Pengelolaan ala INEOS membuat masa depan MU tampak gelap. Siapa pun manajer berikutnya akan sama saja jika tanpa rencana dan tujuan yang jelas seperti sekarang.
06 Jan 2026 20:28 WIB · Olahraga
AFP
MANCHESTER, SELASA — Pemecatan Ruben Amorim membuktikan bahwa jabatan sebagai manajer Manchester United adalah pekerjaan tersulit di dunia. Sudah dibebani ekspektasi besar, sang manajer tidak diberikan dukungan dan waktu sepadan. Disorientasi klub di era INEOS menjadi biang masalah terbesar.
Untuk kedua kali dalam dua musim beruntun, MU memecat pelatih di pertengahan musim. Amorim menjadi korban terbaru setelah Erik ten Hag merasakan itu di musim lalu. Mereka terdepak di era kepemimpinan Jim Ratcliffe yang merupakan pemilik INEOS, perusahaan petrokimia pemegang saham minoritas sekaligus pengelola operasional MU.
Masa depan ”Setan Merah” pun kembali menjadi abu-abu. Proyek besar yang dimulai dengan menunjuk Amorim, November 2024, kini hancur berantakan. Mereka akan memulai perjalanan dari titik nol lagi dengan pelatih sementara, Darren Fletcher, yang merupakan pelatih tim akademi U-18 dan berstatus mantan gelandang MU.
Mereka perlu merekut manajer yang cocok dengan DNA klub. Manajer berpengalaman yang mau bermain cepat, menghibur, menyerang, dan agresif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/01/30/420b74c4-9156-45a7-962c-c845cfa82ff9_jpeg.jpg)
Fletcher akan menjalani debutnya dalam pertandingan Liga Inggris di kandang Burnley, Stadion Turf Moor, Kamis (8/1/2026) pukul 03.15 WIB. Menurut The Athletic, Fletcher kemungkinan memimpin tim sampai akhir musim. Manajemen klub tidak ingin terburu-buru, baru akan menentukan pelatih tetap pada musim panas.
”Eksperimen ini harus segera berakhir. Amorim memiliki gaya sepak bola sangat berbeda dengan yang diharapkan MU. Mereka perlu merekrut manajer yang cocok dengan DNA klub. Manajer berpengalaman yang mau bermain cepat, menghibur, menyerang, dan agresif,” kata Gary Neville, mantak bek MU, kepada Sky Sports.
Komentar Neville sering kurang berdasar dan tidak konsisten. Namun, kali ini, dia ada benarnya. Penunjukan Amorim merupakan eksperimen klub yang gagal. Manajemen klub merekrut pelatih berusia 40 tahun dengan berbagai hal yang mengundang tanda tanya, dari minim pengalaman sampai penggunaan formasi 3-4-3.
Konteksnya, ketika itu MU baru saja berinvestasi hampir 200 juta pound sterling (sekitar Rp 4,5 triliun) untuk mendatangkan enam pemain di musim panas 2024. Investasi ditujukan untuk Ten Hag yang memakai sistem empat bek. Adapun Ten Hag kemudian dipecat di November, empat bulan setelah kontraknya diperpanjang. Amorim datang mengambil alih skuad itu.
Kenyataan tidak sesuai dengan ucapan Ratcliffe. Di Februari 2024, saat peralihan pengelolaan klub, dia menjamin MU akan konsisten dengan rencana yang disepakati. ”Kami akan menyepakati gaya MU dan pelatih yang tepat untuk itu. Jika tidak, Anda akan terus mengubah segalanya. Ketika Anda mengganti pelatih, skuad harus berubah lagi,” ujarnya.
Komplain utama Amorim adalah soal dukungan di bursa transfer. Dia tidak bisa mendatangkan pemain untuk mendukung sistem 3-4-3 miliknya. Amorim menyadari, perannya di klub hanya sebatas pelatih kepala, bukan manajer seperti kesepakatan awal. Manajemen seperti memaksanya bermain dengan formasi empat bek yang lebih sesuai dengan karakter skuad.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/12/5510cce1-7935-4016-b8d7-da002226351a_jpg.jpg)
Lucunya, INEOS mendatangkan Amorim dengan penuh kesadaran soal potensi perubahan sistem jadi 3-4-3. Mantan direktur olahraga MU, Dan Ashworth, sempat mempertanyakan penunjukan Amorim. Pada akhirnya, Ashworth didepak pada Desember 2024, hanya lima bulan setelah bergabung dengan Setan Merah.
Di bawah Fletcher, MU kemungkinan besar akan kembali ke formasi empat bek. Sang pelatih terbiasa memakai formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 bersama tim muda Setan Merah. Dia juga merupakan murid langsung dari manajer paling berpengaruh sepanjang sejarah MU, Sir Alex Ferguson, yang menganut sistem empat bek.
Masa depan MU terlihat semakin suram jika melihat tren yang lebih luas. INEOS juga mengelola dua klub lain, yaitu OGC Nice (Perancis) dan FC Lausanne-Sport (Swiss). Di dua klub tersebut, pergantian pelatih sudah menjadi jadwal musiman. Mereka tidak pernah berkomitmen jangka panjang terhadap satu pelatih.
INEOS mengambil alih Lausanne sejak 2017. Sejak itu, mereka sudah dipimpin oleh delapan pelatih berbeda. Rerata ada satu pelatih di setiap musim. Di Nice, sejak INEOS datang pada 2019, sudah ada delapan pelatih berbeda. Nice kebetulan baru memecat pelatih Franck Haise pada akhir tahun, sepekan sebelum Amorim.
Keterbatasan waktu pun menghantui pelatih atau manajer MU berikutnya. Padahal, waktu merupakan elemen paling krusial untuk membenahi sebuah klub, terutama yang sudah lama terpuruk seperti Setan Merah. Tanpa itu, seperti yang pernah disampaikan Ratcliffe, MU akan terjebak dalam lingkaran setan yang tidak berujung.
Terlepas dari itu, Amorim sama sekali tidak membantu untuk bisa lebih lama dipertahankan. Performa dan hasil laga Bruno Fernandes dan rekan-rekan kurang mengesankan. Di 63 laga kepemimpinan Amorim, MU hanya menang 24 kali. Rasio kemenangan itu, 31,9 persen, merupakan yang terendah dari seluruh pelatih tetap MU.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/06/28c2f6ec-132f-437c-9e8f-118cb506dd2f_jpg.jpg)
Pelatih asal Portugal itu juga sering salah bersikap di konferensi pers. Dia beberapa kali terpancing oleh pertanyaan awak media. Di klub sebesar MU, tantangan mengatasi ekspektasi dari para media memang sangat berat. Apalagi, Amorim belum pernah merasakan sorotan sebesar itu di Liga Portugal.
Semua tantangan itu menjadikan pekerjaan sebagai manajer MU sangatlah berat. Terbukti, tidak ada yang berhasil mengatasi tantangan itu setelah kepergian Sir Alex pada 2013. Mulai dari sosok pelatih berpengalaman Jose Mourinho, pelatih muda berbakat Amorim, hingga mantan pemain Ole Gunnar Solskjaer sudah menjadi korban. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan