Di Afrika, benua yang dipersepsikan sebagai wilayah tertinggal, penuh konflik, korupsi, dan kemiskinan, Paus tegas menyerukan penghormatan pada martabat manusia.
28 Apr 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana
AP Photo/Misper Apawu
Di tengah sorotan atas kecaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada sikapnya, Paus Leo XIV menuntaskan perjalanan apostoliknya ke Afrika.
Lawatan itu berlangsung selama 11 hari, di empat negara, yaitu Aljazair, Angola, Kamerun, dan Guinea Ekuatorial. Di Aljazair, Paus mengunjungi Masjid Agung Aljazair dan memberikan perhatian khusus pada hubungan antaragama. Di Kamerun, Paus memberikan perhatian pada kehancuran yang dipicu perang dan eksploitasi. Di negeri itu, Paus mengecam ”tiran” dan korupsi.
Saat berada di Angola, Paus Leo mendesak agar para pemimpin memutus ”rantai kepentingan” yang menyebabkan rakyat terimpit kemiskinan. Di negeri yang pernah dibayangi oleh kekelaman era perbudakan dan perdagangan manusia itu, Paus menegaskan lagi tentang kepemimpinan yang jujur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/27/e7044a0d8e9899a1b5cec587621fe6d5-CORRECTION_Equatorial_Guinea_Africa_Pope_137700302.jpg)
Pada pengujung lawatan, saat bertandang ke Guinea Ekuatorial, Paus kembali melontarkan kecaman keras pada ”nafsu akan kekuasaan”. Di negeri itu pula, seperti pendahulunya, Paus Fransiskus, Paus Leo juga mengunjungi penjara dan bertemu dengan sejumlah narapidana.
Meski terkesan ”terserak”, garis merah dari pesan lawatan itu tampak sangat jelas, yaitu pembelaan terhadap martabat manusia dan pentingnya harapan. Tirani, korupsi, perbudakan, perang, dan eksploitasi adalah tindakan-tindakan yang menghancurkan dan mengabaikan martabat manusia. Sementara perjumpaan dengan komunitas-komunitas antaragama dan narapidana adalah wujud dari upaya untuk membangun kemanusiaan dan menumbuhkan harapan di tengah situasi yang dibayangi ketidakadilan.
Di Afrika, benua yang kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang serba tertinggal, penuh konflik, penindasan, eksploitasi, korupsi, dan kemiskinan, Paus dengan konsisten menyerukan penghormatan pada martabat manusia. Dari Afrika, Paus mengajak dunia untuk kembali menghargai nilai-nilai intrinsik manusia yang selama ini diinjak-injak dan dihancurkan oleh korupsi, eksploitasi, penindasan, perbudakan, perdagangan manusia, perang, ketidakadilan, dan kemiskinan.
Tindakan-tindakan itu menciptakan ketimpangan sosial, kesenjangan, perampasan hak-hak dasar manusia hingga pembunuhan. Manusia direndahkan di bawah nafsu dan ego pribadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/14/0fee44db-2fa6-4d85-9c6b-7867a3bb243f.jpg)
Di Afrika Paus mengajak dunia untuk melawan semua itu. Ia menegaskan kembali bahwa karena martabatnya, manusia adalah setara dan kekuasaan semata-mata diarahkan untuk memuliakan manusia dan menyejahterakannya. Mengacu pada deklarasi Dignitas Infinita—di mana dipahami bahwa martabat setiap manusia adalah ”tak terbatas”—Paus menegaskan bahwa pembelaan terhadap derajat manusia merupakan bagian dari aksi-iman, tindakan keseharian, dan bagian dari perutusan serta komitmen pada kemanusiaan dan lestarinya hidup manusia.
Hal itu menegaskan kembali pesan mendiang Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti yang menegaskan, setiap manusia memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap orang harus hidup bermartabat dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya secara penuh. Karena dunia ada untuk semua orang dan setiap manusia dilahirkan dengan martabat yang sama. Meski diserukan lagi saat Leo XIV mengunjungi Afrika, pesan itu sejatinya ditujukan pada dunia.
Penulis:
RedaksiEditor:
Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati