Ambisi nuklir Iran yang dirintis sejak 1950 terpukul mundur seusai fasilitasnya dihancurkan Israel-AS. Mampukah Iran bangkit dan melanjutkan misinya?
06 Jul 2025 07:58 WIB · Internasional
Serangan Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan tiga situs nuklir utama Iran: Natanz, Fordow, dan Isfahan. Israel melancarkan operasi Rising Lion mulai Sabtu (13/6/2025), sedangkan Amerika Serikat melancarkan operasi pamungkas Midnight Hammer pada Minggu (22/6/2025).
Total serangan kedua negara itu ke Iran melibatkan tiga ratus lebih pesawat tempur dan pendukung, termasuk 7 pengebom strategis B-2 Spirit penyerang dan 7 pesawat lainnya sebagai pengecoh. Serangan yang berlangsung 12 hari itu akhirnya berakhir dengan gencatan senjata yang ”dipaksakan” oleh AS setelah melibatkan bom terbesar yang dimilikinya: GBU-57 Massive Ordnance Penetrator/MOP.
Berbeda dengan dugaan publik bahwa serangan AS untuk ”membantu” Israel menghancurkan bunker nuklir Iran di Fordow dilakukan secara tiba-tiba atau mendadak karena keterpaksaan, faktanya bahwa hal itu sudah direncanakan AS jauh lebih lama.
Laman Theavionist (26/6/2025) menyatakan, serangan itu sudah direncanakan sejak tahun 2009 ketika Badan Pengurangan Ancaman Pertahanan (DTRA) di bawah koordinasi Pentagon pertama kali mempelajari situs-situs pertahanan Iran. Artinya, 15 tahun perencanaan, pengumpulan intelijen, pengembangan senjata, dan pelatihan dilakukan Pentagon sebelum hari penyerangan tempo hari.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, Kepala Staf Gabungan, selama jumpa pers di Pentagon 26 Juni 2025, menyatakan, sejak 2009 Departemen Pertahanan AS telah menganalisis citra satelit dan intelijen, dan menyadari bahwa tidak ada senjata AS yang dapat menembus situs nuklir bawah tanah Fordow.
Amerika Serikat kemudian mengembangkan bom antibunker raksasa GBU-57 MOP, yang dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah Fordow Iran sekaligus merupakan penggunaan pertama kali bom itu dalam peperangan sesungguhnya.
Adapun Fordow berada di 80-90 meter di bawah permukaan dan diperkuat dengan beton yang belum diketahui tebalnya. Tak heran AS perlu memastikan efektivitas serangan dengan 12 bom GBU-57 MOP yang dilesakkan di dua titik di Fordow, dibawa oleh tujuh bomber stealth B-2 Spirit.
Kemampuan bom antibunker itu adalah menembus 60 meter tanah atau 8 meter beton bertulang. GBU-57 pertama diluncurkan untuk menembus struktur beton bertulang, menciptakan lubang, kemudian lima bom lainnya memasuki bunker melalui lubang itu dan meledak secara berurutan untuk memperdalam dan memperbesar kehancuran internal target.
Foto-foto yang dipaparkan dari hasil pemotretan satelit Maxar menunjukkan kombinasi lubang yang konsisten pada dua posisi yang diserang rombongan GBU-57. Satu lubang besar di bagian tengah dan dua bukaan besar yang merupakan sistem ventilasi situs Fordow.
Berbeda dengan Fordow, di situs Natanz dan Isfahan, Amerika menggunakan 30 rudal jelajah Tomahawk untuk menghancurkan gedung-gedung pusat sentrifus dan pemrosesan uranium. Berbagai fasilitas itu sebelumnya sudah diserbu rudal-rudal Israel untuk membersihkan sistem pertahanan antiserangan udara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/22/c9c754f5-b97a-407a-9234-0dab7d515c96_png.png)
Dengan semua fakta itu, tampaknya Fordow memang mengalami kerusakan berat. Meskipun struktur bawah tanahnya bisa juga tetap relatif utuh, sentrifusnya kemungkinan besar tak akan mampu menahan tekanan akibat ledakan.
Seorang pilot B-2 yang ikut dalam operasi Midnight Hammer itu menggambarkan ledakan di Fordow sebagai ”ledakan paling terang yang pernah saya lihat. Ledakan itu benar-benar tampak seperti siang hari”. Citra Satelit Maxar yang dirilis setelah serangan itu menunjukkan warna-warna menghitam yang meluas di permukaan tanah.
Meskipun demikian, bagi Iran program nuklir Iran tampaknya tidak sepenuhnya telah dihilangkan musuh. Setelah serangan pesawat pengebom AS, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengklaim bahwa bunker nuklir bawah tanah Fordow tetap utuh. Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, serangan itu tidak ”mencapai sesuatu yang signifikan” untuk mengganggu program nuklir Iran.
Pernyataan Khamenei mungkin saja ditujukan lebih untuk menjaga tingkat moral dalam negeri agar tak terguncang. Namun, bocoran hasil evaluasi pengeboman dari intelijen AS, yang bocorannya dikirimkan ke media AS, menyatakan situs Fordow belum sepenuhnya hancur seperti diinginkan.
Menurut penilaian awal dari Badan Intelijen Pertahanan Pentagon, komponen inti di Natanz, Fordow, dan Isfahan masih utuh. Bahkan, AFP melaporkan bahwa bom penembus bunker yang dijatuhkan hanya mampu menutup akses ke fasilitas bawah tanah, sementara bangunan penyimpanan uranium tetap tidak rusak.
Penilaian awal intelijen AS yang bocor ke sejumlah media bulan lalu menyatakan serangan itu gagal menghancurkan komponen utama program nuklir Iran dan hanya menunda pekerjaannya selama beberapa bulan.
Kondisi ini bisa saja terjadi karena seiring dengan waktu, Iran terus mengembangkan metode baru dalam memperkuat bunker situs nuklirnya agar tahan terhadap pengeboman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/bac4ba9a-6e9a-429a-b007-9ab3f9e90cb3_jpg.jpg)
Presiden AS Donald Trump dan Pentagon marah besar dengan kasus tersebut karena berlawanan dengan deklarasi penuh kebanggaan yang dilakukan Trump sesaat pengeboman terjadi. ”Berita palsu CNN, bersama dengan New York Times yang gagal, telah bekerja sama dalam upaya untuk mengerdilkan salah satu serangan militer paling berhasil dalam sejarah,” tulis Trump di platform media Truth Social.
Pentagon akhirnya mengumumkan bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran telah berhasil memundurkan program nuklir negara itu minimal satu-dua tahun. Juru Bicara Departemen Pertahanan Sean Parnell mengatakan bahwa tiga fasilitas nuklir Iran yang menjadi target telah dihancurkan, senada dengan Trump.
Terlepas dari klaim Presiden Trump dan Ayatollah Khamenei yang memiliki substansi berlawanan, fasilitas pengayaan nuklir terbesar kedua Iran—namun paling strategis Fordow, secara faktual memiliki kedalaman lebih dari 80-90 meter—di bawah puncak gunung batu, dan perkerasan beton bertulang membuatnya tahan serangan udara konvensional.
Dengan rancangan strategis itu, memang tetap ada kemungkinan bom penghancur bunker AS GBU-57 MOP memang benar-benar meluncur masuk hingga menembus 90 meter kedalaman gunung, dan menembus puluhan meter beton pelindung. Namun, apakah efek ledakan benar-benar bisa menghancurkan seluruh struktur penting dan isinya, tetap sulit dipastikan.
Bom antibunker GBU-57 MOP memiliki hulu ledak seberat 2,5 ton dan penunda ledakan serta tudung penembus baja yang memang dirancang bisa menghancurkan struktur tanpa perlu langsung mengenai sasaran. Hal itu karena daya getar gelombang ledakan yang diakibatkannya, setara gempa bumi kecil yang bisa meruntuhkan sendi-sendi struktur penopang bangunan.
Bagaimanapun, evaluasi permukaan tanah menunjukkan bahwa gunung batu tempat Fordow bernaung itu telah berhasil diterobos secara akurat oleh GBU-57 MOP di beberapa titik strategis seperti lubang ventilasi dan pintu masuk situs. Itu artinya, ada ledakan dahsyat di dalamnya. Namun untuk memastikan tingkat kehancuran secara faktual, tentu diperlukan pengamatan jarak dekat di darat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/27/f1384993-1f3a-4159-9c22-ecc17b908437_jpg.jpg)
Sejumlah laporan media menunjukkan bahwa sebelum dilakukan serangan AS terhadap fasilitas nuklir Fordow, pihak militer Iran memindahkan sekitar 400 kg uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen. Jumlah ini signifikan, terutama jika diperkaya hingga tingkat tinggi, karena berpotensi cukup untuk satu atau lebih hulu ledak nuklir.
Hal ini juga mempersulit upaya untuk sepenuhnya menghapuskan program nuklir Iran, karena material tersebut dapat dipasang kembali di fasilitas baru atau digunakan dalam pengayaan secara rahasia. Insiden ini menunjukkan kemampuan bertahan program nuklir Iran dan sulitnya menghapus program nuklir Iran sebagaimana dahulu dilakukan terhadap Irak-Saddam Hussein
Uranium (U-235) yang diperkaya hingga 60 persen memang belum memenuhi untuk langsung dibuat hulu ledak nuklir. Akan tetapi, tahap pengayaan dari 60 persen menuju 90 persen jauh lebih mudah dan cepat daripada di level bawahnya.
Level 60 persen jauh melampaui tingkat yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil (biasanya 3-5 persen untuk reaktor nuklir atau 20 persen untuk reaktor alat medis), sehingga sudah pasti tujuan Iran dengan pengayaan uranium memang untuk membuat bom nuklir.
Dengan pengayaan 60 persen, sebagian besar pekerjaan teknis untuk membuat bom sudah selesai dan hanya diperlukan langkah tambahan kecil untuk mencapai 90 persen. Oleh karena itu, tingkat ini sering dilihat sebagai ”ambang batas strategis” yang memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir jika satu negara ingin membuatnya.
Meskipun uranium 60 persen tidak ideal untuk membuat dirty bomb atau bom campuran dari bahan konvensional dan bahan radioaktif, uranium tersebut masih tetap dapat digunakan untuk membuat bom kotor. (LITBANG KOMPAS) Bersambung.
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul