Serangan udara Israel dan Amerika Serikat berupaya menghancurkan situs nuklir Iran. Siapa yang lebih hebat?
29 Jun 2025 06:06 WIB · Internasional
Terlepas dari sikap pro kontra atas serangan Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran, yaitu Nathanz, Fordow, dan Isfahan, serangan atas sebuah situs nuklir senantiasa melibatkan perencanaan dan operasi yang kompleks. Hanya negara dengan kemampuan angkatan udara mumpuni mampu melakukannya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji para pelaksana serangan situs nuklir Iran itu dalam pidatonya sesaat seusai serangan ke situs nuklir Iran, Minggu (22/6/2025). Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap situs nuklir Iran. Serangan ini, yang dijuluki ”Operasi Midnight Hammer”, melibatkan kombinasi persenjataan canggih dan tipu daya strategis.
”Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada militer Israel atas pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan dan, yang terpenting, saya ingin mengucapkan selamat kepada para patriot Amerika yang menerbangkan mesin-mesin luar biasa itu malam ini, dan seluruh militer Amerika Serikat atas operasi yang belum pernah dilihat dunia selama beberapa dekade,” kata Trump.
Pujian Presiden Trump kepada pilot angkatan udara AS itu bukan sekadar basa-basi politik. Upaya menghancurkan tiga situs utama Iran itu sudah dilakukan Israel berulang kali sejak awal serangan Jumat (13/6/2025), tetapi tak juga berhasil. Sabtu (21/6/2025) pagi, misalnya, Israel menyerang fasilitas produksi sentrifus di Isfahan dalam dua gelombang, sedangkan serangan terhadap Nathanz dan Fordow sudah dilakukan secara berulang-ulang tetapi tetap bergeming.
Terhadap situs nuklir Fordow, terbesar kedua setelah Nathanz, serangan berkali-kali dengan bom ”pembasmi bunker” dari Israel. Akibatnya, terjadi gempa bumi setara M 2,5 dan terasa hingga kota Qom yang berjarak 35 kilometer dari kompleks situs bawah tanah Fordow. Magnitudo itu terekam pada laman National Seismological Centre, Universitas Teheran, Minggu (15/6/2025).
Namun, sehebat-hebatnya situs nuklir Fordow yang bangunan utamanya ditengarai berada hingga 100 meter di bawah gunung padas, tak akan mampu bertahan melawan terjangan bom antibunker terbesar milik AS: GBU-57. Hal itu terbukti pada Minggu (22/6/2025) saat pesawat pengebom strategis B-2 Spirit meluncurkan paling tidak enam bom antibunker berbobot masing-masing 13 ton itu.
Hasil dari operasi Midnight Hammer itu akhirnya jelas, ketiga situs pengayaan nuklir terbesar yang dimiliki Iran tersebut dihancurkan sama sekali baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah dengan serangan bom raksasa MOP (massive ordnance penetrator) milik AS itu. Presiden Donald Trump mengumumkan dengan wajah bersemangat bahwa Iran telah kehilangan aset pengayaan bahan baku nuklir untuk seterusnya.
Kesombongan Presiden Trump itu bisa jadi tak berlebihan. Faktanya, sejak penemuan bom atom pertama kali pada 16 Juli 1945 melalui proyek ”Manhattan”, hanya ada dua negara, yakni Israel dan Amerika Serikat, yang mampu menyerang dan menghancurkan sebuah situs pengayaan uranium/bahan baku senjata nuklir dan berhasil secara sukses. Apalagi kesuksesan misi penghancuran itu juga disertai dengan tiadanya korban materi atau korban jiwa prajurit yang tertembak lawan.
Bagaimanapun tidak mudah menerobos sebuah kawasan yang di dalamnya memiliki fasilitas pengayaan bahan baku nuklir dan negara tersebut memiliki musuh politik serta militer di kawasan. Beragam alat pertahanan udara, bergerak ataupun mobil, strategi dan prajurit penjaga pasti mengawal 24 jam sehari.
Apalagi bagi Iran, kepemilikan senjata nuklir merupakan salah satu tujuan pemerintahan Republik Islam Iran yang memiliki dua ”musuh laten”, yakni Israel dan Amerika Serikat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/bac4ba9a-6e9a-429a-b007-9ab3f9e90cb3_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/23/bc85fd99-a9be-4522-8175-7c37b2bceb6f_jpg.jpg)
Ada yang menarik dari serangan terhadap situs nuklir Iran, salah satunya adalah minimnya perlawanan dari sistem pertahanan udara Iran. Salah satunya dari fakta bahwa tidak ada satu pun pesawat tempur AS dan Israel yang mampu ditembak jatuh.
Padahal, jumlah pesawat yang tergabung dalam serangan itu sungguh besar. Pada serangan awal oleh Israel, di bawah tagline ”Operasi Rising Lion”, sekitar 200 pesawat jet berbagai jenis, F-35 Adir, F-16i, F-15, pesawat tanker, dan pesawat komando-peringatan dini (Awacs), berombongan terbang menuju Iran yang berjarak 1.200-2.000 km dari bandara Negev, Israel.
Sementara itu, pada serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, 75 pesawat tempur, termasuk 7 pengebom strategis B-2 Spirit, menyerbu ke arah Iran dari berbagai arah. Hingga saat itu pun tak ada satu pesawat yang berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan antiserangan udara Iran. Padahal, Iran memiliki berbagai sistem rudal antipesawat canggih.
Iran bahkan diketahui telah mampu mengembangkan sistem persenjataan pertahanan udaranya, baik melalui produksi dalam negeri maupun pengadaan dari negara lain, terutama Rusia. Meskipun beberapa sistemnya sudah tua, mereka juga telah meluncurkan sistem baru yang lebih canggih dalam beberapa tahun terakhir.
Iran memiliki empat sistem peluru kendali canggih S-300 PMU2 buatan Rusia sejak 2016. Sistem S-300 dirancang untuk menyerang beberapa target, termasuk pesawat terbang, rudal jelajah, dan rudal balistik, pada jarak jauh dan ketinggian tinggi. Iran juga memiliki sistem pertahanan yang lebih rendah, seperti Bavar-373, S-200 Fajr, Khordad 15, dan Tor-M1, dari jenis jarak jangkau lebih rendah.
Dari sejumlah sumber, berbagai sistem pertahanan ini sudah dihancurkan terlebih dahulu melalui berbagai cara, mulai dari serangan drone pengintai, diserang melalui darat oleh anasir Israel di dalam Iran, ataupun diserang langsung oleh rudal-rudal dari pesawat jet Israel yang menyerang Iran.
Demikian pula pesawat tempur yang dimiliki Iran tak ada satu pun yang terdengar menghadang kedatangan ratusan pesawat tempur musuh. Namun, ternyata tak satu pun yang berfungsi menjalankan fungsinya karena mereka telah buru-buru kabur melarikan diri atau ada pula yang dihancurkan di tempatnya disimpan.
Kesaksian seorang pilot dari Skuadron 133 Israel yang menerbangkan jet tempur F-15, Mayor N (31), sebagaimana dinyatakan di portal media Ynet. ”Tingkat risiko di Iran, memungkinkan kami lepas landas, bertahan di sana hingga 2 jam, kembali, dan melakukannya lagi dan lagi,” katanya.
”Setiap pilot bermimpi menembak jatuh pesawat musuh dan kami siap untuk itu. Namun, selama gelombang pembukaan serangan, ketika kami memasuki wilayah udara Iran, kami melihat pilot mereka lepas landas, lalu melarikan diri. Mereka terbang ke dalam menuju Iran bagian tengah, benar-benar melarikan diri dari kami dan menghilang,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/4bc5b987-a982-451d-90e4-b24052897b63_jpg.jpg)
Pada 7 Juni 1981, Angkatan Udara Israel juga pernah melakukan salah satu serangan militer sangat monumental dalam misi pengeboman udara abad ke-20. Dalam operasi yang dinamai ”Opera” atau sering juga disebut Operasi Babylon, diterbangkan 14 jet tempur. Operasi tersebut membutuhkan kemampuan pengeboman jarak jauh.
Pesawat-pesawat itu membawa tabung bahan bakar tambahan untuk bisa terbang lebih dari 1.000 kilometer guna menghancurkan reaktor nuklir Osirak yang terletak di dekat Baghdad, Irak. Saat itu program senjata nuklir Saddam Hussein telah selesai membuat reaktor pengayaan uranium dengan bantuan kontraktor dari Perancis.
Perencana militer Israel menyusun opsi untuk menyerang setelah data intelijen yang dikumpulkan dari citra satelit, agen rahasia, dan sumber internasional mengonfirmasi bahwa reaktor Osirak hampir selesai. Mossad dilaporkan juga menerima rincian teknis dari sumber Iran dan Eropa, termasuk pemahaman kritis tentang titik lemah reaktor dan jadwal pengisian bahan bakar.
Angkatan Udara Israel memilih menggunakan kombinasi jet tempur F-16A Fighting Falcons (pesawat serang) dan F-15A Eagles sebagai pesawat tempur pengawal untuk misi tersebut. Setiap F-16 dipersenjatai dengan dua bom Mark 84 tanpa kendali seberat 2.000 pon (sekitar 1 ton), yang dimaksudkan untuk menembus kubah beton reaktor.
Pesawat F-15 akan memberikan perlindungan udara dan menghadapi setiap pesawat Irak yang mencegat. Kekuatan serangan terakhir mencakup delapan F-16 dan enam F-15, yang diawaki oleh pilot elite yang dipilih karena pengalaman tempur dan keterampilan terbang presisi mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/01/8aa93e29-f79f-43f1-be07-05145146cc04_jpg.jpg)
Misi tersebut diluncurkan pada Minggu sore, 7 Juni 1981. Lepas landas dari Pangkalan Udara Etzion di Semenanjung Sinai (yang saat itu masih di bawah kendali Israel), jet-jet tempur itu ibarat terbang ”tanpa suara” mempertahankan ketinggian yang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar. Lintasan penerbangan mereka melintasi wilayah udara Jordania dan Arab Saudi, wilayah yang radar dan sistem pertahanan udaranya dapat membahayakan misi tersebut jika diberi peringatan.
Pilot-pilot Israel mempertahankan formasi yang rapat, terbang kurang dari 100 meter di atas tanah untuk menghindari deteksi dini. Ironisnya, kelak diketahui bahwa Raja Jordania Hussein, yang sedang berlibur di Laut Aqaba, dilaporkan telah melihat pesawat-pesawat itu terbang ke timur dan menyadari kemungkinan niat mereka. Ia memberi tahu Amerika Serikat, tetapi peringatan itu datang terlambat.
Sekitar pukul 18.35, jet-jet tempur Israel mendekati fasilitas Osirak. Serangan itu cepat dan berlangsung hanya 2 menit. Setiap F-16 melakukan satu kali pengeboman. Gelombang pertama melepaskan bom mereka langsung ke kubah reaktor, diikuti oleh gelombang kedua untuk memastikan kehancuran total. Ketepatan pengeboman itu sedemikian rupa sehingga inti reaktor hancur total sebelum diisi dengan bahan bakar nuklir karena hal ini meminimalkan dampak radioaktif.
Setelah mengonfirmasi keberhasilan serangan, jet-jet tempur itu terbang cepat dan berbelok ke barat, kembali ke wilayah udara Israel. Ke-14 pesawat itu kembali ke rumah tanpa menghadapi hambatan udara Irak atau mengalami kerusakan apa pun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/04/18/20210415-H10-NSW-SPKLU-dan-SPBKLU-mumed_1618756418_png.png)
Serangan Osirak 1981 menjadi momen penting dalam doktrin keamanan Israel. Perdana Menteri Israel saat itu, Menachem Begin, menyatakan bahwa Israel tidak akan pernah mengizinkan rezim musuh memperoleh senjata nuklir, sebuah prinsip yang kemudian dikenal sebagai Doktrin Begin. Doktrin ini membenarkan penggunaan kekuatan untuk mencegah ancaman di masa mendatang, bahkan dengan risiko kegagalan diplomatik.
Pada tahun-tahun berikutnya, Doktrin Begin memengaruhi pemikiran strategis Israel dan Amerika Serikat. Israel mengulangi taktik serupa pada tahun 2007, ketika menghancurkan fasilitas nuklir Suriah yang diduga berada di Deir ez-Zor dalam Operasi Orchard, sebuah serangan yang memiliki kemiripan dengan Osirak.
Serangan Israel tahun 1981 terhadap reaktor nuklir Osirak di Irak merupakan momen yang menentukan dalam sejarah strategi militer dan hubungan internasional. Serangan ini mengubah perdebatan tentang nonproliferasi nuklir, memperkenalkan norma-norma baru seputar perang preventif, dan memperkuat peran Israel sebagai negara yang bersedia mengambil tindakan berani untuk memastikan kelangsungan hidupnya.
Meskipun awalnya dikutuk, konsekuensi jangka panjang dari operasi tersebut telah membuat banyak orang menilai kembali kebijaksanaannya. Di wilayah yang ditandai oleh ketidakstabilan dan ketidakpercayaan, Operasi Opera tetap menjadi salah satu serangan militer paling berani dan berdampak dalam sejarah modern.
Kini ”prestasi” Israel itu telah diimbangi oleh para pilot pengebom B-2 Spirit Amerika Serikat dan jet tempur pengawalnya, dengan jumlah yang jauh lebih masif, taktif, dan lebih rumit, bahkan sampai melibatkan ”kebohongan informasi presiden AS”, terkait keberadaan dan waktu serangan ke Iran.
Dua negara, Israel dan AS, yang kini banyak dikecam para simpatisan Palestina di seluruh dunia itu, mungkin dianggap licik dan licin. Namun, dalam peperangan modern, ketika semua sumber daya dikerahkan untuk memenangi pertempuran, pada akhirnya dunia akan mengakui kecerdikan dan keberanian para penerbang tempur negara-negara tersebut. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati