Sejak laga pertama Indonesia Terbuka 2025, konsistensi Putri Kusuma Wardani diuji. Kini saatnya Putri mempertahankan performa, siapa pun lawannya.
03 Jun 2025 15:10 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani, mendapatkan ujian konsistensi di turnamen Indonesia Terbuka 2025. Putri tidak hanya diuji untuk mempertahankan performa ketika bertemu pemain elite, tetapi juga ketika melawan atlet berlevel sama atau di bawahnya.
Putri melaju ke babak 16 besar Indonesia Terbuka 2025 setelah memenangi laga pertama melawan Malvika Bansod (India) di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (3/6/2025). Putri berhak melangkah ke babak selanjutnya setelah Bansod memutuskan tidak melanjutkan laga karena cedera kaki.
Saat Bansod memegang kaki kirinya sambil kesakitan, pemain India peringkat ke-22 dunia ini sedang unggul 21-16, 16-15. Bansod cedera ketika berusaha melangkah mundur selepas mengembalikan kok Putri.
Bansod sempat mendapatkan perawatan medis dan berusaha untuk kembali melanjutkan laga. Namun, dia akhirnya memilih mengundurkan diri. Putri pun tak bisa banyak berkata-kata ketika ditanya soal pertandingan tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/5d3c94daee360e472efe36eb099f0fac-20250603TOK5.jpg)
Selain karena menang setelah lawan cedera, Putri juga mengaku tak puas dengan penampilannya. Apalagi, saat lawan cedera, Putri dalam posisi kalah pada gim pertama dan tertinggal pada gim kedua. Putri lebih banyak membuat kesalahan dan membuang poin.
Di sisi lain, menurut Putri, Bansod bermain ulet dan mampu melepaskan pukulan-pukulan spekulasi yang ternyata berhasil. Tak hanya itu, Bansod tidak mudah melakukan kesalahan sendiri. ”Dia juga membatasi bola atas aku. Jadi, jarang memberi ruang aku untuk menyerang,” ujarnya.
Padahal, di atas kertas, Putri lebih unggul atas Bansod. Pertemuan terakhir mereka sebelum di Indonesia Terbuka memang sudah lewat enam tahun lalu, yakni di Kejuaraan Asia Yunior 2019. Saat itu, Putri menang 22-20, 21-7. Putri sendiri mengamini hasil pertemuan sebelumnya itu tidak bisa jadi patokan.
Namun, melihat performa keduanya sepanjang tahun ini, Putri tetap unggul. Sebelum Indonesia Terbuka, Putri mampu memenangi 20 laga dan hanya kalah 9 pertandingan. Sementara Bansod cuma menang 4 kali dan menelan 11 kekalahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/de499fdb00feb6e7c52b5c7843ac2947-20250603TOK1.jpg)
Tak hanya itu, Putri pun berhasil mengalahkan pemain-pemain elite yang lebih kaya pengalaman. Di Piala Sudirman, misalnya, ia mengalahkan peraih medali perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan perunggu Tokyo 2020, Pusarla V Sindhu, pada laga kedua.
Putri juga mampu merebut kemenangan pertama dari wakil Thailand, Pornpawee Chochuwong, setelah selalu takluk dalam delapan pertemuan sebelumnya. Dari delapan persaingan itu, Putri bahkan tujuh kali kalah dalam dua gim.
Saya sangat antusias bermain kembali di Istora. Bersyukur sebab sempat tidak bisa main karena cedera, hanya jadi penonton. - Apriyani Rahayu -
Sebelum berlaga di Indonesia Terbuka, Putri mengatakan, aspek yang perlu terus dia perbaiki adalah konsistensi. Bermain secara konsisten dalam pertandingan atau sepanjang turnamen bukanlah perkara mudah.
Ujian konsistensi bagi Putri kali ini tak hanya datang dari para pemain yang secara level dan pengalaman berada di atasnya. Juara Korea Masters Super 300 2024 ini pun perlu menjaga konsistensi ketika berhadapan dengan pemain berlevel setara atau di bawahnya, seperti Bansod.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/041a0c63d076b120062767b808a1e79a-20250603TOK4.jpg)
Pada babak kedua, Putri akan bertemu dengan wakil Thailand, Supanida Katethong. Secara rekor pertemuan, Katethong unggul dengan dua kali mengalahkan Putri dari total tiga laga.
Namun, dilihat dari performa tahun ini, Putri bisa dibilang memiliki penampilan lebih baik dengan persentase kemenangan mencapai 70 persen (21 kemenangan dari 30 laga). Salah satu kemenangan Putri pun diraih atas Katethong di babak pertama All England.
Sementara Katethong mencatatkan persentase kemenangan 66,67 persen. Peraih peringkat ketiga di Thailand Terbuka Super 500 2025 ini mengoleksi 10 kemenangan dari 15 pertandingan.
Dengan statistik tersebut, konsistensi Putri akan kembali diuji. Pemain berusia 22 tahun ini bertekad untuk mengeluarkan performa terbaiknya pada babak kedua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/03/501aeb09c5f4008b91eb20360ac3ff84-20250603TOK8.jpg)
”Yang pertama, pasti aku harus siap, harus mau capek kalau lawan (ulet) seperti Bansod tadi. Aku harus bisa menahan fokus dan kondisi badan. Kalau tidak begitu, akan sama saja seperti tadi,” tutur Putri.
Pada sektor ganda putri, Apriyani Rahayu/Febi Setianingrum tampil gemilang dengan mengalahkan pasangan Taiwan peringkat ke-17 dunia, Chang Ching Hui/Yang Ching Tun, 21-16, 24-22. Bagi Apriyani/Febi, ajang kali ini adalah turnamen keempat mereka.
Ganda putri yang baru dipasangkan Mei 2025 itu masih saling belajar dan memahami karakter masing-masing. Febi, misalnya, belajar dari Apriyani untuk lebih ekspresif di lapangan.
”Sempat kaget juga dengan gayanya Kak Apri yang tegas saat ngasih tahu, tetapi sekarang sudah terbiasa,” ucap Febi.
Adapun Apriyani masih belajar untuk berkomunikasi dengan Febi. Apriyani pun masih dalam tahap penyesuaian dengan karakter partner barunya tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/638107b4-1b7e-41be-9435-898540acea60_jpg.jpg)
Sebelum dipasangkan dengan Febi, Apriyani bermain bersama Siti Fadia. Namun, Apriyani absen selepas bermain di Olimpiade Paris 2024. Fadia kemudian berpasangan dengan Lanny Tria Mayasari.
Saat comeback pada Maret 2025, Apriyani berpasangan dengan Fadia lagi. Mereka sempat tampil pada Orleans Masters dan All England sebelum akhirnya kembali dipisah.
Laga kontra Chang Ching Hui/Yang Ching Tun menjadi momen perdana Apriyani tampil bersama Febi di Indonesia Terbuka. Tidak hanya itu, pertandingan tersebut juga menandai kembalinya Apriyani ke Istora.
”Saya sangat antusias bermain kembali di Istora. Bersyukur sebab sempat tidak bisa main karena cedera, hanya jadi penonton. Tetapi, saya juga berusaha tenang dan berupaya tampil dengan baik,” kata Apriyani.
Pada laga lain, langkah ganda putri Indonesia lainnya, Meilysa Trias Puspitasari/Rachel Allessya Rose, harus terhenti. Meilysa/Rachel harus mengakui keunggulan wakil Taiwan, Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu, dengan skor 14-21, 21-17, 15-21.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar