”Magnifica Humanitas” Kemanusiaan yang Agung akan membahas etika terhadap teknologi canggih yang memprioritaskan hak pekerja, martabat manusia, dan perdamaian.
19 Mei 2026 19:30 WIB · Internasional
AFP/STEFANO RELLANDINI
VATIKAN, SELASA — Paus Leo XIV segera merilis ensiklik pertama pada 25 Mei 2026. Dalam surat tersebut, paus menyoroti martabat manusia di era akal imitasi atau AI.
Pemikiran Paus Leo XIV Leo XIV tertuang dalam ensiklik berjudul ”Magnifica Humanitas” atau Kemanusiaan yang Agung. Menurut pernyataan Vatikan, Senin (18/5/2026) waktu setempat, ensiklik itu akan membahas etika terhadap teknologi yang memprioritaskan hak pekerja, martabat manusia, dan perdamaian.
Selain itu, ensiklik ini kemungkinan membahas kekhawatiran tentang AI, termasuk gangguan AI terhadap hak pekerja, pemanfaatan AI dalam perang, dan perlindungan manusia di era AI. ”Ensiklik pertama seorang Paus biasanya menguraikan prioritasnya, berfokus pada apa yang beliau anggap sebagai masalah sosial dan moral yang serius bagi dunia modern,” kata John Thavis, mantan koresponden Vatikan dengan pengalaman tiga masa kepausan.
Paus Leo XIV telah menandatangani ensiklik ”Magnifica Humanitas” pada Jumat (15/5/2026), yaitu tepat pada peringatan 135 tahun atas ensiklik Paus Leo XIII yang berjudul ”Rerum Novarum”. Ensiklik ini membahas hak-hak pekerja, kapitalisme, sekaligus kewajiban negara dan pengusaha terhadap pekerja saat Revolusi Industri sedang berlangsung.
Dokumen itu kemudian menjadi dasar pemikiran sosial dari Katolik modern. Paus Leo XIV sudah mengutip ensiklik pendahulunya dengan mengaitkannya terhadap revolusi AI. Sebab, revolusi saat ini menimbulkan pertanyaan eksistensial seperti yang terjadi pada masa lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/24/9ee599bd-bd18-4670-b38c-2d918821bfa4_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/23/2f1fe2ec-730c-494b-8160-5c44c2ad43c8.jpg)
Sejak menjabat sebagai Paus pada 8 Mei 2025, Paus Leo XIV sudah beberapa kali memperingatkan tentang risiko AI. Dalam pidato di Universitas La Sapienza Roma, universitas terbesar di Eropa, pekan lalu, Paus kembali menyerukan pengawasan yang lebih baik terhadap pengembangan dan penggunaan AI di bidang militer serta sipil.
”Hal ini agar tidak membebaskan manusia dari tanggung jawab atas pilihan mereka dan tidak memperburuk tragedi konflik. Apa yang terjadi di Ukraina, Gaza, Palestina, Lebanon, dan Iran menggambarkan evolusi yang tidak manusiawi dari hubungan antara perang dan teknologi baru dalam spiral kehancuran,” ujar Paus Leo XIV.
Menjelang perilisan ensiklik, Paus Leo XIV juga membentuk kelompok studi internal tentang AI, menurut Vatikan, Sabtu (16/5/2026). Keputusan Paus ini adalah respons terhadap percepatan penggunaan AI, potensi dampaknya kepada manusia dan kemanusiaan, serta kepedulian gereja terhadap martabat setiap manusia.
Selama tahun pertama menjabat, Paus Leo XIV telah menyelesaikan dan merilis ensiklik yang dimulai oleh mendiang Paus Fransiskus pada Oktober 2025, yaitu ”Dilexi Te” (Aku Telah Mengasihi Engkau) yang menyerukan reformasi sistem pasar global guna mengatasi peningkatan kesenjangan sosial.
Ensiklik itu adalah lanjutan dari ensiklik Paus Fransiskus, yaitu ”Dilexit Nos” (Dia Mengasihi Kita). Terbit pada Oktober 2024, ensiklik ini mendesak umat Katolik untuk meninggalkan obsesi pada uang serta mengabdikan diri pada iman.
Paus Leo XIV berencana mengambil bagian dalam presentasi Magnifica Humanitas di Vatikan. Dalam presentasi tersebut, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic Chris Olah juga akan bergabung. Agenda ini menunjukkan pergeseran dari tradisi kepausan yang penuh simbolik.
Paus tidak mempresentasikan ensiklik di hadapan publik. Biasanya, para kardinal menyampaikannya di ruang pers Vatikan dengan beberapa pejabat dan tamu undangan terpilih.
Berdasarkan agenda acara, Vatikan akan menghadirkan dua kardinal utama, yakni Kepala Doktrin Kardinal Víctor Manuel Fernández dan Kepala Pengembangan Kardinal Michael Czerny sebagai pembicara utama. Olah akan menjadi salah satu pembicara biasa bersama teolog Anna Rowlands dan Leocadie Lushombo.
Setelah itu, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin akan menyampaikan kesimpulan. Paus Leo XIV dijadwalkan menyampaikan pidato dan memberikan berkat terakhir, menurut Vatikan.
”Itu adalah langkah komunikasi strategis yang sangat cerdas, karena jika para kardinal yang melakukannya, tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Tetapi jika Paus ada di sana, semua kamera akan ada di sana, dan kita semua akan mendengarkan,” tutur Andrea Vreede, koresponden Vatikan untuk jaringan radio dan TV publik Belanda NOS di The Guardian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/24/3f1991e0-1590-4066-85f5-e8cc2a48f499_jpg.jpg)
Partisipasi Olah dalam agenda Vatikan turut menarik perhatian. Olah melakukan penelitian tentang mekanisme yang terlibat dalam jaringan saraf yang menjadi dasar bagi AI.
Kehadiran Anthropic menegaskan perbedaan pandangan Paus Leo XIV dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang AI. Perusahaan ini tengah berselisih dengan Pemerintah AS karena berkeras menentukan batasan pada model AI-nya, Claude, untuk tujuan militer, seperti apakah AI menargetkan senjata secara otonom atau melalui pengawasan manusia.
Pemerintahan Trump akhirnya memerintahkan semua lembaga AS untuk tidak menggunakan model AI dari Anthropic serta menjatuhkan sanksi berat lainnya. Alhasil, Anthropic yang berbasis di California menggugat pemerintah.
Anthropic memosisikan diri sebagai perusahaan AI dengan fokus yang lebih jelas mengenai keamanan teknologi bagi manusia. CEO Anthropic Dario Amodei pernah bekerja di OpenAI sebelum ia dan rekan-rekannya keluar untuk membentuk perusahaan itu pada 2021. Kala itu, Amodei tidak setuju dengan CEO OpenAI Sam Altman tentang keamanan AI.
Pada awal 2026, valuasi Anthropic meningkat menjadi 380 miliar dolar AS. Nilai perusahaan privat ini bersaing dengan perusahaan ternama sejenis, seperti OpenAI dan SpaceX.
Pilihan Paus Leo XIV, paus pertama asal AS, untuk fokus pada AI terjadi ketika persaingan dan pengembangan AI di seluruh dunia semakin sengit. Berbagai pemimpin negara besar menetapkan AI sebagai isu strategi ekonomi dan keamanan nasional.
AS, khususnya, dengan tegas menolak upaya regulasi internasional yang akan mengontrol pengembangan AI. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi arsitektur tata kelola baru untuk mengendalikan AI pada 2025, sedangkan Uni Eropa mengadopsi Undang-Undang Kecerdasan Buatan tahun 2024.
Vatikan sudah lama berupaya untuk terlibat dalam perdebatan tentang AI dengan menawarkan pedoman etika untuk penerapan AI di berbagai sektor, seperti militer, pendidikan, lingkungan, dan perawatan kesehatan. Pada dasarnya, Vatikan menegaskan bahwa teknologi harus menjadi alat untuk melengkapi, bukan menggantikan kecerdasan manusia.
”Ada hampir satu setengah miliar umat Katolik di dunia, jadi itu saja sudah menjadi alasan untuk memperhatikan (pandangan Vatikan). Akan tetapi, di luar angka-angka tersebut, Gereja Katolik memiliki tradisi yang mendalam dan canggih dalam memikirkan apa artinya menjadi manusia,” tutur Thomas Harmon, profesor teologi di Universitas St Thomas, Houston.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/24/3b7a9d1a-9b4a-438f-b40f-0465fc2ddb98.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/24/9ca5c935-751c-438c-9081-548a6f5733e4.jpg)
Sebelum Paus Leo XIV, Vatikan mengajak perusahaan teknologi untuk menandatangani Seruan Roma untuk Etika AI pada 2020. Ikrar tentang AI ini menguraikan prinsip-prinsip inti untuk regulasi AI, termasuk inklusivitas, akuntabilitas, ketidakberpihakan, dan privasi. Microsoft, IBM, dan Cisco termasuk perusahaan swasta yang menandatangani janji tersebut.
Di tahun-tahun terakhirnya, Paus Fransiskus turut menyerukan perjanjian internasional untuk mengatur AI. Menurut dia, risiko teknologi kurang memiliki nilai-nilai kemanusiaa, misalnya belas kasihan, pengampunan, moralitas, dan pengampunan.
Sikap tegas Gereja Katolik terhadap AI juga muncul dalam kepemimpinan Paus Leo XIV. Di internal gereja, ia memperingatkan para imam agar tidak menggunakan AI untuk menulis khotbah.
”Saya pikir Gereja Katolik dalam banyak hal akan menjadi pihak yang dewasa dalam beberapa perdebatan tentang bagaimana kita akan mengintegrasikan AI ke dalam masyarakat. Tentu saja, Paus akan menjadi salah satu pendukung paling kuat untuk martabat manusia dalam diskusi ini,” ujar Meghan Sullivan, profesor filsafat di Universitas Notre Dame.
Ledakan AI dimulai dengan debut ChatGPT buatan OpenAI. Setelah melihat kemampuannya yang menakjubkan, perusahaan teknologi berlomba-lomba mengembangkan teknologi agar menjadi lebih baik terlepas dari peringatan para pakar, termasuk ancaman eksistensial manusia.
(AP/Reuters).
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase