Tekad untuk menepis trauma jadi bahan bakar Luluk Diana untuk ”menyala” di SEA Games Thailand 2025. Trauma yang kerap menyiksa bakal dia ubah jadi pembuktian diri.
05 Des 2025 05:30 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Jika belum pernah melihatnya berlatih atau berlomba, mungkin tidak ada yang menyangka Luluk Diana Tri Wijayana adalah seorang lifter. Angkat besi adalah olahraga yang identik dengan kekuatan, dengan teriakan ketika berhasil mengangkat beban, dan dengan letupan emosi dan tenaga. Luluk kebalikan dari itu semua.
Pembawaan Luluk tenang. Ketika berbicara, lifter asal Pacitan, Jawa Timur, ini juga cenderung lemah lembut. Saat kucing ”penghuni” pemusatan latihan angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, menghampirinya, pembawaan Luluk lebih lembut lagi.
Namun, di balik ketenangan itu, Luluk menyimpan kekuatan besar. Ketika menjalani latihan persiapan akhir untuk SEA Games Thailand 2025 pada Jumat (28/11/2025), lifter berusia 20 tahun ini menunjukkan sisi sangarnya.
Pandangan Luluk ke depan, tatapannya fokus. Seorang pun seolah tak bisa mengganggunya. Ketika merasa sudah siap, dia akan mengangkat beban dengan mantap. Beban 80 kilogram (kg), 85 kg, 90 kg, dan 100 kg, semua dia ”lahap” tanpa kesulitan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/82dee6c0cf76c47ee7fd4e41ac544727-FAK_2758.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/ed30f4ca76277ce8d1614b577e633421-FAK_3863.jpg)
”Aku pun sejujurnya enggak langsung kepincut angkat besi, perlu waktu dan ajakan berkali-kali. Salah satu iming-imingnya itu kalau jadi atlet angkat besi bisa jalan-jalan keliling dunia. Namanya anak kecil, ya, akhirnya mau coba, he-he-he,” kata Luluk yang menjajal angkat besi untuk pertama kali saat duduk di bangku kelas VI SD.
Kini, lebih dari lima tahun berlalu sejak momen pertama mengangkat barbel, Luluk menjadi salah satu lifter muda andalan Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Luluk, yang akan turun di kelas 48 kg, punya banyak bekal berharga untuk berprestasi di Thailand. Salah satunya pengalaman di SEA Games Kamboja 2023 ketika meraih medali perunggu kelas 49 kg.
Namun, motivasi paling kuat yang jadi bekal berharga Luluk di Thailand adalah tekad untuk menepis trauma yang pernah menyiksanya. Trauma itu muncul pertama kali setengah tahun lalu selepas Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 di Lima, Peru.
Di Kejuaraan Dunia itu, Luluk sebenarnya meraih medali emas pada angkatan snatch (mengangkat beban tanpa jeda dari lantai hingga di atas kepala) dengan angkatan terbaik 81 kg. Luluk pun jadi juara dunia yunior 2025 untuk snatch putri 49 kg.
Snatch adalah salah satu jenis angkatan dalam angkat besi selain clean and jerk (mengangkat beban dalam dua tahap). Pada ajang tunggal seperti Kejuaraan Dunia, setiap jenis angkatan menyediakan medali emas, termasuk untuk total angkatan yang merupakan nilai gabungan angkatan snatch dan clean and jerk.
Petaka tiba saat giliran angkatan clean and jerk. Luluk tak mampu mengangkat barbel 100 kg pada tiga kesempatan. Alhasil, dia gagal menjaga peluang tambahan medali atau menjadi juara dunia pada semua jenis angkatan seperti pada edisi 2022.
Yang menyakitkan bagi Luluk adalah angkatan 100 kg merupakan ”makanan” sehari-harinya saat latihan. Dalam latihan, Luluk bahkan sudah bisa melakukan clean and jerk seberat 105 kg. Namun, di Peru, pengalaman itu seperti buyar begitu saja. Tiga kesempatan mengangkat, tiga kali pula Luluk merasa bingung.
Dari sinilah trauma itu muncul, lengkap dengan perasaan menyalahkan diri sendiri dan kesedihan yang berlarut. Saat hendak mencoba angkatan clean and jerk di latihan, trauma membayangi. Dia akan berdiam diri lama sebelum mengangkat beban.
Luluk sebenarnya punya kemampuan mengangkat beban yang dipasang, tetapi dia takut kejadian di Peru terulang lagi. ”Setelah Peru itu, aku sempat down. Dua minggu enggak melakukan apa-apa, bahkan latihan pun enggak, telepon dari pelatih juga enggak aku angkat,” kata Luluk.
”Sehari-hari aku cuma berpikir, kenapa ya persiapan yang sudah selama dan sejauh ini enggak berbuah hasil? Apa ya yang kurang sampai aku tidak bisa mengangkat?” ujarnya lagi. Kali ini, matanya berkaca-kaca.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/e41aa0eb59a2bbd3cdf0a18b2e35b9c8-FAK_1775.jpg)
Pelatihnya, Samsuri, lantas mendatangi Luluk. Samsuri menguatkan anak asuhannya itu, termasuk dengan mengingatkan bahwa Luluk sebenarnya tidak pulang dari Peru dengan tangan hampa. Luluk tetap pulang sebagai juara dunia snatch.
Perkataan Samsuri, pelatihnya sejak pertama mengangkat barbel, perlahan membuat Luluk bangkit. Luluk lantas mencoba mengonversi trauma yang membayangi menjadi ambisi untuk membuktikan diri.
Setiap malam, Luluk memang masih memikirkan angkatan clean and jerk. Namun, yang dia pikirkan kini bukan kegagalan dalam tiga percobaan clean and jerk di Peru lagi. Luluk justru mencoba mengingat teknik clean and jerk yang dilakukan dan mencoba mengoreksinya. Dia ingin gerakannya semakin sempurna demi menghindari kegagalan serupa.
Bagi Luluk, SEA Games Thailand 2025 tak hanya jadi langkah awal yang perlu dilalui untuk menuju tahap berikutnya. Pesta olahraga se-Asia Tenggara ini juga panggung untuk membalas kegagalan dan menepis trauma yang menyiksa.
”Yang pasti, aku kayak ingin balas dendam kegagalan di Peru. Ingin membuktikan, aku itu sebenarnya bisa, lho. Apalagi, persiapan sekarang lebih matang,” ujar peraih perunggu kelas 49 kg di Kamboja dengan total angkatan 173 kg ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/31df34a68a8c546cc0478536ce55815f-FAK_3844.jpg)
Adapun Samsuri menuturkan, apa yang terjadi pada Luluk di Peru adalah sebuah momen penting bagi mereka untuk evaluasi bersama. Kini, perbaikan itu perlahan menunjukkan progres positif meski sesekali Luluk masih terbayang trauma Peru.
Luluk bahkan sudah bisa melampaui jauh total angkatan di Peru jika semua percobaan berhasil, yakni 181 kg. ”Dan kalau bisa minimal mencapai rekor terbaik saat latihan yang sudah menyentuh lebih dari 190 kg, jaminannya adalah medali. Perkara nanti medali warna apa, itu akan kita lihat lagi kondisinya dalam perlombaan,” ujar Samsuri.
Tinggal hitungan hari menuju penampilan Luluk sebagai wakil pertama angkat besi Indonesia di SEA Games 2025. Ketika saatnya tiba, kita akan menyaksikan pembuktian Luluk, lifter muda dan ”berbahaya”, serta siap menepis trauma.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti