Magnet Uang Baru Lebaran dan Jejak Usaha Jasa Penukaran Uang

Uang baru saat Lebaran selalu dinanti anak-anak. Magnet uang baru ini memunculkan jasa penukaran uang jelang Lebaran.

29 Mar 2025 10:00 WIB · Riset

Oleh Andreas Yoga Prasetyo

     

Sebagaimana baju baru, uang baru juga dinantikan masyarakat pada momentum perayaan Lebaran. Tahun ini, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai Rp 180,9 triliun sebagai penukaran uang baru pada Lebaran 2025. Jumlah uang tunai yang disiapkan BI ini menurun dari Lebaran 2024 yang mencapai Rp 197,6 triliun.

Meski demikian, kebutuhan masyarakat terhadap uang baru jelang Lebaran tetaplah besar. Hingga 17 Maret 2025 jumlah penukaran uang baru telah mencapai Rp 67,1 triliun dengan jumlah penukar mencapai 378.523 orang.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat menukar uang baru, Bank Indonesia bersama sejumlah bank lainnya memberikan ragam layanan penukaran uang. Penambahan loket, pelibatan pihak swasta, dan perkembangan teknologi dimanfaatkan agar masyarakat semakin mudah melakukan penukaran uang.  

Polisi membawa senapan laras panjang saat menjaga tempat penukaran uang di Hal Basket, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/3/2025). Menjelang Lebaran 2025, Bank Indonesia menggelar program penukarang uang pecahan baru melalui Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2025. Terdapat 18 loket disediakan untuk membantu warga menukarkan uang. Maksimal penukaran yang diperbolehkan sebesar Rp 4,3 juta dengan pecahan mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 100.000. Ada juga pecahan Rp 75.000 dengan maksimal penukaran 20 lembar atau Rp 1,5 juta. Penukaran uang ini disambut antusias warga yang memudahkan mereka menukarkan uang untuk dibagikan saat Lebaran nanti.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
23-03-2025

Hanya saja, ragam inovasi pelayanan yang diberikan belum sepenuhnya cukup untuk memangkas antrean penukaran uang. Kondisi ini dimanfaatkan sejumlah pihak untuk turut menawarkan jasa penukaran uang di sejumlah pusat-pusat keramaian. Jasa yang ditawarkan terbagi menjadi dua, yakni penukaran uang baru yang sudah ada, atau jasa antrean untuk memperoleh uang baru di sejumlah titik penukaran uang.

Munculnya kebutuhan akan uang baru ini seiring dengan kebiasaan saling berbagi saat Lebaran yang telah diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Di Pulau Jawa, misalnya, setelah melakukan tradisi sungkeman, anak-anak biasanya diberikan sejumlah uang oleh para tetua atau yang dikenal dengan tradisi salam tempel. Dalam tradisi ini, nominal tidak menjadi patokan. Uang baru yang diberikan justru dinilai lebih berharga oleh anak-anak berapa pun jumlahnya.

 

Sejak kapan jasa penukaran uang baru Lebaran muncul?

Dari penelusuran arsip Kompas, jasa penukaran uang ini telah berlangsung lama. Pada tahun 1966, misalnya, penukaran uang menjadi fokus layanan Bank Negara Indonesia. Beberapa hari jelang Idul Fitri, fasilitas bank keliling dan regu penukar uang dipersiapkan. Uang pecahan Rp 1 ke bawah juga telah dipersiapkan agar masyarakat dengan mudah memperoleh uang pecahan sesuai kebutuhan (Kompas, 19/1/1966).

Pada periode pemerintahan Soekarno, pecahan uang kecil selalu disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat. Uang senilai Rp 1 hingga di bawah Rp 1 disiapkan karena dibutuhkan masyarakat untuk dibagikan kepada sanak saudara.

Hal yang sama berlanjut pada periode Orde Baru. Sejumlah bank swasta juga diperbolehkan melakukan penukaran uang. Pada tahun 2002, misalnya, Bank Indonesia menyediakan loket khusus untuk penukaran pecahan. Uang senilai Rp 25, Rp 50, dan Rp 5.000 disiapkan. Mobil kas keliling juga disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang receh untuk masyarakat (Kompas, 28/11/2002).

Jual beli uang baru menjamur di sepanjang jalan Kalimalang, Jumat (28/3/2025). Mereka menyasar para pemudik yang melintasi jalur ini.

Selanjutnya, pada Lebaran 2003, jasa penukaran uang ditawarkan oleh sejumlah orang di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, pada 2003. Untuk penukaran uang Rp 1 juta, biaya jasa yang harus dibayarkan adalah Rp 25.000. Jasa yang ditawarkan ini ternyata cukup banyak diminati masyarakat, terutama mereka yang mau mudik ke kampung halaman.

Saat itu, gerai perusahaan penukar uang pecahan kecil (PPUPK) memang telah disediakan pemerintah sebagai lokasi penukaran uang secara resmi. Uang pecahan kertas Rp 5.000 dan Rp 1.000, serta uang koin senilai Rp 500, Rp 100, Rp 50, dan Rp 25 disediakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, gerai ini tidak selalu buka sejak pagi hingga malam hari. Celah inilah yang coba dimanfaatkan oleh penawar jasa penukaran uang.

Guna menjangkau target pasar, penyedia jasa penukaran uang ini bahkan menawarkan jasa hingga ke pinggir jalanan utama. Hal ini salah satunya terlihat di Surabaya, Jawa Timur, jelang momen Lebaran 2005. Saat itu, Jalan Pahlawan menjadi pilihan para penyedia jasa penukaran uang. Sementara di Solo, jasa penukaran uang ramai dijajakan di Jalan Slamet Riyadi.

Meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan penukaran uang diiringi oleh inovasi Bank Indonesia dan sejumlah perbankan untuk memudahkan masyarakat melakukan penukaran uang. Pada 2017, misalnya, Bank Indonesia dan bank lainnya melakukan pelayanan penukaran uang terpadu yang dilakukan di Monumen Perjuangan Rakyat. Saat itu, Bank Indonesia di Jawa Barat menyiapkan Rp 16,64 triliun untuk persiapan Lebaran 2017.

Infografik-Perputaran Uang Selama Lebaran 2021-2025 *** Local Caption *** Infografik-Perputaran Uang Selama Lebaran 2021-2025

 

Berapa keuntungan jasa penukaran uang?

Di Semarang, penjaja jasa penukaran uang memanfaatkan area Stasiun Poncol untuk menawarkan uang pecahan. Untuk memperoleh pecahan ribuan senilai Rp 100.000, penyedia jasa mengambil keuntungan sebesar 5 persen atau Rp 5.000.

Rata-rata penyedia jasa penukaran uang mengambil keuntungan 5-10 persen. Para penyedia jasa mampu menghabiskan uang Rp 4 juta hingga Rp 6 juta setiap hari dari modal jasa yang dibawanya. Untuk penukaran hingga Rp 4 juta, keuntungan bersih yang diperoleh setiap hari mencapai Rp 200.000. (Kompas, 17/9/2009).

Dalam perkembangannya, penyedia jasa bisa mengambil keuntungan antara 10-20 persen. Hal ini salah satunya dilakukan oleh penyedia jasa penukaran uang di Jalan Sikatan, Surabaya jelang momen Lebaran 2013. Naiknya persentase keuntungan yang diraih disebabkan semakin meningkatnya permintaan masyarakat pada uang baru jelang Lebaran.

Proporsi keuntungan serupa juga terlihat dari jasa penukaran uang jelang Lebaran 2025 di sekitar Kawasan Kota Tua, Jakarta. Salah satu penyedia jasa mengaku mengambil untung sekitar 15 persen. Jika ingin menukarkan uang Rp 100.000 ke pecahan Rp 10.000, dipatok harga Rp 115.000. Untuk modal jasa penukaran uang, salah satu penyedia jasa penukaran uang menyiapkan modal minimal Rp 100 juta (Kompas, 23/3/2025). Namun ada pula penyedia jasa penukaran uang yang menyediakan modal lebih, yakni mencapai Rp 30 juta.

Hingga kini, penyedia jasa penukaran uang kian meluas. Bahkan, pada daerah-daerah di luar Jawa, penyedia jasa mulai dapat ditemukan dengan mudah. Padahal, dahulu penyedia jasa ini hanya jamak ditemui di kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Namun, kini penyedia jasa serupa jamak ditemui di kota-kota di luar Jawa.

Apa risiko jasa penukaran uang saat Lebaran?

Pada satu sisi, meningkatnya kebutuhan uang baru jelang Lebaran menjadi berkah bagi penyedia jasa penukaran uang.  Namun, terbukanya peluang sebagai penyedia jasa penukaran uang berbanding lurus dengan besarnya ancaman yang dihadapi oleh penyedia jasa. Ancaman yang dihadapi pun beragam, seperti pencurian, uang palsu, dan pembunuhan.

Ancaman ini salah satunya pernah diterima oleh penyedia jasa penukaran uang pada tahun 2009 di Solo, Jawa Tengah. Terbukanya lokasi yang digunakan oleh penyedia jasa untuk menawarkan jasa penukaran uang turut mengundang niat jahat bagi sekelompok orang. Tak jarang, jambret beraksi dengan menyasar penyedia jasa ini.

Selain itu, ada pula ancaman uang palsu yang ditukarkan kepada para penyedia jasa. Minimnya pengetahuan penyedia jasa yang rata-rata berasal dari latar belakang pekerja informal dimanfaatkan oleh sejumlah pihak dengan cara menukarkan uang palsu.

”Untuk uang palsu, biasanya mereka memanfaatkan situasi ramai. Jika dilihat kami sedang sibuk melayani, mereka akan menukar lalu cepat-cepat pergi sebelum kami sempat mengecek. Untuk itu saya selalu bekerja berdua,” kata Slamet, penyedia jasa penukaran uang tahun 2009 yang telah antre sejak pukul 3 pagi demi memperoleh uang baru di kantor Bank Indonesia.

Ancaman lainnya yang dihadapi adalah pembunuhan. Hal ini dialami oleh penyedia jasa penukaran uang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Lebaran 2009. Beberapa hari jelang Idul Fitri, seorang penyedia jasa tewas dirampok. Perampokan ini terjadi sekitar pukul 19.30. Penyedia jasa penukaran yang membawa uang Rp 30 juta tewas ditembak oleh perampok bersepeda motor setelah mencoba melawan (Kompas, 25/8/2009).

Petugas menghitung uang dengan mesin di Hal Basket, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/3/2025). Menjelang Lebaran 2025, Bank Indonesia menggelar program penukarang uang pecahan baru melalui Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2025. Terdapat 18 loket disediakan untuk membantu warga menukarkan uang. Maksimal penukaran yang diperbolehkan sebesar Rp 4,3 juta dengan pecahan mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 100.000. Ada juga pecahan Rp 75.000 dengan maksimal penukaran 20 lembar atau Rp 1,5 juta. Penukaran uang ini disambut antusias warga yang memudahkan mereka menukarkan uang untuk dibagikan saat Lebaran nanti.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
23-03-2025

Hingga kini, ancaman tersebut masih menjadi hal yang dikhawatirkan oleh penyedia jasa penukaran uang. Namun, kesempatan untuk mendulang keuntungan ini terus dimanfaatkan setiap momen Lebaran oleh sejumlah pihak.

Transaksi penukaran melalui penyedia jasa disadari oleh masyarakat memiliki risiko. Hal ini terekam dalam jajak pendapat Litbang Kompas pada tahun 2009. Sebanyak 66,5 persen responden menilai penukaran uang di luar Bank Indonesia tidak aman, terutama dari kekhawatiran beredarnya uang palsu. Masyarakat pun tetap waspada meski kehadiran jasa penukaran ini tetap dibutuhkan.

Besarnya risiko ini juga disadari dan menjadi perhatian khusus bagi Bank Indonesia. Oleh sebab itu, Bank Indonesia dalam beberapa kali kesempatan mengimbau agar masyarakat tidak menukarkan uang di pinggir jalan.

Ketidaksesuaian jumlah uang dengan nominal yang harus dibayarkan hingga potensi uang palsu menjadi hal yang harus diwaspadai. Imbauan itu juga diikuti dengan kebijakan layanan pendaftaran secara daring untuk penukaran uang yang disediakan oleh Bank Indonesia.

Bagaimanapun, penukaran uang baru adalah tradisi panjang yang melekat jelang momen Idul Fitri. Uang baru menjadi magnet bagi anak-anak untuk memeriahkan hari raya. Memori kegembiraan anak-anak saat menerima uang baru, dilanjutkan si anak saat dewasa dengan memberikan sedekah Lebaran pada generasi selanjutnya.

Di sisi lain, peredaran uang baru yang dibelanjakan juga dapat memberikan kegembiraan bagi dunia usaha kecil, seperti pedagang mainan, penjual bakso, pedagang mi ayam, penjual es krim, dan pedagang baju anak di tengah ekonomi Lebaran yang sedang lesu. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Infografik:

Dimas Tri Adiyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari