Makan Bersama Menyehatkan Jiwa

Semakin sering seseorang makan bersama dengan orang lain, semakin besar kemungkinan mereka akan merasa bahagia dan puas dengan kehidupan mereka.

28 Nov 2024 16:31 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Suka makan bersama dengan keluarga, saudara, teman dekat, atau teman kantor? Lakukan saja terus karena kebiasaan makan bersama-sama dengan orang lain ternyata dapat menyehatkan jiwa.

Penelitian Universitas Oxford tahun 2017 menyimpulkan, semakin sering orang makan bersama orang lain, semakin besar kemungkinan mereka merasa bahagia dan puas dengan hidup mereka. Makan bersama memperkuat ikatan sosial dan perasaan sejahtera.

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan kebiasaan berkumpul dan menikmati makanan bersama ini dimulai. Yang jelas, sejak zaman nenek moyang kita atau manusia purba, makan sudah menjadi tindakan sosial. Manusia purba berkumpul dan berburu bersama, lalu memasak dan menikmati hasil buruan bersama.

Menurut BBC, Rabu (27/11/2024), makan bersama pertama kalinya dulu mungkin karena manusia purba sering kumpul di sekitar api unggun. Tidak ada juga yang bisa memastikan kapan manusia atau nenek moyang manusia pertama kali belajar memasak. Tetapi, ada yang menduga hal itu terjadi sejak 1,8 juta tahun silam.

Gagasan commensality atau kebersamaan ”berkumpul di satu meja” ini, menurut sosiolog di Universitas Uppsala, Swedia, Nicklas Neuman, terlihat dari kebiasaan manusia purba yang berburu atau mengumpulkan makanan, menyalakan api, dan kemudian memasak di atas api.

Itu menyiratkan manusia purba tidak melakukannya sendirian. Ada teman atau kelompok sosial yang membantu mereka dalam tahapan-tahapan proses tersebut.

Presiden AS Joe Biden (kedua dari kiri) mengambilkan makanan untuk anggota dan keluarga Sektor Penjaga Pantai New York pada acara makan malam ”Friendsgiving” menjelang liburan Thanksgiving di Staten Island, New York, 25 November 2024.

Menurut temuan antropolog biologi dan Guru Besar Psikologi Eksperimen di Universitas Oxford Robin Dunbar dalam studi tahun 2017, kebiasaan makan bersama kemungkinan berawal dari manusia purba yang berkumpul di sekitar api unggun yang hangat dan terang di tengah kegelapan.

Apa pun asal-usulnya, makan bersama dikaitkan dengan kesejahteraan yang lebih tinggi. Makan bersama orang lain lebih sering dikaitkan dengan kepuasan hidup yang lebih besar dan memiliki lebih banyak teman untuk diandalkan sebagai sumber dukungan.

Efek sosial

Dunbar melakukan analisis statistik yang menunjukkan bahwa makan bersama menyebabkan efek sosial. ”Makan memicu sistem endorfin otak yang merupakan dasar farmakologis utama dalam hubungan yang erat pada primata dan manusia,” katanya.

”Makan bersama sebagai sebuah kelompok meningkatkan efek endorfin dengan cara yang sama seperti joging bersama. Ini karena aktivitas yang tersinkronisasi meningkatkan produksi endorfin hingga dua kali lipat,” lanjut Dunbar.

Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya menunjukkan, memiliki jaringan sosial itu penting untuk melawan penyakit mental dan fisik. Makan bersama bisa menjadi sarana untuk membangun dan memperkuat jaringan sosial itu.

Warga makan bersama saat mengikuti tradisi Sadran di Desa Kembangsari, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (3/3/2023). Penduduk desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani kopi itu menggelar tradisi Sadran setiap setahun sekali pada bulan Ruwah sebagai simbol wujud syukur kepada Sang Pencipta. Tradisi Sadran juga menjadi sarana mempererat persaudaraan serta menghormati bagi warga di desa yang dihuni sekitar 1.700 keluarga tersebut.

Di masa-masa yang sedang sulit, ketika kohesi komunitas semakin penting, meluangkan waktu untuk makan bersama dan bergabung dalam acara makan bersama mungkin merupakan satu hal terpenting yang dapat dilakukan. Semua demi kesehatan dan kesejahteraan masing-masing diri ataupun masyarakat luas.

Dalam studi Grup Ajinomoto dan Gallup di 142 negara pada tahun 2022, secara global, orang yang rutin makan malam dengan orang yang mereka kenal (minimal empat kali dalam seminggu) merasa lebih senang, dihormati dan cukup istirahat, banyak tertawa atau tersenyum, dan belajar atau melakukan sesuatu yang menarik setiap hari.

Quote

Berbagi makanan dengan orang lain juga menjadi cara yang bagus untuk mengurangi stres, meningkatkan harga diri, dan mempererat hubungan sosial.

Menikmati santap makanan yang sama pada waktu yang sama dengan orang lain juga membuat mereka tampak lebih dapat dipercaya. Ayelet Fishbach dari Sekolah Bisnis Booth Universitas Chicago menemukan bahwa dalam simulasi investasi, orang memberi lebih banyak uang kepada seseorang yang sebelumnya pernah makan permen yang sama dengan mereka.

Orang yang makan camilan yang sama juga lebih cepat menyepakati negosiasi dibandingkan dengan mereka yang tidak. Mungkin memiliki selera makanan yang sama menjadi penguat rasa kebersamaan.

”Berbagi makanan dengan orang lain juga menjadi cara yang bagus untuk mengurangi stres, meningkatkan harga diri, dan mempererat hubungan sosial, terutama untuk anak-anak. Itu kenapa makan bersama keluarga juga penting,” kata Direktur Asosiasi Kardiologi Preventif di Johns Hopkins Erin Michos.

Pekerja berkumpul saat jam pulang kantor di warung makan yang ada di sebuah gedung parkir di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaraan. Pengeluaran terbesar kelas menengah Indonesia untuk membeli kendaraan bermotor. Selain itu cicilan perumahan. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Bukan hanya dengan keluarga, makan bersama teman kantor atau teman satu tim juga penting. Dalam bukunya, The Social Brain: The Psychology of Successful Groups Hardcover (2023), Dunbar menguraikan bagaimana makanan secara historis memainkan peran penting dalam proses ikatan sosial ini.

Sementara makanan di tempat kerja, misalnya, biasanya dilakukan dengan menyantap makanan yang bisa dikonsumsi secepat mungkin di meja kerja. Makanan, secara tradisional, menjadi sarana untuk menyambut orang asing ke dalam suatu komunitas. Makanan bisa mencairkan suasana.

Risiko tinggi makan sendiri

Dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Korea Selatan pada 2013-2014, dengan melibatkan 7.725 orang dewasa (19 tahun ke atas), ditemukan bahwa laki-laki yang makan sendiri setidaknya dua kali sehari lebih rentan mengalami sindrom metabolik, tiga faktor risiko untuk pradiabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi dibandingkan dengan orang yang selalu makan bersama orang lain.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Obesity Research & Clinical Practice pada 2018 itu meneliti kaitan antara kesepian dan kesehatan buruk. Asisten profesor di Departemen Psikologi di The State University of New Jersey, Camden, Andrew Abeyta, menilai temuan itu masuk akal karena kesepian selalu menjadi faktor risiko penyakit kronis dan kematian dini.

Warga menggunakan perangkat elektroniknya dan menyantap makanan di sebuah area publik pada saat jam makan siang di Toranomon Hills Station Tower, pusat kota Tokyo, Jepang, 18 November 2024.

Setiap orang mendapatkan dukungan emosional dan bisa mengelola stres jika memiliki hubungan dengan orang lain. Orang yang kesepian tidak memiliki sistem dukungan sosial yang kuat. Akibatnya, mereka menjadi lebih rentan terhadap tekanan fisik akibat stres dan kecemasan.

”Mereka berisiko lebih tinggi terkena penyakit atau kondisi yang berhubungan dengan stres, seperti penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi,” ujar Abeyta.

Kurang atau tidak adanya dukungan sosial juga dapat mempersulit orang yang merasa kurang termotivasi untuk menetapkan dan mengejar tujuan. Salah satunya seperti mengonsumsi makanan sehat.

”Kurangnya motivasi dapat menyebabkan seseorang memilih makanan yang buruk dan hanya puas dengan makanan yang paling mudah didapat, dikonsumsi, dan menenangkan,” kata Abeyta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi