Mafia di Balik Skandal Judi dan Pengaturan Skor NBA

Kasus judi dan pengaturan skor yang melibatkan pelatih dan pemain menghebohkan musim baru NBA. FBI membongkar kasus yang juga melibatkan organisasi mafia ini.

07 Nov 2025 13:43 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

Baru saja penggemar NBA disuguhi keseruan laga pembuka musim 2025-2026, kejutan muncul dengan terbongkarnya kasus judi dan pengaturan skor yang melibatkan pelatih dan pemain di liga basket terbaik dunia itu. Kasus itu juga melibatkan organisasi kejahatan mafia. 

Polisi Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menangkap lebih dari 30 orang dalam operasi terkait kasus tersebut. Mereka yang ditangkap di antaranya Pelatih Kepala Portland Trail Blazers Chauncey Billups dan pemain Miami Heat, Terry Rozier.

Billups yang berusia 49 tahun adalah mantan pemain yang masuk ke dalam jajaran pemain legendaris, Hall of Fame. Adapun Rozier yang berusia 30 tahun bermain sebagai guard untuk Heat. Keduanya ditangkap terkait dua penyidikan kasus perjudian berbeda, tetapi saling terkait yang melibatkan liga dan mafia.

Kasus itu, satunya terfokus pada taruhan olahraga dan pengaturan skor permainan poker secara nasional, telah berlangsung bertahun-tahun dan bernilai puluhan juta dollar AS. Menurut Direktur FBI Kash Patel, Kamis (23/10/2025), dalam kasus itu juga terdapat unsur wire fraud, pencucian uang, pemerasan, selain perjudian.

Menurut FBI, Rozier adalah satu dari beberapa orang dari NBA yang diduga menjadi ”orang dalam” dan memberikan informasi tentang laga mendatang kepada rekan kriminalnya. Mereka kemudian menggunakan petaruh palsu untuk memasang beberapa taruhan berdasarkan tips itu.

Misalnya pada Maret 2023, Rozier memberi tahu rekannya bahwa ia akan keluar dari pertandingan lebih awal dengan alasan cedera. Hal itu memungkinkan mereka bertaruh lebih dari 200.000 dollar AS bahwa ia tidak akan mencapai total statistik yang diharapkan untuk pertandingan tersebut. ”Ini adalah kisah permainan orang dalam NBA,” kata Patel.

Sports Betting Arrests

Billups didakwa dalam kasus terpisah atas tuduhan membantu memanipulasi permainan poker, untuk menipu pemain yang tak terkenal, untuk diiming-imingi bermain melawan selebritas. Pelaku menggunakan teknologi canggih untuk mengatur permainan di New York, Las Vegas, Miami, dan tempat-tempat lain, termasuk menggunakan pengocok kartu palsu dan meja sinar X.

NBA menyatakan bahwa Rozier dan Billups telah diberhentikan sementara dan liga akan terus bekerja sama dengan pihak berwenang. ”Kami menanggapi tuduhan ini dengan sangat serius dan integritas permainan menjadi prioritas utama kami,” demikian pernyataan tersebut.

Pengacara Rozier, James Trusty, mengatakan, jaksa penuntut ”tampaknya hanya memercayai informasi dari sumber yang luar biasa hebat daripada mengandalkan bukti nyata adanya kesalahan. Terry dibebaskan oleh NBA dan penuntut menghidupkan kembali kasus yang tidak berdasar”.

Trail Blazers mengatakan bahwa tim ”sepenuhnya bekerja sama dalam penyelidikan” dan Asisten Pelatih Tiago Splitter akan mengambil alih sebagai pelatih kepala sementara.

Tak mengejutkan, kasus yang menghebohkan olahraga profesional AS itu itu melibatkan keluarga kriminal terorganisasi, mafia.

Pengacara Billups, Chris Heywood, dalam pernyataannya mengatakan bahwa siapa pun yang mengenal kliennya tahu bahwa ia adalah orang yang berintegritas, tidak curang dan menipu orang lain. ”Chauncey Billups tidak pernah mundur. Dia tidak akan melakukan itu. Dia akan melawan tuduhan-tuduhan ini dengan gigih, yang menandai kariernya selama 28 tahun. Kami menantikan hari persidangan kami,” kata Heywood.

Pelatih Portland Trail Blazers Chauncey Billups meninggalkan gedung setelah pembacaan dakwaan pada Kamis (23/10/2025) di Portland, Oregon, Amerika Serikat.

Kejahatan terorganisasi

Beberapa dekade setelah tindakan keras oleh penegak hukum menghancurkan organisasi mafia New York, kasus terbaru di NBA itu menyoroti kelicinan dan kemampuan beradaptasi mafia terhadap perubahan zaman dan teknologi. Empat dari lima keluarga kejahatan terorganisasi di New York diduga terlibat dalam kasus yang menurut seorang penyidik ​​”mengingatkan kita pada film Hollywood”.

Para mafia dituduh mengantongi sekitar 7 juta dollar AS yang didapat dari para korban yang tertarik ke meja poker di Las Vegas, Miami, Manhattan, dan Long Island, yang menjadi tempat bermain bagi orang-orang kaya dan terkenal.

Mantan jaksa federal Mitchell Epner mengatakan, dakwaan tersebut mengingatkan kita bahwa ”La Cosa Nostra” masih sangat nyata dan seperti organisasi mana pun yang pernah diserang, mereka beradaptasi. Mereka memang telah menyusut signifikan sejak masa John Gotti Sr memimpin keluarga Gambino, yang pernah menjadi salah satu organisasi kriminal paling kuat dan ditakuti di AS.

Waktu itu, Gotti tersenyum dan melambai kepada pengunjung ruang sidang dan dijuluki ”The Teflon Don”. Mafia dan mistiknya yang penuh kekerasan menjadi fenomena budaya, ditampilkan dalam film-film seperti ”The Godfather” dan ”Goodfellas”, yang menjadi adaptasi pada perampokan senilai 6 juta dollar AS di Bandara Internasional Kennedy, dan juga acara televisi populer ”The Sopranos”.

Pada 1980-an, jaksa federal, termasuk Rudy Giuliani, melakukan pemberantasan mafia menggunakan hukum pemerasan dengan ancaman penjara hukuman seumur hidup, serta memanfaatkan erosi kode bungkam Mafia.

Puluhan orang dipenjara dan struktur mafia yang dibangun di sekitar klub-klub sosial sebagian besar dibongkar. Gotti, yang akhirnya dipenjara, meninggal karena kanker pada 2002 saat menjalani hukuman seumur hidup.

”Saya ingat Giuliani mengklaim kejahatan terorganisasi telah mati,” kata David Shapiro, mantan agen FBI dan asisten jaksa yang kini mengajar di kampus Peradilan Pidana John Jay di New York.

Sports Betting Arrests Basketball

Namun, kasus terakhir di NBA membuktikan bahwa organisasi mafia itu tetap hidup. ”Struktur berubah, kepemimpinan berubah, metode berubah, Namun, mereka tetap ada karena ada orang yang jadi sasaran. Hanya memang tidak lagi terlalu terpusat, terbuka, dan terorganisasi,” ungkap Shapiro.

Kasus NBA kemungkinan akan kembali membuka kontroversi keterkaitan antara pertaruhan dan kompetisi olahraga profesional. Dunia olahraga memang diuntungkan dengan berlimpahnya dana karena legalisasi judi. Namun, muncul pula pertanyaan terkait kemungkinan rusaknya integritas kompetisi.

Komisioner NBA, Adam Silver, kepada ESPN menyatakan mendukung pengaturan pertaruhan di olahraga. FanDuel, salah satu mitra taruhan resmi NBA, mengeluarkan pernyataan yang menyebut tuduhan itu sangat mengganggu dan berusaha membedakan dirinya dari pasar taruhan ilegal.

Tak hanya di Amerika, skandal judi juga telah merongrong kompetisi sepak bola di Eropa. Sejumlah pemain bintang dilarang bermain karena terlibat pertaruhan. Ada kasus mantan penyerang Brentford, Ivan Toney, yang dijatuhi hukuman dan juga pemain Newcastle United, Sandro Tonali.

(AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Billy Khaerudin
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan