Makan Siang di Sekolah Dapat Atasi Perilaku Remaja Si Pemilih Makanan

Melibatkan remaja memilih menu makan siangnya sendiri di sekolah dapat menghilangkan perilaku pilih-pilih makanan.

02 Jun 2025 12:00 WIB · Dikbud

Oleh Ester Lince Napitupulu

Perilaku pilih-pilih makanan pada anak dapat terbawa hingga remaja meski seiring usia hal itu kian berkurang. Di samping pengaruh norma keluarga yang kuat, program makan siang di sekolah dapat mendorong remaja memilih makanan yang lebih bervariasi dan tidak itu-itu saja. Hal ini bisa dilakukan dengan, salah satunya, mengadakan makan siang di sekolah yang dipilih sendiri oleh siswa, bukan paket makan siang yang sudah dipilihkan.

Tim peneliti dari Universitas Bristol, Inggris, dalam publikasi di jurnal Human Nutrition and Dietetics yang diakses pada Senin (2/6/2026) mengatakan, anak yang pada usia tiga tahun mulai pilih-pilih makanan cenderung tetap akan menjadi pemilih makanan di usia 13 tahun. Namun, makan siang di sekolah dengan memberikan otonomi pada anak memilih sendiri menunya dapat membantu mereka untuk mencoba lebih banyak jenis makanan dan menjadi lebih sehat secara keseluruhan.

Perilaku yang menjadi ciri pemilih makanan misalnya menghindari daging, ikan, dan buah. Perilaku ini kurang terlihat pada siswa yang makan siang di sekolah dan memilih sendiri makanannya dibandingkan dengan membawa bekal makan yang sudah ditentukan.

”Penelitian kami untuk menilai pilihan makanan anak-anak berusia 13 tahun di sekolah yang merupakan pemilih makanan prasekolah dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah menjadi pemilih makanan,” kata Caroline Taylor, pemimpin penelitian dan associate professor bidang nutrisi di Universitas Bristol.

Perilaku pilih-pilih makanan pada anak dapat menjadi penyebab utama frustrasi, stres, dan kecemasan bagi pengasuh. Sering kali hal ini menyebabkan konflik, pola asuh otoriter, dan menekan anak untuk makan. Strategi semacam itu dapat menyebabkan stres lebih lanjut bagi anak dan pengasuhnya.

Sebaliknya, strategi nondirektif, seperti makanan keluarga yang inklusif, pola asuh yang responsif, dan keterlibatan anak dalam persiapan makanan, justru terbukti meningkatkan variasi makanan. Hal ini dapat berkontribusi untuk menghindari perilaku pilih-pilih makan jangka panjang.

Memilih sendiri

Menurut Taylor, setiap anak berbeda, apa yang cocok untuk sebagian orang mungkin tidak cocok untuk yang lain. ”Ada banyak hal lain yang dapat dilakukan orangtua untuk mendorong pola makan yang sehat, baik itu menikmati makan malam bersama keluarga, mencontohkan pola makan seimbang sendiri, atau melibatkan anak dalam persiapan makanan, semuanya dapat membantu perilaku pemilih makanan,” papar Taylor.

Kebanyakan anak yang selektif soal makanan biasanya makan dengan cukup, tetapi terkadang kurang seimbang. ”Penting mendorong semua anak untuk makan cukup buah dan sayuran yang kaya nutrisi untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang, baik di rumah maupun di sekolah,” ujar Taylor.

A Kemp, peneliti di Pusat Akademi Kesehatan Anak di Bristol Medical School, Universitas Bristol, menyampaikan, para peneliti mempelajari dampak makan siang pada anak yang selektif memilih makanan.

Riset ini dilakukan dengan mengamati sedikitnya 5.300 anak dalam studi longitudinal Children of the 90s. Mereka menganalisis data usia prasekolah dan saat mereka berusia 13 tahun untuk memahami bagaimana perilaku pilih-pilih makanan berubah seiring waktu.

Quote

Perilaku pilih-pilih makanan pada anak dapat menjadi penyebab utama frustrasi, stres, dan kecemasan.

Dalam penelitian tersebut, anak-anak yang pemilih cenderung tidak mengonsumsi isian roti lapis daging atau ikan dibandingkan teman sebayanya yang tidak pemilih. Remaja pemilih makanan cenderung mengonsumsi isian seperti selai buah, selai kacang, atau keju. Mereka juga cenderung tidak mengonsumsi buah atau salad dalam bekal makan siang.

Namun, ketika anak-anak pemilih makanan menyantap bekal makan siang di sekolah yang dipilih sendiri, mereka tidak menghindari daging, ikan, atau buah. Mereka mengonsumsi lebih banyak jenis makanan dan membuat pilihan yang lebih mirip dengan teman sebayanya.

”Penelitian menunjukkan, ketika anak-anak yang saat masih prasekolah pemilih makanan dapat memilih makanan siang mereka sendiri di sekolah, mereka tidak terlalu pilih-pilih dibandingkan dengan anak-anak yang diberi bekal makan siang,” kata Kemp.

Anak-anak pemilih makanan mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayur daripada anak-anak lainnya. Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa hampir semua anak tidak mengonsumsi cukup sayur. Padahal, sayur sangat penting bagi anak-anak untuk mendapatkan serat, vitamin, dan mineral yang mereka butuhkan untuk tumbuh kembang.

Makan bergizi gratis

Di Indonesia, program makan siang di sekolah dilaksanakan pemerintah lewat program Makan bergizi Gratis (MBG) dengan menyediakan paket makanan. Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengatakan, program MBG bermanfaat membantu pemenuhan gizi anak-anak sekolah. Banyak anak yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar sehingga memengaruhi konsentrasi dan prestasi belajar.

”Program MBG hadir untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup sehingga mereka dapat belajar dengan lebih fokus dan optimal,” ujar Fajar.

Infografik-Beberapa Kasus Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) *** Local Caption *** Infografik-Beberapa Kasus Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Selain memberikan manfaat kesehatan, kata Fajar, program MBG juga berperan dalam menanamkan disiplin, kebersihan, dan kebiasaan makan yang sehat kepada siswa. Dengan makan teratur dan gizinya diawasi, anak-anak tidak hanya mendapatkan nutrisi yang lebih baik, tetapi juga belajar tentang pentingnya pola makan sehat.

Secara terpisah, ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, mengatakan, pembuatan menu MBG idealnya dilakukan di lokasi yang dekat dengan sekolah. Selain itu, perlu juga memahami kondisi pangan lokal sehingga tidak melulu menjadikan nasi sebagai sumber karbohidrat.

Di beberapa daerah seperti Papua, sumber karbohidrat dapat berupa sagu, papeda, dan jagung. Kemudian, protein, vitamin, dan mineral dapat diganti dengan ikan, telur, dan daging atau sumber nabati lain sesuai wilayah masing-masing.

Toto mengingatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan bersama Badan Gizi Nasional untuk memantau pelaksanaan MBG guna memastikan kebutuhan gizi dan keamanan bahan pangan dapat terjaga sampai dikonsumsi.

Guna membantu para siswa mengonsumsi paket MBG dengan baik, Toto mengatakan, penyajian MBG dapat diperbaiki. Makanan harus disesuaikan dengan kesukaan anak-anak sehingga dapat meminimalkan bahkan meniadakan makanan yang terbuang.

”Makanannya tidak apa-apa dengan porsi yang kecil, tetapi bisa dibuat menarik sehingga anak-anak suka dan mereka mau makan,” ujarnya.

Dengan demikian, pelaksanaan MBG tidak boleh sembarangan. Sebab, pelaksanaannya berdampak secara langsung kepada anak-anak yang merupakan generasi emas penerus bangsa.

”Pemerintah agar lebih dahulu memperhatikan aspek kualitas makanan daripada jumlah yang disediakan. Saat kita memberikan makanan kepada anak-anak, jangan sampai yang dipikirkan pemerintah adalah masalah keuntungan atau profit,” kata Toto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti