Tidak hanya jumlah, pemberian makanan bergizi pada anak juga harus memperhatikan kualitasnya. Pastikan makanan yang diberikan untuk anak mengandung gizi seimbang.
01 Jan 2025 18:22 WIB · Humaniora
Nutrisi amat penting untuk dukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Nutrisi tidak hanya punya manfaat bagi kesehatan tubuh anak, tetapi juga mendukung optimalisasi perkembangan otak dan kecerdasan anak.
Pada usia anak 1.000 hari pertama kehidupan menjadi masa paling krusial dalam pemenuhan nutrisi. Selama masa itu, sejak di dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun, merupakan periode emas tumbuh kembang anak. Sekitar 80 persen perkembangan otak seseorang terjadi pada 2 tahun awal kehidupan.
Selain itu, pemenuhan nutrisi yang optimal selama usia tersebut akan meningkatkan peluang anak lebih sehat, produktif, dan menurunkan risiko penyakit di kemudian hari. Sebaliknya, jika pemenuhan nutrisi tidak optimal, berbagai risiko bisa terjadi. Risiko itu bisa menetap, bahkan tidak bisa diperbaiki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/02/09/c87563c9-2357-4621-ab35-e12d58a200f2.jpg)
Namun, apakah itu berarti pemenuhan nutrisi di usia setelahnya tidak penting? Nutrisi yang berkualitas tentu dibutuhkan di setiap usia sampai usia lanjut, termasuk pada usia sekolah.
Pemberian makan bergizi pada anak sekolah demi memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tetap diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pada usia sekolah, anak mengalami berbagai perubahan, mulai dari perubahan fisik hingga hormonal. Perubahan tersebut juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/60612599-f673-4723-8043-9fd10d1145cf_png.png)
Dokter spesialis gizi klinik dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Nurul Ratna Mutu Manikam mengatakan, anak usia sekolah secara fisik akan mengalami perubahan dengan bertambah tinggi dan bertambah besar.
Anak pun akan mengalami masa pubertas dengan perubahan hormonal yang juga turut berperan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. ”Pubertas juga menyebabkan perubahan perilaku, emosi, dan cara berpikir anak,” ujarnya dalam pernyataan tertulis pada pertengahan Desember 2024, di Jakarta.
Jika anak mengalami kekurangan gizi, ia akan berisiko mengalami keterlambatan pubertas. Pemberian nutrisi secara optimal di masa ini berguna untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kecerdasannya.
Nurul menambahkan, pemberian nutrisi yang baik di masa usia sekolah juga diperlukan untuk mengejar ketertinggalan perkembangan di usia sebelumnya. Nutrisi pada usia ini dibutuhkan pula untuk memperbaiki masalah kekurangan ataupun kelebihan gizi yang dialami.
Jika anak mengalami kekurangan gizi, ia akan berisiko mengalami keterlambatan pubertas. Pemberian nutrisi secara optimal di masa ini berguna untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta kecerdasannya.
Makanan bergizi yang diberikan kepada anak usia sekolah dapat mengurangi dampak negatif dari kondisi kelebihan dan kekurangan gizi di masa mendatang. Oleh karena itu, pemberian nutrisi di usia sekolah menjadi kesempatan terakhir untuk mengejar pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
Nurul menuturkan, otak seorang anak masih akan berkembangan di usia sekolah meski kecepatan perkembangannya lebih lambat di dua tahun pertama kehidupan. Ukuran otak pada laki-laki akan mencapai perkembangan maksimal di usia sekitar 14,5 tahun, sementara perempuan di usia 11,5 tahun.
”Pada usia ini masih ada penyempurnaan sel-sel otak terutama untuk mengoptimalkan pensinyalan sel otak agar mencapai fungsi yang optimal,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/21/0bf4d570-9ab7-46fd-a180-45c3170120ec_jpg.jpg)
Di beberapa bagian otak, perkembangan yang terjadi justru paling pesat di usia sekolah, terutama bagian otak yang menjadi pusat bahasa, pusat berpikir matematis, dan pengaturan perilaku termasuk perilaku sosial.
Adapun perkembangan otak lainnya di usia sekolah, yakni terkait fungsi otak untuk berpikir abstrak, memecahkan masalah, menentukan tujuan, serta membaca kondisi lingkungan sosial seperti pemahaman akan intensi dan maksud orang lain.
Perkembangan fungsi otak ini perlu didukung dengan nutrisi yang baik bagi otak, seperti zat besi, protein, dan asam lemak decodehex pentanoic acid (DHA). Ketiga zat gizi tersebut dapat ditemukan pada ikan, seperti ikan salmon, tuna, sarden, dan ikan kembung.
Sementara Dokter Kirana Perwitasari yang juga dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo menuturkan, makanan bergizi bagi anak sekolah perlu memperhatikan semua kebutuhan anak untuk mendukung tumbuh kembang dan menjalankan aktivitas harian anak. Kebutuhan nutrisi ini berbeda-beda di tiap usia anak.
”Porsi makan antara anak usia 6 tahun dan anak usia 15 tahun akan berbeda sehingga perlu dilakukan penyesuaian. Konsumsi makan utama bisa diberikan sebanyak tiga kali per hari ditambah dengan makanan selingan sehat dengan porsi wajar sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.
Selain porsi, isi dari makanan yang dikonsumsi juga sangat penting. Setiap porsi makan harus memenuhi tiga komponen utama, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu, pastikan pula makanan mengandung nutrien penting lainnya, seperti mineral dan vitamin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/24/771b56a5-c811-4e76-b5a0-9c8c94ffa2bd_png.png)
Seluruh komponen makanan itu tidak bisa didapatkan dari satu sumber makanan. Itu sebabnya, pemberian makanan kepada anak harus variatif sehingga anak mempunyai peluang yang lebih besar memperoleh nutrisi yang lebih lengkap. Mudahnya, isi makanan anak dalam setiap porsi perlu mengandung makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah-buahan.
Makanan pokok merupakan makanan utama yang mengandung karbohidrat tinggi. Karbohidrat menjadi bahan utama sumber energi tubuh anak-anak, termasuk anak usia sekolah.
Karbohidrat bisa didapatkan dari nasi, ubi, kentang, singkong, dan tepung, serta olahannya, seperti tori atau sereal. Sesuai dengan konsep ”Isi Piringku” yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan, porsi makanan pokok sekitar sepertiga dari seluruh porsi makan anak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/21/20210921-H26-ADI-Gizi-Balita-mumed_1632240453.jpg)
Sementara lauk pauk dibutuhkan sebagai sumber protein anak. Protein amat penting untuk kebutuhan anak tumbuh, menjaga daya tahan tubuh, dan perkembangan sel otak.
Protein bisa berasal dari hewan dan tumbuhan. Meski begitu, protein hewani memiliki kualitas yang lebih baik yang bisa didapatkan dari daging sapi, ayam, makanan laut atau boga bahari, dan produk turunan hewani lainnya, seperti susu dan telur.
Makanan yang mengandung protein dari tumbuhan pun tetap dibutuhkan sebagai variasi makanan. Protein dari tumbuhan bisa didapatkan dari kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/6d3aa43c-e86d-47c8-bbb2-83de00697c02_jpg.jpg)
Dalam memenuhi sumber protein juga harus memperhatikan jumlah yang diberikan. Porsi lauk pauk setidaknya sepertiga dari porsi makan anak. ”Tidak hanya jumlah, tetapi harus memperhatikan kualitasnya,” kata Kirana.
Sumber nutrisi lainnya yang perlu diperhatikan yaitu sayur dan buah. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin amat baik bagi tubuh. Asupan vitamin yang kurang dapat mengganggu kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak.
Berbagai macam vitamin digunakan tubuh untuk menjalankan berbagai sistem tubuh. Porsi sayur pada tiap menu makan anak juga perlu memenuhi sepertiga dari porsi makan besar anak.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Evy Rachmawati