Macron Sebut Kebijakan Tarif sebagai Pemerasan, AS Bergeming

Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut kebijakan tarif negara kuat sebagai pemerasan.

01 Jul 2025 09:12 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

SEVILA, SELASA — Hanya kurang dari satu pekan lagi jelang berakhirnya tenggat waktu negosiasi dan pemberlakuan tarif dari Washington dimulai. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengingatkan pada negara-negara yang tidak datang ke Washington dan berunding untuk bersiap-siap menerima ”surat cinta” dari Gedung Putih.

Sementara Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebut kebijakan tarif yang dijatuhkan negara-negara kuat lebih cocok disebut sebagai pemerasan ketimbang instrumen untuk menyeimbangkan kembali perdagangan.

”Kita perlu memulihkan kebebasan dan kesetaraan dalam perdagangan internasional, lebih dari sekadar hambatan tarif, yang dirancang oleh yang kuat dan sering digunakan sebagai instrumen pemerasan. Sama sekali bukan sebagai instrumen penyeimbangan kembali (perdagangan global),” kata Macron saat berpidato di Konferensi Internasional tentang Pembiayaan untuk Pembangunan di Sevila, Spanyol, Senin (30/6/2025).

Presiden Perancis Emmanuel Macron (kanan) tengah berbicara pada Konferensi Internasional tentang Pendanaan Pembangunan ke-4 PBB di Sevilla, Spanyol, Senin (30/6/2025).

Macron tidak merujuk pada Amerika Serikat. Akan tetapi, saat menyampaikan hal itu, Perancis dan Uni Eropa tengah mencoba merundingkan kesepakatan perdagangan.

Trump tidak langsung berkomentar atas pernyataan Macron. Dia saat ini tengah menunggu respons positif Pemerintah Jepang yang masih enggan menerima produk beras AS.

”Saya sangat menghormati Jepang. Mereka tidak akan mengambil beras kami, meski mereka mengalami kekurangan beras yang sangat besar,” tulis Trump di Truth Social. ”Kami hanya akan mengirimi mereka surat, dan kami senang memiliki mereka sebagai mitra dagang selama bertahun-tahun yang akan datang.”

Tanggapan atas pernyataan Macron disampaikan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Dia menolak karakterisasi pemerintahan AS saat ini oleh Macron.

Ia mengklaim, kebijakan tarif adalah alat paling efektif untuk membangun manufaktur AS. ”Eropa dan seluruh dunia mungkin tidak terbiasa dengan itu. Akan tetapi, Presiden Trump akan melakukan apa yang benar bagi rakyat dan negara kami,” katanya.

Produk baja terlihat di gudang North York Iron, pemasok baja di Toronto, Ontario, Kanada, Selasa (11/2/2025). Kanada dan Uni Eropa berjanji untuk bersikap tegas terhadap langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengenakan tarif pada impor baja dan aluminium (Foto oleh AFP/Cole BURSTON)

Kebijakan tarif yang diumumkan Trump selang beberapa saat setelah menjabat kembali mengakibatkan guncangan pada perekonomian global. Banyak negara menghadapi kenaikan bea masuk, antara 10-50 persen, jika mengirim barang ke AS.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyebut kebijakan itu berdampak buruk pada banyak negara miskin berkembang, seperti Lesotho, Laos, Kamboja, Vietnam, dan Myanmar yang dikenai bea masuk tertinggi.

Kebijakan Trump tidak mengecualikan siapa pun, bahkan sekutunya sendiri, seperti Kanada dan Uni Eropa.

Kumpulan negara di ”Benua Biru” itu memiliki batas waktu hingga 9 Juli mendatang untuk berunding sebelum bea masuk mayoritas ekspornya ke AS melonjak menjadi 50 persen, terutama untuk baja dan aluminium.

Melansir Bloomberg, Uni Eropa bersedia menerima pengaturan perdagangan lanjutan dengan AS yang mencakup tarif universal sebesar 10 persen untuk mayoritas ekspornya. Sebagai timbal balik, mereka menginginkan AS berkomitmen untuk menurunkan tarif di sejumlah sektor, seperti farmasi, minuman beralkohol, semikonduktor, dan pesawat komersial.

Perpanjangan Waktu

Menteri Keuangan AS Scott Bessent awal bulan ini melontarkan gagasan untuk memperpanjang waktu untuk tidak memberlakukan kenaikan bea masuk bagi negara-negara yang dinilai AS baik dan beritikad baik melakukan perundingan dagang dengan ”Negeri Paman Sam” tersebut.

”Ada negara-negara yang bernegosiasi dengan itikad baik, tetapi mereka harus menyadari bahwa jika kita tidak dapat mencapai kesepakatan karena mereka membangkang, kita dapat kembali ke level 2 April. Saya harap itu tidak perlu terjadi,” kata Bessent.

infografik Tarif Perdagangan Baru Trump terhadap Negara Mitra

Akan tetapi, Trump menolak gagasan itu. Trump menyatakan, dia tidak berencana memperpanjang jeda tarif. Trump menyatakan akan segera berkirim surat pada negara-negara tersebut yang isinya pemberitahuan bahwa sanksi perdagangan akan berlaku. Hal itu bisa batal jika ada kesepakatan dengan Washington.

Surat-surat akan mulai dikirim segera sebelum batas waktu yang mendekat, katanya. Surat-surat itu, katanya, akan berbunyi: ”Selamat, kami mengizinkan Anda berbelanja di Amerika Serikat. Anda akan membayar tarif 25 persen, atau 35 persen atau 50 persen atau 10 persen.”

”Kami akan melihat bagaimana suatu negara memperlakukan kami—apakah mereka baik, apakah mereka tidak begitu baik. Beberapa negara tidak kami pedulikan. Kami hanya akan mengirimkan sejumlah besar surat,” kata Trump saat berbicara pada Sunday Morning Futures milik FoxNews.

Leavitt mengatakan, Trump akan bertemu dengan tim perdagangannya untuk menetapkan tarif. Hal itu akan dilakukan apabila mitra dagang AS tidak datang ke meja perundingan untuk bernegosiasi dengan itikad baik.

Walau mengancam, Trump mengakui sulit untuk mencapai kesepakatan dengan masing-masing negara. Meski demikian, mencapai 90 kesepakatan selama 90 hari jeda dinilainya sudah mencapai target yang ditetapkan.

”Negosiasi terus berlanjut, tetapi ada 200 negara, Anda tidak dapat berbicara dengan semuanya,” katanya.

Negosiator tarif utama Jepang, Ryosei Akazawa, mengatakan, Jepang akan terus bekerja sama dengan AS untuk mencapai kesepakatan perdagangan sambil membela kepentingan nasional Jepang.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto