Hasan Nasbi kembali memimpin Kantor Komunikasi Kepresidenan kendati sudah mengundurkan diri di tengah berbagai kontroversi.
06 Mei 2025 19:58 WIB · Politik & Hukum
Guess who’s back, back again?
Shady’s back, tell a friend
Guess who’s back, guess who’s back
Guess who’s back, guess who’s back
Guess who’s back, guess who’s back
Guess who’s back…
Penggalan lirik lagu berjudul ”Without Me” yang dipopulerkan rapper Amerika Serikat, Eminem, itu menjadi keterangan yang menyertai foto Presiden Prabowo Subianto saat tengah bersalaman dengan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi, yang diunggah Tenaga Ahli Utama PCO Dedek Prayudi, Senin (5/5/2025) malam.
Meski tidak disebutkan langsung oleh Dedek, foto itu menampilkan Presiden Prabowo dan Hasan yang berada di ruang sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, beberapa jam sebelumnya. Kehadiran Hasan di momen itu menjadi perhatian publik lantaran dua pekan sebelumnya ia sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Presiden dari jabatannya sebagai Kepala PCO.
Di sidang kabinet paripurna, Hasan hadir dengan mengenakan kemeja putih dan celana hitam, sama dengan Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta para menteri dan pejabat lain yang hadir di sana. Namun, berbeda dengan para pejabat lain, Hasan memasuki dan meninggalkan ruang sidang kabinet melalui jalan yang tidak bisa diakses awak media. Oleh karena itu, Hasan hanya terlihat di dalam ruang sidang kabinet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/fbf143c3e51cb0113c1ec7d29ec9b53d-IMG_20250506_193221.jpg)
Selama sidang kabinet berlangsung, Hasan duduk di kursi yang bertuliskan Kepala PCO. Berjajar dengan para anggota kabinet lain, Hasan menyimak pengarahan Presiden Prabowo yang berlangsung selama lebih dari satu jam. Sekalipun tak menyebut langsung soal posisi Hasan, Presiden sempat menyinggung soal kinerja juru bicaranya.
”Di sana sini ada keseleo, wajar. Ada khilaf, wajar. Ada menteri senior yang sudah lama berpengalaman, ada yang baru menjabat. Saya saja baru menjabat berapa hari (menjadi) presiden salah jalan di Istana Merdeka, benar, cari WC di mana WC, wajar. Jadi, kita sudahlah, ada mungkin juru bicara saya keseleo, ya, namanya juga manusia, dia baru menjabat, ya, enggak? Kalau yang senior salah bicara, ya, salah,” tutur Prabowo.
Sehari setelah mengikuti sidang kabinet paripurna, Hasan mengonfirmasi bahwa dirinya kembali memimpin PCO. ”Saya diperintahkan untuk meneruskan memimpin PCO,” kata Hasan saat dihubungi Kompas, Selasa (6/5/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/46b5c911-7939-4ee0-b360-f307b1cac932_jpg.jpg)
Pada hari yang sama, ia pun mulai kembali bekerja di kantor PCO yang berada di Gedung Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Jakarta. Di gedung yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Istana Kepresidenan itu, Hasan bersedia memberikan keterangan pers mengenai posisinya yang kembali memimpin PCO setelah mengundurkan diri pada 21 April 2025.
”Saya kemarin dapat undangan dari Bapak Seskab (Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya) untuk mengikuti rapat kabinet, dan memang minggu lalu saya ada pertemuan, saya bertemu dengan Presiden. Kemudian, saya ada bertemu dengan Pak Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi), bertemu juga dengan Bapak Seskab. Pada momen itu, saya diperintahkan untuk meneruskan tugas memimpin kantor PCO,” ungkap Hasan.
Ia melanjutkan, saat bertemu dengan Presiden, keduanya berbincang seputar hal-hal umum mengenai negara. Ia diminta untuk memperbaiki kinerja, tetapi tidak secara spesifik. Perintah Presiden agar ia melanjutkan kepemimpinan di PCO disampaikan saat bertemu dengan Prasetyo dan Teddy. Sebagai bukti loyalitas kepada Presiden, ia pun menerima untuk melaksanakan perintah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/6a422e1f-3b53-4d19-bfbe-1f28a1bbec44_jpg.jpg)
Namun, Hasan enggan menjelaskan alasan mengapa pengunduran dirinya justru disambut perintah untuk meneruskan kembali memimpin PCO. Ia hanya menegaskan bahwa keputusan untuk mengundurkan diri sebelumnya dilatarbelakangi oleh masalah yang menurut dia tak bisa diatasi lagi.
”Jadi, kita, kan, memang harus tahu saja batas kita sampai di mana untuk melakukan ini. Tapi, dari Bapak Mensesneg dan Bapak Seskab kemudian menyatakan bahwa hal-hal yang kemarin tidak bisa diatasi, beliau berdua akan bantu mengatasinya,” ujar Hasan.
Kabar pengunduran diri Hasan Nasbi mulai mencuat pada 16 April 2025 seiring dengan berembusnya kabar perombakan kabinet jelang enam bulan pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran berjalan. Saat itu, beredar kabar bahwa pengunduran diri Hasan dipicu persoalan seretnya anggaran untuk institusi PCO.
Sosok Hasan juga menjadi kontroversi setelah menyampaikan komentar yang tidak empatik terhadap teror yang terjadi pada sebuah media massa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/29/6220ad04-82b9-4da0-8e2b-eb718feaad5f_jpg.jpg)
Selain itu, Hasan yang diasosiasikan dengan peran juru bicara Istana juga dikabarkan tidak memiliki akses langsung ke kegiatan Presiden Prabowo. Presiden dikelilingi beberapa kelompok orang-orang terdekatnya, mulai dari Teddy yang lama menjadi ajudan saat Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan.
Kelompok lain adalah para politisi muda Gerindra yang sejak lama dikader oleh Prabowo, yaitu Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Masih ada pula Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR dan Ketua Harian Partai Gerindra, yang kerap menjadi rekan diskusi Presiden di Istana. Tak hanya itu, ada juga kelompok sekretaris pribadi Presiden, yakni Rizky Irmansyah, Agung Surahman, dan Rajiv Sutirto.
Dibandingkan dengan sejumlah kelompok tersebut, Hasan relatif jarang mengikuti kegiatan Presiden. Ia selalu hadir dalam sidang kabinet paripurna, tetapi hanya beberapa rapat terbatas dengan Presiden yang melibatkan Hasan. Hal ini yang lantas dispekulasikan turut memicu masalah komunikasi publik pemerintah yang berujung pada kontroversi di tengah masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/06/82523a7c-72d3-4fe5-9812-c71d3fbd9a78_jpg.jpg)
Di tengah konteks itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, Hasan telah mengajukan pengunduran diri secara informal pada 16 April 2025. Pengajuan informal itu ia sampaikan melalui Prasetyo, Teddy, dan Dasco. Namun, ketiganya meminta Hasan tak mengundurkan diri.
Pada hari yang sama, Teddy pun menepis kabar pengunduran diri Hasan. Kepada wartawan, Teddy mengungkapkan bahwa dirinya baru saja mengikuti rapat bersama dengan Hasan.
Kendati sudah ditepis oleh pihak Istana, 13 hari setelahnya Hasan justru mengumumkan pengunduran dirinya melalui video yang diunggah akun media sosial Total Politik, 29 April 2025. Video tersebut menampilkan rekaman hari terakhir Hasan menjadi Kepala PCO. Dalam unggahan itu, Hasan juga mengaku telah mengembalikan semua fasilitas negara yang ia dapatkan sesuai dengan jabatan yang diduduki.
”Sudah pernah saya sampaikan kepada khalayak dalam beberapa tayangan podcast bahwa kalau ada sesuatu yang sudah tidak bisa lagi saya atasi atau kalau ada persoalan yang sudah di luar kemampuan saya, maka tidak perlu ribut-ribut, tidak perlu heboh-heboh, kita pun harus tahu diri dan kemudian mengambil keputusan untuk menepi. Maka, pada hari ini, 21 April 2025, sepertinya saat itu sudah tiba,” kata Hasan dalam unggahan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/19/73ec3f4f-3bd8-4751-af27-b81e8389e5e8_jpg.jpg)
Bersamaan dengan beredarnya pengakuan pengunduran diri Hasan, Prasetyo pun membenarkan bahwa Presiden Prabowo telah menerima surat pengunduran diri tersebut. Akan tetapi, Presiden belum menandatangani karena masih mempelajarinya. Selain itu, Prasetyo menekankan bahwa Istana belum sampai pada tahap mencari pengganti Hasan.
Sementara pengunduran diri Hasan masih menggantung, Prasetyo menyampaikan bahwa dirinya diminta oleh Presiden untuk menjadi juru bicara. Untuk menjalankan peran itu, ia pun mengusulkan agar Angga Raka Prabowo dan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro membantunya. Untuk berkoordinasi dengan para wartawan, ketiganya mengadakan pertemuan dengan awak media yang sehari-hari bertugas di Istana Kepresidenan pada 21 April lalu.
Setelah pertemuan itu, komunikasi Istana berporos pada Prasetyo. Dalam wawancara dengan Kompas di kantornya, Jumat (25/4/2025), Angga pun menjelaskan bahwa nantinya wajah komunikasi Istana akan direpresentasikan hanya oleh Presiden dan Prasetyo. Kendati demikian, institusi PCO masih akan tetap ada dan tugasnya adalah mengamplifikasi hal-hal yang telah disampaikan oleh Prasetyo.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan mengenai alasan Presiden meminta Hasan untuk kembali memimpin PCO. Kompas telah menanyakan hal itu kepada Prasetyo melalui pesan singkat, tetapi ia tidak menjawabnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/29/2f43a132784e14ecc143229f28b53ee2-WhatsApp_Image_2025_04_29_at_23.13.42_2.jpeg)
Dihubungi terpisah, pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Suko Widodo, melihat, maju mundurnya sikap Hasan dari jabatan Kepala PCO bisa menurunkan kredibilitas komunikasi Istana. Dalam konteks komunikasi, kata dan pernyataan memiliki kuasa yang kebenarannya dibuktikan oleh sikap yang konsisten. Apalagi, itu diucapkan oleh pucuk pimpinan institusi yang menaungi komunikasi presidensial.
”Ketika suatu pernyataan dibatalkan, setidaknya pembatalan itu harus ada penjelasan. Dari penjelasan yang ada, publik bisa menilai apakah itu rasional. Tetapi, tanpa penjelasan, publik akan terus bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi,” tuturnya.
Terlebih, lanjut Suko, polemik pengunduran diri Hasan terjadi di tengah derasnya kritik masyarakat terhadap komunikasi publik pemerintah. Semestinya evaluasi lebih dulu ditempuh sebelum mengundurkan diri. Jika keputusan itu belum matang, pembicaraan mengenai pengunduran diri seharusnya masih dijaga di lingkup internal, tidak diumumkan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, menurut dia, perintah Presiden agar Hasan melanjutkan kepemimpinannya di PCO juga mengindikasikan bahwa evaluasi terhadap permasalahan komunikasi publik pemerintah belum optimal.
Presiden semestinya melihat persoalan tersebut secara komprehensif dan tidak ragu untuk bertindak tegas jika pembantunya dirasa tidak mampu memenuhi tugas yang ia berikan. Sebab, persoalan komunikasi pemerintah adalah hal krusial sehingga pertimbangan profesional semestinya diprioritaskan ketimbang pertimbangan politis.
Untuk memperbaiki persoalan komunikasi publik, Suko mengatakan, hal terpenting yang perlu diperhatikan Presiden dan pemerintah adalah kesediaan untuk mendengar masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi yang dilandasi empati dan dilakukan secara resiprokal, bukan komunikasi satu arah yang hanya memberitahukan informasi dari sisi pemerintah.
”Ini era digital, bukan era propaganda. Jadi, komunikasi pemerintah harus lebih banyak mendengarkan publik, baik secara langsung maupun melalui riset-riset. Selain itu, komunikator pemerintah juga harus responsif, bukan reaktif, dan tidak defensif dalam menghadapi kritik publik,” ucap Suko.
Seperti kata Eminem dalam lagu ”Without Me”, seseorang bernama Shady yang diinginkan banyak orang sudah kembali. Kini, Hasan pun sudah kembali. Namun, apakah kembalinya Hasan mampu menjadi pemantik perbaikan komunikasi Istana?
Penulis:
Kurnia Yunita Rahayu, Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul