Pada dasarnya, memberikan makan bergizi gratis untuk anak sekolah didukung selama pemerintah tidak ”ngoyo” menerapkan satu model untuk semua.
23 Feb 2025 07:16 WIB · Humaniora
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang jadi janji kampanye Presiden Prabowo Subianto sudah direalisaikan. Namun, di tengah protes masyarakat atas efisiensi anggaran, program MBG yang punya tujuan baik ini juga ikut terseret-seret.
Ketika protes kepada pemerintahan yang baru sekitar empat bulan berjalan terjadi di sejumlah daerah dengan mengusung tagar #IndonesiaGelap, masyarakat juga menuntut evaluasi total progam MBG. Evaluasi dibutuhkan agar tepat sasaran, terlaksana dengan baik, dan tidak menjadi alat politik semata.
Meningkatkan asupan makanan anak-anak di sekolah akan membantu mengurangi risiko obesitas pada anak.
Program MBG dinilai menjadi salah satu penyebab efisiensi anggaran pemerintah. Sebagian anak-anak Papua, misalnya, merasa lebih membutuhkan pendidikan gratis dibandingkan makan gratis. Di media sosial pun ada yang mengomentari hal senada, ”Lebih penting makan gratis, ya? Dibandingkan pendidikan?”
Namun, ada juga yang mendukung. ”Pak Prabowo orang cerdas, militan, bukan abal-abal sembarang bikin program. MBG itu sudah hasil penelitian dari banyak negara,” ujar seorang warganet di platform Instagram.
Program MBG menyajikan menu bergizi seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) untuk setiap klasifikasi umur penerima. Tahun 2025, pemerintah menargetkan total ada 19,47 juta penerima manfaat program MBG dengan alokasi anggaran sekitar Rp 71 triliun bersumber dari APBN.
Pada tahun-tahun berikutnya, anggaran program MBG akan terus ditingkatkan. Tahun 2026 direncanakan penerima manfaatnya bertambah menjadi 30,46 juta orang dengan alokasi anggaran Rp 109,7 triliun. Setahun berikutnya, pada 2027, naik lagi menjadi 41,45 juta penerima dengan anggaran Rp 149,2 triliun.
Pada tahun 2028, penerima manfaat MBG ditambah lagi menjadi 62,17 juta orang dengan alokasi dana Rp 223,8 triliun. Pada masa jabatan akhir Presiden Prabowo, pada tahun 2029, diharapkan penerima manfaat MBG sebanyak 82,9 juta orang sudah terlayani dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp 298,4 triliun.
Tujuan MBG untuk meningkatkan kesehatan anak-anak Indonesia memang didukung oleh penelitian bahwa anak-anak dapat belajar lebih baik dengan perut kenyang. Salah satu dukungan datang dari IPB University yang mendirikan Pusat Unggulan MBG.
Rektor IPB University Arif Satria mengatakan, Pusat Unggulan MBG akan menjadi pusat penelitian untuk mengkaji, memberikan rekomendasi, dan menciptakan model-model pengembangan program MBG. Lembaga ini juga akan menjadi pusat pembelajaran dan pelatihan, pusat penelitian dan inovasi, pusat manajemen pengetahuan dari data di lapangan, dan katalisator pengembangan kebijakan.
Mengacu penerapan kebijakan School Food Policy tahun 2024 di Kanada, pemerintah setempat ingin memastikan bahwa setiap anak mendapatkan awal kehidupan yang terbaik. Ini sejalan dengan pendapat responden yang disurvei, yang percaya bahwa program makanan sekolah berpotensi meningkatkan kesehatan dan asupan gizi anak-anak dalam jangka panjang dengan mengurangi jumlah anak yang belajar dengan perut kosong; membantu anak-anak mengembangkan praktik hidup sehat melalui literasi dan pendidikan pangan; serta memperbaiki pola makan melalui peningkatan asupan makanan sehat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/03/398aa0a8-b858-4667-868f-8c108fd31d14_jpg.jpg)
Lewat tulisan di jurnal Canadian Food Studies edisi tahun 2024, Amberley T Ruetzis, postdoctoral fellow di Departmen Kesehatan Masyarakat dan Epidemiologi di University of Saskatchewan dan Janet E Poppendieckis, Profesor Emeritus Sosiologi di Hunter College, City University of New York, memaparkan, geografi, wilayah pertanian, dan tradisi Kanada yang beragam berarti bahwa ketersediaan pangan, preferensi dan dukungan pendanaan berbeda-beda di seluruh negeri. Pendekatan yang bersifat universal mungkin tidak akan cocok untuk semua wilayah dan komunitas.
Anak-anak penerima program makan gratis di Kanada akan terlayani dengan baik jika program tersebut menawarkan makanan sekolah gratis secara universal; mengatur makanan lain yang dijual di sekolah atau melarangnya sama sekali; mengintegrasikan makanan sekolah dengan pendidikan dalam kurikulumnya.
”Dengan memasukkan pelajaran-pelajaran penting ini ke dalam Program Makan Sekolah Nasional, Kanada dapat menciptakan inisiatif yang komprehensif dan inklusif untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa, menumbuhkan lingkungan sekolah yang positif, mendukung komunitas lokal, dan mendorong kebiasaan sehat untuk generasi mendatang,” tutur Ruetzis.
Berdasarkan riset oleh para peneliti di Universitas Leeds, Inggris, pada 2020, bekal makan siang anak-anak sekolah bermasalah dalam hal kecukupan gizi. Tidak sampai dua dari setiap 100 bekal makan siang yang dimakan anak-anak di sekolah dasar Inggris memenuhi standar gizi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/29/639b241f-9474-4685-8e5e-b45d8e390ec7_jpg.jpg)
Charlotte Evans, pakar diet dan kesehatan serta Associate Professor di Sekolah Ilmu Pangan dan Gizi di Leeds, menggarisbawahi peran orangtua, pengasuh, pemerintah, dan industri makanan dalam memastikan anak-anak makan lebih sehat.
”Mengatasi masalah itu selama sepuluh tahun ke depan akan memerlukan upaya bersama. Meningkatkan asupan makanan anak-anak di sekolah akan membantu mengurangi risiko obesitas pada anak,” katanya.
Anak-anak perlu didukung untuk mengonsumsi buah, sayur, dan air. Salah satunya, menyediakan sayuran salad gratis (sayur dan buah) di sekolah dasar bagi anak-anak yang membawa bekal makan siang.
”Keterbatasan waktu berperan dalam keputusan orangtua dan pengasuh saat memasukkan bekal makan siang anak-anak mereka. Industri makanan harus mengembangkan lebih banyak pilihan sehat yang ramah terhadap bekal makan siang anak,” kata Evans.
Dukungan untuk terus mengevaluasi implementasi MBG yang baru diimplementasikan memang dibutuhkan. Ada penekanan supaya pemerintah tidak menerapkan one size fits for all atau satu model untuk semua dalam pelaksanaannya.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Adhitya Ramadhan