TIMUR TENGAH

Macron Perintahkan Kapal Induk Nuklir Charles de Gaulle ke Laut Tengah

Pengerahan itu tidak bisa dilepaskan dari serangan drone ke Pangkalan Udara Inggris di Siprus. Perancis berniat melindungi aset Perancis dan sekutu di kawasan Teluk.

04 Mar 2026 12:30 WIB · Internasional

AFP/NICOLAS TUCAT

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

PARIS, RABU — Tidak ingin aset sekutu di Timur Tengah terganggu, Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Selasa memerintahkan kapal induk bertenaga nuklir Perancis, Charles de Gaulle, untuk bertolak ke Laut Tengah. Kehadiran kapal induk yang saat ini berada di perairan Baltik itu akan didukung oleh sayap tempur dan armada pemukul, termasuk fregat utama Perancis.

Untuk mendukung kehadiran De Gaulle, merujuk laporan kantor berita Associated Press, Rabu (4/3/2026), armada jet tempur Rafale telah dikerahkan ke Timur Tengah. Selain itu, sistem pertahanan udara dan radar telah disiagakan.  

”Saya telah memutuskan untuk mengirimkan aset pertahanan udara tambahan dan sebuah fregat Perancis, Languedoc, yang akan tiba di lepas pantai Siprus malam ini,” kata Macron dalam pidato yang disiarkan televisi.

French President Emmanuel Macron gestures before greeting President of Singapore at the Elys�e Palace in Paris on March 3, 2026. (Photo by Dimitar DILKOFF / AFP)

Pengerahan itu, menurut Macron, tidak bisa dilepaskan dari serangan pesawat nirawak ke Pangkalan Udara Inggris di Siprus. Dalam pidato yang disiarkan secara nasional di Perancis, Macron mengatakan, Siprus adalah anggota Uni Eropa yang telah menandatangani kemitraan strategis dengan Perancis.

Menurut Macron, dalam situasi genting seperti terjadi di kawasan Teluk, Siprus membutuhkan dukungan mitra-mitra terdekatnya. Sebelumnya Perancis, Inggris, dan Jerman menegaskan siap untuk mengambil langkah-langkah defensif untuk melumpuhkan kemampuan Iran menembakkan rudal atau drone.

Terkait hal itu, Macron mengonfirmasi bahwa pada jam-jam awal perang segitiga antara AS, Israel, dan Iran pecah, sistem pertahanan udara Perancis telah menembak jatuh drone yang diduga berasal dari Iran. ”Dalam pembelaan diri yang sah pada jam-jam pertama konflik, untuk mempertahankan wilayah udara sekutu kita, yang tahu, bahwa mereka dapat mengandalkan Perancis,” kata Macron.

A picture taken on February 25, 2026, shows Rafale M (Marine) fighter jets parked on the flight deck with the conning tower in the background as the French aircraft carrier Charles De Gaulle during a media tour while moored at the quay of the North Port in Malmo, Sweden. (Photo by Johan NILSSON / TT NEWS AGENCY / AFP) / Sweden OUT

Lebih lanjut Macron menyebutkan, Perancis memiliki perjanjian pertahanan dengan Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Paris juga memiliki komitmen kerja sama pertahanan dengan Jordania dan Irak.

Langkah Perancis, menurut Macron, merupakan perwujudan dari dukungan Paris pada tatanan internasional berbasis aturan. Pada satu sisi, ia menegaskan tidak membenarkan atau menyetujui serangan Israel dan AS atas Iran lantaran dilakukan di luar kerangka hukum internasional. Namun, di sisi lain, Macron menilai Iran pun turut bertanggung jawab atas terjadinya konflik di Teluk.

Infografik Serangan AS-Israel ke Iran

”Iranlah yang mengembangkan program nuklir berbahaya dan kemampuan rudal balistik yang belum pernah terjadi sebelumnya; mempersenjatai dan membiayai Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak, mendukung Hamas, sambil selalu menegaskan tujuannya untuk menghancurkan Israel,” kata Macron. Ia juga mengkritik tajam kekerasan Teheran terhadap pengunjuk rasa Iran.

Macron pun kemudian mendesak para pihak untuk segera menghentikan perang segitiga itu sesegera mungkin. Menurut Macron, perdamaian abadi di kawasan Teluk hanya dapat dicapai melalui jalur diplomasi.

Perkuatan

Di sisi lain, langkah Perancis tidak bisa dilepaskan dari upaya Paris memperkuat postur pertahanan mereka di Timur Tengah. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot mengatakan, pengerahan jet tempur Rafale ke Uni Emirat Arab merupakan bagian dari langkah Paris melindungi pangkalan angkatan laut dan udara Perancis di kawasan itu.

Sebagaimana diketahui, Perancis memiliki ratusan personel angkatan laut, angkatan udara, dan angkatan darat yang berbasis di UEA. Rafale-Rafale Perancis ditempatkan di pangkalan Al-Dhafra, tak jauh dari Abu Dhabi.

”Rafale dimobilisasi untuk memastikan keamanan fasilitas kami,” kata Barrot. ”Mereka telah melakukan operasi untuk mengamankan wilayah udara di atas pangkalan Perancis.”

Ia menyebutkan, sebuah hanggar di pangkalan Perancis di Uni Emirat Arab dihantam oleh pesawat nirawak.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji