipayung, Jakarta.

Setelah semua urusan administrasi untuk menjadi pelatih di Malaysia selesai, tugas pertama Herry mendampingi pemain dalam turnamen terjadi dalam Kejuaraan Asia di Ningbo, China, 8-13 April.

Ganda putra Malaysia memiliki tiga wakil pada kejuaraan dengan peserta yang lolos berdasarkan daftar ranking Asia itu. Hasilnya, salah satu pasangan Malaysia, yakni Aaron Chia/Soh Wooi Yik, menjadi juara.

Setelah momen itu, Chia/Soh mencapai final dalam tiga kejuaraan beruntun sejak Mei dan menjuarai dua di antaranya, Thailand dan Singapura Terbuka. Chia/Soh kalah dalam final Malaysia Masters, itu pun dari sesama pemain Malaysia, yakni Man Wei Chong/Tee Kai Wun.

Pelatih Malaysia Rexy Mainaky dan Herry Iman Pierngadi

Maka, seperti kebiasaan yang dilakukan ketika mengantarkan dua ganda putra Indonesia ke final, Herry menyaksikan ”perang saudara” sambil ngopi.

Kapal Api Indonesia Terbuka di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 3-8 Juni, menjadi turnamen pertama bagi Herry mendampingi Chia dan kawan-kawan di Indonesia. Momen pulang kampung ini tak disia-siakan untuk pulang ke rumah di kawasan Jakarta Barat.

”Saya menginap di rumah. Kamar hotel saya kasih ke anak-anak (pemain),” kata Herry di mixed zone seusai mendampingi Man/Tee pada babak pertama, Selasa (3/6/2025). Herry mendampingi mereka bersama Rexy Mainaky yang lebih lama tinggal di Malaysia.

”Silakan cakap sama Koh Herry. Bisa pake bahasa Melayu, bahasa Inggris, bahasa Arab. Kalau bahasa Mandarin, dia masih belajar,” kata Rexy yang tak pernah lepas dari canda setiap kali bertemu.

Herry kemudian bercerita bahwa salah satu yang membuat dia nyaman tinggal di Malaysia adalah tidak ada polusi. Tempat tinggalnya di apartemen, yang satu gedung dengan pelatih ganda campuran Nova Widianto, berada tak jauh dari tempat latihan tim nasional bulu tangkis Malaysia. Nova pindah lebih dulu ke Malaysia, yaitu pada 2023.

Pelatih ganda campuran Herry Iman Pierngadi mengawasi jalannya latihan di Chambly, Perancis, pada Sabtu (20/7/2024) untuk persiapan Olimpiade Paris 2024.

Tentang perubahan yang ada pada Chia/Soh sehingga bisa selalu tampil di final sejak April, Herry awalnya mengutip dari pendapat para penggemar bulu tangkis. ”Kalau kata badminton lovers, permainan Chia/Soh memang berbeda,” katanya.

Ketika ditanya tentang program yang dibawa untuk ganda putra Malaysia, Herry mengatakan, dia menerapkan karakter menyerang, sebagai karakter yang dikenal dari pemain yang dilatihnya, untuk menambah kekuatan ganda putra Malaysia dalam bertahan. ”Pemain Malaysia dikenal kuat dalam bertahan. Jadi, saya menambah pola menyerangnya,” kata Herry.

Tak hanya gaya bermain yang disesuaikan Herry dalam melatih. Dia pun beradaptasi dalam hal-hal kecil, salah satunya tentang bahasa. Meski banyak kemiripan antara bahasa Indonesia dan Melayu, ada istilah-istilah yang biasa digunakan dengan atlet Indonesia yang tak dimengerti Chia dan kawan-kawan.

Kendala itu pertama kali dirasakan saat Kejuaraan Asia. Banyak terjadi lost in translation antara dia dan pemain. Apalagi, waktu yang diberikan untuk coaching dengan atlet saat interval cukup singkat.

”Misalnya saat saya bilang, ’incer pemain yang itu!’. Mereka enggak mengerti. Bahasa mereka untuk incer adalah target. Terus saat saya bilang, smesnya jangan full ’ceplik’. Kalau di Malaysia, pake kata ’ketuk’,” cerita pelatih berusia 62 tahun itu.

Kendala itu diatasi dengan adaptasi yang dilakukan Herry. Dia pun belajar kosakata yang biasa dipakai para pemainnya. Apalagi, beda daerah asal atlet, beda pula bahasanya.

”Saya yang harus beradaptasi, bukan mereka yang menyesuaikan dengan saya. Jadi, saya harus menjelaskan maksud saya dengan bahasa mereka,” katanya.

Terkait prestasi ganda putra Malaysia, terutama Chia/Soh, yang meningkat dalam dua bulan terakhir, Herry menyatakan bahwa sebagai pelatih, dia mempunyai tugas untuk mengantarkan pemainnya menjadi lebih baik.

Saat ditanya, apakah hasil-hasil ganda putra Malaysia menjadi pembuktian setelah meninggalkan Indonesia?

”Tidak juga. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai pelatih. Saya tidak bisa menilai diri sendiri. Biar orang lain yang menilai,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto