Pekan Pembuka NBA, Ketajaman Steph Curry Merusak Dominasi Luka Doncic

Pekan pembuka NBA membuktikan bahwa pemain veteran Warriors, Steph Curry, masih bertaji menghadapi dominasi bintang muda Lakers, Luka Doncic.

23 Okt 2025 13:01 WIB · Olahraga

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

Penggemar olahraga basket, khususnya NBA, dimanjakan dengan penampilan brilian para bintang pada malam pembuka musim kompetisi 2025-2026. Pertemuan Los Angeles Lakers dengan Golden State Warriors, Rabu (22/10/2025) WIB, diwarnai permainan dominan Luka Doncic yang dirusak oleh ketajaman Steph Curry dan kawan-kawan.

Adapun Oklahoma City Thunder membuktikan mereka pantas menjadi juara NBA setelah mengawali upaya mempertahankan gelar dengan mengalahkan Houston Rockets yang diperkuat mantan ikon Thunder, Kevin Durant.

Tanpa diperkuat bintang terbesar, LeBron James yang masih cedera, Lakers mengandalkan Doncic menghadapi Curry dan kawan-kawan. Pada musim penuh pertamanya sebagai pemain Lakers, Doncic tampil sesuai harapan dengan mendominasi permainan.

Ia menyumbangkan 43 poin, 12 rebound, dan 8 asis. Akan tetapi, guard veteran Steph Curry dan kawan-kawan punya cara untuk merusak malam besar Doncic, untuk mememangi laga ini dengan skor 119-109.

Pertandingan itu memperlihatkan bahwa Lakers masih memiliki lubang besar dalam skuad mereka. Mengapa mereka kalah pada laga itu? Dua area statistik memperlihatkan penyebabnya, yaitu tembakan tiga poin dan lemparan bebas.

”Guard” Los Angeles Lakers, Luka Doncis, berusaha menghadang tembakan ”guard” Golden State Warriors, Stephen Curry, pada laga pembuka NBA di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (22/10/2025) WIB.

Lakers mendapakan kesempatan 28 kali lemparan bebas, tetapi meleset 11 kali. Sebaliknya, Warriors mendapat 29 kesempatan dan hanya meleset tiga kali.

Untuk memperburuk keadaan, akurasi tembakan tiga poin Lakers sangat buruk. Dari 32 kali usaha tembakan dari jarak jauh, Doncic dan kawan-kawan hanya mampu melesakkan delapan kali. Sementara Warriors yang memiliki Curry sebagai penembak jitu terbaik dalam sejarah NBA memasukkan 17 tembakan tiga poin dari 40 kali percobaan.

Pertahanan Lakers juga masih menjadi pekerjaan rumah pelatih JJ Redick. Meski berhasil mendapatkan center Deandre Ayton, ia bukan center yang tangguh dalam bertahan seperti Anthony Davis yang dilepas Lakers ke Dallas Mavericks pertengahan musim lalu demi mendapatkan Doncic.

”Itulah kartu yang bisa kami mainkan,” kata Redick mengakui keterbatasan skuadnya selepas laga.

Kesimpulannya, Lakers masih membutuhkan lebih dari sekadar duo Doncic-LeBron. Tiga pemain tambahan, termasuk Ayton, tampil di bawah harapan. Ayton, misalnya, hanya menyumbang 10 poin, 6 rebound, 1 blok, dan melakukan 4 turnover.

”Center” Los Angeles Lakers, Deandre Ayton, berusaha melakukan tembakan saat melawan Golden State Warriors pada laga pembuka NBA di Los Angeles, Amerika Serikat, Rabu (22/10/2025) WIB.

Di kubu Warriors, Curry hanya menyumbang 23 poin dan hanya memasukkan tiga dari sembilan percobaan tembakan tiga angka. Bahkan, dalam usia 37 tahun, statistik tersebut termasuk kurang mengesankan bagi Curry.

Akan tetapi, Curry tetaplah Curry. Ia masih menjadi ujung tombak dari serangan Warriors, menciptakan kekacauan dan tekanan pada pertahanan lawan karena ancaman terhadap tembakan tiga angkanya. Itu dibuktikan dengan tembakan jarak jauhnya pada menit terakhir pertandingan yang mengunci kemenangan Warriors.

Ketangguhan Gilgeous-Alexander

Gelar pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik atau MVP adalah pencapaian monumental bagi Shai Gilgeous-Alexander atau sering disebut SGA. Tetapi, Gilgeous-Alexander belum terpuaskan dan ingin dikenal sebagai salah satu pemain terbaik NBA saat pensiun.

Perjalanan itu diawali dengan keberhasilan Gilgeous-Alexander mempersembahkan gelar NBA pertama bagi Thunder, yang bahkan tidak berhasil diberikan oleh trio Durant, Russell Westbrook, dan James Harden. Pada malam pertama dalam upaya mempertahankan gelar, Gilgeous-Alexander menghadapi tantangan berat dari Durant dan kawan-kawan.

Laga itu membuktikan kekuatan mental Gilgeous-Alexander, sekaligus tantangan berat yang akan dihadapinya untuk mendapatkan gelar NBA kedua. Thunder memang memenangi laga melawan Rockets, tetapi dengan skor tipis 125-124, melewati dua kali perpanjangan waktu.

APTOPIX Rockets Thunder Basketball

Gilgeous-Alexander menunjukkan perpaduan luar biasa antara keberanian dan skill yang dimilikinya. Menghadapi Rockets yang dikenal dengan pertahanan keras, dengan salah satu pemain bertahan terbaik dalam diri Amen Thompson, Gilgeous-Alexander bermain sabar dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan tusukan. Ia mengambil alih permainan pada perpanjangan waktu kedua untuk memastikan kemenangan Thunder, dan secara total menyumbang 35 poin, 5 rebound, 5 asis, 2 steal, dan 2 blok.

Bagi Rockets, kekalahan tipis dari juara bertahan itu membuktikan mereka siap bersaing di Wilayah Barat yang superketat. Dengan diperkuat bintang senior seperti Durant dan bintang yang tengah naik daun seperti Thompson, mereka bisa menjadi ancaman bagi Thunder.

Pada pertandingan pembuka lainnya, Victor Wembanyama tampil dominan pada laga pertamanya setelah kembali dari cedera untuk membawa San Antonio Spurs mengalahkan Mavericks, 125-92, Kamis (23/10/2025) WIB. Center asal Perancis itu menyumbangkan 40 poin dan 15 rebound dalam 30 menit penampilan.

Wembanyama harus absen panjang musim lalu karena mengalami trombosis vena dalam (DVT). DVT sangat berbahaya dan bisa mengancam karier seorang pemain. Pemain legendaris seperti Chris Bosh harus mengakhiri kariernya lebih cepat karena mengalami masalah DVT secara berulang.

Bukan hanya Spurs, NBA juga sangat berkepentingan dengan kesehatan Wembanyama karena pemain setinggi 224 sentimeter ini diharapkan menjadi salah satu wajah NBA masa depan, menggantikan LeBron, Curry, dan Durant. Jika kariernya tidak terganggu kesehatan atau cedera, Wembanyama diperkirakan bisa menjadi center yang dominan seperti Shaquille O'Neal, tetapi memiliki akurasi tembakan yang lebih tajam.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto