Mulai 7 Mei 2025, sebanyak 130 kardinal akan memulai rapat tertutup untuk memilih Paus yang baru. Konklaf kali ini mungkin akan banyak kejutan, seperti filmnya.
29 Apr 2025 06:00 WIB · Internasional
Vatikan sedang mempersiapkan pertemuan tertutup para kardinal yang akan memilih pengganti Paus Fransiskus. Lupakan dulu apa yang mungkin sudah kita tonton di film Conclave (2024) yang dibintangi, antara lain, oleh Ralph Fiennes dan Isabella Rossellini. Konklaf ”yang sesungguhnya” akan dilaksanakan pada 7 Mei 2025.
Kata konklaf berasal dari bahasa Latin cum clave yang artinya ”dengan kunci”. Ini merujuk pada ritual yang berlangsung selama berabad-abad untuk memilih Paus yang baru. Ritual sejak Abad Pertengahan ini mengurung 130 kardinal di dalam Kapel Sistina hingga akhirnya mereka sepakat memilih Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma yang baru.
Mereka dilarang berkomunikasi dengan pihak luar dengan tidak boleh menggunakan telepon, televisi, atau internet. Mereka juga diharapkan untuk tetap merahasiakan hasil pemilihan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah warisan Paus Fransiskus akan berlanjut sepeninggalnya? Selama bertahun-tahun, kaum tradisionalis tak setuju dengan pendekatan progresif Paus Fransiskus. Setelah Paus Fransiskus tiada, apakah penggantinya akan menempuh jalan yang sama atau membawa Gereja Katolik ke arah yang lain?
Menurut Direktur Observatorium Geopolitik Agama Francois Mabille, terlepas dari reformasinya, Paus Fransiskus tidak mengubah doktrin fundamental. Ini menunjukkan Paus berikutnya dapat membawa gaya baru dan prioritas yang berbeda, tetapi tidak mungkin mengubah kepercayaan yang sudah ada selama 2.000 tahun.
”Paus Fransiskus tidak mengubah apa pun, baik dalam isu aborsi, akhir kehidupan, pernikahan bagi pastor, penahbisan perempuan, maupun homoseksualitas yang merupakan pokok-pokok doktrin konservatif tradisional,” kata Mabille.
Paus Fransiskus mengambil langkah-langkah radikal. Ia membuat perubahan kelembagaan, mengangkat tabir kerahasiaan kepausan atas pelecehan seksual anak, membatasi penggunaan misa bahasa Latin, dan membuka pintu bagi pemberkatan pasangan sesama jenis.
Ia menekankan kerendahan hati, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara bagi mereka yang tidak bersuara, dan mengecam yang berkuasa. Itu dilakukannya sembari berjanji untuk membuka Gereja bagi semua orang. Mabille tidak yakin isu migran akan ditangani oleh Paus yang baru dengan cara yang sama dan sesering Paus Fransiskus.
Paus yang baru diharapkan mampu mengelola sejumlah tantangan utama yang dihadapi Gereja Katolik, mulai dari peran perempuan hingga pengungkapan berkelanjutan tentang pelecehan seksual anak oleh para pastor. Gereja Eropa juga menghadapi krisis dalam hal panggilan dan menurunnya kehadiran di gereja, meski jumlah umat beriman meningkat di Afrika dan Asia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/06/47feb55b-0640-4870-915f-932c045987f5_png.png)
Menurut Sekretaris Jenderal Lembaga Penelitian untuk Studi Agama Martin Dumont, pemimpin Gereja harus menjadi titik pemersatu bagi semua umat Katolik. Itu dapat ditentukan oleh kepribadian Paus. ”Dibutuhkan Paus yang berbicara lebih sedikit dan dengan pendekatan yang lebih terkendali. Paus Fransiskus berbicara terus tentang semua hal,” ujarnya.
Dalam konklaf sebelumnya, para kardinal telah membentuk kelompok-kelompok yang berbeda. Dumont mencatat, pada 2005, setelah wafatnya Yohanes Paulus II, ada dua poros berbeda yang muncul dengan tokoh-tokoh kuat, yakni Kardinal Carlo Maria Martini dan Joseph Ratzinger yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI.
Akan tetapi, pada tahun ini tidak ada kubu-kubu tertentu. Paus Fransiskus menunjuk hampir 80 persen kardinal yang memenuhi syarat untuk memilih penggantinya. Namun, pengalaman masa lalu mengingatkan agar orang tidak berasumsi bahwa mereka akan memilih Paus berikutnya yang sesuai dengan keinginan.
Dumont menunjuk Fridolin Ambongo, Uskup Agung Kinshasa, yang diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus hanya untuk memimpin protes oleh para uskup Afrika terhadap pemberkatan pasangan sesama jenis.
Mabille mengatakan, ada orang-orang yang kecewa dengan Paus Fransiskus. Banyak yang menganggapnya otoriter dan meninggalkan para pendukungnya. Dumont memperkirakan dalam konklaf 7 Mei nanti mungkin akan ada beberapa kejutan sebagai akibat dari hal itu.
Kejutan dalam konklaf kali ini, menurut para pengamat, bisa muncul karena para kardinal tidak saling mengenal dengan baik dan belum bersatu. Sejarawan gereja Alberto Melloni mengatakan, para kardinal akan mempertimbangkan hal-hal yang praktis seperti memilih calon yang berusia 60-an tahun sehingga umat Katolik dapat memiliki seorang Paus selama 20 tahun atau lebih.
Pertimbangan lain, apakah mereka akan memilih seorang Paus dari wilayah yang masih berkembang seperti Asia atau Afrika. Jika iya, kemungkinan akan terjadi lebih banyak pergolakan pada birokrasi Vatikan yang didominasi Eropa yang kurang sreg dengan gaya Paus Fransiskus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/b97528bbd36a173c9b254132e498b0e6-wires_photo_23.jpg)
Para kardinal juga harus mempertimbangkan apakah akan memilih Paus yang relatif tidak dikenal atau yang dikenal. Masalahnya, antarkardinal hampir tidak saling kenal. Paus Fransiskus pada Desember 2024 menambahkan 20 kardinal baru ke dalam pemilih konklaf.
Mereka berasal dari Aljazair, Argentina, dan Australia. Dari para kardinal yang kurang terkenal, ada beberapa kandidat yang terkemuka, seperti Kardinal Pietro Parolin dari Italia yang selama ini menjabat sekretaris negara atau orang nomor dua di Vatikan.
Ada juga nama Kardinal Luis Tagle dari Filipina yang mengepalai kantor penginjilan Vatikan yang bertanggung jawab atas Gereja Katolik di sebagian besar negara berkembang. Ia merupakan kandidat teratas untuk menjadi Paus pertama Asia dalam sejarah. Ada kandidat utama yang mewakili sayap konservatif Gereja, yakni Kardinal Peter Erdo dari Hongaria yang menjadi Uskup Agung Budapest.
”Tidak ada calon terdepan saat ini. Untuk menjadi calon terdepan, harus punya banyak suara pendukung,” kata pengamat Vatikan, Marco Politi, yang buku terbarunya, The Unfinished, membahas urusan Paus Fransiskus yang belum selesai.
Lantaran para kardinal tidak saling mengenal dengan baik, tidak seorang pun terlihat telah mengamankan banyak suara. Ini berarti mungkin diperlukan beberapa putaran pemungutan suara untuk mendapatkan suara mayoritas atau dua pertiga dari pemilih. Menurut Melloni, Gereja saat ini terpecah dan yang terpenting saat ini adalah menemukan orang yang menyatukan dan bukan berpura-pura Gereja tidak terpecah.
Kurangnya calon terdepan telah membuat para king maker menjadi lebih penting dalam konklaf ini. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang mungkin tidak dianggap sebagai papabili atau calon Paus, tetapi dapat menggalang suara dari para kardinal lain ke arah tertentu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/15/d431ebd0-0e52-4353-bc3d-b7137900482f_png.png)
Mereka termasuk Kardinal Timothy Dolan dari New York, Kardinal Reinhard Marx dari Jerman, dan Kardinal Ambongo dari Kongo yang mengepalai konferensi para uskup Afrika. Meskipun 108 kardinal yang memenuhi syarat untuk memilih diangkat oleh Paus Fransiskus, mereka mungkin tidak akan sama pandangan dan perjuangannya.
Beberapa mungkin mendukung seruan Paus Fransiskus agar Gereja menjadi lebih inklusif, tetapi menentang pastor perempuan. ”Mungkin mereka setuju dengan masalah pemberian komuni kepada orang-orang yang bercerai dan menikah lagi. Tetapi, mereka tidak ingin memberkati pasangan homoseksual. Jadi, ini membuat konklaf menjadi sangat sulit,” tutur Politi.
Paus Fransiskus selama ini memperjuangkan daerah-daerah terpencil yang lama diabaikan Gereja, baik melalui penunjukan kardinalnya maupun dalam perjalanannya ke luar negeri. Jika para kardinal memilih Paus non-Eropa, akan masuk akal mengingat agama Katolik tumbuh di Afrika dan Asia. Sementara kehadiran di gereja menurun dan pertumbuhan hampir stagnan di Eropa.
Namun, di dunia yang semakin kompleks, para analis mengatakan, pandangan inklusif dan keterampilan diplomatik akan menjadi faktor kunci dalam memilih Paus berikutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/88f90b0ff1cafc44f779c9d6bbdc8bc7-wires_photo_22.jpg)
Paus pertama Gereja, Santo Petrus, berasal dari Galilea, di Israel saat ini. Namun, garis panjang Paus setelahnya sebagian besar berasal dari Italia. Paus Fransiskus mendorong Gereja untuk lebih inklusif bagi mereka yang berasal dari ”pinggiran”, baik wilayah geografis yang jauh dari Roma maupun populasi yang telah lama diabaikan. ”Ia aktif mencari mereka yang terabaikan atau kurang terwakili di Gereja,” kata sejarawan agama dunia AS, R Scott Appleby.
Namun, itu tidak menjamin Paus berikutnya akan berasal dari pinggiran, dari negara yang tidak begitu terkenal, atau bukan Eropa. Eropa masih memiliki blok pemungutan suara terbesar dengan 53 kardinal. Sementara Asia dan Oseania punya 27 kardinal elektor. Amerika Selatan dan Tengah punya 21 kardinal, Amerika Utara 16 kardinal, dan Afrika 18 kardinal. ”Paus dari negara miskin membawa perspektif berbeda. Paus seperti itu memiliki pengalaman langsung dengan orang miskin,” ujar Appleby.
Sejarawan Italia di Universitas Kepausan Gregorian, Roberto Regoli, mengatakan, konklaf akan mencari kardinal yang mampu menjadi titik acuan bagi banyak orang. Para ahli sepakat perlunya seorang Paus yang dapat menyatukan Gereja dalam konteks geopolitik yang semakin terpecah dan ini mungkin menjadi titik penentu.
Jika kardinal memutuskan geopolitik adalah kriteria pilihan, kata Mabille, mungkin akan cocok jika Paus dari Eropa dan Italia. ”Sulit membayangkan Paus berikutnya mengabaikan kekacauan dan tantangan di dunia. Dunia sedang krisis. Yang jadi pertanyaan, siapa di antara para kardinal yang dapat muncul sebagai seseorang dengan karisma dan bakat yang tepat untuk memimpin Gereja saat ini,” tutur Appleby.
Yang jelas, menurut Kardinal AS Sean O’Malley, proses konklaf ”yang sesungguhnya” bukanlah seperti di film Conclave. Urusan memilih seorang Paus bukanlah semacam adegan persekongkolan politik seperti yang digambarkan di film Conclave. Ia mengecam film itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/e32a83a8d3ae3f86152916be14356174-Film_Conclave.jpg)
Namun, menurut sutradara Conclave, Edward Berger, filmnya itu berkisah tentang permainan kekuasaan yang terjadi di mana pun kala ada jabatan puncak yang harus diisi. ”Jika ada kekosongan kekuasaan, pasti ada orang-orang yang memperebutkannya dan saling menusuk dari belakang serta mencoba memanipulasi jalan mereka menuju kekuasaan,” ucap Berger, membela filmnya.
Terlepas dari seberapa banyak buku dan film tersebut merupakan fiksi, minat terhadap cerita tersebut melonjak setelah Paus Fransiskus wafat. Perusahaan data industri hiburan Luminate melaporkan, angka pemirsa streaming AS untuk Conclave naik sebesar 283 persen pada Senin (28/4/2025). (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul