GOLAZO

Madonna Saja sampai Kepincut Fenomena Baggio

Gol indah Baggio tidak hanya menandakan awal kisah cemerlangnya di timnas Italia, tetapi juga mampu menyelamatkan wajah tuan rumah di edisi Piala Dunia 1990.

26 Jun 2026 19:25 WIB · Olahraga

JOHANES WASKITA UTAMA

Oleh Kelvin Hianusa

Roberto Baggio terlalu memesona di Piala Dunia Italia 1990. ”Ratu Pop” dunia, Madonna, saja sampai ikut terpana. Dua hari setelah final Piala Dunia 1990, Madonna menggunakan jersei tim nasional Italia bernomor punggung 15 milik Baggio dalam konsernya di Kota Roma.

”Apa arti sebuah nama?”, itulah yang terpintas di pikiran Madonna setelah melihat fenomena Baggio. ”Gol (Baggio) melawan Ceko itu luar biasa. Saya bahkan tidak tahu namanya, tetapi gol itu dan mata besarnya yang berwarna hijau berhasil memikat saya,” kata Madona seperti dikutip The Guardian.

Gol yang dimaksud sang diva tercipta di laga terakhir babak grup, yaitu saat Italia berebut status juara grup dengan Ceko. Tim tuan rumah sedang gamang ketika itu. Penyerang andalan mereka, Gianluca Vialli, cedera. Penyerang utama lainnya, Andrea Carnevale, belum mampu berkontribusi.

Pelatih Italia Azeglio Vicini menolak romantisasi kebintangan Baggio pada dua laga awal. Sang penyerang yang masih berusia 23 tahun itu ”diparkir” di bangku cadangan walaupun baru saja memecahkan rekor transfer termahal dunia, yaitu lewat kepindahan dari Fiorentina ke Juventus.

Menjalani debut

Baggio akhirnya dipilih untuk menjalani debut Piala Dunia di Stadion Olimpico, Roma. Keputusan itu menjadi hal terbaik yang dibuat oleh Vicini untuk warga Italia. Baggio terlahir sebagai bintang timnas di laga itu, yaitu di tengah kontroversi kepindahan dan ekspektasi besar dari publik Italia.

Infografik Gol Roberto Baggio Penyisihan Grup Piala Dunia 1990

Pemain yang dikenal lincah itu menciptakan gol penting untuk kemenangan 2-0 Italia sekaligus yang terindah di sepanjang turnamen ini saat itu. Gol itu bermula dari pergerakan Baggio di sisi kiri garis tengah lapangan. Dia melakukan kombinasi umpan ”satu-dua” dengan gelandang Giuseppe Giannini.

Giannini seolah mengetahui, gol fenomenal akan tercipta dari kaki Baggio. Saat menerima umpan dari rekannya itu, dia langsung mengumpan balik tanpa kontrol. Baggio memulai aksinya dengan dribel ke arah kotak penalti. Kapten Ceko, Ivan Hasek, berupaya menekel, tetapi hanya mendapatkan angin.

Bek Ceko, Miroslav Kadlec, begitu yakin bisa menghentikan laju Baggio. Mereka berduel satu lawan satu. Baggio hanya perlu gerakan tipuan kecil ke sisi kiri untuk mengecoh Kadlec yang kebingungan seperti anak ayam tanpa induknya. Baggio memindahkan bola ke sisi kanan, lalu menembak.

Kiper Jan Stejskal hanya bisa menebak-nebak arah bola. Hasilnya, bola tembakan Baggio melaju ke arah berlawanan. Saking indahnya gol dari aksi individu itu, komentator Alan Parry yang punya sejuta diksi sampai kehabisan kata-kata. ”Oh yes, oh yes, oh yes!”, hanya itu komentarnya.

Pemain inggris David Platt dipeluk rekannya setelah mencetak gol ke gawang Italia dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1990 Italia. Kompas/Kartono Ryadi (KR) *** Local Caption *** SEMIFINAL PIALA DUNIA '90 -- Para pemain Inggris meluapkan kegembiraan setelah David Platt menyamakan kedudukan 1-1 di menit ke-80, dalam laga perebutan posisi ketiga sepakbola Piala Dunia 1990 melawan tuan rumah Italia, Sabtu malam, 7 Juli 1990 (Minggu dinihari WIB) di Bari. Namun, Italia akhirnya berhasil merebut poisis ketiga Piala Dunia 1990, setelah menundukkan Inggris 2-1 (0-0). Dua gol Italia diciptakan dua ujung tombaknya, Roberto Baggio dan Salvatore Schilacci. Terkait Berita Dimuat Minggu, Kompas 8 Juli 1990 halaman 1 Judul Amplop: Piala Dunia : Inggris Vs Itali

Layaknya lukisan

Vicini berkata, gol itu semestinya dibingkai layaknya lukisan karena terlampau indah. Baggio menjatuhkan diri sebelum sampai ke dekat tribun penonton akibat terlalu bahagia. ”Saya sangat senang, bisa mencium seluruh penonton, seluruh warga Italia, seisi dunia,” ujar Baggio.

”Si Kuncir Suci”, julukannya, selalu dipercaya sejak itu. Italia memang gagal juara, hanya menjadi pemenang ketiga tetapi golnya cukup untuk membuat edisi Piala Dunia itu layak dikenang. Adapun Italia 1990 dilabeli sebagai edisi terburuk karena jumlah gol yang sangat minim. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase