Indonesia memutus rekor negatif kontra Jepang di Piala Asia, sekaligus ciptakan kejutan menembus final Piala Asia Futsal. Garuda menantang Iran, raja terakhir.
05 Feb 2026 21:51 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Takdir tidak pernah menyangka bahwa seorang pria asal kota kecil Chantada, yang berjarak sekitar 539 kilometer barat laut ibu kota Spanyol, Madrid, bisa membawa timnas futsal Indonesia menyentuh capaian yang sulit dibayangkan sebelumnya. Berkat menyingkirkan Jepang, 5-3, di Indonesia Arena, Jakarta, Kamis (5/2/2026) malam, skuad ”Garuda” akan bertarung di final Piala Asia Futsal 2026 kontra Iran.
Chantada yang berada di Provinsi Lugo, Spanyol, juga tidak dikenal memiliki tradisi futsal mentereng. Kota kecil itu lebih masyhur berkat produksi wine atau anggur yang dirayakan melalui festival tahunan bertajuk ”Feira do Vino de Chantada”.
Namun, pribadi Souto yang merepresentasikan itikad berproses dari masyarakat agraris Chantada menjadikan futsal Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia. Sebelumnya, ia telah membawa Indonesia menggusur Thailand sebagai pemilik takhta raja futsal Asia Tenggara.
Dimulai dari dua kali menaklukkan Thailand di kancah regional, Souto perlahan membantu Indonesia mendekati puncak Asia. Ditemani 10.389 pendukung Garuda yang memadati Indonesia Arena, Souto membawa anak asuhannya mencetak kemenangan perdana atas Jepang di kancah Piala Asia Futsal.
Sumbangan gol dari Samuel Eko (12’), gol bunuh diri pemain Jepang Takehiro Motoishi (23’), Firman Ardiansyah (39’), Reza Gunawan (45’), dan Dewa Rizki (46’) mengunci hasil positif sekaligus goresan sejarah baru bagi timnas futsal Indonesia. Capaian itu terasa istimewa karena Souto membawa Indonesia seperti menaiki anak tangga: menguasai ASEAN lebih dahulu, kemudian memburu Asia.
Adapun Jepang mencetak gol melalui brace kapten Kazuya Shimizu (35’ dan 40’) serta Motoishi (31’).
Souto menyebut, dirinya bukan pencipta sejarah. Kredit untuk performa timnas futsal Indonesia menembus final hanya pantas diberikan kepada pemain.
"Para pemain adalah pencipta sejarah. Mereka tidak hanya bermain sangat baik, tetapi juga menjalankan taktik dan strategi dengan sempurna," ujar Souto dalam konferensi pers seusai laga.
Selanjutnya di partai final, Souto tidak bisa mempersiapkan banyak hal. "Paing utama ada makan, istirahat, dan berlatih dengan baik di satu hari istirahat. Itu penting bagi kami," ucalnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/70114fa89390fccc7c57b1ec7364a458-FAK_8252.jpg)
Secara terpisah, Takashi memuji perkembangan signifikan Indonesia. Meskipun sempat mengasuh skuad Garuda periode 2018-2021, ia menganggap keberhasilan Indonesia menembus final
Piala Asia Futsal 2026 adalah kunci dari dukungan federasi, klub, dan pendukung Indonesia.
"Saya pikir Indonesia bisa mengimbangi Iran. Indonesia menunjukkan tim yang sangat kuat, apalagi ada dukungan besar dari pendukung. Indonesia punya potensi menang," kata Takahashi.
Indonesia menjadi tim ketujuh yang mampu menembus partai puncak Piala Asia Futsal. Perjalanan hingga gim terakhir sebelumnya telah dialami Iran, Jepang, Thailand, Uzbekistan, Korea Selatan, dan Kazakhstan. Namun, hanya Irak dan Jepang yang pernah mengangkat trofi juara dalam 17 edisi sebelumnya.
Di final, Minggu (7/2/2026) pukul 19.00 WIB, di Indonesia Arena, lawan superberat sudah menanti. Iran ke final seusai membungkam Irak, 4-2.
Iran, pemilik 13 gelar juara Piala Asia Futsal, ideal menjadi musuh pamungkas Indonesia. Ibarat video gim, ”Team Melli” adalah raja terakhir yang sesungguhnya. Mereka adalah pemilik gelar kampiun terbanyak sekaligus juara bertahan.
Bagi Iran, tampil di final di Indonesia serupa mengulangi capaian pada edisi 2002. Sekitar 24 tahun silam, Iran merengkuh gelar Asia seusai melibas Jepang, 6-0.
Tidak hanya bagi Iran sebagai tim, final di Jakarta juga membangkitkan kenangan baik untuk pelatih timnas futsal Iran, Vahid Shamsaee. Pada final 2002, Shamsaee mencetak dua gol kemenangan Iran.
Shamsaee adalah pemain futsal paling sukses di Iran dan Asia. Sebagai pemain, ia mempersembahkan delapan gelar juara untuk Iran. Setelah gantung sepatu dan menjadi pelatih, ia pun sukses memberikan Team Melli trofi Piala Asia pada 2024. Alhasil, sembilan dari 13 gelar juara Piala Asia Futsal Iran tak lepas dari andil Shamsaee.
”Saya tidak ingin membahas masa lalu, sebab fokus saya adalah mempersiapkan diri untuk partai final nanti. Saya bersyukur setelah 24 tahun bisa kembali ke final dan berharap bisa memenanginya lagi,” tutur Shamsaee, yang kerap disebut sebagai Ali Daei-nya futsal. Julukan yang merujuk legenda terbesar sepak bola Iran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/f84b6bb3d8ac5a76173911975c65345d-FAK_6854.jpg)
Meskipun kalah di semifinal, Pelatih Irak Joao Carlos mengapresiasi perjuangan anak asuhnya. Menurut dia, pengalaman di Indonesia 2024 menjadi bekal penting untuk berbenah demi lolos ke Piala Dunia Futsal 2028.
”Mayoritas pemain saya baru menjalani turnamen besar seperti ini, jadi ini pengalaman baik bagi kami. Kami kalah, tetapi saya senang dengan penampilan seluruh pemain. Semoga futsal Irak bisa terus berkembang,” ujar Carlos yang berpaspor Brasil.
Souto mempertahankan susunan lima pemain utama seperti gim perempat final kontra Vietnam. Ahmad Habiebie mengawal gawang, kemudian empat pemain di depannya ialah Mochammad Iqbal, Rizki Xavier, Israr Megantara, dan Firman Ardiansyah.
Sejak sepak mula, Indonesia berinisiatif melakukan blok tinggi ketika Jepang menguasai bola. Samurai Lima menguasai bola lebih sering dengan 52 persen penguasaan bola.
Namun, mereka kesulitan mengalirkan bola ke zona Indonesia karena tekanan yang diberikan para pemain Indonesia sejak Jepang menguasai bola di daerah sendiri. Umpan-umpan panjang diagonal pun digunakan Jepang untuk mengkreasi peluang.
Pada babak pertama, Jepang sempat memiliki dua peluang yang membentur tiang gawang Indonesia. Pada menit kesembilan, tembakan pemain Jepang Kokoro Harada membentur tiang kiri gawang Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/c1967d8f9ad8114eb93faa2e07558aeb-FAK_7571.jpg)
Di pengujung babak pertama, tepatnya menit ke-17, giliran sepakan keras kapten Jepang Kazuya Shimizu yang dihalau mistar gawang tim tuan rumah.
Dengan permainan sabar dan disiplin, Garuda mampu mencetak gol pada menit ke-12 melalui tembakan Eko. Proses gol itu diawali tendangan sudut yang berbuah kemelut di muka gawang Jepang.
Eko memanfaatkan kegagalan kiper Jepang, Hiroshi Tabuchi, menangkal bola dengan sempurna. Bola kedua dimenangi Indonesia yang diakhiri sepakan kaki kiri terarah Eko ke sudut kiri gawang Jepang.
Di babak kedua, intensitas permainan kedua tim tetap terjaga. Indonesia menambah keunggulan pada menit ke-23. Gol kedua Garuda hadir lewat gol bunuh diri pemain Jepang Takehiro Motoishi akibat salah mengantisipasi sepakan pemain Indonesia, Ardiansyah Nur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/2b277a331cdf62cd4b5c0bc6e2f22871-FAK_9281.jpg)
Tertinggal dua gol tidak meruntuhkan semangat juang Samurai Lima. Motoishi membalas kesalahannya dengan mencetak gol pada menit ke-31. Empat menit berselang, kapten Jepang Kazuya Shimizu membuat Indonesia Arena terdiam lewat gol penyama skor.
Harapan Indonesia lolos ke final terjaga ketika Firman Ardiansyah mencetak gol ketiga pada menit ke-39. Namun, keunggulan itu kembali disamakan Shimizu melalui eksekusi penalti.
Pada babak perpanjangan waktu, Indonesia mencetak sepasang gol melalui Reza Gunawan pada menit ke-45. Skema power play Jepang mampu diantisipasi Indonesia dengan gol kelima yang dihasilkan Dewa Rizki pada menit ke-47.
"Kami berusaha untuk lebih sering menguasai bola dan mengalirkan serangan. Tetapi, saya sangat sulit menembus pertahanan Indonesia karena ruang sangat kecil. Saya tidak menduga itu," tutur Takahashi.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase