Bagi siswa dari keluarga ekonomi bawah, MBG bukan sekadar soal cita rasa atau untuk mengenyangkan. Lebih dari itu, MBG adalah jembatan untuk mereka meraih mimpi.
15 Jan 2025 07:30 WIB · Nusantara
Bukan hanya memenuhi kebutuhan gizi seimbang, program Makan Bergizi Gratis atau MBG punya manfaat besar bagi para siswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Berkat MBG, mereka bisa menabung uang sakunya untuk modal membangun mimpi selepas lulus sekolah.
Dalam waktu kurang lebih 10 menit, siswa kelas 12 Jurusan Desain Komunikasi visual (DKV) SMK Negeri 7 Palembang, Nur Azizah Tasyari (17), sudah menghabiskan semua menu MBG yang disajikan. Wajahnya tampak berseri seusai menyantap menu yang terdiri dari nasi putih, ikan patin saus, tahu goreng, sayur bayam, dan buah pisang tersebut.
”Sama seperti kemarin, rasanya menu MBG hari ini enak. Tapi, saya lebih suka menu kemarin karena lauknya ayam saus. Saya lebih suka ayam dibandingkan ikan. Tapi, semuanya sama-sama enak, kok. Kalaupun ada kekurangan, paling porsi lauknya saja yang kurang banyak,” ujar Nur sambil tertawa bercanda seusai menyantap menu MBG, Selasa (14/1/2025) sekitar pukul 12.30.
Nur sangat bersyukur ada MBG di sekolahnya dalam dua hari terakhir. Pasalnya, MBG membantu meringankan beban orangtuanya yang tidak perlu lagi menyediakan bekal untuk makan siang. ”Ayah saya kerja sebagai buruh bangunan yang dibayar harian, sedangkan ibu saya tidak kerja. Dengan ada MBG, orangtua saya bisa menghemat uang untuk menyiapkan bekal saya,” katanya.
Selain itu, yang paling menyenangkan hati Nur adalah MBG membuatnya bisa menabung uang jajan sebesar Rp 10.000 per hari. Karena merasa menu MBG yang cukup mengenyangkan, Nur tidak lagi tergoda untuk jajan di kantin sekolah. Hal itu pun menambah motivasinya untuk menyiapkan modal membuka usaha sablon baju atau usaha fotokopi selepas lulus sekolah.
Selama ini, bagi Nur, keinginan untuk membuka usaha sablon baju atau fotokopi hanya sebatas angan-angan karena tidak tahu mencari modalnya ke mana. Namun, dengan bisa menabung uang jajan tersebut, tabir yang menaungi mimpi Nur berlahan sinar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/7b6a0c1f-e292-4ef1-8a8c-254824811f59_jpg.jpg)
Paling tidak, Nur bisa menabung Rp 50.000 per minggu karena jadwal sekolahnya hanya lima hari per pekan. Dengan sisa waktu sekolah masih kurang lebih lima bulan sebelum kelulusan pada pertengahan tahun ini, Nur kemungkinan bisa menabung hingga Rp 5 juta yang dirasa bisa untuk merintis usaha yang diidamkannya tersebut.
”Kami, kan, sudah kelas 12, sudah mau lulus sekolah. Sehabis lulus, saya inginnya membuka usaha sendiri, seperti usaha sablon baju atau fotokopi yang memang sesuai dengan jurusan sekolah saya. Tadinya, saya berpikir bagaimana caranya cari modal usaha. Tapi, dengan ada kesempatan menabung uang jajan, saya yakin bisa mengumpulkan modal untuk membuka usaha setidaknya dari kecil-kecilan dulu,” tutur Nur penuh percaya diri.
Berkah dari keberadaan MBG pun membuka jalan siswa kelas 12 Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Negeri 7 Palembang, Ahmad Mujahidin (17), yang ingin meringankan beban orangtuanya.
Tak ubahnya Nur, ekonomi orangtua Mujahidin cenderung pas-pasan. Ayahnya berprofesi sebagai buruh tani di kebun sawit di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, sedangkan ibunya jualan pecel lele di rumah di kawasan Kilometer 14, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin.
Dengan ekonomi pas-pasan, Mujahidin jarang disiapkan bekal makanan. Dia lebih sering diberi uang jajan berkisar Rp 10.000-Rp 15.000 per hari. Uang jajan itu tidak sepenuhnya untuk makan, melainkan digunakan pula untuk biaya transportasi membeli bahan bakar minyak (BBM) sepeda motor. Biaya BBM itu cukup besar karena jarak antara sekolah dan rumahnya cukup berjauhan, sekitar 7 kilometer.
Dengan ada MBG, Mujahidin bisa menghemat biaya membeli jajan setiap jam istirahat di siang hari. Jatah jajan yang berkisar Rp 5.000 per hari itu bisa ditabung untuk beragam kebutuhan, termasuk untuk membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sekolah. ”Paling tidak, kalau kurang uang BBM dan SPP sekolah, saya bisa bantu orangtua dengan uang tabungan dari menghemat jajan,” ujar Mujahidin.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMK Negeri 7 Palembang Lukman mengatakan, sekolah mereka adalah sekolah tingkat SMA pertama yang menerima MBG di Palembang yang dimulai sejak Senin (13/1/2025). Sejauh ini, MBG disambut penuh antusias oleh para siswa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/108fdde4-ad21-4e1d-8b7a-210adb9c6190_jpg.jpg)
Para siswa sangat menikmati menu yang disajikan. Pada hari pertama, menunya terdiri dari nasi putih, ayam saus, bihun, sayur capcay, dan buah semangka. Sebaliknya, pada hari kedua, menunya terdiri dari nasi putih, ikan patin saus, tahu goreng, sayur bayam, dan buah pisang.
”Dari melihat ekspresi dan bertanya langsung, para siswa senang dengan menu MBG yang disajikan. Porsinya memang tidak terlalu banyak, tetapi rasanya dianggap enak. Lagi pula, sebagaimana keterangan SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi), MBG tidak untuk mengenyangkan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang,” kata Lukman.
Selain cita rasanya yang dianggap enak, Lukman menyampaikan, para siswa mengaku MBG sangat membantu mereka berhemat. Apalagi, dari total 1.114 siswa di SMK Negeri 7, sebagian besar siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan, tak sedikit siswa yang tidak dibawakan bekal makanan ataupun diberi uang jajan.
Dengan adanya MBG, itu sangat membantu siswa agar tidak kelaparan selama sekolah, terutama untuk yang tidak membawa bekal ataupun diberi uang jajan.
Belum lagi, mayoritas siswa berasal dari daerah perbatasan antara Palembang dan Banyuasin sehingga uang sakunya hanya cukup untuk ongkos transportasi pulang-pergi sekolah. ”Dengan adanya MBG, itu sangat membantu siswa agar tidak kelaparan selama sekolah, terutama untuk yang tidak membawa bekal ataupun diberi uang jajan,” ucap Lukman.
Adapun program MBG di Sumsel dimulai di lima sekolah di Palembang pada Senin (6/1/2025), yakni di TK Panca Bakti, SD Negeri 24, SD Negeri 25, SMP Negeri 19, dan SMP Negeri 33. Seminggu kemudian, program MBG di Palembang diperluas ke empat sekolah lain, meliputi TK Kasih Bunda, SD Negeri 129, SMP Negeri 40, dan SMK Negeri 7.
Sebelumnya, Wakil Kepala SMP Negeri 19 Palembang Mety Susiani menuturkan, program MBG sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi bagi semua siswa. Pasalnya, dari total 1.098 siswa di SMP Negeri 19, sebagian besar berasal dari keluarga menengah bawah. Sejauh ini, siswa dari kelas ekonomi bawah tidak pernah dibekali makanan dari rumah ataupun uang jajan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/90aee60b-f0fd-4849-a999-98e913e1b9c1_jpg.jpg)
”Siswa dari panti asuhan yang rata-rata ada dua orang di setiap kelas, misalnya, sehari-hari mereka tidak mampu membawa bekal dan jajan. Jadi, dengan adanya program MBG, itu akan membantu memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi untuk semua siswa di sini,” ujar Mety.
Untuk siswa dari keluarga menengah ke bawah, MBG bukan sekadar soal cita rasa ataupun mengenyangkan. Lebih dari itu, MBG adalah jembatan untuk mewujudkan mimpi melalui setiap materi yang terkumpul dari uang saku yang bisa dihemat.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum